Tampilkan postingan dengan label Alkanjawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alkanjawi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2020

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum!

Meski sebenarnya ide dapat diproduksi dengna berpikir, namun, nyatanya itu tidak menyumbangkan apa-apa di ranah praksis kita.

Mungkin, jika aku orang yang memeluk tradisi Jawa, aku kan berpikir bahwa berpikir hanya upaya menenggelamkan diri pada dunia yang sepi. Semakin jauh ke dasar praktik hidup

Minggu, 26 Januari 2020

Air Hanya Ingin Mengalir



Ini tahun 2020,

Banyak langkah telah kutapakkan, banyak ulah yang kulikukan, banyak celah yang kukuakkan. Biar tidak apa, bahasa yang lain tidak mau mewakili untuk menjadi sungai tempat mengalir gumam yang dipenjara oleh bibir hitam ini.

Taulah!

Kurasa-rasa, sepertinya aku pernah tersesat di langit puncak sana. Ada kaligrafi indah yang menggurat takdir perjalananku. Semua tulisan dengan huruf aneh yang tersusun dari rangkaian tawa, tangis, ramai dan sepi itu berwarna merah bara. Anehnya, tulisan-tulisan itu selalu meleleh, menetes dan membentuk berbagai cerita baru di kolam retina mata.

Perjalanan yang tiada ujung. Aku mengira lelehan itu akan buyar ketika kuinjak dengan niat menghancurkan. Namun, aku mendapati hal lain, bahwa lelehan itu ternyata magma yang panas, cair tetapi keras.

Lalu aku ingin menjadi super kecil, masuk ke dalam nano diantara milyaran partikel samudera magma.



Aku melihat manusia air.
yang mengalir di sungai takdir.


























Minggu, 02 September 2018

Boekan Lagi Djamannja Pendekar?


Boekan Lagi Djamannja Pendekar?

pendekar sakti mandra guna
Moengkin soeda tetapan takdir jang MahaKeoasa, bahoea sanja tiap” manoesia poenja kehendak itoe batinnja. Soeatoe dorogan jang muasalnja dari dalamnja bathin, mengadjaknja oentoek djadi manoesia jang paling hebat. Itoe adjakan koet jaitoe asa namanja, nama lainan daripada tjita-tjita. 

Kala waktoe masih kanak-kanak, manoesia menjandarkan tjita-tjitanja itoe daripada resonantie ajah dan iboeknja. Bilamana itoe anak moelai tahoe pergaoelan lingkoengannja, ia mentjoba djadikan itoe tjita-tjita lajaknja hobi. Soeatoe jang dikerdjakannja tiap” hari, ia gembira ria dan teroes ingin melakoekan itoe hobi. 

Saja poenja itoe pengalaman. Moengkin jang saja alami, sama dengan jang anda semoea djoega alami. Soeatoe dorongan jang menjenangkan itoe beroepa tjita”. Saja amat senangnja pada keinginan oentoek djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja mengkira”kan, itoe keinginan mempeladjari ilmoe pentjak toemboeh otomatic sebabnja saja poenja ajah ialah seorang pendekar adanja.

Itoe tjita” teroes berketjamoek di dalam diri. Saja tidak tahoe apa” dan tak maoe tahoe ketjoeali beladjar itoe pentjak. Bahkan poen djika ajah melarang saja beladjar itoe, saja tetap sadja membandel. Diam” saja teroes beladjar tanpa sepengetahoeannja ajah. 

Djoestore pada oesia mendjelang doea poeloeh lima tahoen, setjara resmi saja ikoet beladjar bela diri koengfoe jang asalnja dari Foshan, Tjina Selatan. Itoe seni bela diri di seboet Wing Chun namanja. Sedjak pertama ikoet latihan, sang master Shifoe itoe koengfoe bertjakap, djika saja ini soedah nampak bakat dilihat daripada gerakan” saja mengikoeti itoe koengfoe.

Tampaknja, apa jang djadi kehendak ajah melarangkoe beladjar itoe pentjak, sama sekali ta’ dapat koe sadari dengan baik. Bahkan sampai ini waktoe, tanpa saja doega” bilamana reflex ini tangan ataoepoen kaki, soeda matjam” djoeroes sadja geraknja.

Itoe perkara jang sampai terbawa hingga detik ini, ingin saja loepakan dan boeang djaoeh” biasaan jang berhoeboengan dengan itoe hobi.

