Tampilkan postingan dengan label kerja keras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerja keras. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2018

Di Bawah Kebahagiaan Semesta


Di Bawah Kebahagiaan Semesta
Byalkan

Pada setiap penantian yang disertai kesabaran, Insyaallah hasilnya akan membawa kebahagiaan. Begitulah kalimat bijak disampaikan angin lewat, memberi ucapan selamat dan sukses atas peristiwa terjadinya tunganan antara Dlakirman dengan seorang gadis yang diketahui bernama Rohani.

Moment bersejarah itu terjadi tanpa basa-basi. Seminggu sebelumnya, melalui telepon Dlakir memberitahu sekaligus membujuk orangtuanya untuk berkunjung ke rumah orangtua Rohani di Kota Semarang. Kiranya hari selasa tanggal 6 Februari. Tidak tanggung-tanggung, kunjungan itu sekalian mengusung agenda khitbah atau tunangan. Orangtua Dlakir mengindahkan, selanjutnya dari jarak jauh, mereka menyusun bekal apa saja yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai 'serahan' dan makanan yang akan dibawakan untuk buah tangan.

Rupanya ada kehendak lain, acara 'harus' diajukan lebih cepat. yaitu, sehari sebelum tanggal 6. Tepatnya hari senin tanggal 5 Februari, Dlakir berangkat dari Jogjakarta menunggang kuda besi dengan temannya, Abdul Hadi. Pagi itu Kota Jogja sedang diguyur hujan cukup deras hingga pukul 9. Sebelum menuju Semarang, Dlakir lebih dulu mampir kantor tempat dia kerja di ringroad utara untuk mengambil gaji kerja selama bulan Januari. Sesampai di kantor lekas-lekas dia menuju bagian keuangan. Sebelum perjalanan mereka berdua mengisi perut dahulu, soto ayam di warung sebelah gedung kantor lembaga tempat ia bekerja.

Sembari makan, mereka memikirkan jalan pintas menuju Semarang selain jalur Jogja-magelang-semarang, Dlakir memutuskan mencoba lewat arah timur, yaitu Jogja-klaten-boyolali-salatiga-semarang. Meski belum hafal benar jalur yang akan ditempuh, tetapi dengan tekad dan optimis ahirnya Dlakir begitu berani untuk mengambil jalur itu. 

Katanya, kalaupun nanti tersesat di jalan, paling hanya mutar-mutar satu jam saja lamanya. Masih ada waktu untuk sampai Semarang sebelum bayangan matahari melebihi tombak.

Benarlah prediksi itu. Selepas wilayah arah Gondang Winagoen, Pabrik gula Klaten, Mereka menuju pintas ke utara dan mulai masuk arah desa-desa di pedalaman klaten, Dlakir yang mengemudi agak lupa jalan. ia benar-benar lupa ingatan jalan. Padahal seminggu lalu pernah melewati ketika naik bus. Tetapi, walau ragu, Dlakir tetap saja melanjutkan jalan dengan mantap. 

Saking besar optimisnya, motornya tiba-tiba melesak ke dalam rimbunan perbukitan yang jalannya tak beraspal. Matahari pun nyaris tidak terlihat karena tertutup tebalnya daun-pepohonan. Kondisi yang habis hujan membuat jalan becek dan licin. Di wilayah klaten (yang diduga itu) bagian barat, Dlakir berhenti sejenak. DIa positif tersesat. Mau tanya tapi tidak ada orang lewat. Sinyal internet lenyap dan tidak bisa mencari tahu arah jalan lewat googlemap.

Perjalanan lanjut, tanpa berhenti. Ahirnya mereka sampai jalur agak besar tapi rusak parah dengan seribu lubang. Hanya truk besar muatan pasir yang lewat. Di sini, setiap tikungan saya berhenti untuk bertanya pada orang. Ketemu dengan orang ngarit, ia mengatakan bahwa saya terlalu jauh dari arah menuju Boyolali. Kemudian dia menunjukkan arah yang panjang berliku. Saya percaya saja mengikuti petunjuknya, Daripada tersesat lebih jauh lebh baik saya mengikuti petunjukknya.

Satu jam penuh hanya muter-muter sedangkan waktu Duhur telah sampai, Dlakir baru masuk wilayah bertuliskan Jatinom. Lega betul dia menemukan sebuah kampung, setelah lama terpentok alas pohon-pohon dan jalan buntu. Kampung dengan rumah yang sepi seperti tak berpenghuni. Nyaris tidak ada orang yang kelihatan. Setelah menunggu di tepi jalan beberapa menit, untung besar, ahirnya ada orang lewat juga. Beruntunglah orang itu bisa ditanyai. Dlakir melepas kemudi, gentian Dulhadi berkendara melewati Boyolali... hingga Salatiga.

