Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2018

Di Bawah Kebahagiaan Semesta


Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Byalkan

Pada setiap penantian yang disertai kesabaran, Insyaallah hasilnya akan membawa kebahagiaan. Begitulah kalimat bijak disampaikan angin lewat, memberi ucapan selamat dan sukses atas peristiwa terjadinya tunganan antara Dlakirman dengan seorang gadis yang diketahui bernama Rohani.

Moment bersejarah itu terjadi tanpa basa-basi. Seminggu sebelumnya, melalui telepon Dlakir memberitahu sekaligus membujuk orangtuanya untuk berkunjung ke rumah orangtua Rohani di Kota Semarang. Kiranya hari selasa tanggal 6 Februari. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan itu sekalian mengusung agenda khitbah atau tunangan. Orangtua Dlakir mengindahkan, selanjutnya dari jarak jauh, mereka menyusun bekal apa saja yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai 'serahan' dan makanan yang akan dibawakan untuk buah tangan.

Rupanya ada kehendak lain, acara 'harus' diajukan lebih cepat. yaitu, sehari sebelum tanggal 6. Tepatnya hari senin tanggal 5 Februari, Dlakir berangkat dari Jogjakarta menunggang kuda besi dengan temannya, Abdul Hadi. Pagi itu Kota Jogja sedang diguyur hujan cukup deras hingga pukul 9. Sebelum menuju Semarang, Dlakir lebih dulu mampir kantor tempat dia kerja di ringroad utara untuk mengambil gaji kerja selama bulan Januari. Sesampai di kantor lekas-lekas dia menuju bagian keuangan. Sebelum perjalanan mereka berdua mengisi perut dahulu, soto ayam di warung sebelah gedung kantor lembaga tempat ia bekerja.

Sembari makan, mereka memikirkan jalan pintas menuju Semarang selain jalur Jogja-magelang-semarang, Dlakir memutuskan mencoba lewat arah timur, yaitu Jogja-klaten-boyolali-salatiga-semarang. Meski belum hafal benar jalur yang akan ditempuh, tetapi dengan tekad dan optimis ahirnya Dlakir begitu berani untuk mengambil jalur itu. 

Katanya, kalaupun nanti tersesat di jalan, paling hanya mutar-mutar satu jam saja lamanya. Masih ada waktu untuk sampai Semarang sebelum bayangan matahari melebihi tombak.

Benarlah prediksi itu. Selepas wilayah arah Gondang Winagoen, Pabrik gula Klaten, Mereka menuju pintas ke utara dan mulai masuk arah desa-desa di pedalaman klaten, Dlakir yang mengemudi agak lupa jalan. ia benar-benar lupa ingatan jalan. Padahal seminggu lalu pernah melewati ketika naik bus. Tetapi, walau ragu, Dlakir tetap saja melanjutkan jalan dengan mantap. 

Saking besar optimisnya, motornya tiba-tiba melesak ke dalam rimbunan perbukitan yang jalannya tak beraspal. Matahari pun nyaris tidak terlihat karena tertutup tebalnya daun-pepohonan. Kondisi yang habis hujan membuat jalan becek dan licin. Di wilayah klaten (yang diduga itu) bagian barat, Dlakir berhenti sejenak. DIa positif tersesat. Mau tanya tapi tidak ada orang lewat. Sinyal internet lenyap dan tidak bisa mencari tahu arah jalan lewat googlemap.

Perjalanan lanjut, tanpa berhenti. Ahirnya mereka sampai jalur agak besar tapi rusak parah dengan seribu lubang. Hanya truk besar muatan pasir yang lewat. Di sini, setiap tikungan saya berhenti untuk bertanya pada orang. Ketemu dengan orang ngarit, ia mengatakan bahwa saya terlalu jauh dari arah menuju Boyolali. Kemudian dia menunjukkan arah yang panjang berliku. Saya percaya saja mengikuti petunjuknya, Daripada tersesat lebih jauh lebh baik saya mengikuti petunjukknya.

Satu jam penuh hanya muter-muter sedangkan waktu Duhur telah sampai, Dlakir baru masuk wilayah bertuliskan Jatinom. Lega betul dia menemukan sebuah kampung, setelah lama terpentok alas pohon-pohon dan jalan buntu. Kampung dengan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni. Nyaris tidak ada orang yang kelihatan. Setelah menunggu di tepi jalan beberapa menit, untung besar, ahirnya ada orang lewat juga. Beruntunglah orang itu bisa ditanyai. Dlakir melepas kemudi, gentian Dulhadi berkendara melewati Boyolali... hingga Salatiga.

Selama pejalanan melewati jalur itu, rasanya alam benar-benar bersahabat. Suasana mendung mengayomi perjalanan mereka sampai masuk Bawen, Semarang. Baru hujan kembali turun saat mereka sampai daerah Ungaran.

Di sisi lain, rombongan keluarga Dlakir berangkat dari Pati jam 9 pagi. Menurut kabar dari mbah Hasan yang membawa rombongan itu dengan mobilnya, mereka sudah sampai di MAJT jam 12.30 WIB. Dlakir masih di SPBU Bawen, Istirhat sejenak meluruskan punggung dan ishoma sebentar. Rombongan dari Pati pun juga beristirahat dulu. Alhamdulillah mobilnya lancar kembali setelah tadi sempat mengalami rewel.

Dari arah selepas Salatiga itu, gantian Dlakir lagi di depan, memboncengkan Dulhadi. Sampai di ungaran hujan kembali turun. Deras sekali. Ini membuat kecepatan bekendara mereka harus diturunkan, maksimal 50 KM/jam. Jarak pandang jalur utama menuju Semarang yang mereka lewati cukup ramai. Lebih baik berkendara pelan mengutamakan keselamatan.

Jam setengah 2 Dlakir mengabari lagi rombongan dan memintanya untuk persiapan lanjut perjalanan. Sekitar 10 menit lagi sampai lokasi. Rombongan mobil yang belum tahu lokasinya, mereka menunggu di dekat SMP 8 Candisari, awalnya Dlakir minta supaya rombongan berhenti dan menunggu untuk dijemput di depan Javamall. Lokasinya lebih mudah karena di pinggir jalan raya. Tetapi rombongan sudah terlanjur menuju di SMP 8, jadi butuh waktu untuk mencari rombongan itu hingga ketemu.

