Selasa, 17 Januari 2012

Strategi Pembelajaran Inkuiri


STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI BERMUATAN KARAKTER

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Melihat dari kemampuan dan potensi berfikir manusia yang memang sudah dimiliki sejak lahir, manusia sudah memiliki keingintahuan untuk mengenal segala sesuatu melalui indera-inderanya, hingga keingintahuannya terus-menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Karena melihat potensi yang memang sudah ada pada diri manusia itulah kenapa strategi pembelajaran inkuiri dikembangkan.
Strategi pembelajaran inkuiri sendiri dalam proses kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada proses berfikir. Peserta didik tidak hanya sekedar melakukan proses menghafal tetapi peserta didik dituntut mampu menemukan jawaban sendiri atas sesuatu hal yang dipertanyakan serta dapat memecahkan suatu masalah. Oleh karena itu diperlukannya kemampuan mengembangkan pola fikir secara optimal dengan cara berfikir yang logis, analitis, serta dialektis.
Dari pemaparan di atas, tulisan ini selanjutnya membahas lebih lanjut mengenai bagaimana konsep dasar pembelajaran inkuiri, prinsip-prinsip pembelajaran inkuiri, bagaimana implementasi pembelajaran inkuiri beserta kesulitan-kesulitan yang ada, kemudian bagaimana keunggulan dan kelemahan dari strategi pembelajaran inkuiri, beserta akan disinggung mengenai nilai-nilai karakter dalam strategi pembelajaran inkuiri dan  bagaimana peran strategi inkuiri dalam membangun karakter peserta didik.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    KONSEP DASAR STRATEGI INKUIRI
Istilah inkuiri berasal dari bahasa Inggris, yaitu inquiry yang berarti
pertanyaan atau penyelidikan. Pembelajaran inkuiri adalah suatu rangkaian
kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga siswa dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Teori yang mendasari model pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
1.      Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya.
2.      Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk dapat menganalisis strategi berfikirnya tersebut.
3.      Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan ditambahkan atau digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki siswa.
4.      Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan berfikir.
Jelas bahwa strategi inkuiri adalah rangkaian kegiatan yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa yunani, yaitu heuriskein yang berarti menemukan.
Manurut Sanjaya, pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis, analitis, dan dialektis untuk mencari dan  menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran inkuiri dibangun dengan asumsi bahwa sejak lahir manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang keadaan alam sekelilingnya tersebut merupakan kodrat sejak ia lahir ke dunia. Keingintahuan manusia tersebut terus-menerus berkembang hingga dewasa dengan menggunakan otak dan pikirannya. Tujuan utama pembelajaran inkuiri adalah menolong siswa untuk dapat mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berfikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka. Selain itu inkuiri dapat mengembangkan nilai dan sikap yang sangat dibutuhkan agar siswa mampu berfikir ilmiah, seperti:
1.      Keterampilan melakukan pengamatan, pengumpulan dan pengorganisasian data termasuk merumuskan hipotesis serta menjelaskan fenomena.
2.      Kemandirian belajar.
3.      Kemampuan mengekspresikan secara verbal.
4.      Kemampuan berfikir logis.
5.      Kesadaran bahwa ilmu bersifat dinamis dan tentatif (sementara).
Menurut Trianto, strategi pembelajaran inkuiri dapat diimplementasikan secara maksimal dengan memperhatikan beberapa hal: Pertama, aspek sosial di dalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi. Hal ini menuntut adanya suasana bebas (permisif) di kelas, siswa tidak merasakan adanya tekanan/ hambatan untuk mengemukakan pendapatnya. Kedua, inkuiri berfokus hipotesis. Siswa perlu menyadari bahwa pada dasarnya semua pengetahuan yang hanya menekankan dari segi menghafal mempunyai sifat yang sementara (tentative). Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, kebenaran selalu bersifat sementara. Apabila pengetahuan dipandang sebagai hipotesis, maka kegiatan belajar berkisar sekitar pengujian hipotesis dengan pengajuan berbagai informasi yang relevan. Inkuiri bersifat open ended jika ada berbagai kesimpulan yang berbeda dari siswa masing-masing dengan argumen yang benar. Ketiga, penggunaan fakta sebagai evidensi. Di dalam kelas dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta sebagaimana dituntut dalam pengujian hipotesis pada umumnya.