Selama pejalanan melewati jalur itu, rasanya alam benar-benar bersahabat. Suasana mendung mengayomi perjalanan mereka sampai masuk Bawen, Semarang. Baru hujan kembali turun saat mereka sampai daerah Ungaran.

Di sisi lain, rombongan keluarga Dlakir berangkat dari Pati jam 9 pagi. Menurut kabar dari mbah Hasan yang membawa rombongan itu dengan mobilnya, mereka sudah sampai di MAJT jam 12.30 WIB. Dlakir masih di SPBU Bawen, Istirhat sejenak meluruskan punggung dan ishoma sebentar. Rombongan dari Pati pun juga beristirahat dulu. Alhamdulillah mobilnya lancar kembali setelah tadi sempat mengalami rewel.

Dari arah selepas Salatiga itu, gantian Dlakir lagi di depan, memboncengkan Dulhadi. Sampai di ungaran hujan kembali turun. Deras sekali. Ini membuat kecepatan bekendara mereka harus diturunkan, maksimal 50 KM/jam. Jarak pandang jalur utama menuju Semarang yang mereka lewati cukup ramai. Lebih baik berkendara pelan mengutamakan keselamatan.

Jam setengah 2 Dlakir mengabari lagi rombongan dan memintanya untuk persiapan lanjut perjalanan. Sekitar 10 menit lagi sampai lokasi. Rombongan mobil yang belum tahu lokasinya, mereka menunggu di dekat SMP 8 Candisari, awalnya Dlakir minta supaya rombongan berhenti dan menunggu untuk dijemput di depan Javamall. Lokasinya lebih mudah karena di pinggir jalan raya. Tetapi rombongan sudah terlanjur menuju di SMP 8, jadi butuh waktu untuk mencari rombongan itu hingga ketemu.

Sudah jam 2, Dlakir dan rombongan sampai di depan rumah Rohani. Para penumpang mobil turun. Satu persatu diberi payung agar tidak basah oleh hujan. Rupanya penumpang mobil itu lebih banyak daripada perkiraan. Dlakir mengira isi rombongan cuma 7 orang. Namun tetapi semua ada 8 0rang dewasa dan 3 anak-anak. Belum lagi jajanan bawaan. Mungkin jumlah beban yang berat itu mengakibatkan mobilnya sempat mati mendadak.

Masuklah rombongan dengan membopong barang seserahan itu, keluarga Rohani berjajar di depan pintu untuk menyambut tamu. Dlakir sendiri cukup terkejut karena barang bawaan rupanya diluar perhitungan. Bawaan yang lengkap. Isinya macam-macam makanan, tak ketinggalan juga pakaian. Semua tamu sudah duduk memenuhi ruang tamu. Orang-orang sudah siap untuk memulai acara. Dlakir dan Dulhadi yang motoran dari Jogja terkena hujan nyaris basah, mereka pun langsung ikut acara tanpa sempat ganti baju.

Bapak Dlakir tiba-tiba menyalami orang dari keluarga Rohani yang duduk di dekatnya. Dia biang “Sampean niki ingkang besan kulo”. Mendengar kalimat itu, orang yang disalaminya merasa kaget. Ternyata salah orang. Maka seisi ruangan itupun tertawa. Orang yang kaget itu rupanya wali daripada keluarga Rohani yang bertugas sebagi penyambung lidah. Dengan begitu, pak wali langsung menunjukkan kepada bapak Dlakir tentang siapa calon besan yang sesungguhnya.

Acara dimulai dengan sambutan dari pak wali, kemudian dibalas oleh wali kelaurga Dlakir, mbah Marno. Penjelasan maksud kedatangan adalah untuk dodok lawang sekalian lamaran. Dua kegiatan yang secara prosedur formal seharusnya berurutan terpisahkan oleh jangka waktu itu, di situ dilakukan secara langsung. Bukan untuk menyalahi adat tradisi, tetapi karena jarak antara pati-semarang cukup jauh, maka pertimbangan efektivitas penggabungan dodok lawang dan lamaran itu dibarengkan.

Walaupun di ahir acara pihak perempuan merasa tidak biasa karena persitiwa dodok sekalian lamaran, tetapi tidak masalah sebab sebelumnya Dlakir sudah komunikasi dengan keluarga Rohani. Bahwa dia akan dodok lawang sekalian lamaran. Orang-orang yang tidak tahu wajar jika kaget. Namun memang sebaiknya tradisi itu memang harus lentur dan bisa diotak-atik untuk kemaslahatan selama tidak membahayakan.

Usai acara formal semua hadirin makan-makan bersama, menu lauk ayam daging. Tadinya kita akan disuguhi makan dengan ayam kampung milik sendiri. Berhubung banyak ayam di rumah tinggal nyembelih saja. Tetapi orangtua Dlakir tidak setuju kalau keluarga Rohani menyembelih ayam. Takutnya itu secara filosifis nanti akan memutus silaturahmi. Lebih jauh, itu bisa menandakan besok rumah tangga yang akan dibagun akan mengalami perpisahan.