Sudah jam 2, Dlakir dan rombongan sampai di depan rumah Rohani. Para penumpang mobil turun. Satu persatu diberi payung agar tidak basah oleh hujan. Rupanya penumpang mobil itu lebih banyak daripada perkiraan. Dlakir mengira isi rombongan cuma 7 orang. Namun tetapi semua ada 8 0rang dewasa dan 3 anak-anak. Belum lagi jajanan bawaan. Mungkin jumlah beban yang berat itu mengakibatkan mobilnya sempat mati mendadak.

Masuklah rombongan dengan membopong barang seserahan itu, keluarga Rohani berjajar di depan pintu untuk menyambut tamu. Dlakir sendiri cukup terkejut karena barang bawaan rupanya diluar perhitungan. Bawaan yang lengkap. Isinya macam-macam makanan, tak ketinggalan juga pakaian. Semua tamu sudah duduk memenuhi ruang tamu. Orang-orang sudah siap untuk memulai acara. Dlakir dan Dulhadi yang motoran dari Jogja terkena hujan nyaris basah, mereka pun langsung ikut acara tanpa sempat ganti baju.

Bapak Dlakir tiba-tiba menyalami orang dari keluarga Rohani yang duduk di dekatnya. Dia biang “Sampean niki ingkang besan kulo”. Mendengar kalimat itu, orang yang disalaminya merasa kaget. Ternyata salah orang. Maka seisi ruangan itupun tertawa. Orang yang kaget itu rupanya wali daripada keluarga Rohani yang bertugas sebagi penyambung lidah. Dengan begitu, pak wali langsung menunjukkan kepada bapak Dlakir tentang siapa calon besan yang sesungguhnya.

Acara dimulai dengan sambutan dari pak wali, kemudian dibalas oleh wali kelaurga Dlakir, mbah Marno. Penjelasan maksud kedatangan adalah untuk dodok lawang sekalian lamaran. Dua kegiatan yang secara prosedur formal seharusnya berurutan terpisahkan oleh jangka waktu itu, di situ dilakukan secara langsung. Bukan untuk menyalahi adat tradisi, tetapi karena jarak antara pati-semarang cukup jauh, maka pertimbangan efektivitas penggabungan dodok lawang dan lamaran itu dibarengkan.

Walaupun di ahir acara pihak perempuan merasa tidak biasa karena persitiwa dodok sekalian lamaran, tetapi tidak masalah sebab sebelumnya Dlakir sudah komunikasi dengan keluarga Rohani. Bahwa dia akan dodok lawang sekalian lamaran. Orang-orang yang tidak tahu wajar jika kaget. Namun memang sebaiknya tradisi itu memang harus lentur dan bisa diotak-atik untuk kemaslahatan selama tidak membahayakan.

Usai acara formal semua hadirin makan-makan bersama, menu lauk ayam daging. Tadinya kita akan disuguhi makan dengan ayam kampung milik sendiri. Berhubung banyak ayam di rumah tinggal nyembelih saja. Tetapi orangtua Dlakir tidak setuju kalau keluarga Rohani menyembelih ayam. Takutnya itu secara filosifis nanti akan memutus silaturahmi. Lebih jauh, itu bisa menandakan besok rumah tangga yang akan dibagun akan mengalami perpisahan.

Mengenai perubahan tanggal menjadi 5 Februari. Ini menyesuaikan dengan perhitungan Jawa, sebab tanggal 6 adalah hari selasa, bagi orang Jawa, hari terahir dalam pasaran itu tidak baik jika digunakan untuk membuat acara lamaran atau pernikahan. Maka diajukan hari senin. Justru jika senin tanggal 5 itu merupakan hari paling bagus dalam bulan itu untuk membuat acara.

Pukul 15:30 Wib, acara selesai. Gerimis pun belum juga reda. Rombongan kembali ke Pati. Sebelum semua menaiki mobil, Dlakir memegang tangan adik perempuannya dan memberikan amplop untuk mengganti semua biaya keperluan acara tersebut. Dlakir dan Dulhadi kembali ke Jogja. Motoran lagi, di sepanjang jalan terus gerimis. Dlakir sangat riangnya. Agenda lamaran sudah sukses, dengan restu alam semesta semua rangkaian acara itu terlaksana dengan selamat. "Kita semua bahagia." Katanya.



 Yogya, 21 februari 2018.

Minggu, 02 September 2018

Boekan Lagi Djamannja Pendekar?


Boekan Lagi Djamannja Pendekar?

pendekar sakti mandra guna
Moengkin soeda tetapan takdir jang MahaKeoasa, bahoea sanja tiap” manoesia poenja kehendak itoe batinnja. Soeatoe dorogan jang muasalnja dari dalamnja bathin, mengadjaknja oentoek djadi manoesia jang paling hebat. Itoe adjakan koet jaitoe asa namanja, nama lainan daripada tjita-tjita. 

Kala waktoe masih kanak-kanak, manoesia menjandarkan tjita-tjitanja itoe daripada resonantie ajah dan iboeknja. Bilamana itoe anak moelai tahoe pergaoelan lingkoengannja, ia mentjoba djadikan itoe tjita-tjita lajaknja hobi. Soeatoe jang dikerdjakannja tiap” hari, ia gembira ria dan teroes ingin melakoekan itoe hobi. 

Saja poenja itoe pengalaman. Moengkin jang saja alami, sama dengan jang anda semoea djoega alami. Soeatoe dorongan jang menjenangkan itoe beroepa tjita”. Saja amat senangnja pada keinginan oentoek djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja mengkira”kan, itoe keinginan mempeladjari ilmoe pentjak toemboeh otomatic sebabnja saja poenja ajah ialah seorang pendekar adanja.

Itoe tjita” teroes berketjamoek di dalam diri. Saja tidak tahoe apa” dan tak maoe tahoe ketjoeali beladjar itoe pentjak. Bahkan poen djika ajah melarang saja beladjar itoe, saja tetap sadja membandel. Diam” saja teroes beladjar tanpa sepengetahoeannja ajah. 

Djoestore pada oesia mendjelang doea poeloeh lima tahoen, setjara resmi saja ikoet beladjar bela diri koengfoe jang asalnja dari Foshan, Tjina Selatan. Itoe seni bela diri di seboet Wing Chun namanja. Sedjak pertama ikoet latihan, sang master Shifoe itoe koengfoe bertjakap, djika saja ini soedah nampak bakat dilihat daripada gerakan” saja mengikoeti itoe koengfoe.

Tampaknja, apa jang djadi kehendak ajah melarangkoe beladjar itoe pentjak, sama sekali ta’ dapat koe sadari dengan baik. Bahkan sampai ini waktoe, tanpa saja doega” bilamana reflex ini tangan ataoepoen kaki, soeda matjam” djoeroes sadja geraknja.

