Tampilkan postingan dengan label smile. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label smile. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

DIALOG GUS DUR (Tentang Diturunkannya Manusia di Dunia)



DIALOG GUS DUR Vs SANTRI


Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"

Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."

Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"

Gus Dur : "Ya tidak tahu lah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."

Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"

Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."

Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"

Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."

Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."

Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."

Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"

Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."

Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"

Gus Dur : "Iblis itu dulu nya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."

Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara- garanya, aku jadi miskin kayak gini."

Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."

Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"

Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).

Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"

Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."

Santri : "Aneh."

Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"

Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."

Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."

Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"

Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."

Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"

Gus Dur : "Dua-duanya."

Santri : "Kok dua-duanya?"

Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."

Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."

Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."

Santri : "Ooh..."

Gus Dur : "Jadi intinya begitu lah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."

Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"

Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."

Santri : "Masa sih, Gus?"

Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."

Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"

Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."

Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."

Gus Dur : "Siapa? Ente?

Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."

Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."

Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."

Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."

Santri : "Bedanya apa, Gus?"

Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."

Santri : "Lho, kok begitu?"

Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."

Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"

Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"

Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Sabtu, 12 Mei 2012

Tilawat Al Baqoroh 31-33

saya upload di sini biar mudah mencarinya..

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!”, [31] Mereka menjawab:”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [32] Allah berfirman:”Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman:”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan [33]
l
lansung aja klik link ini, dan donlot..

http://www.4shared.com/mp3/dM2eAcJr/muammae_31.html





tq

Minggu, 29 April 2012

To Get Ahead, Think Ahead

5 steps to help you advance in your career
by Ben Smith
Each week I speak with high-performing individuals who are seeking career advice. These people are almost always ambitious and talented, but they're often doing a disservice to their career by not thinking far enough ahead. They focus on what the next logical step in their career might be, but they don't look any further ahead than that next step.
Focusing only on the next step on the job ladder often results in developing a deep but narrow skill set that's unique to a specific class of jobs. That might be fine if you want to stay within that type of job, but if you're looking to go further, the narrow skill set that you're developing might not be sufficient to take you to your ultimate objective.
The key to getting ahead in your career is to look past your next job. Here's a five-step strategy for thinking ahead that you can use in your own career or to help your employees advance in their careers.
Step 1: Think a Job Ahead
Whenever you find yourself ready to change jobs or advance to the next level in your career, take time to think about what you want the next job after that one to be. I like to call the job two steps ahead of where you are right now "the job that you really want."
The reason to think another step ahead is because your next opportunity must equip you with the skills and experience you need for the subsequent job—the one you really want. Ask yourself "What gaps in my current skills and experience do I need to fill before I can get the job I really want?" Your next job should help you fill those gaps. For example, if you're a frontline manager of administrators, it's unlikely that you'd be able to step directly into the position of director of operations. You need to think about the skills that you're lacking for the director of operations position, then make sure your next job takes you closer to your goal.
Step 2: Find Mentors
Identify people who currently have the job you really want or a comparable one and ask them for a few minutes of career mentoring. Send each person your resume in advance and explain your intentions.
During the meeting, be up-front. Explain that you'd eventually like to have a job similar to the one that your mentor has. Summarize your experience and your current role. Then, ask what would prevent you from getting your mentor's job if you were to interview today to succeed him or her.
After talking with a few people, determine the common themes that arose across those discussions. You should be able to identify a set of skills and achievements that you'll need to qualify for the job you really want. Building on the earlier example, you might find, for instance, that the people who currently hold director of operations and network operations manager positions aren't confident that you have the experience necessary to manage a seven-figure budget, would prefer a candidate who has a stronger business background, and believe that you'll need to show that you've successfully managed people of multiple disciplines rather than just administrators.
By seeking out mentors who hold positions similar to the one you want to eventually have, you'll expand your professional network more than you would have been able to by networking only with your co-workers and current manager. You might very well meet people who know of opportunities that could help you further your career. It's also important to stay in touch with those mentors as you progress in your career. At some point in the future, those people might have a need for someone with your skill set or experience. Making yourself known and leaving a positive impression on the people you meet with can pay huge dividends in the future.
Step 3: Obtain Needed Skills and experience
When you have a clear idea of the types of skills and experience you'll need in order to get the job you really want, map those skills and that experience to a job that will help you obtain them. You might find that there's more than one job between you and the job you really want, but you should be able to plan your ascension strategically.
Continuing with our earlier example of moving from being a frontline manager of administrators to a leadership position in the IT department, you realize that as a front- line manager, you've never been involved in forecasting and managing a budget. Your management experience might also be limited to overseeing a few people who report directly to you as the functional expert in your group. To become qualified for the leadership position you want, you'll need to develop budgeting skills and broaden your management experience.
To gain experience in managing a budget, you might want to pursue a position in which budget management is a core responsibility. Alternatively, you could ask your current manager to give you a role in the budgeting process. To build your business background, you might enroll in a certificate program in finance or organizational management at a local university or community college. To broaden your management experience, you might consider looking for a position that expands your role beyond just the area in which you're recognized as a technical expert. For example, you might go after a job as the manager of a line of business (LOB) application team that includes developers as well as administrators. Such a position gives you a chance to demonstrate that you can be successful in other areas and can adapt to new situations. Put them all together, and these actions constitute your plan of attack for achieving the skills and experience you need.
Step 4: track and Quantify Your Achievements
As you learn new skills and broaden your experience, be results-driven and quantify your accomplishments. As you progress in your career, your accomplishments and results become more important than how you spent your time. For instance, consider the difference in these two resume bullet points:
  • Managed budget for LOB application team
  • Grew LOB application user base by 50 percent while reducing per-user costs by 16 percent
The first statement simply describes how you spent your time; the second recounts what you actually accomplished. Both points might describe you, but the first is much more effective and impressive than the second.
Step 5: Focus on Your Strengths
Often, I find that otherwise well-qualified individuals disqualify themselves from a job after reading the job description and seeing a requirement or two that they can't fulfill. For example, a job description for the position of director of operations might state that applicants must have an MBA or experience with a specific software package, neither of which you possess. But you shouldn't assume that you'd never be considered a viable candidate for that job. Most job descriptions are boilerplate templates that might—or might not—apply exactly to the job you're interested in. Instead of being discouraged by deficits in your experience, think about the assets that you'll bring to the position: the skills, experience, and accomplishments that uniquely qualify you for the role. Focus on those assets and play them up.
It's Who You Know and What You Know
I constantly see people make huge strides in their careers simply by thinking ahead, identifying the job they really want, and planning their path to that position. Along the way, they might debate the cliche"It isn't what you know, but who you know." As is so often the case, the cliche is wrong: It's both who you know and what you know. Follow this five-step strategy, and you'll come out ahead in both areas. And don't forget, as you take that next step up the career ladder, to advance your thinking and your planning another step into the future.