Mengenai perubahan tanggal menjadi 5 Februari. Ini menyesuaikan dengan perhitungan Jawa, sebab tanggal 6 adalah hari selasa, bagi orang Jawa, hari terahir dalam pasaran itu tidak baik jika digunakan untuk membuat acara lamaran atau pernikahan. Maka diajukan hari senin. Justru jika senin tanggal 5 itu merupakan hari paling bagus dalam bulan itu untuk membuat acara.

Pukul 15:30 Wib, acara selesai. Gerimis pun belum juga reda. Rombongan kembali ke Pati. Sebelum semua menaiki mobil, Dlakir memegang tangan adik perempuannya dan memberikan amplop untuk mengganti semua biaya keperluan acara tersebut. Dlakir dan Dulhadi kembali ke Jogja. Motoran lagi, di sepanjang jalan terus gerimis. Dlakir sangat riangnya. Agenda lamaran sudah sukses, dengan restu alam semesta semua rangkaian acara itu terlaksana dengan selamat. "Kita semua bahagia." Katanya.



 Yogya, 21 februari 2018.

Minggu, 02 September 2018

Boekan Lagi Djamannja Pendekar?


Boekan Lagi Djamannja Pendekar?

pendekar sakti mandra guna
Moengkin soeda tetapan takdir jang MahaKeoasa, bahoea sanja tiap” manoesia poenja kehendak itoe batinnja. Soeatoe dorogan jang muasalnja dari dalamnja bathin, mengadjaknja oentoek djadi manoesia jang paling hebat. Itoe adjakan koet jaitoe asa namanja, nama lainan daripada tjita-tjita. 

Kala waktoe masih kanak-kanak, manoesia menjandarkan tjita-tjitanja itoe daripada resonantie ajah dan iboeknja. Bilamana itoe anak moelai tahoe pergaoelan lingkoengannja, ia mentjoba djadikan itoe tjita-tjita lajaknja hobi. Soeatoe jang dikerdjakannja tiap” hari, ia gembira ria dan teroes ingin melakoekan itoe hobi. 

Saja poenja itoe pengalaman. Moengkin jang saja alami, sama dengan jang anda semoea djoega alami. Soeatoe dorongan jang menjenangkan itoe beroepa tjita”. Saja amat senangnja pada keinginan oentoek djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja mengkira”kan, itoe keinginan mempeladjari ilmoe pentjak toemboeh otomatic sebabnja saja poenja ajah ialah seorang pendekar adanja.

Itoe tjita” teroes berketjamoek di dalam diri. Saja tidak tahoe apa” dan tak maoe tahoe ketjoeali beladjar itoe pentjak. Bahkan poen djika ajah melarang saja beladjar itoe, saja tetap sadja membandel. Diam” saja teroes beladjar tanpa sepengetahoeannja ajah. 

Djoestore pada oesia mendjelang doea poeloeh lima tahoen, setjara resmi saja ikoet beladjar bela diri koengfoe jang asalnja dari Foshan, Tjina Selatan. Itoe seni bela diri di seboet Wing Chun namanja. Sedjak pertama ikoet latihan, sang master Shifoe itoe koengfoe bertjakap, djika saja ini soedah nampak bakat dilihat daripada gerakan” saja mengikoeti itoe koengfoe.

Tampaknja, apa jang djadi kehendak ajah melarangkoe beladjar itoe pentjak, sama sekali ta’ dapat koe sadari dengan baik. Bahkan sampai ini waktoe, tanpa saja doega” bilamana reflex ini tangan ataoepoen kaki, soeda matjam” djoeroes sadja geraknja.

Itoe perkara jang sampai terbawa hingga detik ini, ingin saja loepakan dan boeang djaoeh” biasaan jang berhoeboengan dengan itoe hobi.

Djelasnja, akoe molai goesar. Bahsasanja ini boekan djaman kependekaran lagi. Akoe kadangkala ingin tinggalkan itoe pentjak, dan gantiken itoe hoebi dengan beladjar menoelis karja” yang lemboet. Oempamanja; sastra, syair, atoepoen lebih loeas.

Djaman otot soedah oesai. Gantiannja djaman akal. Ija. Menoelis ialah tjara baroe oentoek mengasah kelemboetan rasa, ketadjaman fikir dan ketegasan sikap. Ini tjara moetachir oentoek menojoe djadi pengoeasa, bangsawan, ataoe pahlawan.