Djelasnja, akoe molai goesar. Bahsasanja ini boekan djaman kependekaran lagi. Akoe kadangkala ingin tinggalkan itoe pentjak, dan gantiken itoe hoebi dengan beladjar menoelis karja” yang lemboet. Oempamanja; sastra, syair, atoepoen lebih loeas.

Djaman otot soedah oesai. Gantiannja djaman akal. Ija. Menoelis ialah tjara baroe oentoek mengasah kelemboetan rasa, ketadjaman fikir dan ketegasan sikap. Ini tjara moetachir oentoek menojoe djadi pengoeasa, bangsawan, ataoe pahlawan.

Itoe makanja saja beralih haloean. Sekiranja tangan jang doloe saja goenakan ontoek main poekoel, kini ini tangan haroes terbiasa memegang pena oentoek mengoengkapkan ide dan gagasan. Orang jang mengoeasai itoe toelisan dan informasi itoelah orang jang bisa mengoesai doenia.

Kehidoepan doenia teroes berkembang. Nampaknja hegemonij informasi poen moelai terkena geseran. Ada soeatoe kekoeatan jang lebih dahsjat, jaitoe technologie. Soeatoe alat jang ditjiptakan oleh manoesia itoe poenja sifat ketjerdasan logic. Iya. Technologie otomatic mentjiptakan peloeang dan mampoe melipat doenia jang amat loeas mendjadi sempit.

Dan, njatanja djoega, itoe technologie djoestroe telah mengambil alih beberapa foengsi daripada manoesia. Misalnja, tentara machine, pembantoe machine, pengantar soerat machine, sendjata machine dan matjam lainnja. Itoe technologie menggantikan peranan manoesia dalam mendjaga keamanan ataoe bela diri, bahkan kelaknja, pengoesa technologie akan mengoesai djoega djaloer perniagaan.

Ini jang mendjadi goesar di fikiran saja. Djadi, benarlah itoe oetjapan ajah saja. Moengkin saja tak perloe lagi djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja haroes faham djaman, pendekar hanja akan djadi tjenteng ataoe peseoroeh bagi pengoesa informasi. Tidak poenja kemerdekaan nantinja meskipoen pendekar itoe tinggi ilmoenja.

Itoelah sekilas daripada geosarnja kehendak bathin saja. Soeatoe pilihan haroes ditentoekan antara tjita” djadi pendekar berilmoe tinggi ataoe beralih djadi orang jang mampoe menggoenakan technologie.

Soemedang, Agoestoes 2018.




