Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Mei 2016

Kadang Suka Kadang Biasa



puisi-puisi fuad hasan succen


Kadang Suka Kadang Biasa

Kadang-kadang
Dalam renungan apa saja terlihat tak jelas
Ingin ini ingin itu
Keinginan sulit untuk dibatasi

Apa yang membuat suka
Aku mencari keyamanan yang ternyaman
Detik
Setelah bergeser nyaman pergi tiada lagi

Bila sedang tidak peduli akan kadang
Lalu mulai mencoba sebuah kepastian
Kadang datang mengolok-olok dan caci
Kenapa suka, lihatlah betapa ia jelek sekali

Aku runtuh
Kepercayaan menjadi puing-puing
Tak mungkin menyusunnya kembali
Sebab hati juga retak sana sini

Lalu apalah daya
Bila memang kadang-kadang adalah niscaya
Biar cermin renungan ini kuhancurkan saja
Lalu buta segala rencana

Tanpa bayang keinginan
Ini itu adalah aku
Yang tanpa mata
Meluncur ke jurang hampa

---***---

Katakan Cinta

Apa ada cinta?
Ada!
Sudah disampikan dengan kata?
Kau bilang kau ini pemberani

Lihat di luar hujan masih deras
Orang-orang berpuisi tentang langit dan hujan
Kau tahukah dimana petir?
Ia tak pernah ada
Kalau tak mengagetkan
Atau menakutkan!

Apa kau ini masih pemberani?
Jika itu tidak benar lagi
Kau tak perlu jadi seperti petir
Jadilah saja seperti hujan
Setelah jatuhnya hanya sebuah kesepian
Kemana lagi selain menghampiri comberan

Bila ada cinta
Sampaikanlah rasa dengan kata
Sambarkan gelegar suara
Biar ia yang mendobrak gerbang telinga
Biar getar hati dalam istana
Kepada …
Yang membuatmu terpesona

---***---

Kupu-Kupu Merindu

Danau dan gunung dihiasi candi
Danau tempat mandi para bidadari
Dari gunung garuda mengintai sendiri
Saat melihat kain kampuh digelar jadi tirai

Seekor kupu-kupu di kembang membatu
Diam saja melihat air bergelombang membiru
Sedang gadis-gadis dari langit tinggal satu
Tak jadi mandi sebab lupa membawa air susu

Kepada awan si gadis menyeru
Wahai hujan turunlah disisiku
Balutkan air segar dari payudara sucimu
Agar wajah yang bingung menjadi lugu

Bila sudah cantik kuingin menemui manusia
Aku mau bertanya kepadanya tentang cinta
Aku ingin tahu rasanya jatuh cinta
Wahai manusia berilah aku asmara

Kupu-kupu yang diam lalu tergerak diri
Setelah dewi bidadari merindu belai
Kepak sayap lembut memantulkan derai
Di puncak gunung garuda merasa hati

Garuda perkasa menjelma seorang pria
Tampan paras dan senyum memesona
Dewi jelita terpukau memandangnya
Pria gagah menaruh cinta di dadanya

Bahagia berdua mereka di dunia
Membangun candi antara gunung dan telaga
Kupu-kupu masih tetap sebatang kara
Merindu pada khayalan yang tak pernah nyata


---***---

Langkah Pertama

Dari rasa terdalam di hati
Aku mendengar panggilan kecil
Hatiku melangkah senyap mengendap
Belati di tangan menikam jantung sendiri

Engkau gadis jelita yang baru melihat dunia
Merah biru cerita teramat tipis di mata
Jumpa singkat terbalut putih makna
Terpaut senyum termimpi pesona

Engkau yang riang hidup dalam mimpi
Malas dan fantasi teman sepanjang hari
Sedetik waktu berlalu senyum menyemangati
Cinta memang pada anak muda abadi

Katamu rindu mantra suci
Jauh sejengkal tak kuasa ingin selalu bersama
Katamu kangen kehendak setia
Betapa pandai bayang wajah mengelabuhi mata

Rasa mulai tumbuh semai cinta
Gusar dan riskan hampir sama
Bila tenggelam dalam kefanaan
Waspada selamanya tidaklah apa-apa

Anak muda yang mulai ditawan cinta
Bila segalanya telah serasa milik berdua
Ambillah belati dari jantung kefanaan
Biar dengan tangan kita tikam keabadian