Itoe makanja saja beralih haloean. Sekiranja tangan jang doloe saja goenakan ontoek main poekoel, kini ini tangan haroes terbiasa memegang pena oentoek mengoengkapkan ide dan gagasan. Orang jang mengoeasai itoe toelisan dan informasi itoelah orang jang bisa mengoesai doenia.

Kehidoepan doenia teroes berkembang. Nampaknja hegemonij informasi poen moelai terkena geseran. Ada soeatoe kekoeatan jang lebih dahsjat, jaitoe technologie. Soeatoe alat jang ditjiptakan oleh manoesia itoe poenja sifat ketjerdasan logic. Iya. Technologie otomatic mentjiptakan peloeang dan mampoe melipat doenia jang amat loeas mendjadi sempit.

Dan, njatanja djoega, itoe technologie djoestroe telah mengambil alih beberapa foengsi daripada manoesia. Misalnja, tentara machine, pembantoe machine, pengantar soerat machine, sendjata machine dan matjam lainnja. Itoe technologie menggantikan peranan manoesia dalam mendjaga keamanan ataoe bela diri, bahkan kelaknja, pengoesa technologie akan mengoesai djoega djaloer perniagaan.

Ini jang mendjadi goesar di fikiran saja. Djadi, benarlah itoe oetjapan ajah saja. Moengkin saja tak perloe lagi djadi pendekar jang sakti mandra goena. Saja haroes faham djaman, pendekar hanja akan djadi tjenteng ataoe peseoroeh bagi pengoesa informasi. Tidak poenja kemerdekaan nantinja meskipoen pendekar itoe tinggi ilmoenja.

Itoelah sekilas daripada geosarnja kehendak bathin saja. Soeatoe pilihan haroes ditentoekan antara tjita” djadi pendekar berilmoe tinggi ataoe beralih djadi orang jang mampoe menggoenakan technologie.

Soemedang, Agoestoes 2018.




posted by student

Senin, 06 Juni 2016

Ucapan Terima Kasih

Ucapan Terima Kasih
by Alkanjawi

Tanggal 1 awal ramadan 1437 H, secara personal saya berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk tiga hal: kesempatan berpuasa di hari pertama bulan mulia, kedatangan sakit, dan hujan lebat waktu berbuka untuk daerah saya tinggal.

Mengenai ilmu terima kasih, saya tergolong orang yang masih dangkal pemahamannya. Namun begitu, tak pantang untuk surut belajar mengucap kata terima kasih secara terang-terangan dengan lisan dan hati mencoba untuk tulus. Kenapa mesti berterimakasih? Setahu saya, terima kasih adalah satu dari dua inti ajaran keselamatan bagi semua agama, terlebih Islam. kita perlu terima kasih karena apapun yang menjadi bagian fungsional dan struktural pembentuk kemanusiaan kita, semuanya adalah pemberian Allah. Lebih mendasar dari itu, makanan dan minuman yang tersedia sebagai hidangan, sehingga bisa kita konsumsi untuk penghasil energi, tiada lain kecuali semua itu diberi oleh Allah. Tanpa segala macam pemberian itu, kita takkan pernah bisa dan jadi apa-apa.

Lalu kata Allah “wasykuruu lillah” kepada semua manusia, itu merupakan perintah yang nyata untuk senantiasa kita berterimakasih. Seterusnya dari berterimakasih, ekspektasinya adalah kita menjadi ingat kalau kita ini sebenarnya bukanlah siapa-siapa dan tidak punya hak atas apa-apa kecuali “sesuatu” yang semuanya dimiliki Allah. Setelah bisa berterima kasih, kita akan bisa legawa menerima aturan-aturan, yang dengan itu kita dilindungi, diarahkan, dan dijaga oleh Allah untuk kemudian kepadanya kita semua kembali dengan keadaan baik. 

Kata terima kasih berlaku universal untuk apa saja. Tetapi, yang paling tinggi derajat dan hubungan terima kasih hanyalah kepada Allah. Maksud saya, ucapan terima kasih pasti ada sangkut pautnya dengan Allah dan menjadi dasar konteks perlakukannya kepada kita. Dalam sejarah bangsa yang dimenangkan, adalah bangsa yang pandai dalam mensyukuri nikmat apapun, termasuk keadaan itu nampak buruk di sebagian mata manusia. Raja Sulaiman putra Daud yang sukses dengan ilmu pengetahuan dapat membangun kerajaan dan bangsa hingga disegani bangsa lain, pada posisinya sebagai hamba, ia mengembalikan segala sesuatu yang dimilikinya dengan berkata “apakah dengan kejayaan ini akan semakin membuatku kufur ataukah syukur”. Sulaiman bertanya pada eksistensi terdalamnya, dan jawaban yang alamiah mengemuka adalah Sulaiman mampu mensyukuri dengan mengakui bahwa semua itu merupakan pemberian Allah yang harus disyukuri.

