Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2018

Di Bawah Kebahagiaan Semesta


Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Byalkan

Pada setiap penantian yang disertai kesabaran, Insyaallah hasilnya akan membawa kebahagiaan. Begitulah kalimat bijak disampaikan angin lewat, memberi ucapan selamat dan sukses atas peristiwa terjadinya tunganan antara Dlakirman dengan seorang gadis yang diketahui bernama Rohani.

Moment bersejarah itu terjadi tanpa basa-basi. Seminggu sebelumnya, melalui telepon Dlakir memberitahu sekaligus membujuk orangtuanya untuk berkunjung ke rumah orangtua Rohani di Kota Semarang. Kiranya hari selasa tanggal 6 Februari. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan itu sekalian mengusung agenda khitbah atau tunangan. Orangtua Dlakir mengindahkan, selanjutnya dari jarak jauh, mereka menyusun bekal apa saja yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai 'serahan' dan makanan yang akan dibawakan untuk buah tangan.

Rupanya ada kehendak lain, acara 'harus' diajukan lebih cepat. yaitu, sehari sebelum tanggal 6. Tepatnya hari senin tanggal 5 Februari, Dlakir berangkat dari Jogjakarta menunggang kuda besi dengan temannya, Abdul Hadi. Pagi itu Kota Jogja sedang diguyur hujan cukup deras hingga pukul 9. Sebelum menuju Semarang, Dlakir lebih dulu mampir kantor tempat dia kerja di ringroad utara untuk mengambil gaji kerja selama bulan Januari. Sesampai di kantor lekas-lekas dia menuju bagian keuangan. Sebelum perjalanan mereka berdua mengisi perut dahulu, soto ayam di warung sebelah gedung kantor lembaga tempat ia bekerja.

Sembari makan, mereka memikirkan jalan pintas menuju Semarang selain jalur Jogja-magelang-semarang, Dlakir memutuskan mencoba lewat arah timur, yaitu Jogja-klaten-boyolali-salatiga-semarang. Meski belum hafal benar jalur yang akan ditempuh, tetapi dengan tekad dan optimis ahirnya Dlakir begitu berani untuk mengambil jalur itu. 

Katanya, kalaupun nanti tersesat di jalan, paling hanya mutar-mutar satu jam saja lamanya. Masih ada waktu untuk sampai Semarang sebelum bayangan matahari melebihi tombak.

Benarlah prediksi itu. Selepas wilayah arah Gondang Winagoen, Pabrik gula Klaten, Mereka menuju pintas ke utara dan mulai masuk arah desa-desa di pedalaman klaten, Dlakir yang mengemudi agak lupa jalan. ia benar-benar lupa ingatan jalan. Padahal seminggu lalu pernah melewati ketika naik bus. Tetapi, walau ragu, Dlakir tetap saja melanjutkan jalan dengan mantap. 

Saking besar optimisnya, motornya tiba-tiba melesak ke dalam rimbunan perbukitan yang jalannya tak beraspal. Matahari pun nyaris tidak terlihat karena tertutup tebalnya daun-pepohonan. Kondisi yang habis hujan membuat jalan becek dan licin. Di wilayah klaten (yang diduga itu) bagian barat, Dlakir berhenti sejenak. DIa positif tersesat. Mau tanya tapi tidak ada orang lewat. Sinyal internet lenyap dan tidak bisa mencari tahu arah jalan lewat googlemap.

Perjalanan lanjut, tanpa berhenti. Ahirnya mereka sampai jalur agak besar tapi rusak parah dengan seribu lubang. Hanya truk besar muatan pasir yang lewat. Di sini, setiap tikungan saya berhenti untuk bertanya pada orang. Ketemu dengan orang ngarit, ia mengatakan bahwa saya terlalu jauh dari arah menuju Boyolali. Kemudian dia menunjukkan arah yang panjang berliku. Saya percaya saja mengikuti petunjuknya, Daripada tersesat lebih jauh lebh baik saya mengikuti petunjukknya.

Satu jam penuh hanya muter-muter sedangkan waktu Duhur telah sampai, Dlakir baru masuk wilayah bertuliskan Jatinom. Lega betul dia menemukan sebuah kampung, setelah lama terpentok alas pohon-pohon dan jalan buntu. Kampung dengan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni. Nyaris tidak ada orang yang kelihatan. Setelah menunggu di tepi jalan beberapa menit, untung besar, ahirnya ada orang lewat juga. Beruntunglah orang itu bisa ditanyai. Dlakir melepas kemudi, gentian Dulhadi berkendara melewati Boyolali... hingga Salatiga.

Selama pejalanan melewati jalur itu, rasanya alam benar-benar bersahabat. Suasana mendung mengayomi perjalanan mereka sampai masuk Bawen, Semarang. Baru hujan kembali turun saat mereka sampai daerah Ungaran.

Di sisi lain, rombongan keluarga Dlakir berangkat dari Pati jam 9 pagi. Menurut kabar dari mbah Hasan yang membawa rombongan itu dengan mobilnya, mereka sudah sampai di MAJT jam 12.30 WIB. Dlakir masih di SPBU Bawen, Istirhat sejenak meluruskan punggung dan ishoma sebentar. Rombongan dari Pati pun juga beristirahat dulu. Alhamdulillah mobilnya lancar kembali setelah tadi sempat mengalami rewel.

