Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum!
Meski sebenarnya ide dapat diproduksi dengna berpikir, namun, nyatanya itu tidak menyumbangkan apa-apa di ranah praksis kita.
Mungkin, jika aku orang yang memeluk tradisi Jawa, aku kan berpikir bahwa berpikir hanya upaya menenggelamkan diri pada dunia yang sepi. Semakin jauh ke dasar praktik hidup
Tampilkan postingan dengan label Alkanjawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alkanjawi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Januari 2020
Minggu, 26 Januari 2020
Air Hanya Ingin Mengalir
Ini tahun 2020,
Banyak langkah telah kutapakkan, banyak ulah yang kulikukan, banyak celah yang kukuakkan. Biar tidak apa, bahasa yang lain tidak mau mewakili untuk menjadi sungai tempat mengalir gumam yang dipenjara oleh bibir hitam ini.
Taulah!
Kurasa-rasa, sepertinya aku pernah tersesat di langit puncak sana. Ada kaligrafi indah yang menggurat takdir perjalananku. Semua tulisan dengan huruf aneh yang tersusun dari rangkaian tawa, tangis, ramai dan sepi itu berwarna merah bara. Anehnya, tulisan-tulisan itu selalu meleleh, menetes dan membentuk berbagai cerita baru di kolam retina mata.
Perjalanan yang tiada ujung. Aku mengira lelehan itu akan buyar ketika kuinjak dengan niat menghancurkan. Namun, aku mendapati hal lain, bahwa lelehan itu ternyata magma yang panas, cair tetapi keras.
Lalu aku ingin menjadi super kecil, masuk ke dalam nano diantara milyaran partikel samudera magma.
Aku melihat manusia air.
yang mengalir di sungai takdir.
Minggu, 02 September 2018
Boekan Lagi Djamannja Pendekar?
Boekan Lagi Djamannja Pendekar?
![]() |
| pendekar sakti mandra guna |
Moengkin soeda tetapan takdir jang MahaKeoasa,
bahoea sanja tiap” manoesia poenja kehendak itoe batinnja. Soeatoe dorogan jang
muasalnja dari dalamnja bathin, mengadjaknja oentoek djadi manoesia jang paling
hebat. Itoe adjakan koet jaitoe asa namanja, nama lainan daripada tjita-tjita.
Kala waktoe masih kanak-kanak, manoesia
menjandarkan tjita-tjitanja itoe daripada resonantie ajah dan iboeknja.
Bilamana itoe anak moelai tahoe pergaoelan lingkoengannja, ia mentjoba djadikan
itoe tjita-tjita lajaknja hobi. Soeatoe jang dikerdjakannja tiap” hari, ia
gembira ria dan teroes ingin melakoekan itoe hobi.
Saja poenja itoe pengalaman.
Moengkin jang saja alami, sama dengan jang anda semoea djoega alami. Soeatoe
dorongan jang menjenangkan itoe beroepa tjita”. Saja amat senangnja pada
keinginan oentoek djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja mengkira”kan,
itoe keinginan mempeladjari ilmoe pentjak toemboeh otomatic sebabnja saja
poenja ajah ialah seorang pendekar adanja.
Itoe tjita” teroes berketjamoek di
dalam diri. Saja tidak tahoe apa” dan tak maoe tahoe ketjoeali beladjar itoe
pentjak. Bahkan poen djika ajah melarang saja beladjar itoe, saja tetap sadja
membandel. Diam” saja teroes beladjar tanpa sepengetahoeannja ajah.
Djoestore pada oesia mendjelang
doea poeloeh lima tahoen, setjara resmi saja ikoet beladjar bela diri koengfoe
jang asalnja dari Foshan, Tjina Selatan. Itoe seni bela diri di seboet Wing
Chun namanja. Sedjak pertama ikoet latihan, sang master Shifoe itoe koengfoe
bertjakap, djika saja ini soedah nampak bakat dilihat daripada gerakan” saja
mengikoeti itoe koengfoe.