Beda halnya pada sikap manusia di sisi lain, yang misalnya dengan karakter angkuh dan tidak kenal kata terima kasih. Dalam cerita sejarah, sebutlah Fira’un. tokoh terbesar yang menguasai seluruh dataran Mesir zaman kuno. Keangkukan itu menghalangi Fira’un dan manusia pengikutnya untuk rendah hati, untuk syukur dan mengakui diri sebagai ciptaan yang lemah. Balasan lisan yang tidak pernah mengatakan terima kasih ialah ia akan dilumat oleh semua kehendak yang tak pernah terucap namun akan tiba-tiba meledak di dalam jantung dirinya sendiri. Kenyataanya, Musa bukanlah orang yang datang dari kerajaan luar melawan Fira’un, melainkan seorang anak yang dibesarkan, diajar strategi, dan dilatih taktik berperang di lingkungan kerajaan sendiri. Dan, memang seringkali kerusakan, kekacauan, dan kehancuran segala sesuatu yang merasa besar nan tak tertandingi justru penghancurnya adalah sesuatu yang berasal dari dalam sendiri.

Memang pada dasarnya sikap terima kasih berkorelasi dengan sikap rendah hati. Bagi kita yang membiasakan diri muhasabah, instrospeksi, menilai, dan menimbang kebaikan dan keburukan diri, kita akan tahu kadar ukuran kita untuk menjadi yang nriman atau yang mbangkang. Namun, bilamana orientasi dalam kehidupan yang kita jalani bukan berdasarkan kadar kemanusiaan kita, yang terjadi adalah kita semakin bodoh dan “dilupakan” untuk menapaki tangga kederajatan yang lebih tinggi sebagai manusia.

Bodoh dan pelupa bukan warisan gen seutuhnya. Manusia menjadi bodoh atau pelupa lebih pada ketidakmampuan mereka dalam mengelola diri, ruang, dan waktu yang semua itu dipasrahkan kepada manusia sebagai faktor penunjang kemuliaan derajat di hadapan Allah. Manusia yang tidak mengerti apalagi mengamalkan syukur, ia akan lebih pada ketergantungan eksternal dan mengabaikan potensi diri yang sebenarnya sama. Peran Allah menjelma pada fungsi alamiah yang bisa kita arahkan untuk kebaikan. Sesungguhnya memang begitulah salah satu cara Allah mengenalkan diri untuk dikagumi oleh akal dan perasaan manusia sehingga mereka menemukan kesejatian eksistensial.

Konsekuensi apabila manusia tidak bersyukur, ia tidak akan menemukan kebenaran di masa sekarang dan dilewatkan untuk urusan penting di masa depan. Sekedar perumpamaan, saat Anda butuh tenaga untuk membenahi atap rumah yang bocor, dan misalnya tetangga Anda, Tarji, ia berkata “Saya panggilkan Pak Karjo saja”. Datanglah Pak Karjo, ia membenahi atap rumah Anda yang bocor. Setelah dapat “imbalan” dari Anda, pak Karjo tidak berterimakasih pada Tarji yang memanggilnya, maka yang terjadi adalah putusnya “tali rizki” yang terhubung antara Pak Karjo, Tarji, dan Allah sebagai perantara hubungan mereka. Bila nanti kejadian serupa terulang, Pak Karjo akan dilupakan Tarji untuk urusan yang lebih penting. Tarji secara alamiah akan menunjuk orang lain untuk dihubungkan dengan kerja dan rizki yang berkaitan dengan Allah.

Hari ini, dalam satu waktu tiba-tiba menyeruak suara batin saya untuk mengucap syukur pada Allah. Saya harap Anda memahami trifakta yang membuat saya berterimakasih: puasa, sakit dan hujan.


Pedak Baru, Bantul, 6 June 2016.




post by student 






, 

Sabtu, 04 Juni 2016

Kepribadian Nomor Satu

Kepribadian Nomor Satu
by Alkanjawi

Untuk urusan perkenal-mengenalan sesama manusia, dan sebelum lebih jauh pada kata “menilai”, alangkah lebih baik kita mesti melihat segala sesuatunya berdasarkan kepribadian.

Menilai seseorang dalam suatu perkenalan memabng bukan perkara mudah, apalagi kalau anda tidak terbiasa menilai ke dalam diri. Tetapi kalau Anda memiliki kemampuan khusus untuk itu, sekali saja bertemu seseorang, menilainya sudah barang tentu mudah, dan berlanjut pada kritik atau saran atau apresiasi apapun. Terkait kemampuan khusus ini, orang-orang yang telah mengetahui dirinya sendiri dialah yang bisa melakukan.