Dari arah selepas Salatiga itu, gantian Dlakir lagi di depan, memboncengkan Dulhadi. Sampai di ungaran hujan kembali turun. Deras sekali. Ini membuat kecepatan bekendara mereka harus diturunkan, maksimal 50 KM/jam. Jarak pandang jalur utama menuju Semarang yang mereka lewati cukup ramai. Lebih baik berkendara pelan mengutamakan keselamatan.

Jam setengah 2 Dlakir mengabari lagi rombongan dan memintanya untuk persiapan lanjut perjalanan. Sekitar 10 menit lagi sampai lokasi. Rombongan mobil yang belum tahu lokasinya, mereka menunggu di dekat SMP 8 Candisari, awalnya Dlakir minta supaya rombongan berhenti dan menunggu untuk dijemput di depan Javamall. Lokasinya lebih mudah karena di pinggir jalan raya. Tetapi rombongan sudah terlanjur menuju di SMP 8, jadi butuh waktu untuk mencari rombongan itu hingga ketemu.

Sudah jam 2, Dlakir dan rombongan sampai di depan rumah Rohani. Para penumpang mobil turun. Satu persatu diberi payung agar tidak basah oleh hujan. Rupanya penumpang mobil itu lebih banyak daripada perkiraan. Dlakir mengira isi rombongan cuma 7 orang. Namun tetapi semua ada 8 0rang dewasa dan 3 anak-anak. Belum lagi jajanan bawaan. Mungkin jumlah beban yang berat itu mengakibatkan mobilnya sempat mati mendadak.

Masuklah rombongan dengan membopong barang seserahan itu, keluarga Rohani berjajar di depan pintu untuk menyambut tamu. Dlakir sendiri cukup terkejut karena barang bawaan rupanya diluar perhitungan. Bawaan yang lengkap. Isinya macam-macam makanan, tak ketinggalan juga pakaian. Semua tamu sudah duduk memenuhi ruang tamu. Orang-orang sudah siap untuk memulai acara. Dlakir dan Dulhadi yang motoran dari Jogja terkena hujan nyaris basah, mereka pun langsung ikut acara tanpa sempat ganti baju.

Bapak Dlakir tiba-tiba menyalami orang dari keluarga Rohani yang duduk di dekatnya. Dia biang “Sampean niki ingkang besan kulo”. Mendengar kalimat itu, orang yang disalaminya merasa kaget. Ternyata salah orang. Maka seisi ruangan itupun tertawa. Orang yang kaget itu rupanya wali daripada keluarga Rohani yang bertugas sebagi penyambung lidah. Dengan begitu, pak wali langsung menunjukkan kepada bapak Dlakir tentang siapa calon besan yang sesungguhnya.

Acara dimulai dengan sambutan dari pak wali, kemudian dibalas oleh wali kelaurga Dlakir, mbah Marno. Penjelasan maksud kedatangan adalah untuk dodok lawang sekalian lamaran. Dua kegiatan yang secara prosedur formal seharusnya berurutan terpisahkan oleh jangka waktu itu, di situ dilakukan secara langsung. Bukan untuk menyalahi adat tradisi, tetapi karena jarak antara pati-semarang cukup jauh, maka pertimbangan efektivitas penggabungan dodok lawang dan lamaran itu dibarengkan.

Walaupun di ahir acara pihak perempuan merasa tidak biasa karena persitiwa dodok sekalian lamaran, tetapi tidak masalah sebab sebelumnya Dlakir sudah komunikasi dengan keluarga Rohani. Bahwa dia akan dodok lawang sekalian lamaran. Orang-orang yang tidak tahu wajar jika kaget. Namun memang sebaiknya tradisi itu memang harus lentur dan bisa diotak-atik untuk kemaslahatan selama tidak membahayakan.

Usai acara formal semua hadirin makan-makan bersama, menu lauk ayam daging. Tadinya kita akan disuguhi makan dengan ayam kampung milik sendiri. Berhubung banyak ayam di rumah tinggal nyembelih saja. Tetapi orangtua Dlakir tidak setuju kalau keluarga Rohani menyembelih ayam. Takutnya itu secara filosifis nanti akan memutus silaturahmi. Lebih jauh, itu bisa menandakan besok rumah tangga yang akan dibagun akan mengalami perpisahan.

Mengenai perubahan tanggal menjadi 5 Februari. Ini menyesuaikan dengan perhitungan Jawa, sebab tanggal 6 adalah hari selasa, bagi orang Jawa, hari terahir dalam pasaran itu tidak baik jika digunakan untuk membuat acara lamaran atau pernikahan. Maka diajukan hari senin. Justru jika senin tanggal 5 itu merupakan hari paling bagus dalam bulan itu untuk membuat acara.