Tampaknja, apa jang djadi kehendak
ajah melarangkoe beladjar itoe pentjak, sama sekali ta’ dapat koe sadari dengan
baik. Bahkan sampai ini waktoe, tanpa saja doega” bilamana reflex ini tangan
ataoepoen kaki, soeda matjam” djoeroes sadja geraknja.
Itoe perkara jang sampai terbawa
hingga detik ini, ingin saja loepakan dan boeang djaoeh” biasaan jang berhoeboengan
dengan itoe hobi.
Djelasnja, akoe molai goesar.
Bahsasanja ini boekan djaman kependekaran lagi. Akoe kadangkala ingin
tinggalkan itoe pentjak, dan gantiken itoe hoebi dengan beladjar menoelis
karja” yang lemboet. Oempamanja; sastra, syair, atoepoen lebih loeas.
Djaman otot soedah oesai.
Gantiannja djaman akal. Ija. Menoelis ialah tjara baroe oentoek mengasah
kelemboetan rasa, ketadjaman fikir dan ketegasan sikap. Ini tjara moetachir
oentoek menojoe djadi pengoeasa, bangsawan, ataoe pahlawan.
Itoe makanja saja beralih haloean.
Sekiranja tangan jang doloe saja goenakan ontoek main poekoel, kini ini tangan
haroes terbiasa memegang pena oentoek mengoengkapkan ide dan gagasan. Orang
jang mengoeasai itoe toelisan dan informasi itoelah orang jang bisa mengoesai
doenia.
Kehidoepan doenia teroes
berkembang. Nampaknja hegemonij informasi poen moelai terkena geseran. Ada soeatoe
kekoeatan jang lebih dahsjat, jaitoe technologie. Soeatoe alat jang ditjiptakan
oleh manoesia itoe poenja sifat ketjerdasan logic. Iya. Technologie otomatic
mentjiptakan peloeang dan mampoe melipat doenia jang amat loeas mendjadi
sempit.
Dan, njatanja djoega, itoe
technologie djoestroe telah mengambil alih beberapa foengsi daripada manoesia.
Misalnja, tentara machine, pembantoe machine, pengantar soerat machine,
sendjata machine dan matjam lainnja. Itoe technologie menggantikan peranan
manoesia dalam mendjaga keamanan ataoe bela diri, bahkan kelaknja, pengoesa
technologie akan mengoesai djoega djaloer perniagaan.
Ini jang mendjadi goesar di fikiran
saja. Djadi, benarlah itoe oetjapan ajah saja. Moengkin saja tak perloe lagi
djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja haroes faham djaman, pendekar
hanja akan djadi tjenteng ataoe peseoroeh bagi pengoesa informasi. Tidak poenja
kemerdekaan nantinja meskipoen pendekar itoe tinggi ilmoenja.
Itoelah sekilas daripada geosarnja
kehendak bathin saja. Soeatoe pilihan haroes ditentoekan antara tjita” djadi
pendekar berilmoe tinggi ataoe beralih djadi orang jang mampoe menggoenakan
technologie.
Soemedang, Agoestoes 2018.
posted by student
Sabtu, 25 November 2017
PENAMPILAN
PENAMPILAN
byalkan
Ahir-ahir ini, lelaki bernama Dlakirman itu seperti dilanda
kebiasaan berbeda. Sebuah pekerjaan keahlian membawanya untuk banyak
bergaul dengan bermacam-macam manusia rapi, sedikit demi sedikit dia
telah mulai merubah penampilan kearah kerapian. Tampilan rapi itu
nampaknya dipengaruhi oleh lokus dan teman-teman baru yang peduli
banget pada penampilan fisik, pakaian, keelokan wajah, dan tentu saja
sepatu yang bersih.
