Tampilkan postingan dengan label filsafat kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat kerja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2018

TOEDJOEH TJIRI ORANG PENDIAM


TOEDJOEH TJIRI ORANG PENDIAM

 
the meaning of introvert

Saja bikin ini tjatatan oentoek chalajak pembatja jang boediman, soepaja pembatja tahoe sisi ragam sifat chas daripada mackhloek jang bernama manoesia. 

Tentoe di antara kita samoeanja, pastinja ada seorang jang tida’ banjak oemoeng sama fihak lainnja, soeka bitjara ke dalam dirinja sendiri, kalaoepoen bitjara sama orang, itoe soeara lirih” njaris ta’ terdengar koeping, senangannja menjendiri, kelajaban di alam renoeng kesoenjian, minim intraktion dan djoega siboek sama oeroesannja.

Itoe orang matjam tjontoh terseboet boekan sijapa”, melainkan saja personlijk. Kian saja fikir”, kelak waktoe di djaman modern, ilmoe pengetahoean djiwa menjeboet itoe sikap pendiam samahalnja istilah introvert ataoe introversion. 

Ketahoeilah wahai sekalian pembatja jang terpeladjar. Bahoea sanja itoe orang jang kiranja poenja kepribadian pendiam ataoe introvert, ada matjam keoenikan bawa’an yang djika toean pembatja ketahoei, toean akan memproleh banjak sekali keoentoengan dalam berinteraksi dengannja. Namoen sebeloem itoe, perlu kiranja pembatja tehoe tjiri ataoe characteristic itoe introvert, jaitoe:

Satoe; orang pendiam sebenarnja poenja banjak idea atoe tjerita’ yang tersemboenji dengan rapih di dalam memory ingatannja.

Doea, orang pendiam poenja hasjrat besar oentoek mendjadi poesat perhatian. (Boekan handja dari kalangan manoesia sadja, lho!)

Tiga, orang pendiam menarik perhatian lainnja dengan tjara jang aneh. Namoen itoe soeatoe wujud tjara dia oendjoek kelebihannja. Oempamanja; omong” sendiri, mendadak tertawa, berisik dengan benda”, atau bergerak dengan tjepat tanpa satoe kata poen.

Empat, orang pendiam menjoekai satoe aliran moesik tertentoe, jang itoe amat menempel di intelegencienja, bahkan tjenderoeng maniac.

Lima, orang pendiam kaja kosa kata, njaman bertjakap dengan soeara jang pelan, tertata, dan ritmic. Djika toean sebagai communicannja mesti pasang koeping, sebab itoe soeara bisa sadja hampir” ta’ terdengar, bahkan dengan djarak jang tjoekoep dekat. 

Enam, orang pendiam poenja kepedoelian jang soenggoeh kepada orang-orang jang dia anggap dekat dengannja. 

Toedjoeh, orang pendiam senang poedjian namoen ia koerang pedoeli pada hiasan diri. Seringkali malas bersih,” serta gaja keseharian jang jorok pada semoea barang”nja. 

Jang toedjoeh di atas itoe meroepakan hal ahwal daripada pengamatan empiric diri saja oentoek kenali itoe tjiri introvert. Itoe semoea saja koempoel”, dan tentoe sadja dapat lebih banjak lainan lagi roepa”nja. Bilamana toean pembatja djoempa orang jang kiranja poenja tjiri” chas terseboet, maka oentoek mendapatkan itoe perhatian orang pendiam, toean dapat menelisik itoe toedjoeh sebagai koentji oentoek lebih modeah masoek ke dalam kehidoepan itoe orang.

Soemedang, Agoestoes 2018.






posted by student

Senin, 11 Desember 2017

APA KARYA ABADI NENEK MOYANG NUSANTARA?

APA KARYA ABADI NENEK MOYANG NUSANTARA?
By Hassan Alkanjawi

Seorang mahasiswi mengangkat tangan, ia minta ijin bertanya saat diskusi berlangsung di Lingkaran Kosong malam ini.

“Silahkan.” Ucap saya.