Yogyakarta 2015


Jumat, 12 Februari 2016

Dari "JALAN MENEMBUS KEADILAN" sebuah prakata untuk antologi puisi Fuad Hasan


P
ertama kali, atas anugerah dan karunia Tuhan YME, puisi-puisi ini tercipta. Kedua, berdasar pada semangat dari dalam yang muncul secara tiba-tiba, kiranya telah memberi dorongan bagi saya untuk mengabadikan serpihan kenang-kenangan serta pengalaman yang melibatkan batin, dengan proses olah berpikir nan cukup jernih, – inilah puisi -. Hasil dari perenungan beragam pengalaman yang lahir saban hari di penghujung tahun 2015 hingga awal 2016. Bagi saya, rangkaian puisi-puisi terkumpul ini memiliki kesan dan makna sebagai catatan spesial proses pendewasaan jiwa dan personalitas kedirian saya secara pribadi.
Selanjutnya, dengan ini, keinginan hati saya telah terkabul sebagai usaha belajar mencoba mengumpul-satukan (mengamankan) karya puisi-puisi dalam sebuah naskah manuskrip. Saya bersyukur mulai sadar: rupanya cukup banyak tulisan-tulisan (baik artikel fiksi maupun non-fiksi) dalam bentuk file-file yang terpisah-pisah berserakan dan tidak tertata dengan semestinya, hingga ahirnya sering kali saya terlibat kesulitan untuk mene-mukan posisi tempat keberadaannya. Kondifikasi naskah puisi ini, adalah wujud karya dokumentasi, khususnya karya sastra saya agar dapat bernilai dengan adanya kemudahan untuk dibaca kembali oleh siapa saja.
Dalam pada naskah ini, saya menyusun puisi-puisi dengan latar antara lain; realita sosial dan budaya (bagian i), proses kratif diri (bagian ii), serta narasi kecil dari bilik hati (bagian iii). Problematika sosial serta dinamika budaya menjadi besar kuantitasnya, sehingga menjadi warna khas yang menarik untuk saya masukkan dalam lembaran-lembaran ini. Atas problem tersebut, saya majukan diri untuk mengungkap pesan makna dengan bahasa yang semurni-murninya. Melalui gaya bahasa puitikal ini, saya dedahkan ragam masalah realitas dengan bentuk puisi sebagai bungkus makna pesannya. Dengan begitu saya beharap puisi ini dapat menjadi sudut pandang tersendiri dalam membaca realita dan mengungkap kandungan makna di dalamnya sebagai upaya membuka celah kemungkinan menemukan jalan keluar dan solusi. Puisi-puisi ini, tanpa bermaksud jumawa, saya bilang sebagai karya sastera puisi terbaik saya.
Puisi dikata bagus yaitu; bilamana saya (atau orang lain sebagai pembaca) ketika membaca puisi tersebut akan merasa tergerak dan menemukan sudut pandang untuk berani melihat/ terjun ke dalam medan yang dihimpunnya. Setelah itu, pembaca ikut serta memahami, mengkaji, dan memikirkan medan apa yang ia temui dalam puisi itu. Apakah medan hukum, budaya, bahasa atau seni atau yang lain. Maka, dari pemahaman itu lahirlah upaya inisiasi menemukan solusi menurut yang dia mampu sesuai bidang berpikirnya. Itulah puisi yang menurut saya bagus, terlepas dari segi estetik, kejujuran dan jauh dari munafik sebagai karya sastera.
Tiga tema puisi yang saya masukkan dalam naskah manuskrip ini yakni, pertama ialah aku sebagai manusia dengan alam. ‘Aku’ sebagai saya personal yang terlibat dalam perputaran jagad semesta ini, terpancing untuk terjun mengamati perilaku korporat yang hendak menguasai kekayaan alam Indonesia. Dari situ, ada rasa tidak rela kalau-kalau alam Indonesia yang seharusnya digunakan oleh negara untuk kemakmuran rakyat malah dinikmati oleh sekelompok orang saja. Beberapa puisi di sini adalah kristal kekesalan saya pribadi atas ulah manu-sia yang dengan konspirasinya akan membawa dampak kerusakan alam permai Indonesia. Bila bahasa yang saya gunakan dalam puisi agak kasar, mungkin itu pengeja-wantahan ekspresi ketidakterimaan yang sangat keras.
Kedua, mengenai keprihatinan pribadi atas gejolak batin. Terkadang saya sebut sebagai pergolakan jiwa. Berbagai masalah kerap kali timbul dan menyebabkan gelisah yang tak berkesudahan dalam batin. Utamanya terkait perang ego dengan hati nurani. Suara-suara di dalam jiwa terdengar bagai lonceng yang bersahutan dan sangat bising mengganggu ketenangan hati. Perdebatan demi perdebatan antara suara hati dan ego inilah dinamo yang memutar pikiran saya untuk tidak bisa diam. Segala sesuatu, (bahkan hanya sebatas bayang­) pasti tertangkap percakapan dan berlanjut pada perdebatan yang sengit. Meski melelahkan tapi saya akui hal itu membuat rindu.
Tema bagian tiga adalah tentang luapan eskpresi asmara ‘Aku’ sebagai seorang pemuda yang normal. Posisi ‘Aku’ sebagai sudut pandang pertama; berusaha sebebas-bebasnya mengungkapkan pengalaman perasaan berwarna warni terhadap perempuan. Lebih tepatnya bayangan seorang perempuan. Ini puisi romantik saya masukkan di sini hanya sebagai komplemen. Versi utuh ‘Puisi Romantis’ yang juga deras mengalir selama kurun musim hujan, saya bikin tersendiri dengan judul "Lirikan Hati". Bila lancar, insyaallah terbit pula tahun ini.
Barangkali inilah prakata saya sampaikan. Semoga bisa sedikit membuka daun pintu depan untuk sekalian pembaca memasuki ruang puisi-puisi yang tersusun sederhana dalam buku ini. Selamat membaca!