Itoe perkara jang sampai terbawa hingga detik ini, ingin saja loepakan dan boeang djaoeh” biasaan jang berhoeboengan dengan itoe hobi.

Djelasnja, akoe molai goesar. Bahsasanja ini boekan djaman kependekaran lagi. Akoe kadangkala ingin tinggalkan itoe pentjak, dan gantiken itoe hoebi dengan beladjar menoelis karja” yang lemboet. Oempamanja; sastra, syair, atoepoen lebih loeas.

Djaman otot soedah oesai. Gantiannja djaman akal. Ija. Menoelis ialah tjara baroe oentoek mengasah kelemboetan rasa, ketadjaman fikir dan ketegasan sikap. Ini tjara moetachir oentoek menojoe djadi pengoeasa, bangsawan, ataoe pahlawan.

Itoe makanja saja beralih haloean. Sekiranja tangan jang doloe saja goenakan ontoek main poekoel, kini ini tangan haroes terbiasa memegang pena oentoek mengoengkapkan ide dan gagasan. Orang jang mengoeasai itoe toelisan dan informasi itoelah orang jang bisa mengoesai doenia.

Kehidoepan doenia teroes berkembang. Nampaknja hegemonij informasi poen moelai terkena geseran. Ada soeatoe kekoeatan jang lebih dahsjat, jaitoe technologie. Soeatoe alat jang ditjiptakan oleh manoesia itoe poenja sifat ketjerdasan logic. Iya. Technologie otomatic mentjiptakan peloeang dan mampoe melipat doenia jang amat loeas mendjadi sempit.

Dan, njatanja djoega, itoe technologie djoestroe telah mengambil alih beberapa foengsi daripada manoesia. Misalnja, tentara machine, pembantoe machine, pengantar soerat machine, sendjata machine dan matjam lainnja. Itoe technologie menggantikan peranan manoesia dalam mendjaga keamanan ataoe bela diri, bahkan kelaknja, pengoesa technologie akan mengoesai djoega djaloer perniagaan.

Ini jang mendjadi goesar di fikiran saja. Djadi, benarlah itoe oetjapan ajah saja. Moengkin saja tak perloe lagi djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja haroes faham djaman, pendekar hanja akan djadi tjenteng ataoe peseoroeh bagi pengoesa informasi. Tidak poenja kemerdekaan nantinja meskipoen pendekar itoe tinggi ilmoenja.

Itoelah sekilas daripada geosarnja kehendak bathin saja. Soeatoe pilihan haroes ditentoekan antara tjita” djadi pendekar berilmoe tinggi ataoe beralih djadi orang jang mampoe menggoenakan technologie.

Soemedang, Agoestoes 2018.




posted by student

Rabu, 08 Juni 2016

Kemerdekaan Orang Berpuasa

Kemerdekaan Orang Berpuasa
By alkanjawi

Salah satu aspek fungsional puasa yang baru saya sadari hari ini; orang berpuasa memegang kemerdekaan sebagai penyelamat kehidupan.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya termakan pola pikir sendiri, kalau puasa hanya akal-akalan Allah untuk mencoba manusia sekuat mana menahan lapar dan dahaga. Setingkat lebih “nalar”, puasa kemudian saya terjemahkan sebagai ujian yang sengaja Allah wajibkan untuk mengukur tingkat ketakwaan manusia menjalani perintahnya. Karena alasan pertama itu, masa kecil saya ketika datang bulan Ramadhan, tanpa sepengetahuan orang lain saya biasa makan dan minum es di siang bolong. Kedua dalam urusan ketakwaan, saya memilih bertahan tidak makan atau minum apa-apa sampai tiba kumandang azan maghrib. Pola pikir purba tentang puasa yang dulu pernah menghinggapi nalar itu, sepertinya kini sudah terbang dan menghilang.

Proses pengetahuan manusia memang fleksibel dan mudah menerima atau dimasuki stimulan dari mana pun. Semakin banyak bahan bacaan tentang puasa, saya menjadi terpikir puasa adalah media untuk membersihkan jiwa dari “penyakit-penyakit dalam” yang tidak bisa disembuhkan dengan alat-alat kedokteran moderen. Penyakit-penyakit dalam itu terakumulasi dan mengendap dalam tubuh setelah 11 bulan lamanya kita bebas makan dan minum apa saja yang entah dari mana dan dengan cara apa memperolehnya.

Saya terpikir puasa adalah model penyembuhan dari dalam. Dari situ, mengalir penyataan lanjutan: karena itu orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan jauh boleh untuk tidak berpuasa. Orang sakit yang dia ikhlas menerima keadaan sakit, dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah. Musafir perjalanan jauh yang niatnya tulus mencari ridho Allah dan kemaslahatan manusia, oleh agama disamakan dengan perjalanan menuju masuk surga. Saya mengartikan sakit dan perjalanan jauh (yang menjadi syarat boleh tidak berpuasa) itu sama juga sebagai “metode penyembuhan yang mirip” sebagaimana puasa.

Walaupun sakit dan perjalanan jauh dapat mengurangi beban dosa kita, namun keduanya tidak seimbang kelas penyembuhan dan “kualitas obat” yang dikandung dalam puasa ramadhan. Maka, atas keringanan Allah, kita tetap wajib mengganti puasa di lain waktu. Bila juga tidak memungkinkan puasa, gantinya bisa dengan sedekah. Memberi kebahagiaan pada orang lain. Allah menghendaki puasa ini sebagai penyembuhan diri supaya hidup kita menjadi selalu teriring kemudahan, dan tertutup dari kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Mengenai perintah puasa ini, kalau tidak salah Nabi Muhammad mengatakan: Puasalah kalian agar kalian semua sehat.

Poin Penting 

Sebagaimana ibadah lain yang hukumnya wajib, puasa diatur sedemikian rigid mulai dari waktu, cara, sampai ekspresi yang sulit untuk diotak-atik atau diperbarui (kontekstualisasi) dengan cara apapun. Bukan terus maksud saya hendak merubah kesepakatan tatanan ibadah tersebut. Namun, sebagai manusia pikiran-pikiran aneh bisa saja melintas melewati hal apa saja. Misalnya dalam konteks kita bernegara, Mas Joko tidak pantas menjadi presiden Indonesia, pantasnya dia itu presidennya Amerika. Hal aneh semacam ini bisa saja menembus kebakuan normatif keberagamaan kita. Juga termasuk ibadah wajib yang sudah jelas disusunkan segala macamnya oleh para ulama dari nabi sebagai referensi utamanya.