Dlakirman sebelumnya
sedikit banyak pernah akrab dengan mandi, minyak wangi, juga loundry.
Tetapi keakraban rupanya tidak tahan lama, dan mudah mengelupas dari
kesehariannya. Seperti banyak dikatakan orang: Apa yang dilakukan
bukan dari dalam diri, tentu saja takan bertahan lama. Karena
kebiasaan berbenah tampilan itu dari tuntuan pacarnya, untuk ini itu,
supaya keren, supaya ganteng, supaya ngga malu-maluin, lama-kelamaan
penampilan malah menjadi momok yang terasa membosankan.
Meskipun Dlakirman tahu itu juga untuk kebaikan dirinya, bilamana
kerap diserbu usulan mengenai penampilan diri, tetap saja dia tidak
terlalu mendengarkan. Bahkan sesekali tak menghiraukan.
Berbeda 180 derajat, walau dalam pekerjaan kali ini sebagai figuran,
Dlakirman merasa diri terbawa arus lingkungan kerja yang formalistik.
Tempat yang bersih sudut dari sudut, sirkulasi udara lancar,
pencahayaan terang dan orang-orang ramah yang bibirnya mudah
tersenyum. Semua orang terlihat menawan tampilannya, tampan dan
cantik sesuai gender masing-masing. Bergaul dengan orang-orang di
lingkungan itu, dia mulai menemukan kenyamanan baru dalam dirinya.
Dlakirman mengerti lingkungan telah memberikan pengalaman.
Pengalaman membawa pada penilaian yang kemudian mendasari pada
pilihan. Baik-buruk, bersih-kotor, nyaman-sesak, tertib-amburadul,
senang-sedih dan lain-lain. Dia memahami apa sebenarnya penampilan,
bagaimana penampilan bisa terbentuk dan mengapa penampilan
diperhitungkan dalam pergaulan. Selangkah lebih maju dia berpikir
menata penampilan membuat daya hidup lebih kuat, lebih terpancar
kharismatik serta nagih bila sekali dilirik.
“Jadi karena saking betapa penting penampilan, ada orang yang
sampai operasi plastik?”
Kata-kata di atas sekilas menyambar di benak Dlakirman. Namun karena
dirasa kurang sinkron dengan apa yang sedari tadi dipikirkannya, maka
ia skip dulu.
“Apakah penampilan termasuk pada bentuk fisik?” Dari benak itu
ternyata muncul pertanyaan susulan.
Baiklah memang sepertinya problem di atas perlu dijawab. Pada
dasarnya, penampilan itu hanya luaran saja. Ibarat kacang kulit,
penampilan merupakan kulitnya. Seberapa bersih, seberapa asin dan
seberapa memikat pewarnaanya. Bersih, asin dan pemberian pewarna itu
adalah hasil olahan yang tidak alami dari kacang itu sendiri.
Walaupun kulitnya itu penyok, jika dibersihkan, diberi rasa, diwarnai
sedemikian rupa, maka orang-orang bisa menyebut kacang itu
“berpenampilan”.
Setali tiga uang, manusia juga demikian. Yang disentuh oleh
penampilan hanya apa yang dapat diamati oleh penglihatan. Mandi,
seger. minyak wangi, kemeja, bedak, spidol alis dan benda-benda lain
yang sifatnya kosmetika atau hiasan-hiasan...
Dan, singkat kata, Dlakirman terlihat memutar ke dua ibu jarinya.
Update status: “Tidak ada faedah menyuruh orang untuk merubah
penampilan. Akan lebih patguna jika Anda mengajaknya gabung dan
bergaul dengan perkumpulan yang berpenampilan bagus. Untuk jangka
panjang, bagi Anda yang ingin pasangan selalu elok dan enak
dipandang, gabung kegiatan bersama banyak orang adalah jawabannya.”
50 menit kemudian, postingan mendapat like 12K, 780 komentar dan 229
dibagikan.