head thinking

Because it is ego-driven, head thinking can often be delusory. Heart thinking is focused on reality and therefore unlikely to go too wrong 
 
When Carl Jung, the great psychoanalyst, went to Taos Peublo in New Mexico in 1925, he met the chief of the native people, Ochwiay Biano. Biano told Jung that according to his people, the Whites were 'mad'-uneasy, restless, always wanting something.

Jung asked him why he thought they were mad, and the chief replied that it was because they thought with their heads, a sure sign of mental illness among his tribe. Jung asked him how he thought and he pointed to his heart. The response plunged Jung into a deep introspection that enabled him to see his race from outside himself and realise how much of the race's character was within him.

Ever since I read this fascinating excerpt I have been pondering over the difference between heart thinking and head thinking. Most gurus and spiritual teachings exhort us to make this very transition-from head to heart. But what does it actually mean? For most head thinkers this appears to be an inferior state of mind.

They fear that they are being asked to surrender their reason and descend to some level of gibbering infantilism, where they are expected to accept anything told to them without a whimper. Naturally, they clutch at their minds with renewed determination.

However, heart thinking is at a level higher than reason, not lower. And it is not opposed to reason. The difference is that it does not allow reason the star role it plays in head thinking. Heart thinking arrives at conclusions through faculties other than the mind, but it will use the mind to articulate these conclusions, and even validate them. So what are these faculties?

Most of us would call it intuition-a knowing that seems to come from the very depth of our being, from every cell in our body. Unlike the logic-driven processes of the mind, this knowledge seeps into our being and the certainty of knowing is utterly indisputable. The conclusions that the head arrives at can never give us that level of deep-rooted certainty, particularly in matters of ethics, values, decision-making and behavioral choices.

For instance, many of us who penetrate the spiritual dimension of life make dramatic job changes which make no sense from the point of view of the head. I just met a young man who left his lucrative software job in the US to work for a spiritual organization. I know of IIT graduates who have renounced plush mainstream jobs in order to devote themselves to the betterment of villages.

What about people who make decisions to become monks and renunciate against their familial and social pressure? What gives them the courage to throw everything to the wind? It is the courage that comes from following the dictates of heart. So what are the main differences between head and heart thinking?

One of the most fundamental differences, I believe, is that head thinking is fractured and separatist, while heart thinking is holistic. I have been doing some research for the forthcoming LP Plus issue on Gandhi and what is obvious is that Gandhian thinking can only be accessed by those who have moved from the head to the heart.

For head thinkers he comes across as an anti-progressive crank. Heart thinkers, on the other hand, worship him as a fount of wisdom, whose solutions to the country's problems at the social, environmental, economic and political levels were pragmatic, down-to-earth and in the best interests of society and the environment.

The radical difference in the two perceptions arise from the fact that Gandhian thinking is holistic, which means that it emerges from one root and radiates in all directions, somewhat like the spokes of a wheel.

Gandhi's advocacy of khadi, his focus on economic and political self-reliance for the village, his repudiation of western civilization, the political weapons of Satyagraha, his focus on ahimsa, his preference for frugality and simplicity, all have an internal consistency not accessible to those who try and understand it from the head.

Head thinking is fractured. It will look at one aspect of a situation at a time and draw conclusions based on that, while ignoring others. Modern civilization is a perfect example of head thinking, for all its systems are based on separatism.

Modern-day economics is a striking example of the limitations of separatist thinking. Capitalism, for instance, is motivated primarily by the profit factor, which means that many of its decisions can be and are unethical, unprincipled and even inhuman. In this scheme of things, the best way to improve the bottomline is to sack the employee.