Peritah puasa akan tetap menjadi perintah sampai ketemu ahir hitungan hari dan bulan. Kita semua yang dalam kondisi normal akan tetap tekena wajib ain untuk berpuasa pada bulan ramadhan. Puasa mengembalikan kealamiahan kita semua untuk kebaikan lingkup dunia dan kehidupannya. Skup lebih luas puasa meliputi segala dimensi lahir dan batin, serta lapisan kemanusiaan. Puasa memerdekakan kita untuk hari ini dan masa depan dengan mengenalkan batasan-batasan yang berguna menjaga ketetapan kadar kemanusiaan.

Saya yakin, hewan dan tumbuhan tidak perlu diperintahkan berpuasa, karena secara alamiah pada waktu yang tepat mereka akan berpuasa dengan sendirinya. Kita yang diberi akal, bisa berpikir merengkuh kebebasan, (kalau mau mengakui) sebenarnya kemerdekaan yang kita harapkan adalah kemerdekaan metafisik sebebas-bebasnya atas makan dan minum. Makan minum kekuasaan, kedudukan, kemashuran dengan cara mendominasi, menekan yang lain untuk kepentingan kemerdekaan individual. Maka, tiada lain kemerdekaan yang kita ingini semacam itu lebih cenderung ke arah kerusakan. Bukan kemerdekaan yang mengusung keselamatan rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya perintah puasa bukan hanya sekedar melarang makan minum atau menghindari aktifitas fisik yang membatalkannya. Puasa meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan pemerintahan yang berkaitan dengan manusia. Kita berpuasa selain untuk diri sendiri, juga berfungsi untuk keseimbangan aspek kehidupan, pola pikir, bangsa, bumi, dan alam semesta.

Menjadi merdeka melalui berpuasa berarti kita mampu mengendalikan, mengekang, dan melawan dari segala dorongan nafsu menguasai, menghegemoni, atau menjajah yang itu secara prinsip bertentangan dengan kemerdekaan. Lapar, dahaga dan menahan libido seksual adalah bagian fisikal eksoteris. Di balik itu, berjuta-juta jenis nafsu jahat yang terus bergulat di bagian batin kita, sama sekali tidak pernah telihat oleh realitas empiris. Puasa menembus nafsu yang bergeraknya di alam batin, lalu mengobati, menyembuhkan dengan membuat batas-batas agar nafsu tak bisa sekehendaknya sendiri.

Bagi kita yang mampu membatasi nafsu dengan puasa, balasan pahalanya langsung dari Allah yang Maha Besar. Bisa jadi semua jenis timbangan yang kita kenal, tidak akan mampu mengukur besarnya pahala kita yang benar-benar berpuasa.


Pedakbaru, yk 2016




post by studen











Kamis, 02 Juni 2016

Jangan Senang Ditolong!

Jangan Senang Ditolong!

Hendaknya saat meminta pertolongan, perhatikanlah sebelumnya tentang seberapa kadar kelemahan diri kita untuk menerima ukuran pertolongan.

Sebenarnya maksud saya mengenai ukuran itu, ada hubungannya dengan sifat kata kerja “tolong” yang berlaku tanpa batas. Bila pada hari ini Anda ditolong oleh seseorang (yang entah kenal atau asing), bisa jadi pertolongan itu akan terulang kembali karena Anda terulang pada poisi butuh pertolongan. Begitu juga dalam hubungan Anda sebagai pemberi pertolongan. Pada masa depan yang lain, Anda akan mempoisikan tangan diatas sebagai penyelamat tangan-tangan lemah yang sedang berada di bawah. Perlu diingat, prinsip dalam ukuran tolong menolong adalah kesesuaian atau kesepadanan. Kelebihan walau hanya sedikit akan ada perhitungannya sendiri.

Kenapa harus tepat? Sebenarnya orang butuh ditolong karena terkait kadar waktu atau kekurangan yang ia sedang dialami. Begitu pula sebaliknya bagi penolong. Pagi-pagi, seorang tukang ojek di desa pinggiran berangkat ke pasar untuk narik pelanggan. Sebelum sampai di lokasi pelanggan pertamanya, tiba-tiba di tengah perjalanan ban motornya bocor. Dengan terpaksa ia harus turun dan menemukan tukang tambal ban. Ia gelisah sebab tidak membawa bekal uang yang cukup untuk keperluan memperbaiki motor. Tukang ojek tidak mau merepotkan orang lain. Setelah berjalan dan ahitnya ketemu dengan tukang tambal, ia hanya mampu membayar dengan jumlah uang separuh dari tagihan. Ia meminta tolong supaya kekurangan tagihan itu bisa dibayarkan nanti kalau sudah dapat rejeki. Sang tukang tambal rupanya baik hati dengan berkata: Ambil dulu uang itu, bayarlah nanti setelah kamu ada uang.

Begitu gembira hati tukang ojek. Sedangkan tukang tambal ban memang suka menolong dan terbiasa ikhlas.

Ada sebuah kelegaan hati yang kemudian mengakibatkan sepanjang hari tukang ojek bisa bersyukur, padahal di awal pagi sudah diuji dengan musibah ban motonya bocor. Kebaikan yang ditunjukkan tukang tambal membuat tukang ojek menjadi berbaik prasangka, begitu juga perasaan dan sikapnya terhadap semua orang hari itu. Tukang ojek sadar akan kewajibannya untuk membayar bilamana ia sudah mendapatkan cukup uang dari hasil kerjanya hari ini. Selain mengucapkan terimakasih kepada tukang tambal ban, ia juga mengucapkan terimakasih pada setiap pelanggan. Lebih dari itu, ia bisa mensyukuri dirinya secara lebih dalam; bersyukur musibah hanya berupa ban bocor, bukan putus rem atau ditabrak kendaraan lain.

Memang wajar bila orang merasa senang kalau menerima pertolongan. Tidak wajarnya apabila terkena musibah dan sangat butuh pertolongan, tetapi ketika ada yang mengulurkan tangan, ia menolak untuk menerima pertolongan itu. Ini mungkin berkaitan dengan prinsip. Tapi, nalar sehat kita semua tentu paham kalau prinsip semacam itu sulit untuk diterima logika umum. Saya sendiri, sungguh belum mampu untuk menolak pertolongan siapa saja di saat sedang butuh.