Jadi fix sudah. Bahwa orang bisa berpenampilan modis, tampan, indah
sempurna secara istiqomah, itu lebih besar dipengaruhi oleh pergaulan
daripada bakat individu. Tetapi perubahan empiris pada penampilan
Dlakirman (secara pribadi) yang menjadi rapi, tampan, dan elok itu
menurutnya sama sekali bukanlah prestasi. Prestasi sesugguhnya adalah
ia mencapai titik ambang batas penghormatan untuk orang lain dengan
ketulusan dirinya dalam membenahi penampilan. Dan, yang lebih
esensial dari perubahan yaitu; Dlakirman telah menggapai kehormatan
spesial dari lingkungan yang itu tidak dirasakan siapapun.
Jogja, 22 november 2017.
POSTED BY STUDENT
Selasa, 11 April 2017
MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
By alkanjawi
Misalkan di malam minggu saya bikin teraju, sisi kanan
saya isi substansi kebahagiaan dan sebelah kiri dengan kesedihan, kiranya
manakah sisi yang lebih bobot?
Anda perlu tahu, saya lagi berada
di Yogya dengan spot lingkungan ramai. Cukup banyak anak muda kongkow. Dunia muda telah terwakili
di sini. Sebagaian saya lihat setiap laki-laki punya teman duduk perempuan. Sebagian
lelaki bergerombol. Beberapa perempuan membuat tempat duduk ekslusif. Tidak tampak
sama sekali ada makhluk duduk seorang diri. Jam di pergelangan tangan saya
menepuk 23.30 wib.
Yeah. I am
thinking.
Di antara yang saya lihat, siapa saja yang sedang
merasa bahagia?
Semua nampak bahagia. Berkumpul dengan teman. Bercerita
tanpa plot. Ngobrol dari yang santai sampai yang serius. Suara nyaring hingga sesekali
pecah gelak tawa. Mereka asyik melewati malam. Entah sadar kosmik atau tidak,
namun kegembiraan di wajah mereka telah berhasil mengelabuhi waktu. Pun demikian
waktu, ia lewat begitu saja di antara ruas kebahagiaan mereka.
Bagi anak muda, semestinya tiada yang lebih penting
di Yogya kecuali punya banyak teman. Yogya adalah kesempatan yang terus
berulang. Segala sesuatu bisa diatur, asal mulut mau terbuka. Segala hal bisa
dicapai asal kaki mau melangkah. Segala hal bisa dikuasai asal gerak tangan
kreatif. Segala sesuatu bisa didapatkan asal mau beraksi. Yogya di setiap
sudutnya adalah tawaran-tawaran yang tidak bakal habis.
Selain mereka yang bahagia, di Yogya ini adakah sesuatu
yang sedih?
Sedih adalah pilihan ke terahir setelah putus asa. Anak muda di Yogya bisa memelihara malasnya. Bisa
tidur 27 jam sehari. Bisa selamanya berdiam diri dalam kegelapan kamar. Bisa diam
melampaui patung. Seterusnya, bisa sendiri dalam kesunyian tanpa ujung tepi. Bila
hal demikian sudah menjadi ketetapan, maka kebahagiaan tidak penting lagi.
Hari-hari anak muda memiliki karakteristik sama. Jika
perasaan seluruh anak muda dikumpulkan kemudian di pilah dalam dua kategori
bahagia dan sedih, manakah yang lebih besar bagiannya?
Saya rasa pertanyaan ini tidak lagi jadi penting terjawab.
Setiap diri kita punya hak untuk sedih. Kita punya
kans bahagia. Perasaan orang yang bahagia berkata setiap orang lain adalah
teman. Perasaan orang sedih pastilah bergumam; setiap orang lain
adalah musuh. Siapa yang bisa menentukan ini semua?
Tak perlu jawaban eksplisit.
