Tampilkan postingan dengan label fuad hasan succen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fuad hasan succen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 26 Januari 2020
Air Hanya Ingin Mengalir
Ini tahun 2020,
Banyak langkah telah kutapakkan, banyak ulah yang kulikukan, banyak celah yang kukuakkan. Biar tidak apa, bahasa yang lain tidak mau mewakili untuk menjadi sungai tempat mengalir gumam yang dipenjara oleh bibir hitam ini.
Taulah!
Kurasa-rasa, sepertinya aku pernah tersesat di langit puncak sana. Ada kaligrafi indah yang menggurat takdir perjalananku. Semua tulisan dengan huruf aneh yang tersusun dari rangkaian tawa, tangis, ramai dan sepi itu berwarna merah bara. Anehnya, tulisan-tulisan itu selalu meleleh, menetes dan membentuk berbagai cerita baru di kolam retina mata.
Perjalanan yang tiada ujung. Aku mengira lelehan itu akan buyar ketika kuinjak dengan niat menghancurkan. Namun, aku mendapati hal lain, bahwa lelehan itu ternyata magma yang panas, cair tetapi keras.
Lalu aku ingin menjadi super kecil, masuk ke dalam nano diantara milyaran partikel samudera magma.
Aku melihat manusia air.
yang mengalir di sungai takdir.
Jumat, 16 November 2018
Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Byalkan
Pada
setiap penantian yang disertai kesabaran, Insyaallah hasilnya akan membawa
kebahagiaan. Begitulah kalimat bijak disampaikan angin lewat, memberi ucapan selamat dan sukses atas peristiwa terjadinya tunganan
antara Dlakirman dengan seorang gadis yang diketahui bernama Rohani.
Moment
bersejarah itu terjadi tanpa basa-basi. Seminggu sebelumnya, melalui telepon Dlakir memberitahu
sekaligus membujuk orangtuanya untuk berkunjung ke rumah orangtua Rohani di Kota Semarang. Kiranya hari selasa tanggal 6 Februari. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan itu sekalian
mengusung agenda khitbah atau tunangan. Orangtua Dlakir mengindahkan, selanjutnya dari jarak jauh, mereka menyusun bekal apa saja yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai 'serahan' dan makanan
yang akan dibawakan untuk buah tangan.
Rupanya ada kehendak lain, acara 'harus' diajukan lebih cepat. yaitu, sehari sebelum tanggal 6. Tepatnya hari senin tanggal 5 Februari, Dlakir berangkat
dari Jogjakarta menunggang kuda besi dengan temannya, Abdul Hadi. Pagi itu Kota Jogja sedang diguyur
hujan cukup deras hingga pukul 9. Sebelum menuju Semarang, Dlakir lebih dulu mampir
kantor tempat dia kerja di ringroad utara untuk mengambil gaji kerja selama
bulan Januari. Sesampai di kantor lekas-lekas dia menuju bagian keuangan. Sebelum
perjalanan mereka berdua mengisi perut dahulu, soto ayam di warung sebelah gedung kantor lembaga
tempat ia bekerja.
Sembari
makan, mereka memikirkan jalan pintas menuju Semarang selain jalur Jogja-magelang-semarang,
Dlakir memutuskan mencoba lewat arah timur, yaitu
Jogja-klaten-boyolali-salatiga-semarang. Meski belum hafal benar jalur yang
akan ditempuh, tetapi dengan tekad dan optimis ahirnya Dlakir begitu berani
untuk mengambil jalur itu.
Katanya, kalaupun nanti tersesat di jalan, paling hanya mutar-mutar satu jam saja lamanya. Masih ada waktu untuk sampai Semarang sebelum
bayangan matahari melebihi tombak.
Benarlah
prediksi itu. Selepas wilayah arah Gondang Winagoen, Pabrik gula Klaten, Mereka menuju pintas ke utara dan mulai masuk arah desa-desa di pedalaman klaten, Dlakir
yang mengemudi agak lupa jalan. ia benar-benar lupa ingatan jalan. Padahal seminggu lalu pernah melewati ketika
naik bus. Tetapi, walau ragu, Dlakir tetap saja melanjutkan jalan dengan mantap.
Saking besar optimisnya, motornya tiba-tiba melesak ke dalam rimbunan
perbukitan yang jalannya tak beraspal. Matahari pun nyaris tidak terlihat karena tertutup tebalnya daun-pepohonan. Kondisi yang habis hujan membuat jalan becek
dan licin. Di wilayah klaten (yang diduga itu) bagian barat, Dlakir berhenti
sejenak. DIa positif tersesat. Mau tanya tapi tidak ada orang lewat. Sinyal internet
lenyap dan tidak bisa mencari tahu arah jalan lewat googlemap.