“Emmm...gini, Tadi bapak menjelaskan mengenai sejarah "bangsa nusantara" kita. Sejak dahulu mereka sudah eksisten berperadaban, bahkan sejak ribuan tahun silam. Nenek moyang kita pengembara yang tangguh, bahkan konon sampai ke wilayah gurun dan sempat ketemu dengan Abraham (Ibrahin As). Pelaut-pelaut kita yang hebat dengan pengalaman segudang mampu menaklukkan gulungan liar gelombang atlantik. Juga para leluhur kita yang ikut partisipasi dalam diskusi forum-forum elite filsuf Yunani Kuno, sehingga menolong Plato dan muridnya Aristotle mencapai kebijaksaan tinggi. Dan, jauh sebelum itu Budha Gohutama mencapai inspirasi pencerahan dalam perenungan di daerah Kalioso, sepulang berkunjung dari dalem seorang Empu yang berdomisili di Sragen. Tapi mengapa peran bangsa kita yang hebat tersebut tidak abadi dalam catatan sejarah dunia?”

Sedikit tidak terduga. Pertanyaan macam ini terlebih dulu perlu dijawab dengan membongkar pondasi pengetahuan kesejarahan umat manusia. Empat orang di hadapan saya nampak antusias menunggu bibir saya bergerak. Apa kiranya kalimat yang bakal keluar untuk menurunkan keteganan neuron di otak mereka. Karena ini forum diskusi saya, seperti biasa, saya persilahkan dahulu audien menanggapi.

Sudarta angkat suara:

“Benar sekali. Kita memang punya peradaban yang sangat tua, setua prasasti usia manusia. Sebelum ke inti pertanyaan, saya ingin menambah bahasan dari sedikit yang mungkin terlewat, bahwa kita ini punya sikap rendah hati paling tinggi di dunia. Seringkali kita memilih sembunyi di balik begron dan lebih senang melihat orang lain berhasil sedangkan kita adalah tokoh utama di baliknya. Betul nggak?”

Kesadaran para mahasiswa tergoda untuk melihat sejenak ke dalam alam bawah sadar. Tidak ada yang menyangkal jawaban Darta di atas.

“Hmmm… itu mungkin poin penting sumber jawaban pertanyaanmu itu. Dahulu kala, bangsa kita hidup dengan kebiasaan hobi khas orang goa. Biasa bersemedi dalam lorong-lorong gelap untuk mencari kesejatian rasa. Itu awal-awal. Dalam proses panjang mencari rasa tunggal dalam keheningan jiwa dan raga, sejauh ini kita sudah mampu adaptasi walau di suasana keramaian.” Tambah Tuskris.

Kepala Elia tidak bisa tenang. Perempuan berkacamata bulat itu nampaknya ingin juga segera bicara.

“Emmm… Sejarah bangsa kita seperti jilbabku ini. Panjang dan lebar. Tapi ada yang lebih panjang tersimpan di dalamnya. ya, rambutku yang tebal dari susunan ribuah helai.  hehe... Informasi mengenai siapa sejatinya kita, hanya setetes tinta yang meresap di pena sejarahwan. Kita harus meneruskan literasi sejarah kita yang belum tersingkap.”

Sutoaji berdehem, tapi mimiknya mesam-mesem, sepeti mengiyakan.

“Sengaja kan kamu tidak membuka rambutmu yang indah itu. Saya kira leluhur kita sudah kenyang dengan urusan Ilah, Isme, isu-isu wacana intrik atau apapun yang ternyata semua itu tidak menghasilkan apa-apa kecuali ndas mumet. Maka sungguh bijaksana, mereka bersedia menepi, tafakur dalam palung kesunyian dan diam-diam terus eksperimen dengan segala kekayaan alam untuk menciptakan sesuatu yang sangat berguna untuk anak cucu kelak di masa depan. Saya kira, ada sebuah mahakarya yang dihasilkan dan manfaatnya begitu besar hingga detik ini. Mahakarya itu dikenal dengan sebutan: bumbu instan. Butuh lebih dari puluhan abad untuk proses ujicoba peracikan dan kompoisi demi melahirkan rasa yang tidak murtad dari imajinasi.”

“Bumbu Mi instan maksudmu, hahaha?” Tanya Sudarta. Walaupun namanya "bumbu Instan", tapi untuk mewujudkan itu butuh ribuan tahun dan harus melewati dialektika logis dengan para filsuf, bergelut dengan alam liar dan meditasi panjang. Rupanya tidak sia-sia, atas upaya leluhur, mahasiswa kere-aktif yang sering kelaparan seperti kita-kita bisa tertolong dengan makanan enak dan terjangkau, Mie instan.


