Tampilkan postingan dengan label dosen hebat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosen hebat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2018

Di Bawah Kebahagiaan Semesta


Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Byalkan

Pada setiap penantian yang disertai kesabaran, Insyaallah hasilnya akan membawa kebahagiaan. Begitulah kalimat bijak disampaikan angin lewat, memberi ucapan selamat dan sukses atas peristiwa terjadinya tunganan antara Dlakirman dengan seorang gadis yang diketahui bernama Rohani.

Moment bersejarah itu terjadi tanpa basa-basi. Seminggu sebelumnya, melalui telepon Dlakir memberitahu sekaligus membujuk orangtuanya untuk berkunjung ke rumah orangtua Rohani di Kota Semarang. Kiranya hari selasa tanggal 6 Februari. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan itu sekalian mengusung agenda khitbah atau tunangan. Orangtua Dlakir mengindahkan, selanjutnya dari jarak jauh, mereka menyusun bekal apa saja yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai 'serahan' dan makanan yang akan dibawakan untuk buah tangan.

Rupanya ada kehendak lain, acara 'harus' diajukan lebih cepat. yaitu, sehari sebelum tanggal 6. Tepatnya hari senin tanggal 5 Februari, Dlakir berangkat dari Jogjakarta menunggang kuda besi dengan temannya, Abdul Hadi. Pagi itu Kota Jogja sedang diguyur hujan cukup deras hingga pukul 9. Sebelum menuju Semarang, Dlakir lebih dulu mampir kantor tempat dia kerja di ringroad utara untuk mengambil gaji kerja selama bulan Januari. Sesampai di kantor lekas-lekas dia menuju bagian keuangan. Sebelum perjalanan mereka berdua mengisi perut dahulu, soto ayam di warung sebelah gedung kantor lembaga tempat ia bekerja.

Sembari makan, mereka memikirkan jalan pintas menuju Semarang selain jalur Jogja-magelang-semarang, Dlakir memutuskan mencoba lewat arah timur, yaitu Jogja-klaten-boyolali-salatiga-semarang. Meski belum hafal benar jalur yang akan ditempuh, tetapi dengan tekad dan optimis ahirnya Dlakir begitu berani untuk mengambil jalur itu. 

Katanya, kalaupun nanti tersesat di jalan, paling hanya mutar-mutar satu jam saja lamanya. Masih ada waktu untuk sampai Semarang sebelum bayangan matahari melebihi tombak.

Benarlah prediksi itu. Selepas wilayah arah Gondang Winagoen, Pabrik gula Klaten, Mereka menuju pintas ke utara dan mulai masuk arah desa-desa di pedalaman klaten, Dlakir yang mengemudi agak lupa jalan. ia benar-benar lupa ingatan jalan. Padahal seminggu lalu pernah melewati ketika naik bus. Tetapi, walau ragu, Dlakir tetap saja melanjutkan jalan dengan mantap. 

Saking besar optimisnya, motornya tiba-tiba melesak ke dalam rimbunan perbukitan yang jalannya tak beraspal. Matahari pun nyaris tidak terlihat karena tertutup tebalnya daun-pepohonan. Kondisi yang habis hujan membuat jalan becek dan licin. Di wilayah klaten (yang diduga itu) bagian barat, Dlakir berhenti sejenak. DIa positif tersesat. Mau tanya tapi tidak ada orang lewat. Sinyal internet lenyap dan tidak bisa mencari tahu arah jalan lewat googlemap.

Perjalanan lanjut, tanpa berhenti. Ahirnya mereka sampai jalur agak besar tapi rusak parah dengan seribu lubang. Hanya truk besar muatan pasir yang lewat. Di sini, setiap tikungan saya berhenti untuk bertanya pada orang. Ketemu dengan orang ngarit, ia mengatakan bahwa saya terlalu jauh dari arah menuju Boyolali. Kemudian dia menunjukkan arah yang panjang berliku. Saya percaya saja mengikuti petunjuknya, Daripada tersesat lebih jauh lebh baik saya mengikuti petunjukknya.