Perjalanan lanjut, tanpa berhenti. Ahirnya mereka sampai jalur agak besar tapi rusak parah dengan seribu lubang. Hanya truk besar
muatan pasir yang lewat. Di sini, setiap tikungan saya berhenti untuk bertanya pada orang. Ketemu dengan orang ngarit, ia mengatakan bahwa saya terlalu
jauh dari arah menuju Boyolali. Kemudian dia menunjukkan arah yang panjang
berliku. Saya percaya saja mengikuti petunjuknya, Daripada tersesat lebih jauh
lebh baik saya mengikuti petunjukknya.
Satu jam penuh hanya muter-muter sedangkan waktu Duhur telah sampai, Dlakir baru masuk wilayah bertuliskan
Jatinom. Lega betul dia menemukan sebuah kampung, setelah lama terpentok alas pohon-pohon dan jalan buntu. Kampung dengan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni. Nyaris tidak ada
orang yang kelihatan. Setelah menunggu di tepi jalan beberapa menit, untung besar, ahirnya ada orang
lewat juga. Beruntunglah orang itu bisa ditanyai. Dlakir melepas kemudi,
gentian Dulhadi berkendara melewati Boyolali... hingga Salatiga.
Selama
pejalanan melewati jalur itu, rasanya alam benar-benar bersahabat. Suasana mendung
mengayomi perjalanan mereka sampai masuk Bawen, Semarang. Baru hujan kembali turun
saat mereka sampai daerah Ungaran.
Di sisi
lain, rombongan keluarga Dlakir berangkat dari Pati jam 9 pagi. Menurut kabar
dari mbah Hasan yang membawa rombongan itu dengan mobilnya, mereka sudah sampai
di MAJT jam 12.30 WIB. Dlakir masih di SPBU Bawen, Istirhat sejenak meluruskan punggung dan ishoma sebentar. Rombongan dari Pati pun juga beristirahat dulu. Alhamdulillah mobilnya lancar
kembali setelah tadi sempat mengalami rewel.
Dari arah selepas Salatiga itu, gantian Dlakir lagi di depan, memboncengkan Dulhadi. Sampai di ungaran hujan
kembali turun. Deras sekali. Ini membuat kecepatan bekendara mereka harus
diturunkan, maksimal 50 KM/jam. Jarak pandang jalur utama menuju Semarang
yang mereka lewati cukup ramai. Lebih baik
berkendara pelan mengutamakan keselamatan.
Jam
setengah 2 Dlakir mengabari lagi rombongan dan memintanya untuk persiapan
lanjut perjalanan. Sekitar 10 menit lagi sampai lokasi. Rombongan mobil yang
belum tahu lokasinya, mereka menunggu di dekat SMP 8 Candisari, awalnya Dlakir minta supaya
rombongan berhenti dan menunggu untuk dijemput di depan Javamall. Lokasinya
lebih mudah karena di pinggir jalan raya. Tetapi rombongan sudah terlanjur
menuju di SMP 8, jadi butuh waktu untuk mencari rombongan itu hingga ketemu.
Sudah jam
2, Dlakir dan rombongan sampai di depan rumah Rohani. Para penumpang mobil turun.
Satu persatu diberi payung agar tidak basah oleh hujan. Rupanya penumpang mobil itu
lebih banyak daripada perkiraan. Dlakir mengira isi rombongan cuma 7 orang.
Namun tetapi semua ada 8 0rang dewasa dan 3 anak-anak. Belum lagi jajanan
bawaan. Mungkin jumlah beban yang berat itu mengakibatkan mobilnya sempat
mati mendadak.
Masuklah
rombongan dengan membopong barang seserahan itu, keluarga Rohani berjajar di depan
pintu untuk menyambut tamu. Dlakir sendiri cukup terkejut karena barang bawaan rupanya
diluar perhitungan. Bawaan yang lengkap. Isinya macam-macam makanan, tak ketinggalan juga pakaian. Semua tamu sudah duduk memenuhi ruang tamu. Orang-orang
sudah siap untuk memulai acara. Dlakir dan Dulhadi yang motoran dari Jogja
terkena hujan nyaris basah, mereka pun langsung ikut acara tanpa sempat ganti baju.