Pukul 15:30 Wib, acara selesai. Gerimis pun belum juga reda. Rombongan kembali ke Pati. Sebelum semua menaiki mobil, Dlakir memegang tangan adik perempuannya dan memberikan amplop untuk mengganti semua biaya keperluan acara tersebut. Dlakir dan Dulhadi kembali ke Jogja. Motoran lagi, di sepanjang jalan terus gerimis. Dlakir sangat riangnya. Agenda lamaran sudah sukses, dengan restu alam semesta semua rangkaian acara itu terlaksana dengan selamat. "Kita semua bahagia." Katanya.



 Yogya, 21 februari 2018.

Minggu, 02 September 2018

Boekan Lagi Djamannja Pendekar?


Boekan Lagi Djamannja Pendekar?

pendekar sakti mandra guna
Moengkin soeda tetapan takdir jang MahaKeoasa, bahoea sanja tiap” manoesia poenja kehendak itoe batinnja. Soeatoe dorogan jang muasalnja dari dalamnja bathin, mengadjaknja oentoek djadi manoesia jang paling hebat. Itoe adjakan koet jaitoe asa namanja, nama lainan daripada tjita-tjita. 

Kala waktoe masih kanak-kanak, manoesia menjandarkan tjita-tjitanja itoe daripada resonantie ajah dan iboeknja. Bilamana itoe anak moelai tahoe pergaoelan lingkoengannja, ia mentjoba djadikan itoe tjita-tjita lajaknja hobi. Soeatoe jang dikerdjakannja tiap” hari, ia gembira ria dan teroes ingin melakoekan itoe hobi. 

Saja poenja itoe pengalaman. Moengkin jang saja alami, sama dengan jang anda semoea djoega alami. Soeatoe dorongan jang menjenangkan itoe beroepa tjita”. Saja amat senangnja pada keinginan oentoek djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja mengkira”kan, itoe keinginan mempeladjari ilmoe pentjak toemboeh otomatic sebabnja saja poenja ajah ialah seorang pendekar adanja.

Itoe tjita” teroes berketjamoek di dalam diri. Saja tidak tahoe apa” dan tak maoe tahoe ketjoeali beladjar itoe pentjak. Bahkan poen djika ajah melarang saja beladjar itoe, saja tetap sadja membandel. Diam” saja teroes beladjar tanpa sepengetahoeannja ajah. 

Djoestore pada oesia mendjelang doea poeloeh lima tahoen, setjara resmi saja ikoet beladjar bela diri koengfoe jang asalnja dari Foshan, Tjina Selatan. Itoe seni bela diri di seboet Wing Chun namanja. Sedjak pertama ikoet latihan, sang master Shifoe itoe koengfoe bertjakap, djika saja ini soedah nampak bakat dilihat daripada gerakan” saja mengikoeti itoe koengfoe.

Tampaknja, apa jang djadi kehendak ajah melarangkoe beladjar itoe pentjak, sama sekali ta’ dapat koe sadari dengan baik. Bahkan sampai ini waktoe, tanpa saja doega” bilamana reflex ini tangan ataoepoen kaki, soeda matjam” djoeroes sadja geraknja.

Itoe perkara jang sampai terbawa hingga detik ini, ingin saja loepakan dan boeang djaoeh” biasaan jang berhoeboengan dengan itoe hobi.

Djelasnja, akoe molai goesar. Bahsasanja ini boekan djaman kependekaran lagi. Akoe kadangkala ingin tinggalkan itoe pentjak, dan gantiken itoe hoebi dengan beladjar menoelis karja” yang lemboet. Oempamanja; sastra, syair, atoepoen lebih loeas.

Djaman otot soedah oesai. Gantiannja djaman akal. Ija. Menoelis ialah tjara baroe oentoek mengasah kelemboetan rasa, ketadjaman fikir dan ketegasan sikap. Ini tjara moetachir oentoek menojoe djadi pengoeasa, bangsawan, ataoe pahlawan.

Itoe makanja saja beralih haloean. Sekiranja tangan jang doloe saja goenakan ontoek main poekoel, kini ini tangan haroes terbiasa memegang pena oentoek mengoengkapkan ide dan gagasan. Orang jang mengoeasai itoe toelisan dan informasi itoelah orang jang bisa mengoesai doenia.

Kehidoepan doenia teroes berkembang. Nampaknja hegemonij informasi poen moelai terkena geseran. Ada soeatoe kekoeatan jang lebih dahsjat, jaitoe technologie. Soeatoe alat jang ditjiptakan oleh manoesia itoe poenja sifat ketjerdasan logic. Iya. Technologie otomatic mentjiptakan peloeang dan mampoe melipat doenia jang amat loeas mendjadi sempit.

Dan, njatanja djoega, itoe technologie djoestroe telah mengambil alih beberapa foengsi daripada manoesia. Misalnja, tentara machine, pembantoe machine, pengantar soerat machine, sendjata machine dan matjam lainnja. Itoe technologie menggantikan peranan manoesia dalam mendjaga keamanan ataoe bela diri, bahkan kelaknja, pengoesa technologie akan mengoesai djoega djaloer perniagaan.