But this decision does not take into consideration the psychological and emotional cost to the individual, nor of its larger repercussions on society. It follows that heart thinking is balanced while head thinking is not. Because the former keeps the whole in mind, its approach is measured and pragmatic, unlikely to damage any aspect of life.

Head thinking is given to drama, to extreme measures. Violent revolutions such as those that took place in France and later in Russia were dictated by head thinking and not heart thinking. Because heart thinking is holistic, it is also down-to-earth, here and now. It is not focused on abstract theories and formulas, it looks at each situation as it is and arrives at solutions. It is simple.

Head thinking, on the other hand, gives rise to endless complexities, for it is unable to see things as they are. Hence there will be contingency plans for everything, uniform rules and regulations for all situations no matter how dissimilar (such as, for instance, insisting that your 16-year-old returns home after a party at the same time as she did when she was 12) and extremely complicated procedures.

Try and make sense of any of our modern systems-political, economic or scientific-without being an expert. The mind simply boggles. Why? Because of head thinking. Can you imagine that at one time, life was actually comprehensible to the average man? Today, most us, if not all, find it impossible to understand modern life. This is the unnecessary complexity of head thinking.

At the head level, one arrives at truths through logic and reason, such as understanding that two and two makes four. But the truths of the heart, which are really the truths about life, are resonated to. When you encounter such a truth, your whole being reverberates in response. I remember participating in a psychoanalytical group for a while.

The facilitator was a brilliant man; we particularly admired the facile way he rounded up the discussions by pointing how one subject had led to another, and how it all added up to a particular picture. And yet, I never could figure how he arrived at the conclusions he did. Later, we were taught by a writer.

Everything she said seemed to me wise and true. I could resonate with everything that she said in contrast to the bafflement I felt in the case of our analyst. I then came to realize that the analyst was drawing pretty pictures in his head, without too much concern with whether they correlated to reality. Because it is ego-driven, head thinking can often be delusory.

Heart thinking is focused on reality and therefore unlikely to go too wrong. There are probably far more profound differences between heart and head thinking, for I feel I am still scratching at the surface. If you can think of any, write in. Let's have a dialogue on the matter.
by Suma Varughese

Sabtu, 11 Februari 2012

Lomba Esai Nasional, Due Date 6 April 2012


Lomba Nasional dan buku, menjadi “Jembatan” silaturrahmi intelektualitas di antara mahasiswa, ajang informasi, ajang kompetisi, “ajang jodoh”, saling belajar, menjadi lebur jarak antara Universitas “Besar” dan “Kecil”, “Terkenal” dan “Tidak Terkenal”, sebab yang dipertaruhkan dari awal dan akhirnya adalah KARYA.
Untuk itu, tahun ini DEWAN EKSKUTIF MAHASISWA (DEMA) membuka Lomba Cipta ESAI Karya Mahasiswa untuk Tingkat Nasional (Maksudnya boleh diikuti oleh siapa saja asal statusnya “Mahasiswa S-1),
Syarat Ketentuan:

  1. Tema lomba ESAI : “INDONESIA HARI ESOK!” (boleh memilih salah satu dari perspektif ini; agama/ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya);
  2. Tiap ESAI hanya boleh mengikutsertakan 1 ESAI terbaiknya;
  3. Melampirkan scan Kartu Mahasiswa dan foto diri (close up);
  4. Panjang ESAI 6-8 halaman;
  5. Menyertakan biografi ESAIS maksimal 1 halaman (ada nama dan alamat lengkap perguruan tinggi tempat studi; ada e-mail; dan nomor HP yang bisa dihubungi ketika pengumuman lomba);
  6. Ditulis dengan huruf times new roman, size 12;
  7. Pengiriman ESAI dibuka dari Jumat 13 Januari 2012, dan ditutup pada Jumat 6 April 2012; ESAI diemailkan ke = obsesipress@gmail.com
Lomba Cipta ESAI Karya Mahasiswa untuk Tingkat Nasional ini akan memilih ESAI Juara 1-3 dan 27 ESAI nominasi, dan akan diterbitkan dalam wujud antologi ESAI yang dicetak eksklusif. ESAI Juara 1-3 akan mendapatkan hadiah:
  • Juara I: uang Rp 1.750.000+Sertifikat Juara I+5 eksemplar buku ESAI;
  • Juara II: uang Rp 1.500.000+Sertifikat Juara II+5 eksemplar buku ESAI;
  • Juara III: uang Rp 1.250.000+Sertifikat Juara III+5 eksemplar buku ESAI;
Dan para nominator mendapatkan 2 eksemplar buku ESAI.
(Hadiah tersebut akan diberikan dalam acara “Penghargaan Budaya DEWAN EKSKUTIF MAHASISWA (DEMA) STAIN Purwokerto 2012″, yang akan digelar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional Rabu 2 Mei 2012).
Dewan Juri:
  1. K.H. M. Nasruddin Anshoriy CH. — Budayawan, Penulis Berbagai Buku, Kolektor/Kurator Lukisan, Pengasuh Pesan Trend ILMU GIRI- Imogiri- Yogyakarta;
  2. Dr. Ridwan, M.Ag. — Penulis Buku-buku Sosial Politik dan Keagamaan, Doktor Ilmu Hukum Islam, Dosen STAIN Purwokerto;
  3. Abdul Wachid B.S., S.S., M.Hum. — Kritikus Sastra, Sastrawan;
  4. Arif Hidayat, S.Pd., M.Hum. — Dosen-Tamu di STAIN Purwokerto, Tentor Sekolah Kepenulisan Penerbit STAIN Press, Sastrawan.
CP: ILHAMUDDIN
Hp. 085 7479 35 848/ 0852 9123 1169