  Sudah-sudah cukup. Mari kita cover diskusi ini dengan berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada nenek omyang bangsa Indonesia. Dengan kesabaran, ketulusan dan kerja keras beribu-ribu tahun itu telah menemukan resep ajaib. Resep bumbu instan ini menjadi pertolongan pertama bagi anak-anak pelajar seperti kalian. Bersyukurlah kalian bisa menikmati warisan mahakarya leluhur yang bijaksana itu. Maka, bila tidak ditemukan bumbu instan, apa yang bisa dipertaruhkan untuk survive bagi para pencari ilmu di tanggal tua?  

***
seperti dilansir MAJALAH VEMALE  berkat jasa leluhur kita, Mie asal indonesia paing enak seduia.




POSTED student

jgj, 12-12-17



.,

Selasa, 11 April 2017

MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA



MENIMBANG RASA MALAM MINGGU YOGYA
By alkanjawi

Misalkan di malam minggu saya bikin teraju, sisi kanan saya isi substansi kebahagiaan dan sebelah kiri dengan kesedihan, kiranya manakah sisi yang lebih bobot?
Anda perlu tahu, saya lagi berada di Yogya dengan spot lingkungan ramai. Cukup banyak anak muda kongkow. Dunia muda telah terwakili di sini. Sebagaian saya lihat setiap laki-laki punya teman duduk perempuan. Sebagian lelaki bergerombol. Beberapa perempuan membuat tempat duduk ekslusif. Tidak tampak sama sekali ada makhluk duduk seorang diri. Jam di pergelangan tangan saya menepuk 23.30 wib.
Yeah. I am thinking.
Di antara yang saya lihat, siapa saja yang sedang merasa bahagia?
Semua nampak bahagia. Berkumpul dengan teman. Bercerita tanpa plot. Ngobrol dari yang santai sampai yang serius. Suara nyaring hingga sesekali pecah gelak tawa. Mereka asyik melewati malam. Entah sadar kosmik atau tidak, namun kegembiraan di wajah mereka telah berhasil mengelabuhi waktu. Pun demikian waktu, ia lewat begitu saja di antara ruas kebahagiaan mereka.
Bagi anak muda, semestinya tiada yang lebih penting di Yogya kecuali punya banyak teman. Yogya adalah kesempatan yang terus berulang. Segala sesuatu bisa diatur, asal mulut mau terbuka. Segala hal bisa dicapai asal kaki mau melangkah. Segala hal bisa dikuasai asal gerak tangan kreatif. Segala sesuatu bisa didapatkan asal mau beraksi. Yogya di setiap sudutnya adalah tawaran-tawaran yang tidak bakal habis.
Selain mereka yang bahagia, di Yogya ini adakah sesuatu yang sedih?
Sedih adalah pilihan ke terahir setelah putus asa.  Anak muda di Yogya bisa memelihara malasnya. Bisa tidur 27 jam sehari. Bisa selamanya berdiam diri dalam kegelapan kamar. Bisa diam melampaui patung. Seterusnya, bisa sendiri dalam kesunyian tanpa ujung tepi. Bila hal demikian sudah menjadi ketetapan, maka kebahagiaan tidak penting lagi.
Hari-hari anak muda memiliki karakteristik sama. Jika perasaan seluruh anak muda dikumpulkan kemudian di pilah dalam dua kategori bahagia dan sedih, manakah yang lebih besar bagiannya?
Saya rasa pertanyaan ini tidak lagi jadi penting terjawab.
Setiap diri kita punya hak untuk sedih. Kita punya kans bahagia. Perasaan orang yang bahagia berkata setiap orang lain adalah teman. Perasaan orang sedih pastilah bergumam; setiap orang lain adalah musuh. Siapa yang bisa menentukan ini semua?
Tak perlu jawaban eksplisit.
Menimbang perasaan malam minggu di Yogya, membutuhkan kerja keras batin. Orang luar berkata: Yogya adalah rindu. Yogya adalah kenagan. Yogya adalah blablabla...
Demi malam minggu, maka bersedihlah anak muda yang tinggal di Yogya, kecuali mereka yang memperbanyak teman dan meninggalkan kesendirian.
Sorowajan, 12 April, 2017





 post by #stuednt

Sabtu, 04 Juni 2016

Kepribadian Nomor Satu

Kepribadian Nomor Satu
by Alkanjawi

Untuk urusan perkenal-mengenalan sesama manusia, dan sebelum lebih jauh pada kata “menilai”, alangkah lebih baik kita mesti melihat segala sesuatunya berdasarkan kepribadian.