Ini jang mendjadi goesar di fikiran saja. Djadi, benarlah itoe oetjapan ajah saja. Moengkin saja tak perloe lagi djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja haroes faham djaman, pendekar hanja akan djadi tjenteng ataoe peseoroeh bagi pengoesa informasi. Tidak poenja kemerdekaan nantinja meskipoen pendekar itoe tinggi ilmoenja.

Itoelah sekilas daripada geosarnja kehendak bathin saja. Soeatoe pilihan haroes ditentoekan antara tjita” djadi pendekar berilmoe tinggi ataoe beralih djadi orang jang mampoe menggoenakan technologie.

Soemedang, Agoestoes 2018.




posted by student

Jumat, 09 Februari 2018

Masih Percaya Perempuan itu Makhluk Lemah?


Masih Percaya Perempuan itu Makhluk Lemah?
By Alkanjawi

Diskusi kelas pagi itu saya awali dengan pertanyaan singkat: “Mengapa perempuan seringkali dikatakan sebagai makhluk lemah?” 
Saya kira kelas ini akan menjadi paling hidup karena mulut-mulut akan bawel dan saling adu alasan membantah pertanyaan saya itu. Perlu anda tahu, bahasa tanya yang saya ucapkan adalah saringan dan lebih ringan muatan emosinya daripada yang tersangkut di balik pita suara saya. Saya turunkan tensi kejutan karena energi kelas masih akan banyak terkuras untuk anak-anak belajar seharian. Tetapi, anak-anak perempuan yang sebagian banyak masih fresh kosmetik wajahnya saya rasa tak lama lagi menjadi kusut karena perubahan suasana batin. Tunggu saja. Bukan kelas saya kalau tidak ramai!
“Karena perempuan gampang nagis. Mereka itu cengeng pak” Jawab Sarbimo pada pertanyaan saya..
Mengernyitlah dahi ini menanggapi jawaban Sarbimo. “Tumben ada benarnya jawabanmu bro...”
Namun Sri Merlin membantah: “Kalau nangis ya bukan hanya perempuan saja woe! Laki-laki juga ada yang cengeng. Nggak masuk akal kalau nangis jadi alasan perempuan itu mahkluk lemah.”
Kelas berjalan sesuai rencana. Tidak ada tanda-tanda kubu perempuan menentang pertanyaan saya. Itu artinya mereka menyatakan diri kaum Hawa adalah makhluk lemah. Menggembirakan.
“Begini pak. Prempuan itu lemah karena tenaganya lebih sedikit daripada laki-laki. Misalkan para pekerja di lapangan, lihatlah lelaki mampu menangkat beban dua kali lebih berat daripada yang mampu diangkat perempuan. Kalau istilah orang Jawa, lelaki itu mikul dan perempuan hanya bisa nggendong. Mikul itu dimana-mana ya mengangkut dua sekaligus. Kalau nggendong daya tampungnya hanya satu. Iya ngga...? Salim mencoba berargumen.
“Saya tidak setuju jawaban Salim pak” sergah Sri.
“Itu bukan masalah utama. Menurut saya, membandingan perempuan dengan lelaki atas dasar kekuatan fisik itu pendapat yang sudah lama sekali usang. Itu pemikiran prasejarah. Menusia bekerja  dengan otot kan memang sesuai dengan fitrah kemampuan fisik. Laki-laki dengan ukuran kekuatan otot mampunya segitu. Sama halnya perempuan yang kekuatan ototnya lebih kecil, kemampuan otonya juga sesuai dengan bentuknya. Saya akan angkat jempol kalau anda menunjukkan contoh bahwa setiap lelaki lebih pintar daripada prempuan. Tapi, saya rasa Anda tidak akan bisa menunjukkan contoh itu!”
Jawaban si Srimer menentang dengan nada keras. Gadis berlensa mata itu lugas mengkritik pendapat kawan yang terlalu memuji fisik daripada kecerdasan. Hal yang substantif.
Dari bangku sudut kiri Dlasuqi nyeletuk: “Apa jangan-jangan pertanyaan bapak itu kurang tepat?”
“Hemmm... Kurang tepatnya dimana yang mulia. Sudilah kiranya paduka menjelaskan pada kami semua...” Jawab saya.
“Sebagai pengingat saja, kita ini tidak hidup di jaman penjajahan bukan? Kita sekarang berada di era kebebasan berekpresi, kemerdekaan pendapat dan kesetaraan kerja. Lelaki bisa mengolah kekuatan otot, tidak ada salahnya perempuan mengikutinya. Lelaki bisa memikul, tidak terlarang bagi perempuan bisa memikul. Lelaki bisa kuliah, sekarang perguruan tinggi juga banyak mahasiswi. Lelaki menjadi pemimpin, perempuan banyak yang jadi pejabat dan mampu berprestasi. Saya pikir, adalah kemunduran jika jaman sekarang mengatakan perempuan sebagai makhluk lemah.”
“bhahaha...”
“Maklum saja karena bapak Fuad generasi jaman old yang kurang pengetahuan.” Bisik-bisik Arditian ke sampingnya sambil cengegesan...
“iya-ya... Ada Superman juga tidak ketinggalan ada Wonder Woman.”
“Betul Sri itu pak. Perempuan itu sebenarnya bukanlah makhluk yang lemah. Ia bahkan lebih kuat daripada laki-laki. Buktinya, ia kuat membawa dua buah gunung kembar.”
“bhahaha...”
“Siapa yang melahirkan keturunan manusia sehingga tidak punah? Perempuan kan! Memproses sperma menjadi janin dalam rahim itu bukan perkara mudah. Hanya perempuan yang bisa melakukan itu. Lelaki tak mungkin bisa. Itu bukti perempuan makhluk kuat.”
Kelas ini telah dipenuhi kepala-kepala panas. Umpan “melemahkan” perempuan yang telah dilempar menyangkut di otak anak-anak sehingga sekali tarikan, straight pendapat. Kelas belum selesai. Pertanyaan apersepsi berhasil menghidupkan kelas. Ada yang mendukung ada yang menolak. Pelajaran tetap berlangsung, sebentar lagi saya akan melakukan pembelaan atas pertanyaan saya sendiri.
“Pendapat yang luar biasa semua. Di kelas kali ini, saya sebagai fasilitator pembelajaran cukup merasa senang. Saya tidak menyerah dengan klausul di awal yang saya persoalkan. Sementara, saya ada di kubu yang setuju perempuan adalah mahkluk lemah.”
“Alasannya apa pak” Tanya Arditian.
“Semua sudah paham kan apa makna lemah? Antonim kata lemah adalah kuat. Orientasi ekstrim lemah itu menuju ke arah rusak, tidak tahan, labil, mudah terpengaruh, bahkan sampai kerusakan yang menular. Perlu kalian ketahuai, sifat-sifat tersebut tidak mungkin ada kecuali meledaknya titik rentan yang saya sebut CEMBURU. Di situ, perubahan reaksi perempuan terlihat sangat jelas. Yang tadinya mampu mengontrol emosi, karena cemburu ia menjadi tak terkendali. Urat kesadarannya putus. Mekanisme pembelaan diri dikuasai egoisme. Kata-kata tumpah, tajam-tajam. Kalau sudah ngomong seperti belati yang bisa menembus jantung lawan bicaranya....”
“... Menurut saya itu sisi lemah. Jika temen-temen lelaki ingin tahu kelemahan perempuan gampang saja. Buat ia cemburu. Semua sifat yang ditutup-tutupi, yang jaim, yang lemah lembut, yang anggun, akan terbongkar dan kelihatanlah kelemahannya. Yang tadinya tampil indah, karena cemburu hilang itu keindahan. Yang tadinya penyayang, karena cemburu, berubah wajah itu jadi menyeramkan. Itu kelemahan yang hakiki dari perempuan. So, Satu-satunya bukti di dunia ini yang bisa menjadi alasan perempuan adalah makhluk lemah adalah kecemburuan.”
Silahkan renungkan.
“Sebelum saya sudahi, kelas ini... Eh, Ardit. anak Bantul yang kamu ajak ke rumah kemarin itu kayaknya cocok sama kamu, senyumnya mirip”
Sengaja saya tuju ke Ariani. Ia mulai melepas kaca mata, ia melirik dan jari-jarinya tak bisa diam, Setelah kelas, sebentar lagi penjelasan saya akan menjadi kenyataan...