Fuad Hasan

Yk, Februari 2016

Rabu, 13 Januari 2016

PUISI; RUMAH TIMUR

RUMAH MENGHADAP KE TIMUR
By alkanjawi

Ketika penyair saut situmorang membaca puisi di malam itu, panggung demokrasi kampus timur sedikit hidup dimeriahkan tawa dan tepukan tangan. Anak-anak muda berkumpul di remang-remang. Di tempat itu, laki perempuan mana bisa aku bedakan. Aku tak betah duduk berlama-lama, dan… Aku pergi berjalan dari depan panggung ke arah buritan. Lalu duduk bersender aku di pagar besi, lama kelamaan tubuhku melurut dari sanderan dan terlentang di atas lempengan batu di bawahku.

Wajahku menghadap langit, mataku berbicara pada awan yang bermendungkan gelisah. Setetes air jatuh diterpa angin mengenai kaki telanjangku. Aku mulai menyadari, ada ribuan bahkan miliaran titik air mengikutinya di atas sana. Titik-titik air sudah melesat jatuh. Lantas saja aku berlari kecil untuk menyelamatkan diri. Biasanya, air pertamakali hujan dapat membuat kulit menjadi gatal. Itu betul.

Berlarian pula di belakangku orang-orang penonton acara, anak-anak muda yang katanya pembela sastra, atau maksudnya, pembela sastrawan penyair, Saut situmorang, yang sedang menjadi tersangka kasus pelecahan. Anak-anak pegiat sastra lintas kampus berkumpul malam itu, astaga..., aku saksikan mereka betapa pandai nian memaki, mengumpat dan menghujat pengkasus saut.

Juga, masih kedengaran dari balik panggung, mereka mengolok-olok secara nyata dan juga dramatik orang yang bernama denny JA. Miris mendengar orasi dan kata-kata yang muncrat dari mulut anak-anak yang katanya pecinta sastra. Ah! Panggung demokrasi kampus kita memang remang-remang betul.

Tak lama di tengah aku sedang berlarian, hujan timpah begitu derasnya. Berpaling aku dari jalan dan beralih menginap ke tempat berlindung. Aku tak sanggup bila hujan menghajarku hingga basah kuyup. Sebuah tampat lapang, itu bernama gelanggang, aku mengiup, menanti bahana hujan meredup. Di situ aku menyaksikan sesuatu yang menjadi puisi ini:






RUMAHKU MENGHADAP KE ARAH TIMUR

Malam di derap hujan aku kedinginan
Di bawah terpal besi di tepi halaman gedung gelanggang
merunduk disekap angin dan percikan air
merinding digrebek kilatan petir yang menyambar

malam ini siapa yang membelaku
dari dingin dan sepi yang menderu
dimana selimut keberanian
dimana angan untuk menerjang

di seberang jalan aku mendekap lutut
suar lampu jalan menyala teramat terang
seolah aku bisa menghitung titik-titik hujan
saat dedaun tertangkap oleh terangnya cahaya

sebatang pohon berdiri menghalang
cahaya tembus menggenang di antara
bayangan dan asap
aku melihat sebuah perhitungan

di antara angin dan hujan bergemuruh petir
seekor kupu-kupu putih memekarkan sayap
terbang terhuyung melawan derai air
ia berputar-putar mencari tempat hinggap

bukan tak mungkin ia tersambar petir
bukan tak mungkin ia lelah dan tergerus musibah
tapi kupu-kupu itu tetap memekarkan sayap
terbang berputar mencari tempat hinggap

kupu-kupu di antara cahaya terang
malam menyaksikan hujan yang kejam
bagi sebagian orang
yang takut menghadapi kenyataan

kupu-kupu itu entah dari mana ia datang
bukankah ini sudah larut malam
kupu-kupu kenapa masih berterbangan
bukankah ini sedang berlangsung hujan

kupu-kupu melintas di pikiranku yang basah
melempem setelah hujan kritik dan angin cemooh
kupu-kupu mencari tempat hinggap
di sebatang pohon kecil yang tumbuh di kepalaku

ia menyelinap di balik daun-daun
aku menghela napas panjang
bersukur atas hilangnya kesakitan
kupu-kupu yang tadi terbang di antara ke dua mataku

seorang lelaki yang memeluk lututnya
sendiri remuk dihantam sepi
meringkuk disergap angin kecewa
tertunduk dibekuk rasa tak berdaya

aku melihat di arah mana kupu-kupu
rumah gelanggang menghadap
ke arah timur jauh terbentang
hujan dan petir bersahutan

rumahku menghadap ke arah timur
aku dan malam panjang menebar impian
di antara hujan yang disinari lampu jalanan
aku mengiupkan diri di bawah terpal besi.


Yk, 13 January 2016.



#studen

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...