posted by student

Sabtu, 25 November 2017

PENAMPILAN


PENAMPILAN
byalkan

Ahir-ahir ini, lelaki bernama Dlakirman itu seperti dilanda kebiasaan berbeda. Sebuah pekerjaan keahlian membawanya untuk banyak bergaul dengan bermacam-macam manusia rapi, sedikit demi sedikit dia telah mulai merubah penampilan kearah kerapian. Tampilan rapi itu nampaknya dipengaruhi oleh lokus dan teman-teman baru yang peduli banget pada penampilan fisik, pakaian, keelokan wajah, dan tentu saja sepatu yang bersih.
Dlakirman sebelumnya sedikit banyak pernah akrab dengan mandi, minyak wangi, juga loundry. Tetapi keakraban rupanya tidak tahan lama, dan mudah mengelupas dari kesehariannya. Seperti banyak dikatakan orang: Apa yang dilakukan bukan dari dalam diri, tentu saja takan bertahan lama. Karena kebiasaan berbenah tampilan itu dari tuntuan pacarnya, untuk ini itu, supaya keren, supaya ganteng, supaya ngga malu-maluin, lama-kelamaan penampilan malah menjadi momok yang terasa membosankan.
Meskipun Dlakirman tahu itu juga untuk kebaikan dirinya, bilamana kerap diserbu usulan mengenai penampilan diri, tetap saja dia tidak terlalu mendengarkan. Bahkan sesekali tak menghiraukan.
Berbeda 180 derajat, walau dalam pekerjaan kali ini sebagai figuran, Dlakirman merasa diri terbawa arus lingkungan kerja yang formalistik. Tempat yang bersih sudut dari sudut, sirkulasi udara lancar, pencahayaan terang dan orang-orang ramah yang bibirnya mudah tersenyum. Semua orang terlihat menawan tampilannya, tampan dan cantik sesuai gender masing-masing. Bergaul dengan orang-orang di lingkungan itu, dia mulai menemukan kenyamanan baru dalam dirinya.
Dlakirman mengerti lingkungan telah memberikan pengalaman. Pengalaman membawa pada penilaian yang kemudian mendasari pada pilihan. Baik-buruk, bersih-kotor, nyaman-sesak, tertib-amburadul, senang-sedih dan lain-lain. Dia memahami apa sebenarnya penampilan, bagaimana penampilan bisa terbentuk dan mengapa penampilan diperhitungkan dalam pergaulan. Selangkah lebih maju dia berpikir menata penampilan membuat daya hidup lebih kuat, lebih terpancar kharismatik serta nagih bila sekali dilirik.
“Jadi karena saking betapa penting penampilan, ada orang yang sampai operasi plastik?”
Kata-kata di atas sekilas menyambar di benak Dlakirman. Namun karena dirasa kurang sinkron dengan apa yang sedari tadi dipikirkannya, maka ia skip dulu.
“Apakah penampilan termasuk pada bentuk fisik?” Dari benak itu ternyata muncul pertanyaan susulan.
Baiklah memang sepertinya problem di atas perlu dijawab. Pada dasarnya, penampilan itu hanya luaran saja. Ibarat kacang kulit, penampilan merupakan kulitnya. Seberapa bersih, seberapa asin dan seberapa memikat pewarnaanya. Bersih, asin dan pemberian pewarna itu adalah hasil olahan yang tidak alami dari kacang itu sendiri. Walaupun kulitnya itu penyok, jika dibersihkan, diberi rasa, diwarnai sedemikian rupa, maka orang-orang bisa menyebut kacang itu “berpenampilan”.
Setali tiga uang, manusia juga demikian. Yang disentuh oleh penampilan hanya apa yang dapat diamati oleh penglihatan. Mandi, seger. minyak wangi, kemeja, bedak, spidol alis dan benda-benda lain yang sifatnya kosmetika atau hiasan-hiasan...
Dan, singkat kata, Dlakirman terlihat memutar ke dua ibu jarinya. Update status: “Tidak ada faedah menyuruh orang untuk merubah penampilan. Akan lebih patguna jika Anda mengajaknya gabung dan bergaul dengan perkumpulan yang berpenampilan bagus. Untuk jangka panjang, bagi Anda yang ingin pasangan selalu elok dan enak dipandang, gabung kegiatan bersama banyak orang adalah jawabannya.” 50 menit kemudian, postingan mendapat like 12K, 780 komentar dan 229 dibagikan.
Jadi fix sudah. Bahwa orang bisa berpenampilan modis, tampan, indah sempurna secara istiqomah, itu lebih besar dipengaruhi oleh pergaulan daripada bakat individu. Tetapi perubahan empiris pada penampilan Dlakirman (secara pribadi) yang menjadi rapi, tampan, dan elok itu menurutnya sama sekali bukanlah prestasi. Prestasi sesugguhnya adalah ia mencapai titik ambang batas penghormatan untuk orang lain dengan ketulusan dirinya dalam membenahi penampilan. Dan, yang lebih esensial dari perubahan yaitu; Dlakirman telah menggapai kehormatan spesial dari lingkungan yang itu tidak dirasakan siapapun.

Jogja, 22 november 2017.