Jgj, 8 jan 18.

end note: “perempuan dimenangkan oleh karena perasaan, dikalahkan juga oleh karena perasaan”

Sabtu, 11 Juni 2016

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love



Tanda kalau kamu mulai suka sama orang yaitu kamu akan tertarik pada si dia. Bawaanya, kamu akan menjadi selalu ingin mencari informasi, latar belakang, hobi, pengalaman, cita-cita dan segala macam yang ada hubungannya dengan si dia. Iya kan?

Nah, kondisi kepo semacam itu wajar saja. Asalkan dalam proses dan cara menemukan informasi pada orang yang mulai kamu sukai itu benar dan wajar. Benar itu maksudnya ya proses yang kamu lakukan untuk mendapatkan informasi itu secara terang-terangan dan tidak melanggar hukum. Kalau wajar itu artinya dalam kamu mencari informasi yang jangan aneh-aneh, misalnya sampai datang ke paranormal atau mbah dukun.

Mencari informasi tentang seseorang adalah langkah pertama kamu membangun kepercayaan. Percaya pada apa? Percaya bahwa cinta yang akan kamu selami akan mendapat restu dari semesta alam.  Pentingkah? Jelas! Jika dalam proses kamu tidak benar, alam semesta tidak akan pernah rela cinta yang positif datang kepadamu. Justru, kamu akan dibelenggu cinta yang akan membuatmu gelisah, nestapa, rindu tanpa ujung, atau bahkan kecewa. Jadi, pada poin awal ini kamu mesti hati-hati ya.

Lalu, bagaimana proses yang benar dan wajar mencari informasi tentang si dia? Nah, ini baru pertanyaan bagus. Sekarang yang kamu butuhkan adalah keberanian. Kamu harus mulai menyingkirkan rasa takut untuk jujur dan berbicara secara langsung kepada si dia. Ingat, cinta sejati adalah milik para pemberani. Mulailah latihan berbicara, yakin kan dirimu, dia yang membikinmu tertarik itu adalah sama-sama manusia. Manusia yang juga punya rasa tertarik satu sama lain.