Saya pribadi bukan bagian “orang pintar” yang tahu idealitas di balik realitas seseorang, melainkan baru pada tahap memasuki, mencoba menekuni, dan laku tapa pada journey ke dalam luasnya diri. Apa yang saya cari? Dalam perjalanan, rumus utama yang harus diterapkan adalah menentukan tujuan. Saya bertujuan menemukan ruang dan masa tak berbatas sehingga ketika saya menjumpai diri saya di dalam ruang itu, maka tidak ada yang lain kutemukan kecuali keserba-terbatasan sendiri. Mengapa batas? Karena hakikatnya kita semua adalah makhluk yang hanya mampu hidup dengan adanya batasan. Kita akan rusak, hancur dan celaka bila melanggar batasan-batasan.

Kemudaian, saya yakin kepada Tuhan sang pencipta, menciptakan manusia adalah untuk manusia itu sendiri. Dan, bila mungkin pertanyaan berlanjut: kenapa mesti manusia? Jawabannya, karena manusia adalah semesta ciptaan yang di dalam dirinya ditanam potensi menjadi kekasih. Dalam mencapai tingkat pada posisi kekasih ini, Tuhan sendiri mungkin akan senang mencoba-coba, meguji untuk sebuah kelayakan seorang pribadi menjadi abadi di sisinya.

Dalam kemanusiaan sendiri, banyak sekali unsur-unsur yang mengisi dan meliputinya, Ibarat lingkaran, proporsi utama yang memenuhi manusia sebenarnya adalah Allah. Namun, sebab-sebab lain bisa mungkin masuk dan mengebaki lingkaran kemanusiaan itu, termasuk iblis. Secara fisik. Meskipun manusia diciptakan dengan bentuk yang paling baik, tetapi seorang manusia adalah setitik debu yang hidup dari kumpulan daging dan tulang. Poisi manusia adalah menempel di permukaan bumi. Manusia sekecil ini dilekati oleh daya tarik bumi, sehingga mereka aman dan tidak terpental keluar dari peredaran, ketentuan-ketentuan, dan waktu yang semuanya telah di tetapkan Tuhan.

Substansi dan posisi yang memenuhi kemanusiaan itu, merupakan bahan utama dalam menemukan jalan menemukan hakikat diri. Di situ pula letak kesadaran yang menuntut untuk ditemukan. Pertanyaan akan siapa sebenarnya pribadi yang akan mengisi ruang alam semesta dari manusia yang hanya sekecil debu, akan terjawab sebagai wujud yang harus disadari secara total. Bila kelak di kemudian hari, manusia telah menghadap Tuhan, maka yang dilihat, dinilai, diterima Tuhan adalah ketakawaan yang mana tidak lain itu adalah segala perilaku yang melekat pada kepribadian manusia.

Sesungguhnya kepribadian diri manusia merupakan dasar kepribadian paling fundamental untuk realitas yang meruanglingkupinya. Pada ahirnya, kepribadian desa, kepribadian bangsa, kepribadian negara, kepribadian dunia, dan kepribadian alam semesta baik buruknya tergantung dengan kerpribadian manusia itu sendiri.

Alkanjawi, 4 June 2016.





post by studen  

Kamis, 02 Juni 2016

Jangan Senang Ditolong!

Jangan Senang Ditolong!

Hendaknya saat meminta pertolongan, perhatikanlah sebelumnya tentang seberapa kadar kelemahan diri kita untuk menerima ukuran pertolongan.

Sebenarnya maksud saya mengenai ukuran itu, ada hubungannya dengan sifat kata kerja “tolong” yang berlaku tanpa batas. Bila pada hari ini Anda ditolong oleh seseorang (yang entah kenal atau asing), bisa jadi pertolongan itu akan terulang kembali karena Anda terulang pada poisi butuh pertolongan. Begitu juga dalam hubungan Anda sebagai pemberi pertolongan. Pada masa depan yang lain, Anda akan mempoisikan tangan diatas sebagai penyelamat tangan-tangan lemah yang sedang berada di bawah. Perlu diingat, prinsip dalam ukuran tolong menolong adalah kesesuaian atau kesepadanan. Kelebihan walau hanya sedikit akan ada perhitungannya sendiri.

Kenapa harus tepat? Sebenarnya orang butuh ditolong karena terkait kadar waktu atau kekurangan yang ia sedang dialami. Begitu pula sebaliknya bagi penolong. Pagi-pagi, seorang tukang ojek di desa pinggiran berangkat ke pasar untuk narik pelanggan. Sebelum sampai di lokasi pelanggan pertamanya, tiba-tiba di tengah perjalanan ban motornya bocor. Dengan terpaksa ia harus turun dan menemukan tukang tambal ban. Ia gelisah sebab tidak membawa bekal uang yang cukup untuk keperluan memperbaiki motor. Tukang ojek tidak mau merepotkan orang lain. Setelah berjalan dan ahitnya ketemu dengan tukang tambal, ia hanya mampu membayar dengan jumlah uang separuh dari tagihan. Ia meminta tolong supaya kekurangan tagihan itu bisa dibayarkan nanti kalau sudah dapat rejeki. Sang tukang tambal rupanya baik hati dengan berkata: Ambil dulu uang itu, bayarlah nanti setelah kamu ada uang.