POSTED BY STUDENT

Selasa, 11 April 2017

MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA



MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
By alkanjawi

Misalkan di malam minggu saya bikin teraju, sisi kanan saya isi substansi kebahagiaan dan sebelah kiri dengan kesedihan, kiranya manakah sisi yang lebih bobot?
Anda perlu tahu, saya lagi berada di Yogya dengan spot lingkungan ramai. Cukup banyak anak muda kongkow. Dunia muda telah terwakili di sini. Sebagaian saya lihat setiap laki-laki punya teman duduk perempuan. Sebagian lelaki bergerombol. Beberapa perempuan membuat tempat duduk ekslusif. Tidak tampak sama sekali ada makhluk duduk seorang diri. Jam di pergelangan tangan saya menepuk 23.30 wib.
Yeah. I am thinking.
Di antara yang saya lihat, siapa saja yang sedang merasa bahagia?
Semua nampak bahagia. Berkumpul dengan teman. Bercerita tanpa plot. Ngobrol dari yang santai sampai yang serius. Suara nyaring hingga sesekali pecah gelak tawa. Mereka asyik melewati malam. Entah sadar kosmik atau tidak, namun kegembiraan di wajah mereka telah berhasil mengelabuhi waktu. Pun demikian waktu, ia lewat begitu saja di antara ruas kebahagiaan mereka.
Bagi anak muda, semestinya tiada yang lebih penting di Yogya kecuali punya banyak teman. Yogya adalah kesempatan yang terus berulang. Segala sesuatu bisa diatur, asal mulut mau terbuka. Segala hal bisa dicapai asal kaki mau melangkah. Segala hal bisa dikuasai asal gerak tangan kreatif. Segala sesuatu bisa didapatkan asal mau beraksi. Yogya di setiap sudutnya adalah tawaran-tawaran yang tidak bakal habis.
Selain mereka yang bahagia, di Yogya ini adakah sesuatu yang sedih?
Sedih adalah pilihan ke terahir setelah putus asa.  Anak muda di Yogya bisa memelihara malasnya. Bisa tidur 27 jam sehari. Bisa selamanya berdiam diri dalam kegelapan kamar. Bisa diam melampaui patung. Seterusnya, bisa sendiri dalam kesunyian tanpa ujung tepi. Bila hal demikian sudah menjadi ketetapan, maka kebahagiaan tidak penting lagi.
Hari-hari anak muda memiliki karakteristik sama. Jika perasaan seluruh anak muda dikumpulkan kemudian di pilah dalam dua kategori bahagia dan sedih, manakah yang lebih besar bagiannya?
Saya rasa pertanyaan ini tidak lagi jadi penting terjawab.
Setiap diri kita punya hak untuk sedih. Kita punya kans bahagia. Perasaan orang yang bahagia berkata setiap orang lain adalah teman. Perasaan orang sedih pastilah bergumam; setiap orang lain adalah musuh. Siapa yang bisa menentukan ini semua?
Tak perlu jawaban eksplisit.
Menimbang perasaan malam minggu di Yogya, membutuhkan kerja keras batin. Orang luar berkata: Yogya adalah rindu. Yogya adalah kenagan. Yogya adalah blablabla...
Demi malam minggu, maka bersedihlah anak muda yang tinggal di Yogya, kecuali mereka yang memperbanyak teman dan meninggalkan kesendirian.
Sorowajan, 12 April, 2017





 post by #stuednt

Sabtu, 11 Juni 2016

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love



Tanda kalau kamu mulai suka sama orang yaitu kamu akan tertarik pada si dia. Bawaanya, kamu akan menjadi selalu ingin mencari informasi, latar belakang, hobi, pengalaman, cita-cita dan segala macam yang ada hubungannya dengan si dia. Iya kan?

Nah, kondisi kepo semacam itu wajar saja. Asalkan dalam proses dan cara menemukan informasi pada orang yang mulai kamu sukai itu benar dan wajar. Benar itu maksudnya ya proses yang kamu lakukan untuk mendapatkan informasi itu secara terang-terangan dan tidak melanggar hukum. Kalau wajar itu artinya dalam kamu mencari informasi yang jangan aneh-aneh, misalnya sampai datang ke paranormal atau mbah dukun.

Mencari informasi tentang seseorang adalah langkah pertama kamu membangun kepercayaan. Percaya pada apa? Percaya bahwa cinta yang akan kamu selami akan mendapat restu dari semesta alam.  Pentingkah? Jelas! Jika dalam proses kamu tidak benar, alam semesta tidak akan pernah rela cinta yang positif datang kepadamu. Justru, kamu akan dibelenggu cinta yang akan membuatmu gelisah, nestapa, rindu tanpa ujung, atau bahkan kecewa. Jadi, pada poin awal ini kamu mesti hati-hati ya.

Lalu, bagaimana proses yang benar dan wajar mencari informasi tentang si dia? Nah, ini baru pertanyaan bagus. Sekarang yang kamu butuhkan adalah keberanian. Kamu harus mulai menyingkirkan rasa takut untuk jujur dan berbicara secara langsung kepada si dia. Ingat, cinta sejati adalah milik para pemberani. Mulailah latihan berbicara, yakin kan dirimu, dia yang membikinmu tertarik itu adalah sama-sama manusia. Manusia yang juga punya rasa tertarik satu sama lain.