Timbangan
Kehidupan kita sekarang sedang menjumpai iklim yang bawaannya orang lebih mudah untuk meminta daripada memberi. Orang lebih gampang minta tolong, mengandalkan orang lain daripada memilih menyelesaikan permasalahhan (tanggung jawab) dengan bersikap tangguh dan sportif. Mudahnya memperoleh segala macam kebutuhan dan jalan yang semakin terbuka menjadikan mental kita lembek, manja dan ingin dituruti semua kemauan yang kita miliki. Dengan sikap yang demikian itu, perkembangan jiwa dan kekuatan raga akan menurun. Terlebih ketajaman kognitif dan sensitivitas emosional sudah barang tentu menyusut secara drastis.

Ketergantungan dan terus menerus mengandalkan orang lain secara mental ini membahayakan diri. Harap anda tahu, bahwa potensi setiap manusia untuk berani dan menjadi problem solver adalah bagian kekayaan pikiran yang tak terhingga nilainya. Apabila Anda tidak juga segera mengenali potensi itu, dan berlagak bodoh untuk bersedia mengoptimalkannya, maka di lain sisi Anda otomatis telah menelantarkan dan mengarahkan mental ke poisi lumpuh. Dalam kelumpuhan, mental Anda bukan lagi “kritis”, tetapi sudah sampai pada lapis “pematian” atas potensi kemanusiaan. Anda tidak akan bisa melakukan atau menghadapi sesuatu secara merdeka. Saya kira, tiada yang lebih membosankan menghadapi hidup (sekarang atau hari esok) ketika banyak jerat yang melilit dada dan hak atas nafas kebebasan kita.

Seandainya, dalam kaitannya sistem mobilisasi yang kita lakukan untuk membangun bangsa seperti sikap tukang ojek di atas, kemungkinan besar macam-macam keruwetan akibat tradisi manja pemerintah dan sikap miskin kongklomerasi akan bisa kita atasi. Pemerintah kita yang terjebak halusinasi dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar merasa nyaman dengan mental “kere”, hingga berakibat pada sikap selalu butuh pertolongan dan senang menerima “bantuan” dari negara lain, akan bisa kita dihindarkan. Elit politik kita terlalu dekat pada kekuasaan sehingga ingin mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan, akan bisa kita netralkan untuk kepentingan nasional kita.

Atau, jangan-jangan semakin tinggi kedudukan struktural seseorang, ia akan semakin senang untuk ditolong?

Alkanjawi, juni 03, 2016.





post by studen

Rabu, 01 Juni 2016

Siapa Nama Anak Kandung (Intelektualitas) Kita?

Siapa Nama Anak Kandung (Intelektualitas) Kita?

“Ia yang memikul dirinya”, ialah seorang lelaki gagah jiwanya. Ia menempuh laku berjalan jauh untuk memanjakan kekuatan kaki. Sesampai di tengah hutan belantara, tiba-tiba ketemulah ia dengan kerumunan orang-orang ramai sedang berdagang (seperti pasar). Ia dilempar pertanyaan “kisanak siapa, dari mana mau kemana?” ia sejenak diam. Kerumunan orang-orang itu bertambah banyak. Nampaknya bukan hanya manusia. Bayangan-bayangan lain ikut menelusup dalam pertanyaan keras itu. Ia menjawab “Aku Among Raga. Aku dari Aku hendak menemui Aku.”

Among Raga merupa menjadi pudarnya tali atas ikatan pertanyaan hakikat “siapa”. Belantara hutan dan riuh suara-suara itu rupanya ada di dalam dirinya sendiri. Among Raga berjalan jauh ke dalam diri. Among Raga adalah kiasan nama bagi setiap jiwa dan hidup menggerakkan raga, ia bisa nama saya, bisa nama anda, bisa nama siapa saja.

Kisah fiktif di atas bukan dari masa silam. Kisah tersebut saya bikin untuk kita pelajari tentang eksistensialisme dan keberlangsungan diri yang ada kaitannya dengan komunitas kita “komunitas tanpa nama”. Betapa nama itu bagi saya adalah seperti pertanyaan keras yang mengganjal dalam diri (dan seharunya kesadaran kolektif kita juga senada). Gara-gara tak kunjung dirubah nama itu, dada saya dipenuhi was-was tak terkendali,  pikiran negatif seperti mengintai untuk siap mempengaruhi semua sikap menjadi buruk.

Berikut ini salah satu alasan, kenapa batin saya selalu gusar karena sebuah nama.

Adalah tatkala zaman ketiga, segala macam apa saja cepat sekali berlajunya, teknologi, komunikasi, jaringan dari yang terang sampai yang gelap tumbuh dengan prosentase begitu pesat, padahal kita sangat sadar sedang menikmati produk instan dari itu semua. Kita menjadi telah mengemuka menjadi post agraris, post tradisionalis, atau post-post lain yang pada intinya kita sedang disugui modernitas yang masih menawan dan luar biasa. Akses kemudahan ini saya rasakan semakin mengikis dan sedikit menenggelamkan pondasi eksistensialitas manusia sebagai individu yang “person”. Lihatlah teknologi sosial media, berapa miliar akun yang bukan murni asli. Pengelola akun menyembunyikan identitas asli, mereka mengganti sebagian atau keseluruhan menjadi samaran semua.

Apa tuntutan dari kemudahan? Harapannya manusia semakin jujur dan menyatakan diri sebenar-benarnya. Tapi sungguh itu menjadi begitu sulit untuk dilakukan. Adanya kemudahan, justru kita berlomba-lomba membuat kemungkinan-kemungkinan baru yang jauh melepaskan diri dari realitas keaslian kita sendiri. Dan, yang terjadi berikutnya adalah pertanyaan yang hilang “siapakah aku?”

Seorang kawan saya, sebutlah namanya Dulkardeng, sejak lima tahun lalu menjadi pengguna banyak jejaring komunikasi pada sosial media. Saya amat yakin kalau anda mencari informasi tentang nama itu di internet dengan mengetik di secarh engine “Dulkardeng”, tidak ada satu kata pun yang merujuk ke dia. Dulkardeng menggunakan nama lain, nama alias, atau nama samaran untuk menutupi identitias aslinya sehingga ia menemukan keleluasaan untuk melakukan apa saja tanpa merasa kawatir akan ketahuan. Misalnya menggoda akun cewek atau memaki suatu kelompok yang tidak disukainya.

Banyak kemungkinan lain di luar pengetahuan Dulkardeng terkait privasi atau kemanan menggunakan media. Tetapi, justru karena ketidaktahuan itu, ia menjadi besar keberanian dan tajam taring untuk menjadi pemangsa bagi yang lainnya di kandang sosial media. Tentu saja ketika orientasi penggunaan nama itu tidak sesuai, ia akan kehilangan kesempatan menjadi positif di mata kebenaran.