Satu jam penuh hanya muter-muter sedangkan waktu Duhur telah sampai, Dlakir baru masuk wilayah bertuliskan Jatinom. Lega betul dia menemukan sebuah kampung, setelah lama terpentok alas pohon-pohon dan jalan buntu. Kampung dengan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni. Nyaris tidak ada orang yang kelihatan. Setelah menunggu di tepi jalan beberapa menit, untung besar, ahirnya ada orang lewat juga. Beruntunglah orang itu bisa ditanyai. Dlakir melepas kemudi, gentian Dulhadi berkendara melewati Boyolali... hingga Salatiga.

Selama pejalanan melewati jalur itu, rasanya alam benar-benar bersahabat. Suasana mendung mengayomi perjalanan mereka sampai masuk Bawen, Semarang. Baru hujan kembali turun saat mereka sampai daerah Ungaran.

Di sisi lain, rombongan keluarga Dlakir berangkat dari Pati jam 9 pagi. Menurut kabar dari mbah Hasan yang membawa rombongan itu dengan mobilnya, mereka sudah sampai di MAJT jam 12.30 WIB. Dlakir masih di SPBU Bawen, Istirhat sejenak meluruskan punggung dan ishoma sebentar. Rombongan dari Pati pun juga beristirahat dulu. Alhamdulillah mobilnya lancar kembali setelah tadi sempat mengalami rewel.

Dari arah selepas Salatiga itu, gantian Dlakir lagi di depan, memboncengkan Dulhadi. Sampai di ungaran hujan kembali turun. Deras sekali. Ini membuat kecepatan bekendara mereka harus diturunkan, maksimal 50 KM/jam. Jarak pandang jalur utama menuju Semarang yang mereka lewati cukup ramai. Lebih baik berkendara pelan mengutamakan keselamatan.

Jam setengah 2 Dlakir mengabari lagi rombongan dan memintanya untuk persiapan lanjut perjalanan. Sekitar 10 menit lagi sampai lokasi. Rombongan mobil yang belum tahu lokasinya, mereka menunggu di dekat SMP 8 Candisari, awalnya Dlakir minta supaya rombongan berhenti dan menunggu untuk dijemput di depan Javamall. Lokasinya lebih mudah karena di pinggir jalan raya. Tetapi rombongan sudah terlanjur menuju di SMP 8, jadi butuh waktu untuk mencari rombongan itu hingga ketemu.

Sudah jam 2, Dlakir dan rombongan sampai di depan rumah Rohani. Para penumpang mobil turun. Satu persatu diberi payung agar tidak basah oleh hujan. Rupanya penumpang mobil itu lebih banyak daripada perkiraan. Dlakir mengira isi rombongan cuma 7 orang. Namun tetapi semua ada 8 0rang dewasa dan 3 anak-anak. Belum lagi jajanan bawaan. Mungkin jumlah beban yang berat itu mengakibatkan mobilnya sempat mati mendadak.

Masuklah rombongan dengan membopong barang seserahan itu, keluarga Rohani berjajar di depan pintu untuk menyambut tamu. Dlakir sendiri cukup terkejut karena barang bawaan rupanya diluar perhitungan. Bawaan yang lengkap. Isinya macam-macam makanan, tak ketinggalan juga pakaian. Semua tamu sudah duduk memenuhi ruang tamu. Orang-orang sudah siap untuk memulai acara. Dlakir dan Dulhadi yang motoran dari Jogja terkena hujan nyaris basah, mereka pun langsung ikut acara tanpa sempat ganti baju.

Bapak Dlakir tiba-tiba menyalami orang dari keluarga Rohani yang duduk di dekatnya. Dia biang “Sampean niki ingkang besan kulo”. Mendengar kalimat itu, orang yang disalaminya merasa kaget. Ternyata salah orang. Maka seisi ruangan itupun tertawa. Orang yang kaget itu rupanya wali daripada keluarga Rohani yang bertugas sebagi penyambung lidah. Dengan begitu, pak wali langsung menunjukkan kepada bapak Dlakir tentang siapa calon besan yang sesungguhnya.