Menimbang perasaan malam minggu di Yogya, membutuhkan
kerja keras batin. Orang luar berkata: Yogya adalah rindu. Yogya adalah
kenagan. Yogya adalah blablabla...
Demi malam minggu, maka bersedihlah anak muda yang
tinggal di Yogya, kecuali mereka yang memperbanyak teman dan meninggalkan
kesendirian.
Sorowajan, 12 April, 2017
post by #stuednt
Sabtu, 11 Juni 2016
Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love
Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love
Tanda kalau kamu mulai suka
sama orang yaitu kamu akan tertarik pada si dia. Bawaanya, kamu akan
menjadi selalu ingin mencari informasi, latar belakang, hobi, pengalaman, cita-cita
dan segala macam yang ada hubungannya dengan si dia. Iya kan?
Nah, kondisi kepo semacam
itu wajar saja. Asalkan dalam proses dan cara menemukan informasi pada orang
yang mulai kamu sukai itu benar dan wajar. Benar itu maksudnya ya proses yang
kamu lakukan untuk mendapatkan informasi itu secara terang-terangan dan tidak
melanggar hukum. Kalau wajar itu artinya dalam kamu mencari informasi yang
jangan aneh-aneh, misalnya sampai datang ke paranormal atau mbah dukun.
Mencari informasi tentang
seseorang adalah langkah pertama kamu membangun kepercayaan. Percaya pada apa? Percaya
bahwa cinta yang akan kamu selami akan mendapat restu dari semesta alam.
Pentingkah? Jelas! Jika dalam proses
kamu tidak benar, alam semesta tidak akan pernah rela cinta yang positif datang
kepadamu. Justru, kamu akan dibelenggu cinta yang akan membuatmu gelisah,
nestapa, rindu tanpa ujung, atau bahkan kecewa. Jadi, pada poin awal ini kamu mesti
hati-hati ya.
Lalu, bagaimana proses yang benar
dan wajar mencari informasi tentang si dia? Nah, ini baru pertanyaan bagus. Sekarang
yang kamu butuhkan adalah keberanian. Kamu harus mulai menyingkirkan rasa takut
untuk jujur dan berbicara secara langsung kepada si dia. Ingat, cinta sejati
adalah milik para pemberani. Mulailah latihan berbicara, yakin kan dirimu, dia
yang membikinmu tertarik itu adalah sama-sama manusia. Manusia yang juga punya
rasa tertarik satu sama lain.
Tak perlu bikin “kode-kodean”
yang aneh-aneh. Itu tidak efektif. Menyampaikan sesuatu secara langsung kepada orang
yang kita sukai itu terlihat lebih tulus dan “apa adanya”. Bukankah dalam cinta
selalu mengutamakan yang apa adanya? Ya, cinta yang “ada apa”nya pasti selalu kandas
dihempas kenyataan.
Pada posisi batinmu dipenuhi
jutaan pertanyaan untuk kamu tanyakan sama di dia, dalam pikiranmu ada sebuah
gelombang yang membentuk tanda tanya. Kalau pertanyaan itu begitu penting dan
amat mengganggu pikiranmu, gelombang “tanda tanya” warnanya merah. Nah,
gelombang tanda tanya yang muncul itu, jika tidak mendapat jawaban dari yang
bersangkutan, ia akan selamanya menjadi tanda tanya. Ia akan menggantung dan
membebanimu. Bisa jadi kepalamu akan pening sendiri karena tumpukan pertanyaan.
Maka sampaikanlah
pertanyaan-pertanyaan kepomu itu. Maksud saya, supaya kalau tersampaikan ia
akan mendapat respon. Kamu akan mendapat jawaban yang melengkapi tanda tanya
dalam batinmu. Jawaban itu adalah pancaran atau “bayangan” dari tanda tanya
yang tercipta karena ke-kepo-anmu pada orang yang kamu taksir. Jadi jika
pertanyaanmu terjawab, maka otomatis lambang-lambang itu akan menjadi bersatu,
dan terbentuklah lambang hati.