Bapak Dlakir
tiba-tiba menyalami orang dari keluarga Rohani yang duduk di dekatnya. Dia biang
“Sampean niki ingkang besan kulo”. Mendengar kalimat itu, orang yang
disalaminya merasa kaget. Ternyata salah orang. Maka seisi ruangan itupun
tertawa. Orang yang kaget itu rupanya wali daripada keluarga Rohani yang bertugas
sebagi penyambung lidah. Dengan begitu, pak wali langsung menunjukkan kepada bapak
Dlakir tentang siapa calon besan yang sesungguhnya.
Acara
dimulai dengan sambutan dari pak wali, kemudian dibalas oleh wali kelaurga Dlakir,
mbah Marno. Penjelasan maksud kedatangan adalah untuk dodok lawang sekalian
lamaran. Dua kegiatan yang secara prosedur formal seharusnya berurutan terpisahkan
oleh jangka waktu itu, di situ dilakukan secara langsung. Bukan untuk menyalahi
adat tradisi, tetapi karena jarak antara pati-semarang cukup jauh, maka
pertimbangan efektivitas penggabungan dodok lawang dan lamaran itu dibarengkan.
Walaupun
di ahir acara pihak perempuan merasa tidak biasa karena persitiwa dodok
sekalian lamaran, tetapi tidak masalah sebab sebelumnya Dlakir sudah
komunikasi dengan keluarga Rohani. Bahwa dia akan dodok lawang sekalian lamaran. Orang-orang
yang tidak tahu wajar jika kaget. Namun memang sebaiknya tradisi itu memang
harus lentur dan bisa diotak-atik untuk kemaslahatan selama tidak membahayakan.
Usai
acara formal semua hadirin makan-makan bersama, menu lauk ayam daging. Tadinya kita akan
disuguhi makan dengan ayam kampung milik sendiri. Berhubung banyak ayam di
rumah tinggal nyembelih saja. Tetapi orangtua Dlakir tidak setuju kalau
keluarga Rohani menyembelih ayam. Takutnya itu secara filosifis nanti akan memutus silaturahmi.
Lebih jauh, itu bisa menandakan besok rumah tangga yang akan dibagun akan
mengalami perpisahan.
Mengenai
perubahan tanggal menjadi 5 Februari. Ini menyesuaikan dengan perhitungan Jawa,
sebab tanggal 6 adalah hari selasa, bagi orang Jawa, hari terahir dalam pasaran itu tidak baik
jika digunakan untuk membuat acara lamaran atau pernikahan. Maka diajukan hari
senin. Justru jika senin tanggal 5 itu merupakan hari paling bagus dalam bulan
itu untuk membuat acara.
Pukul 15:30 Wib, acara selesai. Gerimis pun belum juga reda. Rombongan kembali ke Pati. Sebelum semua menaiki
mobil, Dlakir memegang tangan adik perempuannya dan memberikan amplop untuk
mengganti semua biaya keperluan acara tersebut. Dlakir dan Dulhadi kembali ke
Jogja. Motoran lagi, di sepanjang jalan terus gerimis. Dlakir sangat riangnya. Agenda lamaran sudah sukses, dengan restu alam semesta semua
rangkaian acara itu terlaksana dengan selamat. "Kita semua bahagia." Katanya.
Yogya, 21 februari 2018.
Selasa, 11 April 2017
MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
By alkanjawi
Misalkan di malam minggu saya bikin teraju, sisi kanan
saya isi substansi kebahagiaan dan sebelah kiri dengan kesedihan, kiranya
manakah sisi yang lebih bobot?
Anda perlu tahu, saya lagi berada
di Yogya dengan spot lingkungan ramai. Cukup banyak anak muda kongkow. Dunia muda telah terwakili
di sini. Sebagaian saya lihat setiap laki-laki punya teman duduk perempuan. Sebagian
lelaki bergerombol. Beberapa perempuan membuat tempat duduk ekslusif. Tidak tampak
sama sekali ada makhluk duduk seorang diri. Jam di pergelangan tangan saya
menepuk 23.30 wib.
Yeah. I am
thinking.
Di antara yang saya lihat, siapa saja yang sedang
merasa bahagia?
Semua nampak bahagia. Berkumpul dengan teman. Bercerita
tanpa plot. Ngobrol dari yang santai sampai yang serius. Suara nyaring hingga sesekali
pecah gelak tawa. Mereka asyik melewati malam. Entah sadar kosmik atau tidak,
namun kegembiraan di wajah mereka telah berhasil mengelabuhi waktu. Pun demikian
waktu, ia lewat begitu saja di antara ruas kebahagiaan mereka.