Begitu gembira hati tukang ojek. Sedangkan tukang tambal ban memang suka menolong dan terbiasa ikhlas.

Ada sebuah kelegaan hati yang kemudian mengakibatkan sepanjang hari tukang ojek bisa bersyukur, padahal di awal pagi sudah diuji dengan musibah ban motonya bocor. Kebaikan yang ditunjukkan tukang tambal membuat tukang ojek menjadi berbaik prasangka, begitu juga perasaan dan sikapnya terhadap semua orang hari itu. Tukang ojek sadar akan kewajibannya untuk membayar bilamana ia sudah mendapatkan cukup uang dari hasil kerjanya hari ini. Selain mengucapkan terimakasih kepada tukang tambal ban, ia juga mengucapkan terimakasih pada setiap pelanggan. Lebih dari itu, ia bisa mensyukuri dirinya secara lebih dalam; bersyukur musibah hanya berupa ban bocor, bukan putus rem atau ditabrak kendaraan lain.

Memang wajar bila orang merasa senang kalau menerima pertolongan. Tidak wajarnya apabila terkena musibah dan sangat butuh pertolongan, tetapi ketika ada yang mengulurkan tangan, ia menolak untuk menerima pertolongan itu. Ini mungkin berkaitan dengan prinsip. Tapi, nalar sehat kita semua tentu paham kalau prinsip semacam itu sulit untuk diterima logika umum. Saya sendiri, sungguh belum mampu untuk menolak pertolongan siapa saja di saat sedang butuh.

Timbangan
Kehidupan kita sekarang sedang menjumpai iklim yang bawaannya orang lebih mudah untuk meminta daripada memberi. Orang lebih gampang minta tolong, mengandalkan orang lain daripada memilih menyelesaikan permasalahhan (tanggung jawab) dengan bersikap tangguh dan sportif. Mudahnya memperoleh segala macam kebutuhan dan jalan yang semakin terbuka menjadikan mental kita lembek, manja dan ingin dituruti semua kemauan yang kita miliki. Dengan sikap yang demikian itu, perkembangan jiwa dan kekuatan raga akan menurun. Terlebih ketajaman kognitif dan sensitivitas emosional sudah barang tentu menyusut secara drastis.

Ketergantungan dan terus menerus mengandalkan orang lain secara mental ini membahayakan diri. Harap anda tahu, bahwa potensi setiap manusia untuk berani dan menjadi problem solver adalah bagian kekayaan pikiran yang tak terhingga nilainya. Apabila Anda tidak juga segera mengenali potensi itu, dan berlagak bodoh untuk bersedia mengoptimalkannya, maka di lain sisi Anda otomatis telah menelantarkan dan mengarahkan mental ke poisi lumpuh. Dalam kelumpuhan, mental Anda bukan lagi “kritis”, tetapi sudah sampai pada lapis “pematian” atas potensi kemanusiaan. Anda tidak akan bisa melakukan atau menghadapi sesuatu secara merdeka. Saya kira, tiada yang lebih membosankan menghadapi hidup (sekarang atau hari esok) ketika banyak jerat yang melilit dada dan hak atas nafas kebebasan kita.

Seandainya, dalam kaitannya sistem mobilisasi yang kita lakukan untuk membangun bangsa seperti sikap tukang ojek di atas, kemungkinan besar macam-macam keruwetan akibat tradisi manja pemerintah dan sikap miskin kongklomerasi akan bisa kita atasi. Pemerintah kita yang terjebak halusinasi dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar merasa nyaman dengan mental “kere”, hingga berakibat pada sikap selalu butuh pertolongan dan senang menerima “bantuan” dari negara lain, akan bisa kita dihindarkan. Elit politik kita terlalu dekat pada kekuasaan sehingga ingin mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan, akan bisa kita netralkan untuk kepentingan nasional kita.

Atau, jangan-jangan semakin tinggi kedudukan struktural seseorang, ia akan semakin senang untuk ditolong?

Alkanjawi, juni 03, 2016.





post by studen

Kamis, 15 November 2012

Filsafat Kerja Seorang Mekanik

dipublikasikan Majalah Gatra Edisi 27/XVIII 16 Mei 2012 


Ketika jutaan orang terjun mencari kerja, yang terjadi adalah sebuah persaingan yang semakin ketat. Di tengah gelombang pencari kerja yang sangat besar ini, frustrasi akibat pekerjaan banyak dialami para pekerja. Kejenuhan dan kebosanan pada pekerjaan tertentu berimplikasi pada kejiwaan dan membuat stres. Tidak sedikit di antara mereka memilih menanggalkan pekerjaan yang dirasa tidak layak lagi.