Jumat, 06 Januari 2012

keadilan sandal jepit



Aku seperti bemo atau sendal jepit. 
Tubuhku kecil mungil biasa terjepit. 
Pada siapa ku mengadu? 
Pada siapa ku bertanya?

Jauh sebelum kasus "sandal jepit" merebak, penyanyi kondang Iwan Fals sudah teriak-teriak soal sandal jepit dalam syair lagunya "Besar dan Kecil". Iwan menganalogikan rakyat kecil seperti jendal jepit yang selalu terjepit, diremehkan, lemah, selalu kalah. Seperti sandal jepit, begitulah kenyataan masyarakat kecil jika harus berurusan dengan hukum.
Tidak perlu menutup mata karena kenyataan itu ada di depan mata kita. Aparat negeri ini terkesan lebih suka menjepit rakyat kecil yang sudah biasa menjerit karena ketidakadilan di negeri ini. Mereka terkesan lebih senang membela pejabat dengan kekayaan berlipat, dibandingkan rakyat kecil yang biasa hidup melarat.

Aku seperti bemo atau sendal jepit. Tubuhku kecil mungil biasa terjepit. Pada siapa ku mengadu? Pada siapa ku bertanya?
Mau bukti? Tengoklah kasus Nenek Minah (55) asal Banyumas yang divonis 1,5 tahun pada 2009, hanya karena mencuri tiga buah Kakao yang harganya tidak lebih dari Rp 10.000. Bahkan, untuk datang ke sidang kasusnya ini Nenek yang sudah renta dan buta huruf itu harus meminjam uang Rp 30.000 untuk biaya transportasi dari rumah ke pengadilan yang memang jaraknya cukup jauh.
Yang paling anyar, kasus pencurian sandal jepit yang menjadikan AAL (15) pelajar SMK 3, Palu, Sulawesi Tengah, sebagai pesakitan di hadapan meja hijau. Ia dituduh mencuri sandal jepit milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap, anggota Brimob Polda Sulteng. Hanya gara-gara sandal jepit butut AAL terancam hukuman kurungan maksimal lima tahun penjara. 
Proses hukum atas AAL pun tampak janggal. Ia didakwa mencuri sandal merek Eiger nomor 43. Namun, bukti yang diajukan adalah sandal merek Ando nomor 9,5. Selama persidangan tak ada satu saksi pun yang melihat langsung apakah sandal merek Ando itu memang diambil AAL di depan kamar Rusdi.
Di persidangan, Rusdi yakin sandal yang diajukan sebagai barang bukti itu adalah miliknya karena, katanya, ia memiliki kontak batin dengan sandal itu. Saat hakim meminta mencoba, tampak jelas sandal Ando itu kekecilan untuk kaki Rusdi yang besar.
AAL memang dibebaskan dari hukuman dan dikembalikan kepada orangtuanya. Namun, majelis hakim memutus AAL bersalah karena mencuri barang milik orang lain.
 Mati
Sosiolog dari Universitas Indonesia Imam Prasodjo kepada Kompas.com, Kamis (5/1/2012) di Jakarta mengatakan, hukuman yang diberikan kepada Nenek Minah dan AAL itu menggambarkan bahwa proses hukum yang mati dari tujuan hukum itu sendiri. Hukum, kata dia, hanya mengikuti aturan formal, tidak memperhitungkan subtansi dan hati nurani.
"Ancaman lima tahun dan vonis 1,5 tahun itu, bukan masalah Jaksa, Polisi, atau Hakim saja. Tapi mereka semua telah melakukan kesesatan kolektif. Meskipun banyak protes dari masyarakat, mereka masih juga memproses dan memutuskan sesuatu secara tidak sedikitpun ada kesadaran dan evaluasi," kata Imam.
Sosiolog Soetandyo Wignjosoebroto pun mengatakan hal serupa. Hakim kini dinilainya terlalu legalistik terhadap putusan bersalah rakyat kecil. Hakim tidak mampu memahami arti dan makna sekaligus kearifan yang terkandung dalam aturan hukum.
"Undang-undang itu dead letter law (hukum yang mati). Hukum menjadi aktif dan dinamik melalui kata hati dan tafsir hakim. Kalau putusannya itu aneh, itu bukan salah undang-undang, melainkan hakim. Hakimnya harus pandai memberi putusan yang bisa diterima," kata Soetandyo.
Meskipun, seyogyanya mencuri atau mengambil barang orang lain sekecil apa pun tanpa izin adalah perbuatan melanggar hukum. Dan hukum harus ditegakkan. Namun, apakah hal itu sudah sesuai rasa keadilan di masyarakat?
Lihat saja bagaimana para pejabat dan koruptor berdasi putih mencuri uang rakyat yang nilainya sebanding dengan jutaan sandal jepit dan kakao itu diperlakukan dengan terhormat oleh aparat. Mereka dapat melanggeng bebas dari hukuman yang tidak terlalu berat. Mereka pun dapat mangkir dari panggilan pengadilan dengan alasan sakit yang kadang dibuat-buat.
Data Indonesian Corruption Watch (ICW) menunjukan koruptor rata-rata hanya dihukum di bawah dua tahun. Pada 2010, sebanyak 269 kasus atau 60,68 persen hanya dijatuhi hukuman antara 1 dan 2 tahun. Sedangkan, 87 kasus divonis 3-5 tahun, 13 kasus atau 2,94 persen divonis 6-10 tahun. Adapun yang dihukum lebih dari 10 tahun hanya dua kasus atau 0,45 persen.
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqqodas pada pertengahan November tahun lalu, mengakui bahwa hukuman untuk koruptor memang rendah. Pengadilan, kata Busyro, seakan-akan tak mencerminkan ideologi hukum yang baik. "Putusan hakim kehilangan roh untuk berpihak pada kepentingan rakyat," kata Busyro.
Guru Besar Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan kini hukum hanya tajam jika kebawah dan tumpul jika berhadapan dengan kalangan atas. Pemerintah, menurut Hikmahanto, seharusnya peka terhadap rasa ketidakadilan yang terus dialami rakyat.
"Saya prihatin. Hakim terlalu legalistik jika pihak yang lemah menjadi terdakwa. Untuk kasus korupsi, hakim justru tak menggunakan kacamata kuda, tetapi seolah-olah memahami tuduhan korupsi tak terbukti dengan melihat konteks," kata Himkmahanto di Jakarta, Kamis.
Keadilan Restoratif
Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyarankan agar aparat penegak hukum menggunakan restorative justice (keadilan restoratif) sebagai penyelesaian alternatif dalam sejumlah kasus kecil seperti yang menimpa AAL maupun Nenek Minah.
Keadilan restoratif adalah konsep pemidanaan yang mengedepankan pemulihan kerugian yang dialami korban dan pelaku, dibanding menjatuhkan hukuman penjara bagi pelaku. Hal itu dimaksudkan agar penyelesaian kasus-kasus kecil tak perlu sampai ke pengadilan, tetapi diselesaikan cukup dengan mediasi. Peradilan anak telah digagas pemerintah belandaskan azas ini.
Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar yang turut memperjuangkan penerapan keadilan restoratif mengaku kecewa dengan para penegak hukum yang tidak menggunakan konsep tersebut. Ia menilai, Kementerian Hukum dan HAM pun bertanggunjawab, karena sekarang lebih peduli pada pencitraan, sehingga subtansi rasa keadilan masyarakat tidak tersentuh lagi.
"Sungguh disesalkan, sekarang ini semua penegak hukum mulai lagi kembali ke ego sektoral masing-masing," kata Patrialis.