Menilai seseorang dalam suatu perkenalan memabng bukan perkara mudah, apalagi kalau anda tidak terbiasa menilai ke dalam diri. Tetapi kalau Anda memiliki kemampuan khusus untuk itu, sekali saja bertemu seseorang, menilainya sudah barang tentu mudah, dan berlanjut pada kritik atau saran atau apresiasi apapun. Terkait kemampuan khusus ini, orang-orang yang telah mengetahui dirinya sendiri dialah yang bisa melakukan.

Saya pribadi bukan bagian “orang pintar” yang tahu idealitas di balik realitas seseorang, melainkan baru pada tahap memasuki, mencoba menekuni, dan laku tapa pada journey ke dalam luasnya diri. Apa yang saya cari? Dalam perjalanan, rumus utama yang harus diterapkan adalah menentukan tujuan. Saya bertujuan menemukan ruang dan masa tak berbatas sehingga ketika saya menjumpai diri saya di dalam ruang itu, maka tidak ada yang lain kutemukan kecuali keserba-terbatasan sendiri. Mengapa batas? Karena hakikatnya kita semua adalah makhluk yang hanya mampu hidup dengan adanya batasan. Kita akan rusak, hancur dan celaka bila melanggar batasan-batasan.

Kemudaian, saya yakin kepada Tuhan sang pencipta, menciptakan manusia adalah untuk manusia itu sendiri. Dan, bila mungkin pertanyaan berlanjut: kenapa mesti manusia? Jawabannya, karena manusia adalah semesta ciptaan yang di dalam dirinya ditanam potensi menjadi kekasih. Dalam mencapai tingkat pada posisi kekasih ini, Tuhan sendiri mungkin akan senang mencoba-coba, meguji untuk sebuah kelayakan seorang pribadi menjadi abadi di sisinya.

Dalam kemanusiaan sendiri, banyak sekali unsur-unsur yang mengisi dan meliputinya, Ibarat lingkaran, proporsi utama yang memenuhi manusia sebenarnya adalah Allah. Namun, sebab-sebab lain bisa mungkin masuk dan mengebaki lingkaran kemanusiaan itu, termasuk iblis. Secara fisik. Meskipun manusia diciptakan dengan bentuk yang paling baik, tetapi seorang manusia adalah setitik debu yang hidup dari kumpulan daging dan tulang. Poisi manusia adalah menempel di permukaan bumi. Manusia sekecil ini dilekati oleh daya tarik bumi, sehingga mereka aman dan tidak terpental keluar dari peredaran, ketentuan-ketentuan, dan waktu yang semuanya telah di tetapkan Tuhan.

Substansi dan posisi yang memenuhi kemanusiaan itu, merupakan bahan utama dalam menemukan jalan menemukan hakikat diri. Di situ pula letak kesadaran yang menuntut untuk ditemukan. Pertanyaan akan siapa sebenarnya pribadi yang akan mengisi ruang alam semesta dari manusia yang hanya sekecil debu, akan terjawab sebagai wujud yang harus disadari secara total. Bila kelak di kemudian hari, manusia telah menghadap Tuhan, maka yang dilihat, dinilai, diterima Tuhan adalah ketakawaan yang mana tidak lain itu adalah segala perilaku yang melekat pada kepribadian manusia.

Sesungguhnya kepribadian diri manusia merupakan dasar kepribadian paling fundamental untuk realitas yang meruanglingkupinya. Pada ahirnya, kepribadian desa, kepribadian bangsa, kepribadian negara, kepribadian dunia, dan kepribadian alam semesta baik buruknya tergantung dengan kerpribadian manusia itu sendiri.

Alkanjawi, 4 June 2016.





post by studen  

Rabu, 01 Juni 2016

Humanisme; Manunggaling Kawula, Gusti!

Humanisme; Manunggaling Kawula, Gusti!