Acara dimulai dengan sambutan dari pak wali, kemudian dibalas oleh wali kelaurga Dlakir, mbah Marno. Penjelasan maksud kedatangan adalah untuk dodok lawang sekalian lamaran. Dua kegiatan yang secara prosedur formal seharusnya berurutan terpisahkan oleh jangka waktu itu, di situ dilakukan secara langsung. Bukan untuk menyalahi adat tradisi, tetapi karena jarak antara pati-semarang cukup jauh, maka pertimbangan efektivitas penggabungan dodok lawang dan lamaran itu dibarengkan.

Walaupun di ahir acara pihak perempuan merasa tidak biasa karena persitiwa dodok sekalian lamaran, tetapi tidak masalah sebab sebelumnya Dlakir sudah komunikasi dengan keluarga Rohani. Bahwa dia akan dodok lawang sekalian lamaran. Orang-orang yang tidak tahu wajar jika kaget. Namun memang sebaiknya tradisi itu memang harus lentur dan bisa diotak-atik untuk kemaslahatan selama tidak membahayakan.

Usai acara formal semua hadirin makan-makan bersama, menu lauk ayam daging. Tadinya kita akan disuguhi makan dengan ayam kampung milik sendiri. Berhubung banyak ayam di rumah tinggal nyembelih saja. Tetapi orangtua Dlakir tidak setuju kalau keluarga Rohani menyembelih ayam. Takutnya itu secara filosifis nanti akan memutus silaturahmi. Lebih jauh, itu bisa menandakan besok rumah tangga yang akan dibagun akan mengalami perpisahan.

Mengenai perubahan tanggal menjadi 5 Februari. Ini menyesuaikan dengan perhitungan Jawa, sebab tanggal 6 adalah hari selasa, bagi orang Jawa, hari terahir dalam pasaran itu tidak baik jika digunakan untuk membuat acara lamaran atau pernikahan. Maka diajukan hari senin. Justru jika senin tanggal 5 itu merupakan hari paling bagus dalam bulan itu untuk membuat acara.

Pukul 15:30 Wib, acara selesai. Gerimis pun belum juga reda. Rombongan kembali ke Pati. Sebelum semua menaiki mobil, Dlakir memegang tangan adik perempuannya dan memberikan amplop untuk mengganti semua biaya keperluan acara tersebut. Dlakir dan Dulhadi kembali ke Jogja. Motoran lagi, di sepanjang jalan terus gerimis. Dlakir sangat riangnya. Agenda lamaran sudah sukses, dengan restu alam semesta semua rangkaian acara itu terlaksana dengan selamat. "Kita semua bahagia." Katanya.



 Yogya, 21 februari 2018.

Minggu, 02 September 2018

TOEDJOEH TJIRI ORANG PENDIAM


TOEDJOEH TJIRI ORANG PENDIAM

 
the meaning of introvert

Saja bikin ini tjatatan oentoek chalajak pembatja jang boediman, soepaja pembatja tahoe sisi ragam sifat chas daripada mackhloek jang bernama manoesia. 

Tentoe di antara kita samoeanja, pastinja ada seorang jang tida’ banjak oemoeng sama fihak lainnja, soeka bitjara ke dalam dirinja sendiri, kalaoepoen bitjara sama orang, itoe soeara lirih” njaris ta’ terdengar koeping, senangannja menjendiri, kelajaban di alam renoeng kesoenjian, minim intraktion dan djoega siboek sama oeroesannja.

Itoe orang matjam tjontoh terseboet boekan sijapa”, melainkan saja personlijk. Kian saja fikir”, kelak waktoe di djaman modern, ilmoe pengetahoean djiwa menjeboet itoe sikap pendiam samahalnja istilah introvert ataoe introversion. 

Ketahoeilah wahai sekalian pembatja jang terpeladjar. Bahoea sanja itoe orang jang kiranja poenja kepribadian pendiam ataoe introvert, ada matjam keoenikan bawa’an yang djika toean pembatja ketahoei, toean akan memproleh banjak sekali keoentoengan dalam berinteraksi dengannja. Namoen sebeloem itoe, perlu kiranja pembatja tehoe tjiri ataoe characteristic itoe introvert, jaitoe:

Satoe; orang pendiam sebenarnja poenja banjak idea atoe tjerita’ yang tersemboenji dengan rapih di dalam memory ingatannja.