Bagi anak muda, semestinya tiada yang lebih penting
di Yogya kecuali punya banyak teman. Yogya adalah kesempatan yang terus
berulang. Segala sesuatu bisa diatur, asal mulut mau terbuka. Segala hal bisa
dicapai asal kaki mau melangkah. Segala hal bisa dikuasai asal gerak tangan
kreatif. Segala sesuatu bisa didapatkan asal mau beraksi. Yogya di setiap
sudutnya adalah tawaran-tawaran yang tidak bakal habis.
Selain mereka yang bahagia, di Yogya ini adakah sesuatu
yang sedih?
Sedih adalah pilihan ke terahir setelah putus asa. Anak muda di Yogya bisa memelihara malasnya. Bisa
tidur 27 jam sehari. Bisa selamanya berdiam diri dalam kegelapan kamar. Bisa diam
melampaui patung. Seterusnya, bisa sendiri dalam kesunyian tanpa ujung tepi. Bila
hal demikian sudah menjadi ketetapan, maka kebahagiaan tidak penting lagi.
Hari-hari anak muda memiliki karakteristik sama. Jika
perasaan seluruh anak muda dikumpulkan kemudian di pilah dalam dua kategori
bahagia dan sedih, manakah yang lebih besar bagiannya?
Saya rasa pertanyaan ini tidak lagi jadi penting terjawab.
Setiap diri kita punya hak untuk sedih. Kita punya
kans bahagia. Perasaan orang yang bahagia berkata setiap orang lain adalah
teman. Perasaan orang sedih pastilah bergumam; setiap orang lain
adalah musuh. Siapa yang bisa menentukan ini semua?
Tak perlu jawaban eksplisit.
Menimbang perasaan malam minggu di Yogya, membutuhkan
kerja keras batin. Orang luar berkata: Yogya adalah rindu. Yogya adalah
kenagan. Yogya adalah blablabla...
Demi malam minggu, maka bersedihlah anak muda yang
tinggal di Yogya, kecuali mereka yang memperbanyak teman dan meninggalkan
kesendirian.
Sorowajan, 12 April, 2017
post by #stuednt
Selasa, 07 Maret 2017
ALY D. MUSYRIFA
Selasa 7
March 2017
ALY D. MUSYRIFA
Launching buku puisi karya Penyair Aly D Musyrifa di gedung Teatrikal
perpustakaan UIN Sunan Kalijaga telah saya ikuti hingga rampung. Harap Anda
tahu, acara ini berbeda dari yang lain: pembacaan puisi-puisi oleh para tokoh,
tribut Penyair. Tidak ada diskusi, debat atau perang argument seperti di acara
launcing buku sastra pada umumnya. Dan, memang nampak sekali niatnya, acara diselenggarakan
untuk menaikdaunkan sang penyair. Hemat saya, sesungguhnya ini harus terjadi
dan spesial untuk mengharumkan nama penyair. Kenapa penyair? Karena penyair
itulah yang melahirkan puisi-puisi. Lebih dari itu, eksisnya penyair itu
menandai bahwa zaman kepenyairan masih belum sirna dari bumi Indonesia.
Saya tentu bukan hadirin penting di acara itu. Namun setidaknya penting
bagi saya perlu tahu kalau “O… ini to Penyair, atau penyair itu harus dipublikasi
supaya blablabla.” Dari acara ini, saya dan anak-anak generasi muda minimal jadi
tahu wajah penyair Aly D Musyrifa. Kita menjadi saksi atas penyair yang bergaya
menenteng puisi di kertas, membacanya sambil menata suaranya agar terdengar
mantap dan berwibawa di depan mata semua orang, sesekali ia berteriak nada
tinggi. Memukau setiap orang dengan lirik dan nada ritmis kata-katanya sendiri.
Sedalam kesadaran seorang penyair, tentu saja ia menguasai pengetahuan instrumen
show dan insting vokal dalam mendemonstrasikan puisi-puisinya, lebih-lebih untuk
tersampaikannya makna pesan supaya audiens terpengaruh dengan pikiran-pikiran
yang dikandung puisi-puisi itu.
Apa ada penyair yang tidak bisa membaca puisi? Kalau yang Anda
maksudkan membaca puisi dengan demonstrasi atau deklamasi, tidak semua penyair
bisa melakukan itu. Tetapi, sederhana saja, bukankah menulis itu adalah buah
dari membaca? Jadi proses menulis puisi itu, selain membaca puisi yang sudah
tertulis juga membaca ruh puisi yang bergerak di alam realitas, ruh puisi yang
cair di arus kehidupan dan belum terkristalisasi oleh kata. Maksud saya,
umpamakan wujud kata puisi itu adalah jabang bayi. Anda lihat bayi imut itu
adalah wujud pembekuan dari percintaan, nikmat, mangkel, marah, dan macam-macam
yang ahirnya dengan kesabaran dan harapan maka jadilah itu si bayi. Begitulah
kata-kata lahir.