Malam enam hari menjelang Bulan Ramadhan 1437 H, saya melekan sampai pagi. “Melekan” arti terbatasnya yakni terjaga dengan mata terbuka. Makna luasnya adalah terjaganya mata hati, tidak tidur lahir batin, dan waskita diri memandang dengan mata alam semesta untuk melihat fenomena-fenomena serta problematika yang (akan) terjadi pada keadaan dunia.

Memandanglah mata saya pada lokus Indonesia, dan jadi merah panas mata ini. Betapa tidak, kasus demi kasus yang muncul ke permukaan dunia realitas nasional kita banyak dipenuhi kabar buruk, salah satunya degradasi moral. Seorang Anak SD diperkosa 21 pria, menyusul berita 2 minggu lusa pelajar SMP dicegat 16 lelaki, diperkosa dan dibunuh di tengah hutan. Pembunuhan sadistis Mr. Cangkul dan kasus pencabulan guru agama terhadap muridnya di sebuah SMA. Sungguh bergetar mata hati ini menyaksikan kemanusiaan kita telah jauh terperosok dalam alam mahkluk kebinatangan.

Lalu, sebenarnya apa yang menggelincirkan akal sehat kita sehingga jatuh moralitas dan keadaban kemanusiaan. Mungkin, karena keterlaluan melencengnya paradigma dalam kita melangkah, atau salah tingkah laku kita dari pakem normatif ajaran kebenaran agama. Atau versi ketiga, kita ini sudah sedemikian parahnya disesatkan oleh nafsu jahat di dalam diri kita sendiri.

Saya tunggu pendapat para ahli agama, ahli jiwa, ahli sosial, ahli budaya atau ahli apa saja untuk mengungkapkan akar masalah dan solusi kongkrit tentang persoalan kita ini. Kita benar-benar butuh obat manjur untuk penyakit yang sedang menggejala di sekujur tubuh bangsa. Pangkal bulu alis sebelah kanan saya sampai gatal. Kenapa tak kunjung para ahli itu “turun tangan” turut campur memberi solusi persoalan seradikal mungkin. Kebanyakan kita malah menampakkan diri dengan cara mengecam, mengutuk, membenci mereka (pelaku) untuk dihukum seberat-benarnya. Saya amat mengira, kalau hukuman kebiri atau tembak tepat di jantung pelaku tidak bakal efektif.

Persoalan moral kemanusiaan kita ini begitu akut, banyak sebab yang menjadi imbas anak-anak manusia kita kehilangan harkat kemanusiaannya. Saya ungkapkan kegelisahan ini untuk renungan kita semua, namun, sebelumnya mohon maaf bila yang saya ungkapkan masih kurang kuat: bahwa kita sebagai bangsa berketuhanan telah kalah oleh gerakan-gerakan demokrasi yang digerakkan oleh “sang maha uang”. Uang memaksa kita terbawa arus “ada uang ada tuhan”, artinya, “uang” menggiring manusia menuju menuhankan “uang” itu sendiri.

Katakanlah manifestasi “uang” itu adalah “kekuasaan”. Seorang yang memiliki “uang”, ia merasa bisa bangkit eksistensialisme-nya untuk menguasai sesuatu secara fisik. Ia seolah berkuasa membeli “buah di taman berpagar” atau bahkan bisa merampas dengan paksa “buah” itu dan melemparkan uang segepok sebagai penggantinya. “Uang” menjadi substansi materi telah berakibat pada manusia yang mengedepankan kepuasan fisik untuk sebatas kepuasan “yang tampak”. Di hadapan uang, sekarang manusia seperti benda yang bisa ditukar dengan harga. Dari “uang” tersebut membentuk bawah kesadaran tentang “dengan uang kita bisa membeli segalanya.” Inilah kesadaran palsu yang menghasilkan dehumanisasi di dunia sekarang.  