Tapi tanda tanya itu belumlah
benar-benar bersatu. Masih ada tahapan lagi untuk menciptakan lambang hati
menjadi “lambang cinta”. Akan ada proses yang rumit, menggemaskan, dan ini
menjadi momen terindahmu dalam menjadikan lambang hati sebagai lambang cinta. sementara
cukup sampai di sini dulu pembahasan lambang love ini… to be continue
Rabu, 08 Juni 2016
Kemerdekaan Orang Berpuasa
Kemerdekaan Orang Berpuasa
By
alkanjawi
Salah satu
aspek fungsional puasa yang baru saya sadari hari ini; orang berpuasa memegang
kemerdekaan sebagai penyelamat kehidupan.
Sebelumnya,
bertahun-tahun lamanya saya termakan pola pikir sendiri, kalau puasa hanya akal-akalan
Allah untuk mencoba manusia sekuat mana menahan lapar dan dahaga. Setingkat
lebih “nalar”, puasa kemudian saya terjemahkan sebagai ujian yang sengaja Allah
wajibkan untuk mengukur tingkat ketakwaan manusia menjalani perintahnya. Karena
alasan pertama itu, masa kecil saya ketika datang bulan Ramadhan, tanpa
sepengetahuan orang lain saya biasa makan dan minum es di siang bolong. Kedua
dalam urusan ketakwaan, saya memilih bertahan tidak makan atau minum apa-apa
sampai tiba kumandang azan maghrib. Pola pikir purba tentang puasa yang dulu
pernah menghinggapi nalar itu, sepertinya kini sudah terbang dan menghilang.
Proses pengetahuan
manusia memang fleksibel dan mudah menerima atau dimasuki stimulan dari mana
pun. Semakin banyak bahan bacaan tentang puasa, saya menjadi terpikir puasa
adalah media untuk membersihkan jiwa dari “penyakit-penyakit dalam” yang tidak
bisa disembuhkan dengan alat-alat kedokteran moderen. Penyakit-penyakit dalam
itu terakumulasi dan mengendap dalam tubuh setelah 11 bulan lamanya kita bebas
makan dan minum apa saja yang entah dari mana dan dengan cara apa memperolehnya.
Saya terpikir
puasa adalah model penyembuhan dari dalam. Dari situ, mengalir penyataan
lanjutan: karena itu orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan jauh boleh
untuk tidak berpuasa. Orang sakit yang dia ikhlas menerima keadaan sakit,
dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah. Musafir perjalanan jauh yang niatnya tulus
mencari ridho Allah dan kemaslahatan manusia, oleh agama disamakan dengan
perjalanan menuju masuk surga. Saya mengartikan sakit dan perjalanan jauh (yang
menjadi syarat boleh tidak berpuasa) itu sama juga sebagai “metode penyembuhan yang
mirip” sebagaimana puasa.
Walaupun sakit
dan perjalanan jauh dapat mengurangi beban dosa kita, namun keduanya tidak
seimbang kelas penyembuhan dan “kualitas obat” yang dikandung dalam puasa
ramadhan. Maka, atas keringanan Allah, kita tetap wajib mengganti puasa di lain
waktu. Bila juga tidak memungkinkan puasa, gantinya bisa dengan sedekah.
Memberi kebahagiaan pada orang lain. Allah menghendaki puasa ini sebagai penyembuhan
diri supaya hidup kita menjadi selalu teriring kemudahan, dan tertutup dari
kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Mengenai perintah puasa ini, kalau tidak
salah Nabi Muhammad mengatakan: Puasalah kalian agar kalian semua sehat.