Tak perlu bikin “kode-kodean” yang aneh-aneh. Itu tidak efektif. Menyampaikan sesuatu secara langsung kepada orang yang kita sukai itu terlihat lebih tulus dan “apa adanya”. Bukankah dalam cinta selalu mengutamakan yang apa adanya? Ya, cinta yang “ada apa”nya pasti selalu kandas dihempas kenyataan.

Pada posisi batinmu dipenuhi jutaan pertanyaan untuk kamu tanyakan sama di dia, dalam pikiranmu ada sebuah gelombang yang membentuk tanda tanya. Kalau pertanyaan itu begitu penting dan amat mengganggu pikiranmu, gelombang “tanda tanya” warnanya merah. Nah, gelombang tanda tanya yang muncul itu, jika tidak mendapat jawaban dari yang bersangkutan, ia akan selamanya menjadi tanda tanya. Ia akan menggantung dan membebanimu. Bisa jadi kepalamu akan pening sendiri karena tumpukan pertanyaan.

Maka sampaikanlah pertanyaan-pertanyaan kepomu itu. Maksud saya, supaya kalau tersampaikan ia akan mendapat respon. Kamu akan mendapat jawaban yang melengkapi tanda tanya dalam batinmu. Jawaban itu adalah pancaran atau “bayangan” dari tanda tanya yang tercipta karena ke-kepo-anmu pada orang yang kamu taksir. Jadi jika pertanyaanmu terjawab, maka otomatis lambang-lambang itu akan menjadi bersatu, dan terbentuklah lambang hati.


Tapi tanda tanya itu belumlah benar-benar bersatu. Masih ada tahapan lagi untuk menciptakan lambang hati menjadi “lambang cinta”. Akan ada proses yang rumit, menggemaskan, dan ini menjadi momen terindahmu dalam menjadikan lambang hati sebagai lambang cinta. sementara cukup sampai di sini dulu pembahasan lambang love ini… to be continue

Rabu, 08 Juni 2016

Kemerdekaan Orang Berpuasa

Kemerdekaan Orang Berpuasa
By alkanjawi

Salah satu aspek fungsional puasa yang baru saya sadari hari ini; orang berpuasa memegang kemerdekaan sebagai penyelamat kehidupan.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya termakan pola pikir sendiri, kalau puasa hanya akal-akalan Allah untuk mencoba manusia sekuat mana menahan lapar dan dahaga. Setingkat lebih “nalar”, puasa kemudian saya terjemahkan sebagai ujian yang sengaja Allah wajibkan untuk mengukur tingkat ketakwaan manusia menjalani perintahnya. Karena alasan pertama itu, masa kecil saya ketika datang bulan Ramadhan, tanpa sepengetahuan orang lain saya biasa makan dan minum es di siang bolong. Kedua dalam urusan ketakwaan, saya memilih bertahan tidak makan atau minum apa-apa sampai tiba kumandang azan maghrib. Pola pikir purba tentang puasa yang dulu pernah menghinggapi nalar itu, sepertinya kini sudah terbang dan menghilang.

Proses pengetahuan manusia memang fleksibel dan mudah menerima atau dimasuki stimulan dari mana pun. Semakin banyak bahan bacaan tentang puasa, saya menjadi terpikir puasa adalah media untuk membersihkan jiwa dari “penyakit-penyakit dalam” yang tidak bisa disembuhkan dengan alat-alat kedokteran moderen. Penyakit-penyakit dalam itu terakumulasi dan mengendap dalam tubuh setelah 11 bulan lamanya kita bebas makan dan minum apa saja yang entah dari mana dan dengan cara apa memperolehnya.

Saya terpikir puasa adalah model penyembuhan dari dalam. Dari situ, mengalir penyataan lanjutan: karena itu orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan jauh boleh untuk tidak berpuasa. Orang sakit yang dia ikhlas menerima keadaan sakit, dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah. Musafir perjalanan jauh yang niatnya tulus mencari ridho Allah dan kemaslahatan manusia, oleh agama disamakan dengan perjalanan menuju masuk surga. Saya mengartikan sakit dan perjalanan jauh (yang menjadi syarat boleh tidak berpuasa) itu sama juga sebagai “metode penyembuhan yang mirip” sebagaimana puasa.