Doea, orang pendiam poenja hasjrat besar oentoek mendjadi poesat perhatian. (Boekan handja dari kalangan manoesia sadja, lho!)

Tiga, orang pendiam menarik perhatian lainnja dengan tjara jang aneh. Namoen itoe soeatoe wujud tjara dia oendjoek kelebihannja. Oempamanja; omong” sendiri, mendadak tertawa, berisik dengan benda”, atau bergerak dengan tjepat tanpa satoe kata poen.

Empat, orang pendiam menjoekai satoe aliran moesik tertentoe, jang itoe amat menempel di intelegencienja, bahkan tjenderoeng maniac.

Lima, orang pendiam kaja kosa kata, njaman bertjakap dengan soeara jang pelan, tertata, dan ritmic. Djika toean sebagai communicannja mesti pasang koeping, sebab itoe soeara bisa sadja hampir” ta’ terdengar, bahkan dengan djarak jang tjoekoep dekat. 

Enam, orang pendiam poenja kepedoelian jang soenggoeh kepada orang-orang jang dia anggap dekat dengannja. 

Toedjoeh, orang pendiam senang poedjian namoen ia koerang pedoeli pada hiasan diri. Seringkali malas bersih,” serta gaja keseharian jang jorok pada semoea barang”nja. 

Jang toedjoeh di atas itoe meroepakan hal ahwal daripada pengamatan empiric diri saja oentoek kenali itoe tjiri introvert. Itoe semoea saja koempoel”, dan tentoe sadja dapat lebih banjak lainan lagi roepa”nja. Bilamana toean pembatja djoempa orang jang kiranja poenja tjiri” chas terseboet, maka oentoek mendapatkan itoe perhatian orang pendiam, toean dapat menelisik itoe toedjoeh sebagai koentji oentoek lebih modeah masoek ke dalam kehidoepan itoe orang.

Soemedang, Agoestoes 2018.






posted by student

Selasa, 11 April 2017

MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA



MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
By alkanjawi

Misalkan di malam minggu saya bikin teraju, sisi kanan saya isi substansi kebahagiaan dan sebelah kiri dengan kesedihan, kiranya manakah sisi yang lebih bobot?
Anda perlu tahu, saya lagi berada di Yogya dengan spot lingkungan ramai. Cukup banyak anak muda kongkow. Dunia muda telah terwakili di sini. Sebagaian saya lihat setiap laki-laki punya teman duduk perempuan. Sebagian lelaki bergerombol. Beberapa perempuan membuat tempat duduk ekslusif. Tidak tampak sama sekali ada makhluk duduk seorang diri. Jam di pergelangan tangan saya menepuk 23.30 wib.
Yeah. I am thinking.
Di antara yang saya lihat, siapa saja yang sedang merasa bahagia?
Semua nampak bahagia. Berkumpul dengan teman. Bercerita tanpa plot. Ngobrol dari yang santai sampai yang serius. Suara nyaring hingga sesekali pecah gelak tawa. Mereka asyik melewati malam. Entah sadar kosmik atau tidak, namun kegembiraan di wajah mereka telah berhasil mengelabuhi waktu. Pun demikian waktu, ia lewat begitu saja di antara ruas kebahagiaan mereka.
Bagi anak muda, semestinya tiada yang lebih penting di Yogya kecuali punya banyak teman. Yogya adalah kesempatan yang terus berulang. Segala sesuatu bisa diatur, asal mulut mau terbuka. Segala hal bisa dicapai asal kaki mau melangkah. Segala hal bisa dikuasai asal gerak tangan kreatif. Segala sesuatu bisa didapatkan asal mau beraksi. Yogya di setiap sudutnya adalah tawaran-tawaran yang tidak bakal habis.
Selain mereka yang bahagia, di Yogya ini adakah sesuatu yang sedih?
Sedih adalah pilihan ke terahir setelah putus asa.  Anak muda di Yogya bisa memelihara malasnya. Bisa tidur 27 jam sehari. Bisa selamanya berdiam diri dalam kegelapan kamar. Bisa diam melampaui patung. Seterusnya, bisa sendiri dalam kesunyian tanpa ujung tepi. Bila hal demikian sudah menjadi ketetapan, maka kebahagiaan tidak penting lagi.
Hari-hari anak muda memiliki karakteristik sama. Jika perasaan seluruh anak muda dikumpulkan kemudian di pilah dalam dua kategori bahagia dan sedih, manakah yang lebih besar bagiannya?
Saya rasa pertanyaan ini tidak lagi jadi penting terjawab.
Setiap diri kita punya hak untuk sedih. Kita punya kans bahagia. Perasaan orang yang bahagia berkata setiap orang lain adalah teman. Perasaan orang sedih pastilah bergumam; setiap orang lain adalah musuh. Siapa yang bisa menentukan ini semua?
Tak perlu jawaban eksplisit.
Menimbang perasaan malam minggu di Yogya, membutuhkan kerja keras batin. Orang luar berkata: Yogya adalah rindu. Yogya adalah kenagan. Yogya adalah blablabla...
Demi malam minggu, maka bersedihlah anak muda yang tinggal di Yogya, kecuali mereka yang memperbanyak teman dan meninggalkan kesendirian.
Sorowajan, 12 April, 2017