Sejumlah pandangan, fakta itu, memperlihatkan bahwa keadilan hukum di negeri ini hanya sebatas keadilan sendal jepit, keadilan yang menjepit rakyat kecil. Sungguh ironi, di negeri yang dalam butir-butir dasar negaranya disebut menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan perilaku berkeadilan ini, rakyatnya diperlakukan dalam perbedaan kasta besar dan kecil. Penegakan hukum di negeri ini masih sangat diskriminatif. Keras dan tegas untuk rakyat kecil, tapi loyo dan bagai agar-agar bagi kalangan atas.

Mari berdendang bersama Iwan Fals...

Mengapa besar selalu menang. 
Bebas berbuat sewenang-wenang. 
Mengapa kecil selalu tersingkir. 
Harus mengalah dan menyingkir. 
Apa bedanya besar dan kecil?


reff: kompas.com

Rabu, 02 November 2011

Cara Membuat Makalah yang Baik dan Benar



Membuat Makalah yang Baik dan Benar

Bagaimanakah cara membuat makalah yang baik dan benar.  Selama ini teman-teman sekalian pasti banyak yang sering membuat atau menyusun Makalah, akan tetapi anda sendiri tidak tau apakah Makalah yang anda susun sudah mengikuti kaidah. Berikut adalah cara cepat dan benar dalam penyusunan sebuah Makalah
Cara Membuat Makalah.

Secara struktural makalah yg umum biasanya tersusun atas:
1. Kata Pengantar : berisi kata2 harapan penulis, ucapan trimakasih, dll dari penulis
2. Daftar isi (jelas)
3. Pendahuluan : latar belakang pembuatan tugas, tujuan dan manfaat yg diinginkan
4. Landasan teori : kutipan teori2 yg mendasari makalah, biasa lgs dikutip dari buku diktat
5. Pembahasan : inti makalah yg ingin lo bahas masukan di bab ini
6. Kesimpulan : pendek kata dari pembahasan masukin sini
7. Daftar Pustaka : sumber2 yg anda pakai
Dan untuk tahap awal yaitu :