Di negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, orang yang memiliki keterampilan atau skill dapat memanfaatkannya secara bebas untuk membangun dunia kerja sendiri. Matthew sendiri awalnya hanya seorang mekanik sebuah bengkel. Ia kemudian berhasil membangun bengkel sendiri di Richmond, Virginia, berkat filosofi kerja yang dianutnya: hakikat pekerjaan adalah memberikan sesuatu untuk kebaikan orang lain.


Ia pun menyelesaikan program doktor filsafat politik dari University of Chicago. Sebagai filsuf dan pekerja keras, ia menekankan pribadinya untuk selalu memegang prinsip kesadaran dalam hidup. Hidup secara sadar diartikannya sebagai sikap sadar sepenuhnya atas setiap hal yang dipikirkan dan diperbuat sebagai situasi kemanusiaan. Hidup dengan baik berarti membuat diri kita berdamai dengan keadaan itu dan berusaha mengejawantahkan setiap kehebatan yang dapat diwujudkan dengan nyata. Kehebatan yang manusiawi adalah kehebatan di mana peluang untuk mendapatkan kepuasan itu tidak tertutup bagi banyak orang.


Buku ini memberi spirit kepada pembaca berdasarkan pengalaman pribadi. Crawford bekerja dengan keterampilan tangan yang dipadukan dengan pikiran. Baginya, proses seperti ini akan melahirkan kepuasan batin. Sebagai pekerja di bengkel motor, meski kotor dan berat secara fisik, ia menemukan pengalaman luar biasa: kekuatan kerja keras dengan gerak tubuh dan memutar pikiran.


Sebuah kisah menarik yang patut diteladani pengalaman saat Crawford bekerja sebagai mekanik di sebuah bengkel. Ia selalu berusaha memahami proses menjadi mekanik sepeda motor yang baik. Ia berinteraksi dengan mekanik-mekanik lain dan meluangkan waktu dengan para pengendara motor yang lebih berpengalaman.


Dari pengalaman itu, segala hal yang berkaitan dengan mesin terungkap nyata dalam sebuah lingkaran makna yang lebih luas. Pengalaman luar biasa ini akhirnya memberi peringatan bahwa jika kita menelusuri jejak dari tindakan kita sendiri dari sumbernya, jejak-jejak itu akan menunjukkan sebuah pengertian tentang makna proses kehidupan yang baik. Di sinilah ia menemukan bahwa kerja memiliki potensi untuk menghadirkan suatu ukuran pertalian dengan kehidupan.


Ditulis dengan gaya bercerita dan jenaka, Matthew yakin, pendidikan merupakan tempat penting untuk menciptakan manusia menjadi pekerja keras yang mandiri. Ia menilai, mental baja dan etos kerja yang baik harus diimbangi dengan pendidikan kepribadian berkarakter dan budi luhur. Tanpa dorongan karakter dan sikap luhur ini, mustahil lahir generasi berkualitas yang mampu memaknai kerja sebagai dedikasi untuk kemanusiaan.


Keberhasilan sistem pendidikan di Barat dalam menjawab tuntutan globalisasi kurang relevan diterapkan di negara-negara berkembang. Sebab di negara berkembang banyak ditemui masyarakat menengah ke bawah secara ekonomi. Realitas yang dijumpai, dunia pendidikan, kemudian mengakomodasi sistem korporasi yang hanya menghasilkan kelompok pemenang dan kelompok pecundang.


Di tengah krisis kemandirian bangsa berkembang, Matthew menulis tentang pentingnya melanjutkan gagasan pendidikan kemandirian. Dia berpikir, ketika peserta didik telah lulus dari bangku sekolah, ia akan punya bekal ajaran kemandirian yang nantinya bisa diolah dan dimatangkan dalam dunia kerja. Kemandirian adalah langkah awal untuk memunculkan keberanian mengaplikasikan keterampilan. Dilanjutkan dengan manifestasi dalam bentuk kerja pribadi atau kelompok baru sebagai wadah pekerjaan.


Buku ini lahir dari upaya untuk memahami arti sebuah pekerjaan. Pekerjaan bisa dipahami sebagai pedoman hidup. Artinya, sebuah pekerjaan adalah manifestasi dari olahraga, olah rasa, dan olah jiwa manusia yang pada hakikatnya tercipta sebagai makhluk pekerja.


di resensi oleh Fuad Hasan,
Bergiat di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Shop Class as Soulcraft: an Inquiry into The Value of Work
Penulis: Matthew B. Crawford
Penerbit: Penerbit Gemilang, Jakarta, 2012, 288 halaman


Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...