Tak perlu bikin “kode-kodean” yang aneh-aneh. Itu tidak efektif. Menyampaikan sesuatu secara langsung kepada orang yang kita sukai itu terlihat lebih tulus dan “apa adanya”. Bukankah dalam cinta selalu mengutamakan yang apa adanya? Ya, cinta yang “ada apa”nya pasti selalu kandas dihempas kenyataan.

Pada posisi batinmu dipenuhi jutaan pertanyaan untuk kamu tanyakan sama di dia, dalam pikiranmu ada sebuah gelombang yang membentuk tanda tanya. Kalau pertanyaan itu begitu penting dan amat mengganggu pikiranmu, gelombang “tanda tanya” warnanya merah. Nah, gelombang tanda tanya yang muncul itu, jika tidak mendapat jawaban dari yang bersangkutan, ia akan selamanya menjadi tanda tanya. Ia akan menggantung dan membebanimu. Bisa jadi kepalamu akan pening sendiri karena tumpukan pertanyaan.

Maka sampaikanlah pertanyaan-pertanyaan kepomu itu. Maksud saya, supaya kalau tersampaikan ia akan mendapat respon. Kamu akan mendapat jawaban yang melengkapi tanda tanya dalam batinmu. Jawaban itu adalah pancaran atau “bayangan” dari tanda tanya yang tercipta karena ke-kepo-anmu pada orang yang kamu taksir. Jadi jika pertanyaanmu terjawab, maka otomatis lambang-lambang itu akan menjadi bersatu, dan terbentuklah lambang hati.


Tapi tanda tanya itu belumlah benar-benar bersatu. Masih ada tahapan lagi untuk menciptakan lambang hati menjadi “lambang cinta”. Akan ada proses yang rumit, menggemaskan, dan ini menjadi momen terindahmu dalam menjadikan lambang hati sebagai lambang cinta. sementara cukup sampai di sini dulu pembahasan lambang love ini… to be continue

Rabu, 08 Juni 2016

Kemerdekaan Orang Berpuasa

Kemerdekaan Orang Berpuasa
By alkanjawi

Salah satu aspek fungsional puasa yang baru saya sadari hari ini; orang berpuasa memegang kemerdekaan sebagai penyelamat kehidupan.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya termakan pola pikir sendiri, kalau puasa hanya akal-akalan Allah untuk mencoba manusia sekuat mana menahan lapar dan dahaga. Setingkat lebih “nalar”, puasa kemudian saya terjemahkan sebagai ujian yang sengaja Allah wajibkan untuk mengukur tingkat ketakwaan manusia menjalani perintahnya. Karena alasan pertama itu, masa kecil saya ketika datang bulan Ramadhan, tanpa sepengetahuan orang lain saya biasa makan dan minum es di siang bolong. Kedua dalam urusan ketakwaan, saya memilih bertahan tidak makan atau minum apa-apa sampai tiba kumandang azan maghrib. Pola pikir purba tentang puasa yang dulu pernah menghinggapi nalar itu, sepertinya kini sudah terbang dan menghilang.

Proses pengetahuan manusia memang fleksibel dan mudah menerima atau dimasuki stimulan dari mana pun. Semakin banyak bahan bacaan tentang puasa, saya menjadi terpikir puasa adalah media untuk membersihkan jiwa dari “penyakit-penyakit dalam” yang tidak bisa disembuhkan dengan alat-alat kedokteran moderen. Penyakit-penyakit dalam itu terakumulasi dan mengendap dalam tubuh setelah 11 bulan lamanya kita bebas makan dan minum apa saja yang entah dari mana dan dengan cara apa memperolehnya.

Saya terpikir puasa adalah model penyembuhan dari dalam. Dari situ, mengalir penyataan lanjutan: karena itu orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan jauh boleh untuk tidak berpuasa. Orang sakit yang dia ikhlas menerima keadaan sakit, dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah. Musafir perjalanan jauh yang niatnya tulus mencari ridho Allah dan kemaslahatan manusia, oleh agama disamakan dengan perjalanan menuju masuk surga. Saya mengartikan sakit dan perjalanan jauh (yang menjadi syarat boleh tidak berpuasa) itu sama juga sebagai “metode penyembuhan yang mirip” sebagaimana puasa.

Walaupun sakit dan perjalanan jauh dapat mengurangi beban dosa kita, namun keduanya tidak seimbang kelas penyembuhan dan “kualitas obat” yang dikandung dalam puasa ramadhan. Maka, atas keringanan Allah, kita tetap wajib mengganti puasa di lain waktu. Bila juga tidak memungkinkan puasa, gantinya bisa dengan sedekah. Memberi kebahagiaan pada orang lain. Allah menghendaki puasa ini sebagai penyembuhan diri supaya hidup kita menjadi selalu teriring kemudahan, dan tertutup dari kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Mengenai perintah puasa ini, kalau tidak salah Nabi Muhammad mengatakan: Puasalah kalian agar kalian semua sehat.