Walaupun sakit dan perjalanan jauh dapat mengurangi beban dosa kita, namun keduanya tidak seimbang kelas penyembuhan dan “kualitas obat” yang dikandung dalam puasa ramadhan. Maka, atas keringanan Allah, kita tetap wajib mengganti puasa di lain waktu. Bila juga tidak memungkinkan puasa, gantinya bisa dengan sedekah. Memberi kebahagiaan pada orang lain. Allah menghendaki puasa ini sebagai penyembuhan diri supaya hidup kita menjadi selalu teriring kemudahan, dan tertutup dari kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Mengenai perintah puasa ini, kalau tidak salah Nabi Muhammad mengatakan: Puasalah kalian agar kalian semua sehat.

Poin Penting 

Sebagaimana ibadah lain yang hukumnya wajib, puasa diatur sedemikian rigid mulai dari waktu, cara, sampai ekspresi yang sulit untuk diotak-atik atau diperbarui (kontekstualisasi) dengan cara apapun. Bukan terus maksud saya hendak merubah kesepakatan tatanan ibadah tersebut. Namun, sebagai manusia pikiran-pikiran aneh bisa saja melintas melewati hal apa saja. Misalnya dalam konteks kita bernegara, Mas Joko tidak pantas menjadi presiden Indonesia, pantasnya dia itu presidennya Amerika. Hal aneh semacam ini bisa saja menembus kebakuan normatif keberagamaan kita. Juga termasuk ibadah wajib yang sudah jelas disusunkan segala macamnya oleh para ulama dari nabi sebagai referensi utamanya.

Peritah puasa akan tetap menjadi perintah sampai ketemu ahir hitungan hari dan bulan. Kita semua yang dalam kondisi normal akan tetap tekena wajib ain untuk berpuasa pada bulan ramadhan. Puasa mengembalikan kealamiahan kita semua untuk kebaikan lingkup dunia dan kehidupannya. Skup lebih luas puasa meliputi segala dimensi lahir dan batin, serta lapisan kemanusiaan. Puasa memerdekakan kita untuk hari ini dan masa depan dengan mengenalkan batasan-batasan yang berguna menjaga ketetapan kadar kemanusiaan.

Saya yakin, hewan dan tumbuhan tidak perlu diperintahkan berpuasa, karena secara alamiah pada waktu yang tepat mereka akan berpuasa dengan sendirinya. Kita yang diberi akal, bisa berpikir merengkuh kebebasan, (kalau mau mengakui) sebenarnya kemerdekaan yang kita harapkan adalah kemerdekaan metafisik sebebas-bebasnya atas makan dan minum. Makan minum kekuasaan, kedudukan, kemashuran dengan cara mendominasi, menekan yang lain untuk kepentingan kemerdekaan individual. Maka, tiada lain kemerdekaan yang kita ingini semacam itu lebih cenderung ke arah kerusakan. Bukan kemerdekaan yang mengusung keselamatan rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya perintah puasa bukan hanya sekedar melarang makan minum atau menghindari aktifitas fisik yang membatalkannya. Puasa meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan pemerintahan yang berkaitan dengan manusia. Kita berpuasa selain untuk diri sendiri, juga berfungsi untuk keseimbangan aspek kehidupan, pola pikir, bangsa, bumi, dan alam semesta.

Menjadi merdeka melalui berpuasa berarti kita mampu mengendalikan, mengekang, dan melawan dari segala dorongan nafsu menguasai, menghegemoni, atau menjajah yang itu secara prinsip bertentangan dengan kemerdekaan. Lapar, dahaga dan menahan libido seksual adalah bagian fisikal eksoteris. Di balik itu, berjuta-juta jenis nafsu jahat yang terus bergulat di bagian batin kita, sama sekali tidak pernah telihat oleh realitas empiris. Puasa menembus nafsu yang bergeraknya di alam batin, lalu mengobati, menyembuhkan dengan membuat batas-batas agar nafsu tak bisa sekehendaknya sendiri.

Bagi kita yang mampu membatasi nafsu dengan puasa, balasan pahalanya langsung dari Allah yang Maha Besar. Bisa jadi semua jenis timbangan yang kita kenal, tidak akan mampu mengukur besarnya pahala kita yang benar-benar berpuasa.


Pedakbaru, yk 2016




post by studen











Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...