Terusan kompleksitas paradigma kita yang sulit lepas dari jerat benang kusut materialitas fisik, nyatanya nalar pikir kita juga semakin lapuk untuk kuat mencerdasi diri dengan ajaran agama. Maksud saya setiap ajaran agama pasti punya dasar menjunjung harkat kemanusiaan yang menjadikan manusia sebagai aspek utama dari segala macam kepentingan. Materialisme ternyata mambawa pada pendangkalan kecerdasan diri untuk menerima keluhuran dari norma ataupun nilai-nilai ajaran agama. Saat itu terjadi, hidup kita kehilangan kompas tujuan sehingga rusaklah arah diri karena rusaknya kemurnian pandangan hati. Destruksi materialisme fisik pada kebeningan dan ketenangan hati terdalam kemanusiaan kita, menjadikan kita semua tidak bisa menerima kecerdasan pembeda. Kita tak tahu lagi batasan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kemungkinan ketiga penyebab degradasi moral kemanusiaan kita, barangkali karena telah begitu leluasanya elemen syaitoniyyah di jantung pusat kehidupan, menyebar ke seluruh aliran darah, mengisi sendi-sendi, memenuhi urat kesadaran kita hingga secara biologis kita terkendalikan untuk selalu berpikir dan berbuat buruk serta putusnya urat malu di seluruh lapisan kehidupan kita. Belum lagi, efek psikologis pengaruh syaitoniyyah yang nampak pada lemahnya keinginan berbuat baik, 
menipisnya kesabaran, dan hilangnya gairah untuk aktualisasi diri menuju rahmatan lil alamin.

Masih belum lengkap kiranya ungkapan di atas. Saya ingin menambahkan pemahaman untuk sisi konstruk ontologis kamanusiaan kita. Sebagai mahluk yang diciptakan dengan bentuk yang terbaik, tentu “dalaman” kita yang berwujud ruh dan jiwa sebagai penggerak itu secara kualitatif lebih baik daripada jasad fisikal. Karena itu, interelasi semua eleman yang “gaib” dan fisik akan mampu menembus pengetahuan tentang etika juga estetika. Kesadaran tertinggi adalah menjadi hamba Tuhan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Kalau kita dapat menemukan inti kemanusiaan kita sebagai “abdul rahman” hamba Tuhan, setingkat kita akan naik derajat dan tugas menjadi “khalifah fil ardh” penjaga keseimbangan dengan muatan-muatan kesadaran atas dasar martabat kemanusiaan.

Dalam konteks rekonstruksi hakikat humanis, restui saya menambahi pada kalimat filosofis legendaris “manunggaling kawula gusti” sebagai aktivitas transenden dan pencapaian puncak spiritualitas, dengan tanda koma (,) dan seru (!). Tambahan ini akan secara total merubah maknanya.
Jadi, manungaling kawula, kita hidupkan dengan menyatunya seluruh pengakuan eksistensi kemanusiaan sebagai hamba kepada Gusti! dengan suka rela. Dan, implikasinya kita menjadi sadar, tidak pernah ada dan segala kepemilikan kita ini adalah sebab adanya sang Gusti. Cakrawala akal pikiran, samudera rasa hati dan batang tubuh wadak ini semuanya adalah dari Gusti. Kita sebagai manusia manunggal (berjamaah) dengan kerelaan berkumpul menyatu untuk saling belajar-mengajar, mengkritik dan menerima kritik, membangun- menguatkan, mangasihsayangi satu sama lain. Saling memperingatkan dari berbuat dosa, saling menjaga dari kesalahan, serta saling menyelamatkan dari ketersesatan untuk bersama-sama menuju Tuhan sebagai satu-satunya tempat kembali.

Bila krisis moralitas yang muncul di dunia berasal dari manusia, maka jalan keluar paling mungkin adalah mengembalikan manusia ke jalan kesejatiannya.

Alkanjawi, bertapa di sungai gajahwong, 01 juni 2016.


Kamis, 15 November 2012

Filsafat Kerja Seorang Mekanik

dipublikasikan Majalah Gatra Edisi 27/XVIII 16 Mei 2012 


Ketika jutaan orang terjun mencari kerja, yang terjadi adalah sebuah persaingan yang semakin ketat. Di tengah gelombang pencari kerja yang sangat besar ini, frustrasi akibat pekerjaan banyak dialami para pekerja. Kejenuhan dan kebosanan pada pekerjaan tertentu berimplikasi pada kejiwaan dan membuat stres. Tidak sedikit di antara mereka memilih menanggalkan pekerjaan yang dirasa tidak layak lagi.


Di negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, orang yang memiliki keterampilan atau skill dapat memanfaatkannya secara bebas untuk membangun dunia kerja sendiri. Matthew sendiri awalnya hanya seorang mekanik sebuah bengkel. Ia kemudian berhasil membangun bengkel sendiri di Richmond, Virginia, berkat filosofi kerja yang dianutnya: hakikat pekerjaan adalah memberikan sesuatu untuk kebaikan orang lain.