 post by #stuednt

Minggu, 28 Desember 2014

In Memoriam Agus Nuryatno Ph.D, Selamat Jalan...

Agus Nuryatno, KI dan Aku

(sekubit album eksperiental mahasiswa tentang dosen hebat dan jurusan istimewa)

Benak pikir ini tiba-tiba berdesir,, ada apa dengan desember? Kenapa banyak orang yang berjiwa besar meninggal dunia di bulan ini?? Lantas dengan lirih hati kecil ini usul bicara,, desember adalah bulan kemerdekaan bagi setiap  jiwa yang hidup dalam dorongan perubahan berlandaskan spirit moderat dan perikemanusiaan. (jogja, 19 Desember 2014)

***

Aku sempat menulis sebuah refleksi tutup tahun tahun lalu.. aku membikin tulisan sekedar menumpahkan riak-riak kegelisahan di belik batin,, kalau tidak begitu,, aku takut riak-riak itu akan segera basi,, membusuk dan membuat kejernihan arah prasangkaku menjadi terkotori..

Di permenungan sunyi itu,, aku selintas membuka gerbang sensi futuris di lubuk hati (perasaan),, dan sebagian kalimat penutup refleksi itu ku tulis dengan hati-hati,, begini tulisku: ”di tahun depan,, akan banyak kehilangan orang yang berarti dalam hidup”,, di penghujung bulan yang sama tahun 2014 ini,, coretan sunyi itu menemui jawabannya..

Ya,, M. AgusNuryatno yang menjawabnya,, serius meninggal dunia,, meninggalkan bekas semangat di belantara jiwa-jiwa,, kematiannya di usia tak terduga,, membuat semua orang nyaris tak percaya,, dari nagoya university, Jepang,, info kematiannya tersebar,,  bahwa bpk. guru kami M. Agus Nuryatno Ph.D telah meninggal dunia,, tumpahlah air mata keluarga dan kolega,, aku sedikit berkaca-kaca,, hari selasa 16 desember 2014 di nagoya,, dia meninggal sebagai tenaga kerja indonesia,, dan kematian mana yang lebih indah daripada manusia gugur saat bekerja..