Poin Penting 

Sebagaimana ibadah lain yang hukumnya wajib, puasa diatur sedemikian rigid mulai dari waktu, cara, sampai ekspresi yang sulit untuk diotak-atik atau diperbarui (kontekstualisasi) dengan cara apapun. Bukan terus maksud saya hendak merubah kesepakatan tatanan ibadah tersebut. Namun, sebagai manusia pikiran-pikiran aneh bisa saja melintas melewati hal apa saja. Misalnya dalam konteks kita bernegara, Mas Joko tidak pantas menjadi presiden Indonesia, pantasnya dia itu presidennya Amerika. Hal aneh semacam ini bisa saja menembus kebakuan normatif keberagamaan kita. Juga termasuk ibadah wajib yang sudah jelas disusunkan segala macamnya oleh para ulama dari nabi sebagai referensi utamanya.

Peritah puasa akan tetap menjadi perintah sampai ketemu ahir hitungan hari dan bulan. Kita semua yang dalam kondisi normal akan tetap tekena wajib ain untuk berpuasa pada bulan ramadhan. Puasa mengembalikan kealamiahan kita semua untuk kebaikan lingkup dunia dan kehidupannya. Skup lebih luas puasa meliputi segala dimensi lahir dan batin, serta lapisan kemanusiaan. Puasa memerdekakan kita untuk hari ini dan masa depan dengan mengenalkan batasan-batasan yang berguna menjaga ketetapan kadar kemanusiaan.

Saya yakin, hewan dan tumbuhan tidak perlu diperintahkan berpuasa, karena secara alamiah pada waktu yang tepat mereka akan berpuasa dengan sendirinya. Kita yang diberi akal, bisa berpikir merengkuh kebebasan, (kalau mau mengakui) sebenarnya kemerdekaan yang kita harapkan adalah kemerdekaan metafisik sebebas-bebasnya atas makan dan minum. Makan minum kekuasaan, kedudukan, kemashuran dengan cara mendominasi, menekan yang lain untuk kepentingan kemerdekaan individual. Maka, tiada lain kemerdekaan yang kita ingini semacam itu lebih cenderung ke arah kerusakan. Bukan kemerdekaan yang mengusung keselamatan rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya perintah puasa bukan hanya sekedar melarang makan minum atau menghindari aktifitas fisik yang membatalkannya. Puasa meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan pemerintahan yang berkaitan dengan manusia. Kita berpuasa selain untuk diri sendiri, juga berfungsi untuk keseimbangan aspek kehidupan, pola pikir, bangsa, bumi, dan alam semesta.

Menjadi merdeka melalui berpuasa berarti kita mampu mengendalikan, mengekang, dan melawan dari segala dorongan nafsu menguasai, menghegemoni, atau menjajah yang itu secara prinsip bertentangan dengan kemerdekaan. Lapar, dahaga dan menahan libido seksual adalah bagian fisikal eksoteris. Di balik itu, berjuta-juta jenis nafsu jahat yang terus bergulat di bagian batin kita, sama sekali tidak pernah telihat oleh realitas empiris. Puasa menembus nafsu yang bergeraknya di alam batin, lalu mengobati, menyembuhkan dengan membuat batas-batas agar nafsu tak bisa sekehendaknya sendiri.

Bagi kita yang mampu membatasi nafsu dengan puasa, balasan pahalanya langsung dari Allah yang Maha Besar. Bisa jadi semua jenis timbangan yang kita kenal, tidak akan mampu mengukur besarnya pahala kita yang benar-benar berpuasa.


Pedakbaru, yk 2016




post by studen











Senin, 06 Juni 2016

Ucapan Terima Kasih

Ucapan Terima Kasih
by Alkanjawi

Tanggal 1 awal ramadan 1437 H, secara personal saya berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk tiga hal: kesempatan berpuasa di hari pertama bulan mulia, kedatangan sakit, dan hujan lebat waktu berbuka untuk daerah saya tinggal.

Mengenai ilmu terima kasih, saya tergolong orang yang masih dangkal pemahamannya. Namun begitu, tak pantang untuk surut belajar mengucap kata terima kasih secara terang-terangan dengan lisan dan hati mencoba untuk tulus. Kenapa mesti berterimakasih? Setahu saya, terima kasih adalah satu dari dua inti ajaran keselamatan bagi semua agama, terlebih Islam. kita perlu terima kasih karena apapun yang menjadi bagian fungsional dan struktural pembentuk kemanusiaan kita, semuanya adalah pemberian Allah. Lebih mendasar dari itu, makanan dan minuman yang tersedia sebagai hidangan, sehingga bisa kita konsumsi untuk penghasil energi, tiada lain kecuali semua itu diberi oleh Allah. Tanpa segala macam pemberian itu, kita takkan pernah bisa dan jadi apa-apa.

Lalu kata Allah “wasykuruu lillah” kepada semua manusia, itu merupakan perintah yang nyata untuk senantiasa kita berterimakasih. Seterusnya dari berterimakasih, ekspektasinya adalah kita menjadi ingat kalau kita ini sebenarnya bukanlah siapa-siapa dan tidak punya hak atas apa-apa kecuali “sesuatu” yang semuanya dimiliki Allah. Setelah bisa berterima kasih, kita akan bisa legawa menerima aturan-aturan, yang dengan itu kita dilindungi, diarahkan, dan dijaga oleh Allah untuk kemudian kepadanya kita semua kembali dengan keadaan baik. 