Dulkardeng adalah analogi kecil. Di dunia ini, banyak kelompok lain yang ekslusif dan secara terang-terangan memberi pengumuman dari akun “anonimous” seperti sering dilakukan para hacker. Manusia bertopeng yang juga menyembuyikan identitas individu saat melakukan propaganda atau menyebar ancaman untuk kepentingan tertentu.

Jadi, pendapat sementara saya, di zaman modern ini justru kemanusiaan kita menjadi jauh lebih pengecut dari pada zaman sebelumnya. Kita menampakkan diri dengan wujud yang lain, sedangkan untuk berhadapan langsung face to face secara real tidak pernah berani. Kita tanpa nama menjadi berbahaya dan berpotensi membahayakan bagi yang lain. Tanpa identitas nyata, kita mudah dikuasai arwah pemangsa untuk ‘membunuh” orang lain. Kita tanpa hakikat tanda pengenal seperti pejalan yang menuju ketersesatan tanpa arah tujuan yang bermakna.

Harapan
“Komunitas tanpa nama “ adalah sebuah perkumpulan civitas anak-anak muda akademis Yogyakarta. Mereka sedang belajar menggali kemampuan kreativitas dan menuangkan gagasan atau pikiran mereka melalui karya tulis. Beberapa bulan telah berlaku, setiap seminggu sekali mereka bertemu untuk mengkaji, mengkritisi, merekonstruksi bahkan kadang dekonstruksi terhadap karya tulis yang mereka buat sendiri. Komunitas kecil nomaden ini menyimpan api kecil yang positif untuk menerangi (minimal) kegelapan di ruang kreativitas mereka sendiri.

Orientasi terciptanya sebuah nama kelompok ini maksud saya untuk mengisi “kekosongan” identitas sosial atau yang lainnya. “Komunitas tanpa nama”  hendaknya menjadi sifat temporer dan akan segera tergantikan dengan nama yang baik dan mampu mencerminkan filosifi kemanfaatan. Namun, sampai dua semester lewat, belum kunjung jua kita memperolah nama. Apakah sesulit itu untuk menentukan sebuah nama bagi komunitas? Dalam konteks ini, sungguh menemukan sebuah nama adalah kesulitaan yang maha benar.

Saya personlijk, tidak ingin membawa komunitas ini atau menjadi sebab bagi komunitas ini menuju ke belantara dunia underground. Tidak pula ingin stempel silang merah kultural mendarat di jantung atau seluruh kulit batang tubuh kita.

Sebagai bagian dari komunitas kecil ini, saya dan kita terjebak pada tarik ulur wacana perubahan nama. Saya lebih khawatir jika komunitas yang bersama-sama kita lahirkan ini tidak punya nama baik, sehingga pada saat jibril memberi ilham pengetahuan langit bagi setiap nama, kita terlewatkan. Saya takut, ketika masa pertanggung-jawaban tiba, nama kita disebut di depan gerbang ruang timbangan, kita tidak memberikan muatan kebaikan sama sekali. Saya ngeri, tanpa nama kita menjadi ancaman bagi ketenteraman dan keselamatan manusia.

Sekelumit menukil dari tradisi pemimpin para nabi, sesuatu kebaikan yang lahir mestinya kita sambut dengan gembira. Kemudian pasca kelahiran itu kita beri nama dengan nama-nama yang baik. Kreteria minimal baik itu adalah apabila orang mendengar nama itu disebut, ia akan merasa aman, nyaman dan bergairah untuk melakukan kebaikan. 

Pemberian nama pada komunitas kita ini saya kira tidak perlu lagi diulur-ulur.  Komunitas ini adalah anak intelektualitas kita, anak ideologis kita yang akan segera tumbuh dan membuahkan kreativitas untuk kemajuan bangsa. Setelah terpilihkan nama, kita akan bancaki, kita akan syukuri dengan memintakannya kepada Tuhan agar menjadi komunitas yang berkah dan bermanfaat dunia ahirat.

Dan, bila tetap bernama “komunitas tanpa nama” malah justru laiknya “pahlawan bertopeng” yang selalu menyembunyikan identitas dan kerja demi keselamatan khalayak banyak, secara apapun untuk zaman kekininan ini, saya tak berani memberi garansi.


Alkanjawi, 02 juni 2016.