Ada deretan kenangan kebaikan yang ia wariskan,, dan,, ahli waris ideologisnya akan progres meneruskan harapan mulianya itu,, bagiku,, ini sebagian tanda nyata untuk seorang,, yang pantas disemat husnul khotimah di ahir riwayatnya,,  Agus Nuryatno,, semoga..

memori

Awal kenal,, saat acara workshop tentang HAM,, di sebuah pondok santri Mahasiswa 2008 silam aku pertama tahu agus nuryatno itu dia,, setahun kemudian,, karena perantara sebuah buku,, dengannya kembali jiwaku bertemu,, pada acara ritual protokoler kampus,, sospem maba 2009 silam,, ceritanya,, Agus Nuryatno pembicara,, bertanya dia,, tentang siapa di ruang ini yang membawa buku bacaan,, sendiri aku beranikan diri angkat tangan.. Agus Nuryatno bergembira nian dengan si pemegang buku,, dari sini sampai kini pun aku ikut terinfeksi habitus itu,, aku menjadi sangat mudah bekenalan,, akrab,, dengan jenis kelamin apa saja,, tua atau muda,, ketika aku lihat ada buku dipegangnya..

Setiba masa paska UAS semester perdana,, ngawur saja,, aku input data KRS di semester paket heksa,, coba-coba,, memasuki kelas ideologi politik,, Agus Nuryatno pengampunya,, kala pertemuan terahir,, di hadapan kelas dominan isi angkatan 2007,, dia memintaku bercerita,, tentang proses kreatif menjadi kolumnis media massa,, dengan sandal jepit dan rambut berkuncir di belakang,, aku maju berdikari di depan,, dan ternyata luar biasa,, selesainya disambut kemeriahan tepuk tangan,, pikirku aku bisa menginspirasi juga..

Belakangan dan seterusnya,, di ahir pertemuan tiap kelas lain yang dia isi,, kisah dariku itu disampaikannya kembali,, pada adik2 kelas,, juga di paskasarjana,, dia bawakan sebagai bentuk materi motivasi hebatnya kemauan diri,, begitu kudengar tutur akuan adik2 mahasiswa.. pun hadiah buku,, karena tugas paper paling bagus bermutu,, agus nuryatno memberikannya padaku,, selesai ku baca,, ku berikan pada kawan biar pula dibaca beruntut..buku darinya terus mengalir,, semoga seperti amal dan keikhlasannya..

Selintas membuka lipatan ingatan waktu belajar di kelas bersama,, sebagai mahasiswa aku merasa,, dia banar-benar membuka bendungan inspirasi,, yang mungkin telah ditampungnya dari McGill University,, lantas di kelas ini,, diguyurkan bah inspirasi itu kepada mahasiswa,, hingga mereka menjadi fresh berpikirnya,, basah dan segar oleh gairah motivasi intelektual untuk bisa menembus cakrawala,, dia mendidik,, menyentuh alat pikir (pikiran dan hati) mahasiswa,, lalu memutar-mutarnya hingga dapat hidup, bergerak dan produktif,, agus nuryatno terus bersemangat di kelas,, Beliau bukan dosen datang duduk,, tatap muka,, selesai dan pergi tanpa berkas makna..

Di kelasnya materi serius selalu dapet selingan canda,, jauh dari suasana sepi atau ngeri,, apalagi menakuti,, kelas adalah milik bersama,, setiap mahasiswa dipastikan harus kebagian giliran bicara,, berpendapat boleh apapun warnanya,, tidak ada pendapat yang salah,, Agus Nuryatno sambil duduknya di meja,, selalu memastikan tidak ada mahasiswa,, yang melamun atau menunduk terkantuk,, agus nuryatno memahami betul psikologi orang yang berbeda,, membangunkan jiwa,, dia bisa membuat semua mahasiswa bermimpi meski tanpa membuat mereka tidur..

Mahasiswa telat jam atau titip absen,, bagi Agus Nuryatno itu urusan remeh,, mahasiswanya berangkat kuliah atas kesadaran,, bukan karena terpaksa atau takut ancaman kuota pesen absensi,.. biasanya,, dengan alasan baca buku semalaman,, atau sebab kerja hingga telat masuk,, menjadi alasan favoritku ketika telat kelas,, rasa senangnya meluap-luap ketika tahu ada mahasiswanya yang berbiaya kuliah sendiri,, asosiasi mulai belajar madiri,, pak agus  berusaha terus untuk menggunting mental benalu,, agar tidak tumbuh menjerat jiwa kemandirian dalam diri mahasiswanya,, hematku,, kulaih di jurusan KI intinya memang begitu,, juga diam-diam aku mengerti dari M. Agus Nuryatno, Ph.D, kalau sikap disiplin aturan merugikan dalam banyak hal.. terutama bagi pemental leader..