Memilih Topik.
Bila topik telah ditentukan, anda mungkin tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih. Namun demikian, bukan berarti anda siap untuk menuju langkah berikutnya.
Pikirkan terlebih dahulu tipe naskah yang akan anda tulis. Apakah berupa tinjauan umum, atau analisis topik secara khusus? Jika hanya merupakan tinjauan umum, anda dapat langsung menuju ke langkah berikutnya. Tapi bila anda ingin melakukan analisis khusus, topik anda harus benar-benar spesifik. Jika topik masih terlalu umum, anda dapat mempersempit topik anda. Sebagai contoh, bila topik tentang “Indonesia” adalah satu topik yang masih sangat umum. Jika tujuan anda menulis sebuah gambaran umum (overview), maka topik ini sudah tepat. Namun bila anda ingin membuat analisis singkat, anda dapat mempersempit topik ini menjadi “Kekayaan Budaya Indonesia” atau “Situasi Politik di Indonesia. Setelah anda yakin akan apa yang anda tulis, anda bisa melanjutkan ke langkah berikutnya.
Bila topik belum ditentukan, maka tugas anda jauh lebih berat. Di sisi lain, sebenarnya anda memiliki kebebasan memilih topik yang anda sukai, sehingga biasanya membuat esai anda jauh lebih kuat dan berkarakter.
Tentukan Tujuan
Tentukan terlebih dahulu tujuan esai yang akan anda tulis. Apakah untuk meyakinkan orang agar mempercayai apa yang anda percayai? Menjelaskan bagaimana melakukan hal-hal tertentu? Mendidik pembaca tentang seseorang, ide, tempat atau sesuatu? Apapun topik yang anda pilih, harus sesuai dengan tujuannya.
Tuliskan Minat Anda
Jika anda telah menetapkan tujuan esai anda, tuliskan beberapa subyek yang menarik minat anda. Semakin banyak subyek yang anda tulis, akan semakin baik. Jika anda memiliki masalah dalam menemukan subyek yang anda minati, coba lihat di sekeliling anda. Adakah hal-hal yang menarik di sekitar anda? Pikirkan hidup anda? Apa yang anda lakukan? Mungkin ada beberapa yang menarik untuk dijadikan topik. Jangan mengevaluasi subyek-subyek tersebut, tuliskan saja segala sesuatu yang terlintas di kepala.
Evaluasi Potensial Topik
Jika telah ada bebearpa topik yang pantas, pertimbangkan masing-masing topik tersebut. Jika tujuannya mendidik, anda harus mengerti benar tentang topik yang dimaksud. Jika tujuannya meyakinkan, maka topik tersebut harus benar-benar menggairahkan. Yang paling penting, berapa banyak ide-ide yang anda miliki untuk topik yang anda pilih.
Sebelum anda meneruskan ke langkah berikutnya, lihatlah lagi bentuk naskah yang anda tulis. Sama halnya dengan kasus dimana topik anda telah ditentukan, anda juga perlu memikirkan bentuk naskah yang anda tulis.
Membuat Outline
Tujuan dari pembuatan outline adalah meletakkan ide-ide tentang topik anda dalam naskah dalam sebuah format yang terorganisir.
Mulailah dengang menulis topik anda di bagian atas
Tuliskan angka romawi I, II, III di sebelah kiri halaman tersebut, dengan jarak yang cukup lebar diantaranya
Tuliskan garis besar ide anda tentang topik yang anda maksud:
Jika anda mencoba meyakinkan, berikan argumentasi terbaik
Jika anda menjelaskan satu proses, tuliskan langkah-langkahnya sehingga dapat dipahami pembaca,-
Jika anda mencoba menginformasikan sesuatu, jelaskan kategori utama dari informasi tersebut,-
Pada masing-masing romawi, tuliskan A, B, dan C menurun di sis kiri halaman tersebut. Tuliskan fakta atau informasi yang mendukung ide utama.

Menuliskan Tesis
Suatu pernyataan tesis mencerminkan isi esai dan poin penting yang akan disampaikan oleh pengarangnya. Anda telah menentukan topik dari esai anda, sekarang anda harus melihat kembali outline yang telah anda buat, dan memutuskan poin penting apa yang akan anda buat. Pernyataan tesis anda terdiri dari dua bagian:
Bagian pertama menyatakan topik. Contoh: Budaya Indonesia, Korupsi di Indonesia
Bagian kedua menyatakan poin-poin dari esai anda. Contoh: memiliki kekayaan yang luar biasa, memerlukan waktu yang panjang untuk memberantasnya, dst.
Menuliskan Tubuh Esai
Bagian ini merupakan bagian paling menyenangkan dari penulisan sebuah esai. Anda dapat menjelaskan, menggambarkan dan memberikan argumentasi dengan lengkap untuk topik yang telah anda pilih. Masing-masing ide penting yang anda tuliskan pada outline akan menjadi satu paragraf dari tubuh tesis anda.
Masing-masing paragraf memiliki struktur yang serupa:
Mulailah dengan menulis ide besar anda dalam bentuk kalimat. Misalkan ide anda adalah: “Pemberantasan korupsi di Indonesia”, anda dapat menuliskan: “Pemberantasan korupsi di Indonesia memerlukan kesabaran besar dan waktu yang lama”
Kemudian tuliskan masing-masing poin pendukung ide tersebut, namun sisakan empat sampai lima baris.
Pada masing-masing poin, tuliskan perluasan dari poin tersebut. Elaborasi ini dapat berupa deskripsi atau penjelasan atau diskusi. Bila perlu, anda dapat menggunakan kalimat kesimpulan pada masing-masing paragraf.