post by Studen

Kamis, 31 Maret 2016

MEMBUKA TABIR GAIB

 
oleh Alkanjawi
Hari-hari setelah kematian Perwira Naga Putih, Sanuraga kerapkali mendapati bisikan gaib yang mengganggu dirinya. Bisikan itu datang saat menjelang malam. Waktu antara surup atau maghrib itu, Sanu mencoba untuk tak melakuakan aktivitas kecuali bersama orang lain. Kekawatiran bisikan gaib yang akan datang terus mengusik ketakutannya, ia takut terjadi sesuatu di luar kendali dirinya. demi kebaikannya, lantas sanu memilih teman yang pandai dalam hal ilmu gaib. Namanya Gustiasoro, seorang dewasa dari pesantren Wunapraya di tepi pulau Mendo, ada sebuah gunung bernama Klawur dimana terdapat sebuah padepokan yang jarang diketahui orang awam. Di situlah Soro belajar menempa pengetahuan gaib dari kecil hingga sekarang turun gunung setelah memutuskan untuk menikahi gadis desa dari kampung Sanu. Hal-hal penting yang diutarakan Sanu kepada Soro berhubungan dengan keadaan ahir-ahir ini, Sanu sering mendapat gangguan gaib. Soro pun tanggap dan berusaha mencarikan solusi memecahkan kebingungan Sanu itu.
“Sanu, sejak kapan hal itu terjadi padamu?” tanya Soro.
Sanu mencoba menghilangkan rasa takut, ia menjawab “Baru sekitar 4 hari terahir, mas.”
“Aku lihat ada sesuatu yang sedang mengikutimu, seperti sebuah pedang bercahaya putih bergagang naga. Aku kurang tahu siapa yang menggerakkan sebilah pedang itu. Hawa yang kurasakan, pedang itu tidak akan menyakiti atau melukaimu. Tapi bayang-bayang penghuni dari sisi gelap pedang itulah yang sering kamu rasakan membuat kamu tidak nyaman dan merasa terganggu. Memang, seperti ada lima naga hitam kecil jelmaan dari iblis yang beringas dan kejam.”
“Terus aku harus bagaimana, mas?” tanya Sanu.
“kalau boleh saya sarankan, kamu harus melihat sendiri bagaimana bentuk wujud dari sesuatu yang mengganggumu itu, biar kamu bisa berhadapan secara langsung. Hakikatnya mereka lebih lemah, dan cenderung takut bila berhadapan secara langsung dengan manusia”
“Tapi bagaimana caranya?, apa mas bisa membantu saya untuk bisa melihat meraka?” tanya Sanu lagi.
“Aku bisa, tapi ada yang lebih berwenang untuk melakukan itu.”
“Siapa mas?”
“ibumu sendiri”
Sanu mendadak heran. Apa benar ibu Dewitasari paham tentang kejadian ini. Sanu memang merahasiakan kegusarannya ahir-ahir ini kepada ibu atau ayahnya. Ia kawatir bilasaja ibu Dewitasri tahu, hal itu akan membuatnya bersedih akan keadaan anaknya. Karenanya, diam-diam Sanu tidak memberitahukan ganggauan ini kepada keluarga. Sanu malah tercengang ketika mendapat saran dari mas Soro.
“Mengapa harus ibu sendiri yang bisa membantuku? Ibu sebagai orang biasa tidak mungkin bisa melakukan itu. Tapi bagaimanapun, aku harus mencoba memberi tahu kepada ibuku tentang kejadian ini seperti apa yang mas Soro sarankan.” Ujar Sanu.
***
“Ibu ada sesuatu yang hendak aku bicarakan.”
“Ada apa, nak. Katakan saja pada ibu?”
Sanu bercerita tentang pengalaman selama ia kerap merasa diganggu oleh bisikan gaib itu. Ia juga bercerita tentang pengalaman ini sudah ia bicarakan dengan mas Soro.
“Apa yang ibu rahasiakan nampaknya akan segera terungkap. Ibu tidak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuan dari ayahmu, nak.”
“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sanu penasaran.
“Beberapa hari yang lalu, ibu dengar kabar Naga Perwira Putih di padepokan Bender telah mati. Dia adalah guru kebatinan yang sakti tapi licik. Piawai dalam ilmu tenaga dalam, bahkan selama ini belum ada yang sanggup menandingi kesaktian tenaga dalamnya. Ibu dan ayahmu waktu muda dulu pernah menjadi muridnya. Perwira Naga Putih berkata jika ia akan mati, ia akan mewariskan ilmu Naga Putih kepada anak pertama dari murid pertamanya, yaitu ayahmu. Kamulah orang yang akan mewarisi ilmu dari bekas guru kami itu. Aku tidak bisa menolak, sebab guru Naga Putih telah bersumpah jika kami menolak hal itu, maka kutukan akan mengenai keluarga kami selama tujuh turunan. Keluarga kami akan lumpuh dan kehilangan segalanya setelah malam pertama pernikahan. Satu-satunya cara terhindar dari kutukan itu adalah dengan merelakan ilmu yang dimiliki oleh Naga Perwira untuk diwariskan kepadamu. Rupanya sudah saatnya ibu dan ayahmu membuka tirai gaib di mata batinmu.”
“Dewita…” suara Bratatanunjaya mendahului derap langkah sendiri setelah ia membuka pintu dan memasuki ruang tamu.
“Kang Mas”. jawab Dewita.
“Aku sudah mendengar percakapan kalian, aku segera mungkin undur dari sawah untuk menemui kalian. Hmm, nampaknya peristiwa besar akan segera terjadi di kampung Pasulawang ini” kata Brata sambil menghela nafas.
“Sanu, anakku. Membuka mata batin bukan hal mudah. Ada pertaruhan yang bila kau gagal, maka tirai gaib itu akan sobek dan tidak akan pernah bisa tertutup kembali. Membuka tirai gaib di mata batinmu tidak bisa dilakukan sendirian tanpa adikmu, Kartika. Kartika yang memegang kunci tirai gaibmu, sedangkan hanya ibumu yang bisa membuka dengan kunci itu. Aku hanya akan menyalurkan tenaga dalam dan melindungi kalian dari kekuatan jahat yang bisa saja muncul dari luar saat proses membuka tirai mata batinmu.”
“Baiklah ayah. Di usia 20 tahun ini, mungkin inilah yang akan menjadi pertaruhan terbesar yang pernah kualami. Aku tidak takut untuk melihat segalanya, tidak takut menghadapi kegelapan dalam diriku sendiri.”

BERSAMBUNG …




Kamis, 18 Februari 2016

Membaca “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”