Ia pun menyelesaikan program doktor filsafat politik dari University of Chicago. Sebagai filsuf dan pekerja keras, ia menekankan pribadinya untuk selalu memegang prinsip kesadaran dalam hidup. Hidup secara sadar diartikannya sebagai sikap sadar sepenuhnya atas setiap hal yang dipikirkan dan diperbuat sebagai situasi kemanusiaan. Hidup dengan baik berarti membuat diri kita berdamai dengan keadaan itu dan berusaha mengejawantahkan setiap kehebatan yang dapat diwujudkan dengan nyata. Kehebatan yang manusiawi adalah kehebatan di mana peluang untuk mendapatkan kepuasan itu tidak tertutup bagi banyak orang.


Buku ini memberi spirit kepada pembaca berdasarkan pengalaman pribadi. Crawford bekerja dengan keterampilan tangan yang dipadukan dengan pikiran. Baginya, proses seperti ini akan melahirkan kepuasan batin. Sebagai pekerja di bengkel motor, meski kotor dan berat secara fisik, ia menemukan pengalaman luar biasa: kekuatan kerja keras dengan gerak tubuh dan memutar pikiran.


Sebuah kisah menarik yang patut diteladani pengalaman saat Crawford bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel. Ia selalu berusaha memahami proses menjadi mekanik sepeda motor yang baik. Ia berinteraksi dengan mekanik-mekanik lain dan meluangkan waktu dengan para pengendara motor yang lebih berpengalaman.


Dari pengalaman itu, segala hal yang berkaitan dengan mesin terungkap nyata dalam sebuah lingkaran makna yang lebih luas. Pengalaman luar biasa ini akhirnya memberi peringatan bahwa jika kita menelusuri jejak dari tindakan kita sendiri dari sumbernya, jejak-jejak itu akan menunjukkan sebuah pengertian tentang makna proses kehidupan yang baik. Di sinilah ia menemukan bahwa kerja memiliki potensi untuk menghadirkan suatu ukuran pertalian dengan kehidupan.


Ditulis dengan gaya bercerita dan jenaka, Matthew yakin, pendidikan merupakan tempat penting untuk menciptakan manusia menjadi pekerja keras yang mandiri. Ia menilai, mental baja dan etos kerja yang baik harus diimbangi dengan pendidikan kepribadian berkarakter dan budi luhur. Tanpa dorongan karakter dan sikap luhur ini, mustahil lahir generasi berkualitas yang mampu memaknai kerja sebagai dedikasi untuk kemanusiaan.


Keberhasilan sistem pendidikan di Barat dalam menjawab tuntutan globalisasi kurang relevan diterapkan di negara-negara berkembang. Sebab di negara berkembang banyak ditemui masyarakat menengah ke bawah secara ekonomi. Realitas yang dijumpai, dunia pendidikan, kemudian mengakomodasi sistem korporasi yang hanya menghasilkan kelompok pemenang dan kelompok pecundang.


Di tengah krisis kemandirian bangsa berkembang, Matthew menulis tentang pentingnya melanjutkan gagasan pendidikan kemandirian. Dia berpikir, ketika peserta didik telah lulus dari bangku sekolah, ia akan punya bekal ajaran kemandirian yang nantinya bisa diolah dan dimatangkan dalam dunia kerja. Kemandirian adalah langkah awal untuk memunculkan keberanian mengaplikasikan keterampilan. Dilanjutkan dengan manifestasi dalam bentuk kerja pribadi atau kelompok baru sebagai wadah pekerjaan.


Buku ini lahir dari upaya untuk memahami arti sebuah pekerjaan. Pekerjaan bisa dipahami sebagai pedoman hidup. Artinya, sebuah pekerjaan adalah manifestasi dari olahraga, olah rasa, dan olah jiwa manusia yang pada hakikatnya tercipta sebagai makhluk pekerja.


di resensi oleh Fuad Hasan,
Bergiat di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Shop Class as Soulcraft: an Inquiry into The Value of Work
Penulis: Matthew B. Crawford
Penerbit: Penerbit Gemilang, Jakarta, 2012, 288 halaman


Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...