Curriculum and Instruction - Children's Literature

Teaching Children's Literature Provides Cornerstone for Good Education
Because reading is the foundation on which all other academic skills are built, early mastery of reading is often a good predictor of future academic success. Educators and librarians who focus their professional development on children’s literature, developing their skills and knowledge to encourage young students to read, will continue to be in high demand in both public and private schools.
Penn State World Campus has partnered with Penn State’s College of Education to offer you a Master of Education in Curriculum and Instruction with an emphasis in Children's Literature.
Help Children Discover the Joys of Reading
Penn State’s online Master of Education in Curriculum and Instruction with an emphasis in Children's Literature focuses on developing your skills and knowledge in working with young readers. Our courses can improve your strategies for encouraging reading and transforming the lives of young readers. You can earn professional development credits such as Act 48 in Pennsylvania while you complete all your courses online — with no required campus visits or residencies.
In November 2007, Instructor Magazine, the periodical most-read by elementary school teachers, proclaimed Penn State’s World Campus program as the best online program in children’s literature.
Choose the Online Children’s Literature Graduate Program Right for You
Penn State offers two online children’s literature programs. Choose the one best for you and make your passion for children's literature the focus of your professional development plan.
  1. Master of Education in Curriculum and Instruction — Emphasis Children's Literature
    If you are a teacher or librarian, this program can help you encourage young students to master their reading skills.
  2. Graduate Certificate in Children’s Literature
    This program is designed to expand your knowledge of children's literature through the writings of classic and contemporary authors. You’ll also explore picture books, folklore, and myths. All credits earned in this certificate may be applied toward a master’s degree, upon your admission into that program.
Act 48 Approved
Penn State is an Act 48-approved provider for Pennsylvania educators, so the courses for the master of education in curiculum and instruction will count toward professional development hours.
Who Should Apply
If you are a teacher, school librarian, or other educational practitioner who wants to earn a master of education degree in curriculum and instruction, meet professional development requirements, focus on children’s literature, and improve your opportunities for career advancement, this could be the program for you.
Career Opportunities for Graduates
Past graduates of our children’s literature program have achieved success as:
  • teachers
  • school administrators
  • professors
  • writers
  • publishers
Online Education at Penn State
Penn State has a history of 100+ years of distance education and more than a decade of experience in online learning. We strive to create an online learning environment that brings you as close to the face-to-face experience as possible.
reff: http://www.worldcampus.psu.edu/degrees-and-certificates/childrens-literature-masters/overview

Rabu, 01 Juni 2011

Ghandi, Gus Dur dan Saya

Oleh Punggad

Sejenak dalam duduk sendirian, terbesit dalam nalar saya tentang rahasia hidup. Ketika merenungi ihwal itu, sembari mengotak-atik kembali pertanyaan besar “mengapa saya diciptakan berbeda dengan yang lain?” Pertanyaan ini membawa saya merambat menelusuri lorong-lorong pemikiran yang masih gelap, hingga sampai ujung malam saya baru temukan lentera kecil yang sedikit memberi pencerahan.

Setelah melihat cahaya itu, kata “Agama” mendadak muncul menghadang, saya mulai menilai tentang objektifitas agama dalam menuntun manusia menemani perjalanan singkatnya di dunia. Agama berarti sesuatu yang tidak rusak. Manusia yang di dalam hatinya terdapat agama, ia akan senantiasa dengan jernih memahami teka-teki kehidupan yang telah disusun oleh Tuhan. Pada hakikatnya, ia akan mengerti mengenai penurunannya di belantara dunia ini, yang tidak lain hanyalah sebagai Khalifah yang bertugas sebagai juru selamat, pemberi kesejahteraan, serta memupuk keberlansungan hidup bersama dalam bingkai keharmonisan.

Pesan hidup damai telah dikumandangkan mulai awal kehidupan manusia. Pesan itu akan berkesinambungan hingga saat ditutupnya pergelaran jagat raya ini. Konon, setiap satu abad akan muncul tokoh baru dari golongan kita yang lantang menyuarakan perdamaian dan menentang penindasan atau diskriminasi. Pada 2 Oktober 1869 lahir di India seorang yang masa hidupnya sangat gigih memperjuangkan perdamaian. Dialah Mohandas Karamchand Ghandi atau yang sering kita sebut Mahatma Ghandi. Dari Indonesia, tepatnya di Jombang pada 7 september 1940 lahir kembali seorang tokoh pembela perdamaian, yaitu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kedua orang ini memiliki power determinity yang sama untuk mencipta dan melanggengkan perdamaian di muka bumi.

Ghandi hidup berada di tengah-tengah kolonialisme Inggris di India. Pemikiran-pemikiran Gandhi mulai terbuka ketika ia menumpuh studi hukum di Inggris pada tahun 1889. Setelah karir hukum selesai di India, pada tahun 1893 Gandhi bertolak menuju Afrika Selatan. 21 tahun di Afrika Selatan inilah yang menentukan arah hidup Gandhi hingga ia terbunuh di tangan Nathuram Godse seorang ekstrimis Hindu pada 30 Januari 1948.