Membaca “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”
Alkanjawi


Sore tadi bila tak mendung senja pastilah indah. Tapi hujan, yang tergerai dari awan gelap begitu derasnya membasahi bumi. Kampus timur, sepanjang jalan dari Pustaka Fatin, saya pinjam sebuah buku karya Emha. “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”. Saya sampaikan diri menerjang basah untuk kuasa duduk di bangku tempat parkiran Kampus timur. Persis di belakang panggung demokrasi. Lebatnya hujan membasahi setiap jengkal peristiwa. Saya mulai membuka buku itu tanpa ragu. Segera ingin memuaskan rasa ingin tahu, apa yang akan dibicarakan Emha. Seperti apa logikanya. Dan, muatan-muatan apa yang berserakan di dalam setiap helai lembaran dari buku terbitan kompas itu.
Jauh di atas sana langit gelap. Suara geledek seolah membuat atap langit retak. Seolah saya menjadi terancam, apakah yang saya baca ini bagian dari bacaan “terlaknat” sehingga langit tidak rela dan mengutus halilintar untuk segera menyambar saya yang sedang membaca. Tapi alhamdulillah, itu tidak terjadi. Di bilik kecil suara hati berbisik pelan sekali. Ia berkata: suara gemuruh di langit itu bukan ancaman yang menakuti setiap bulu kuduk di tengkuk yang menyangga kehidupanmu. Itu adalah suara musik, drum yang dipukul, perkusi yang ditalu, kendang yang ditabuh, dan semua alat musik yang dibunyikan oleh kegembiraan penghuni langit karena menyambutmu sebagai pembaca. Subhanallah, maka saya tertunduk sejenak. Tuhan berilah mereka ketabahan menerima karuniamu yang berbentuk gelegar menyertai hujan. Walaupun nampak mengerikan suaranya, mendebarkan lecutan kilat petirnya, dan mengagetkan suara dentumannya, tapi itu adalah karuniamu atas indera kami yang masih berfungsi dengan baik. Tuhan, dengan itu semua, arahkanlah kami untuk bersyukur.
Aku baca basmalah. Menyebut sang maha pemurah dan penyayang. Romo Mangun memberi prakata untuk buku itu. Romo Mangun Wijaya, jujur sekali dalam tulisannya itu benar-benar mengantarkan segenap pembaca untuk tidak tersesat dan salah arah memandang belantara isinya. Romo Mangun membesarkan hati “calon pembaca” untuk melihat dengan skup luas setiap tulisan-tulisan yang murni tergurat dari kegelisahan seorang anak muda yang ingin memperlihatkan kepada sekalian pembaca tentang hal-hal remeh tapi sangat penuh makna. Kita dituntun untuk menghayati – minimal diri kita sendiri – atas fenomena perubahan sikap hidup masyarakat. Desa yang bukan sekedar bayangan di dalam sebuah negara, melainkan negara yang banyak mengintervensi atas desa dan segala lini yang menyertainya. Desa asal dari segala macam yang kita sebut sebagai Indonesia sekarang.
Tak diamlah halilintar sepanjang saya meniti kata demi kata Romo Mangun Wijaya itu. Bahkan suaranya terus menderu, mengiringi keramaian dalam pikiran saya yang diajak untuk bergejolak. Sebagai manusia, yang muda, yang harus gelisah, yang mesti kritis, yang tidak boleh lemah dan malas untuk mensiasati setiap kejadian untuk menggali hikmah sebanyak mungkin, semampu dan sekuat kita menemukan apa yang dapat diungkap sebagai kebaikan dan keindahan.
Desa era 70-an adalah desa yang desa. Maksudnya, desa seperti gambaran geografis dengan tanah sawah menghampar hijau dan rimbun pepohonan asri. Tak sekedar itu, desa era masa lalu itu membawa ciri khas sebuah kehidupan yang sarat akan keterbukaan, unggah ungguh, gotong-royong dsb. Tapi klise-nya, desa yang shot mudah terpantik oleh modernisme yang secara cepat menjadi kebudyaan baru. Kebudayaan montor, kebudayaan layar tancep dan lain sebagainya yang menunjukkan jumawanya keserbamewahan hidup. Benar kesebamewahan hidup ini menjadi salah satu pemantik segala macam problem yang menggejala luas di desa-desa lain. Emha memotret desa kelahirannya di Jombang Jawa Timur. Dan, tentu saja pembaca tidak akan terpaku pada sebuah desa di Jombang itu, melainkan seperti diantarkan untuk mengunjungi desa-desa lain dalam memori kehidupan kita masing-masing.  
Saya sendiri “mbrojol” ke dunia era 90-an. Sangat mungkin, era 90-an di desa saya itu seperti tahun 80-an di desa lain, atau era 70-an di desa yang lainnya. Desa saya itu jauh cukup terpencil. Proses modernisasi di desa dengan datangnya alat-alat pelengkap modernisasi itu baru menggejala setelah saya bisa mencium bau asap knalpot dari speda motor satu-satunya di desa. “Semacam bau asing yang menawarkan impian dan kemajuan.” Saya melihat dengan jelas – gambar-gambar hidup di televisi yang hanya ada 3 biji di rumah-rumah tertentu– yang menakjubkan. Itulah modernisasi yang mempertontonkan keajaiban. Tapi di satu sisi lainnya, betapa modernisasi dengan alat-alat canggih itu sedemikian merusaknya bagi tatanan sistem budaya yang sejak ratusan tahun dijaga ketat oleh desa.
Apa yang mengerikan? Perubahan! Masyarakat desa kolektif menerima paradigma modernisme tanpa tendeng aling-aling. Sebagian kecil masyarakat tetap berpegang pada jiwa adiluhung dan normatika yang tidak nampak yang hidupnya ada dalam batin yang diyakini. Lama berlalu lama, modernisme dengan kenyataan yang ditawarkannya itu sedikit banyak mengisi ruang keyakinan dan menggeser jiwa adiluhung yang amat dijaganya dahulu. Perubahan banyak menghilangkan inti desa. Dan, tanpa banyak disadari karena desa telah kehilangan suatu pegangan prinsip, maka terjadilah kekacauan sistem budaya dan tradisi yang dianggap menjadi kaku oleh masyarakatnya sendiri.
Tentu saja ini akibat sistemik. Akibat dalam praktiknya lebih amat mengerikan. Modernisasi dalam sistem pemerintahan, sejak masyarakat dikenalkan pada pemilu, umpamanya, praktis sistem menjadi terkotak-kota dan tidak jarang ada yang terpecah belah. Watak desa yang keras dan cenderung bersikeras bertandang cepat, pemilu berdampak sengketa, sentimen, dan konflik yang menyisakan pilu. Terlebih, umat menjadi juga terbelah sebab diam-diam digerakkan oleh kepentingan politik. Secara tidak sadar ini terjadi ketika praktik solat hari raya, satu kelompok masyarakat memilih berjamaah di lapangan, satunya lagi di masjid. Bukan masjid tidak muat kantetapi umat sengaja dihimpun oleh individu tertentu untuk menambah kuantitas sebuah harga tertentu pula.
Banyak sekali gambaran-gambaran tentang kehidupan masyarakat kita yang dituliskan Emha kini seperti tidak berubah dari pertumbuhan desa. Bahkan kita seringkali lihat akibat modernisme itu desa semakin acak-acakan. Kita tahu masyarakat sampai hari ini tidak berhenti berlomba-lomba menumpuk lumbung materi, meningkatkan gaya hidup, meghimpun segala kemampuan untuk memperkaya diri dan untuk terlihat semakin megah. Kita tahu di setiap rumah sekarang dilengkapi ruang parkir kendaraan, rumah berwajah kaca, berlantai mengkilap. Hanya sebagian yang menjadi pemenang itu senang membanggakan diri dengan cara demikian. Kaum lain dalam ekosistem menjadi tumbal sejarah dengan menjangkit sakit hati berada dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Helilintar berlomba-lomba lagi menyambar kesadaran. Kini di desa kita rasakan, sangat jarang orang beristighfar di surau atau langgar-langgar di pinggiran kali. Suara-suara pujian kepada Tuhan semakin lirih, suara salawatan semakin jarang digantikan riuh ramai sound sistem dan kaset-kaset seharga 15 ribuan. Betapa masyarakat kita lebih ringan tangan mengeluarkan uang sedikit untuk “membayar” nilai-nilai yang luhur adiluhung itu. Sedang hujan senja membawaku terseret arus dan tenggelam pada pikiran untuk berteriak-teriak: “haiii Halilintar! hebat nian menyambar udara di langit yang gelap pekat.” Entah gelegar itu suara kegembiraan penghuni langit atau kekecewaan yang mulai menebal pada awan yang menjadikannya gemuruh.


Yk, 19 February 2016


studen.

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...