Sejak mahasiswa,, aku mencoba mandiri dengan jalan menulis dan belajar bisnis,, saat agus nuryatno menjumpai tulisan artikelku terbit di harian Sindo,, dia langsung beli,, dipamerkannya di hadapan kelas,, dia bilang penuh senang,, ini karya teman anda,, fuad hasan anak KI,, bukan yang lain!!,, dia sendiri menempelnya di mading utama jurusan,, menstabilo hijau cetakan namaku dan identitas jurusan yang tertera,, sampai lama tidak ada yang berani melepasnya,, dan,, setahun terahir,, aku lihat pajangan karya artikelnya sendiri di kompas,, mejeng di mading pascasarjana..

Agus Nuryatno tanpa tanggung-tanggung,, menyuguhkan informasi edukatif serta semua peluang intelektual bagi mahasiswanya,, untuk maju dan berdarah-darah,, menggapai ribuan kesempatan studi lanjut yang sudah tersedia,, jika kebetulan berpapasan,, pastilah peluang beasiswa yang dibicarakan,, M. Agus Nuryatno, Ph.D selalu mendorong-dorong aku untuk berusaha sampai ke manca negara,, dan selalu digadangnya,, nampaknya kebanggaan terbesarnya adalah ketika mahasiswa KI,, berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri..

Di sisi jabatan institusional,, dia adalah tipe pemimpin,, sedikit manager,, Agus Nuryatno berdikari dan loyal sebagai pemikir kritis,, dia duduk berani menumpuk kaki di atas aturan-aturan kaku kampus,, dia terdepan mengawal kontruksi gagasan mahasiswa pergerakan yang dipandang inkontekstual,, jurusan kependidikan islam di tarbiyah yang dikembangkannya,, membawa misi gagasan pendidikan islam ke arah kritis dengan wawasan universal,, inklusif dan multikultural.. agus nuryatno tidak sungkan mengangkat isu-isu tabu agama,, gender dan deradikalisasi,, membongkar kejumudan dalam pendidikan islam,, meski kependidikan islam s1 nampaknya masih dangkal,, tapi ini cukup berani..

Di batas halaman blog ini,, kusampaikan kabar obituari,, aku ingin sekali mengalirkan lagi kepada setiap anak mahasiswa,, yang mengenal dan menikmati kesegaran citra agus nuryatno sebgai mata air inspirasi,, bahwa kebanggaan terbesar bagi Agus Nuryatno,, adalah ketika mahasiswa dapat beasiswa meneruskan jenjang di perguruan tinggi luar negeri,, dia ingin keras mahasiswanya menapaki tilas,, atas jejak prestasinya dalam pejalanan intelektual internasional,, selalu ada jalan bagi yang berusaha,, agus nuryatno telah memberi kunci,, untuk bagaimana berbagi,, dan mewujudkan sebuah harapan yang paling tinggi..

aku kira,, sepeninggal agus nuryatno di ahir tahun ini,, bukan kehilangan lagi yang patut diratapi,, namun agar secepatnya aku kembali temukan,, dari jiwamu yang terus hidup dan mengilhami,, secara khusus untuk selalu menipiskan jarak (bahkan sampai menyatukan emosi) dalam relasi pembelajaran yang selalu diselimuti kekerabatan,, manusia diciptakan dari hal  yang sama,, berdasar itu,, dia selalu mendorong teamwork kerjasama untuk sukses bersama,, sekalipun tidak bisa M. Agus Nuryatno, Ph.D pasti mengajarkan sampai bisa..

“mudahkanlah jalan saudaramu,, maka jalanmu pasti akan menjadi mudah” dan “perpisahan hanyalah pada jasad,, sedangkan jiwa akan tetap bersatu” begitu pesan dan kesannya yang melekat pada kedirianku.. terima kasih atas segalanya,, semoga yang Azza wa Jalla selalu memberikan rizki dan rahmatnya...

#studen

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...