Kata terima kasih berlaku universal untuk apa saja. Tetapi, yang paling tinggi derajat dan hubungan terima kasih hanyalah kepada Allah. Maksud saya, ucapan terima kasih pasti ada sangkut pautnya dengan Allah dan menjadi dasar konteks perlakukannya kepada kita. Dalam sejarah bangsa yang dimenangkan, adalah bangsa yang pandai dalam mensyukuri nikmat apapun, termasuk keadaan itu nampak buruk di sebagian mata manusia. Raja Sulaiman putra Daud yang sukses dengan ilmu pengetahuan dapat membangun kerajaan dan bangsa hingga disegani bangsa lain, pada posisinya sebagai hamba, ia mengembalikan segala sesuatu yang dimilikinya dengan berkata “apakah dengan kejayaan ini akan semakin membuatku kufur ataukah syukur”. Sulaiman bertanya pada eksistensi terdalamnya, dan jawaban yang alamiah mengemuka adalah Sulaiman mampu mensyukuri dengan mengakui bahwa semua itu merupakan pemberian Allah yang harus disyukuri.

Beda halnya pada sikap manusia di sisi lain, yang misalnya dengan karakter angkuh dan tidak kenal kata terima kasih. Dalam cerita sejarah, sebutlah Fira’un. tokoh terbesar yang menguasai seluruh dataran Mesir zaman kuno. Keangkukan itu menghalangi Fira’un dan manusia pengikutnya untuk rendah hati, untuk syukur dan mengakui diri sebagai ciptaan yang lemah. Balasan lisan yang tidak pernah mengatakan terima kasih ialah ia akan dilumat oleh semua kehendak yang tak pernah terucap namun akan tiba-tiba meledak di dalam jantung dirinya sendiri. Kenyataanya, Musa bukanlah orang yang datang dari kerajaan luar melawan Fira’un, melainkan seorang anak yang dibesarkan, diajar strategi, dan dilatih taktik berperang di lingkungan kerajaan sendiri. Dan, memang seringkali kerusakan, kekacauan, dan kehancuran segala sesuatu yang merasa besar nan tak tertandingi justru penghancurnya adalah sesuatu yang berasal dari dalam sendiri.

Memang pada dasarnya sikap terima kasih berkorelasi dengan sikap rendah hati. Bagi kita yang membiasakan diri muhasabah, instrospeksi, menilai, dan menimbang kebaikan dan keburukan diri, kita akan tahu kadar ukuran kita untuk menjadi yang nriman atau yang mbangkang. Namun, bilamana orientasi dalam kehidupan yang kita jalani bukan berdasarkan kadar kemanusiaan kita, yang terjadi adalah kita semakin bodoh dan “dilupakan” untuk menapaki tangga kederajatan yang lebih tinggi sebagai manusia.

Bodoh dan pelupa bukan warisan gen seutuhnya. Manusia menjadi bodoh atau pelupa lebih pada ketidakmampuan mereka dalam mengelola diri, ruang, dan waktu yang semua itu dipasrahkan kepada manusia sebagai faktor penunjang kemuliaan derajat di hadapan Allah. Manusia yang tidak mengerti apalagi mengamalkan syukur, ia akan lebih pada ketergantungan eksternal dan mengabaikan potensi diri yang sebenarnya sama. Peran Allah menjelma pada fungsi alamiah yang bisa kita arahkan untuk kebaikan. Sesungguhnya memang begitulah salah satu cara Allah mengenalkan diri untuk dikagumi oleh akal dan perasaan manusia sehingga mereka menemukan kesejatian eksistensial.

Konsekuensi apabila manusia tidak bersyukur, ia tidak akan menemukan kebenaran di masa sekarang dan dilewatkan untuk urusan penting di masa depan. Sekedar perumpamaan, saat Anda butuh tenaga untuk membenahi atap rumah yang bocor, dan misalnya tetangga Anda, Tarji, ia berkata “Saya panggilkan Pak Karjo saja”. Datanglah Pak Karjo, ia membenahi atap rumah Anda yang bocor. Setelah dapat “imbalan” dari Anda, pak Karjo tidak berterimakasih pada Tarji yang memanggilnya, maka yang terjadi adalah putusnya “tali rizki” yang terhubung antara Pak Karjo, Tarji, dan Allah sebagai perantara hubungan mereka. Bila nanti kejadian serupa terulang, Pak Karjo akan dilupakan Tarji untuk urusan yang lebih penting. Tarji secara alamiah akan menunjuk orang lain untuk dihubungkan dengan kerja dan rizki yang berkaitan dengan Allah.

Hari ini, dalam satu waktu tiba-tiba menyeruak suara batin saya untuk mengucap syukur pada Allah. Saya harap Anda memahami trifakta yang membuat saya berterimakasih: puasa, sakit dan hujan.


Pedak Baru, Bantul, 6 June 2016.




post by student 






, 

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...