Di ranah paling ujung selatan Afrika itulah, prinsip-prinsip perjuangan Gandhi terkelompok dalam bentuk Ahimsa; menentang kekerasan, Hartal; pemogokan dan Satyagraha; menolak kerjasama. Setelah kembali ke India pada tahun 1915, satu prinsip lagi muncul yaitu Swadeshi yaitu gerakan untuk menggunakan produk sendiri sebagai respon terhadap upaya Inggris menjadikan India sebagai pasar bagi hasil-hasil industri mereka. Hampir 33 tahun perjuangannya di India Gandhi tidak henti menyuarakan suara penentangan terhadap kolonialisme disertai pesan perdamaian. Ia harus melewati tragedi demi tragedi yang penuh darah dalam penentangan terhadap Inggris.

Buah manis yang dapat dipetik dari perjalanan hidup seorang Mahatma Gandhi ini, adalah keteladanan sebagai mata air inspirasi kehidupan seluruh manusia. Bahwa segala sesuatu bisa diselesaikan dengan tanpa kekerasaan, dengan mengutamakan perdamaian dan kebenaran dalam menjalankan kehidupan ini. Kita hidup dalam bumi yang sama tentunya harus bisa saling menghargai dan tolong menolong. Jika tidak maka kehidupan ini akan dipenuhi dengan kekacauan karena kita saling menyalahkan orang lain. Tentunya bumi ini akan lebih baik jika kita bisa duduk bersama untuk memecahkan sebuah masalah. Tanpa menggunakan kekerasaan, niscaya semua masalah bisa terpecahkan bersama.
Sepaham dengan Ghandi, Gus Dur lebih dikenal sebagai bapak Pluralisme. Ia berjuang membela kaum minoritas dan memenuhi hak-haknya sebagai sesama manusia. Semasa hidup, ia sangat mantap mengamalkan pesan-pesan damai dari agama. Menaburkan benih-benih cinta kasih untuk semua umat manusia. Prinsipnya dalam menghargai kebebasan berpendapat serta menjunjung tinggi perbedaan, banyak membuat orang lain meniru apa yang dilakukan Gus Dur.

Sosok inspiratif ini, mampu menggerakkan manusia mencapai peradaban yang penuh ketenangan, progresif dalam menentang segala bentuk ketidakadilan, serta membuka pintu gerbang  pemikiran manusia untuk terbang melihat luasnya dunia secara utuh. Salah satu peran urgennya adalah menjadi penengah dalam menyelesaikan berbagai problematika Internasional. Dalam kepemimpinannya sebagai presiden ke-4, ia telah berhasil mengayomi dan menaungi masyarakat semua golongan. Ia tidak membeda-bedakan perbedaan suku, ras, agama, kepercayaan, dan status sosial seseorang.

Gus Dur merupakan tokoh kyai sekaligus politisi yang peduli terhadap diskriminasi. Sebagai contoh, ketika banyak orang menghujat dan mengklaim kelompok yang dianggap sesat, beliau justru membelanya atas nama kemanusiaan. Disini bukan berarti beliau setuju dengan aliran yang dianggap sesat itu. Tetapi beliau sangat menghormati keyakinan seseorang sebagai hak asasi mereka. Dalam pemikirannya, Gus Dur mengajari banyak kalangan untuk memahami dan menghayati agama secara dewasa, penuh kearifan, dan kebijaksanaan. Gus Dur sangat bijaksana sekali dalam mentoleransi gerakan yang dianggap sesat. Salah satu ajarannya, bahwasanya kita boleh saja memandang ajaran orang lain itu sesat, tetapi tidak dengan sendirinya kita boleh memusnahkannya.

Sama seperti mereka, sebagai seorang manusia saya tumbuh berkembang dalam ekosistem yang peduli pada perdamaian. Menciptakan suasana tenang dan damai adalah sebuah hasrat dan tujuan bakti hidup yang singkat ini. Prinsip utama yang menjadi pegangan menempuh jalan hidup saya adalah “sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi yang lainnya”. Kalimat ini bagi saya adalah mantra yang ampuh untuk bisa hidup bersama manusia dalam buaian penuh cinta dan kasih sayang.

Perjalanan yang cukup panjang di medan perenungan malam ini, merupakan pengalaman berharga dalam menyusuri lika-liku jalan menuju pengetahuan tentang hakikat hidup. Saya banyak menangkap pengetahuan baru tentang bagaimana seharusnya manusia dalam berolah dan gerak di bumi dan langit yang sama. Kita sebagai manusia, pada hakikatnya diciptakan oleh Tuhan dalam perbedaan. Berkenalan dengan Ghandi dan Gus Dur, memberikan spirit baru bagi saya pribadi, untuk berlari lebih cepat menggapai hasrat yang sudah tampak jelas dan nyata. Spirit dari merekalah yang saya pelajari sepenuh hati, untuk pembelajaran dikehidupan sekarang dan yang akan datang.

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...