Penyair Aly D. Musyrifa yang telah melahirkan banyak puisi, dapatlah
Anda menilai bahwa ia seorang manusia yang menemukan dan menjadi dirinya
sendiri. Dia jika sedang serius mengungkap makna, bergulat batinnya dengan
fenomena dan ekspektasi, memilah-milah dan merangkai kata, serasa dunia ini
berhenti berputar. Bintang-bintang bulan dan matahari hanya emblem artistika
yang menyertai khusu keasyikan menuju terciptanya karya yang indah. Saya rasa, Ia
berhasil menyusun ketenangan, yang mungkin oleh penyair lain ketenangan itu
masih menjadi sebuah pencarian besar.
Aly D. Musyrifa itu hanya satu. Sebagai penyair, ia bukan lain adalah
seorang yang bisa masuk dalam sirkulasi kehidupannya sendiri. Realitas dirinya
melahirkan puisi, di waktu yang bersamaan pula puisi telah mengukuhkan dirinya
sebagai manusia. Untuk ini, saya nyalikan diri menguntai selarik ungkapan sang
penyair itu.
“Sekali waktu, saya melihat seorang yang ternyata ia berjalan sendirian
begitu sangat keren. Semampai dan flamboyan. Sebelumnya, aku kira dia sedang
menari, melambaikan isyarat tangan yang perasannya sedang penuh dinamis, antara
bahagia atau sedih. Ia terus bergerak bahkanpun angin tidak berhembus. Ia menapakkan
kaki seolah tanah lah yang berkehendak mencium telapak kakinya. Ia menundukkan
kepala dan rambutnya yang panjang terurai itu seakan-akan menutupi wajah matahari.
Ia yang memperhatikan setiap langkah dengan teliti dan ketekunan seperti
rajawali. Ia yang menjinakkan degub badai dalam relung jantung dan merubahnya
menjadi angin sepoi. Ia yang begitu keren saat berjalan sendirian itu telah
memikat apa saja dengan gayanya berjalan. Ia Aly D Musyrifa adalah pesona.”
Kalau Anda bertanya siapa saya? Saya menjawab: saat ini aku adalah
kata-kata yang mempuisikan penyair.
possted by student
Kamis, 01 September 2016
Tradisi Baik Sebelum Mengajar
Tradisi Baik Sebelum Mengajar
By Fuad Hasan
Seorang murid tiba-tiba mengajukan
pertanyaan dengan nada lirih sewaktu kelas tengah tenang, “Pak, jadi guru itu
sulit ngga sih?” Untuk beberapa detik, saya hanya bisa terdiam. Sejenak berdiri
mematung di muka kelas, angan-angan saya menjelma bak anak-anak yang ada di
balik bangku berjajar. Ya, saya seperti memuda, kembali merasakan masa duduk
tenang sebagai murid yang sedang tekun belajar di bawah bimbingan guru.
“Itu pertanyaan, seperti pernah
kutanyakan di masa lalu!” Batinku menjawab. Waktu seperti benar-benar berulang,
Wajah guru-guru membentuk imajinasi senyuman di dalam cakrawala pikiran. Saya
terigat mereka, spontan bibir bergumam: “Allahumma sholli ‘ala Muhammad.”
Bersamaa sholawat itu, doaku deras nian mengalir ke samudera ketulusan
guru-guruku.
Ini dinamika usia yang tertali
oleh ilmu, sanad perjuangan yang terus bersambung sebagai pewaris tradisi
pengajar. Sebuah peristiwa menjadi awal mula, sebelum mulai mengajar, saya
telah menyerahkan semua ilmu dan petunjuk pencerahannya kepada Allah. Setelah
itu, surah Alfatihah kukirimkan untuk Gudang ilmu, Muhammad SAW, guru-guru ibu
bapak, murid-murid dan ilmu itu sendiri.
Semoga merutin, ini sebagai
tradisi baik penjaga kehidupan ilmu dan kemuliaan orang-orang alim.
1 September 2016.
Langganan:
Postingan (Atom)
Alam Pikir Orang Kita
Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN AFEKTIF (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembentukan dan pengembangan sika...
-
Pepatah Jawa dan Artinya Perenungan, penuh makna Bismilahirrahmaanirrahiim. Halo sobat pembaca, saya postingkan kumpulan pepatah Jawa y...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN PAKEM (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN Kegiatan pembelajaran merupkan proses kegiatan belajar da...
-
Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...
-
STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF (Bermuatan Karakter) BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Proses pendid...