Poin Penting
Sebagaimana
ibadah lain yang hukumnya wajib, puasa diatur sedemikian rigid mulai dari
waktu, cara, sampai ekspresi yang sulit untuk diotak-atik atau diperbarui
(kontekstualisasi) dengan cara apapun. Bukan terus maksud saya hendak merubah
kesepakatan tatanan ibadah tersebut. Namun, sebagai manusia pikiran-pikiran
aneh bisa saja melintas melewati hal apa saja. Misalnya dalam konteks kita
bernegara, Mas Joko tidak pantas menjadi presiden Indonesia, pantasnya dia itu
presidennya Amerika. Hal aneh semacam ini bisa saja menembus kebakuan normatif keberagamaan
kita. Juga termasuk ibadah wajib yang sudah jelas disusunkan segala macamnya oleh
para ulama dari nabi sebagai referensi utamanya.
Peritah puasa
akan tetap menjadi perintah sampai ketemu ahir hitungan hari dan bulan. Kita
semua yang dalam kondisi normal akan tetap tekena wajib ain untuk berpuasa pada
bulan ramadhan. Puasa mengembalikan kealamiahan kita semua untuk kebaikan lingkup
dunia dan kehidupannya. Skup lebih luas puasa meliputi segala dimensi lahir dan
batin, serta lapisan kemanusiaan. Puasa memerdekakan kita untuk hari ini dan
masa depan dengan mengenalkan batasan-batasan yang berguna menjaga ketetapan
kadar kemanusiaan.
Saya yakin, hewan
dan tumbuhan tidak perlu diperintahkan berpuasa, karena secara alamiah pada
waktu yang tepat mereka akan berpuasa dengan sendirinya. Kita yang diberi akal,
bisa berpikir merengkuh kebebasan, (kalau mau mengakui) sebenarnya kemerdekaan
yang kita harapkan adalah kemerdekaan metafisik sebebas-bebasnya atas makan dan
minum. Makan minum kekuasaan, kedudukan, kemashuran dengan cara mendominasi,
menekan yang lain untuk kepentingan kemerdekaan individual. Maka, tiada lain kemerdekaan
yang kita ingini semacam itu lebih cenderung ke arah kerusakan. Bukan
kemerdekaan yang mengusung keselamatan rahmatan lil alamin.
Sesungguhnya perintah
puasa bukan hanya sekedar melarang makan minum atau menghindari aktifitas fisik
yang membatalkannya. Puasa meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi,
budaya, dan pemerintahan yang berkaitan dengan manusia. Kita berpuasa selain
untuk diri sendiri, juga berfungsi untuk keseimbangan aspek kehidupan, pola
pikir, bangsa, bumi, dan alam semesta.
Menjadi
merdeka melalui berpuasa berarti kita mampu mengendalikan, mengekang, dan
melawan dari segala dorongan nafsu menguasai, menghegemoni, atau menjajah yang
itu secara prinsip bertentangan dengan kemerdekaan. Lapar, dahaga dan menahan
libido seksual adalah bagian fisikal eksoteris. Di balik itu, berjuta-juta
jenis nafsu jahat yang terus bergulat di bagian batin kita, sama sekali tidak
pernah telihat oleh realitas empiris. Puasa menembus nafsu yang bergeraknya di
alam batin, lalu mengobati, menyembuhkan dengan membuat batas-batas agar nafsu
tak bisa sekehendaknya sendiri.
Bagi kita yang
mampu membatasi nafsu dengan puasa, balasan pahalanya langsung dari Allah yang
Maha Besar. Bisa jadi semua jenis timbangan yang kita kenal, tidak akan mampu mengukur
besarnya pahala kita yang benar-benar berpuasa.
Pedakbaru, yk 2016
post by studen
Langganan:
Postingan (Atom)
Alam Pikir Orang Kita
Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembentukan dan pengembangan sika...
-
Pepatah Jawa dan Artinya Perenungan, penuh makna Bismilahirrahmaanirrahiim. Halo sobat pembaca, saya postingkan kumpulan pepatah Jawa y...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN PAKEM (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran merupkan proses kegiatan belajar da...
-
Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Proses pendid...