Sebagaimana dikemukakan di depan, pembelajaran inkuiri adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan pada proses berfikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Ada beberapa hal yang menjadi konsep dasar (ciri utama) dalam strategi pembelajaran inkuiri, yaitu :
1.      Strategi inkuiri menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu.
2.      Seluruh aktifitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief). Dengan demukian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktifitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3.      Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana meraka dapat menggunakan potensi yang di milikinya secara optimal.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian, karena dalam strategi ini siswa memang memegang peran yang sangat dominan dalam proses pembelajaran. Strategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala.
1.      Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian, dengan strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi lebih dipentingkan adalah proses belajar.
2.      Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3.      Jika proses pembelajaan berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4.      Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berfikir, strategi inkuiri akan kurang berhasil apabila diterapkan kepada siswa yang kurang memiliki kemampan berfikir.
5.      Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
6.      Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Itulah penjelasan mengenai konsep dasar inkuiri beserta bagaimana strategi pembelajaran inkuri dapat efektif diimplementasikan di ruang kelas. Disini penulis berusaha menjelasakan secara detail mengenai bagaimana konsep dasar strategi pembelajaran inkuari yang diawali dengan sedikit memaparkan mengenai pengertian dari pada apa yang disebut dengan inkuiri itu sendiri.
B.     NILAI-NILAI KARAKTER DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan, sedangkan menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu. Oleh karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seorang itu dapat diketahui, maka dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi tertentu.
Maka berdasarkan paparan diatas berikut ini adalah nilai-nilai karakter yang terkandung dalam strategi pembelajaran inkuiri, sebagai berikut:
1.      Rasa ingin tahu, hal ini dikarenakan manusia secara alami mempunyai kecenderungan mencari sesuatu hal yang baru yang menurutnya itu menarik untuk dicari tahu.
2.      Kemandirian, karena dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.
3.      Percaya diri, sesuai dengan konsep dasar dari pembelajaran inkuiri, bahwa siswa diharapkan mampu mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
4.      Kritis, yakni sikap dan perilaku yang berusaha untuk menemukan kesalahan atau kelemahan maupun kelebihan dari suatu perbuatan.
5.      Kreatif  dan  inovatif,  yakni  berpikir  dan  melakukan  sesuatu  untuk  menghasilkan  cara  atau  hasil  baru  dan  termutakhir  dari   apa  yang telah dimiliki.
6.      Kepedulian sosial, dengan pembelajaran inkuiri secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap alam sekelilingnya yang akan membawa kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan di alam sekitarnya sehingga kemudian akan berfikir bagaimana caranya menyelesaikan masalah-masalah dengan memberikan solusi-solusi yang dapat memecahkan permasalahan dengan baik.
7.      Disiplin, yakni tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada peraturan.
8.      Demokratis, yakni cara berfikir, bersikap dan bertidak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9.      Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas serta mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya.

C.     PRINSIP-PRINSIP STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
Pembelajaran inkuiri ini menekankan kepada pengembangan mental (intelektual) siswa. Perkembangan mental (intelektual) itu menurut piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu maturation, physical experience, sosial experience, dan equilibration.
1.      Maturation atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir (intelektual) anak. Otak bisa dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembagnan dan fungsi kemanusiaan. Menurut Sigelman dan Shaffer (1995), otak terdiri dari 100 miliar sel saraf (newron) dan setiap saraf itu rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel saraf lainnya. Neuron terdiri dari inti sel (neucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktifitas dari sel saraf satu ke sel saraf lainya.
2.      Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfer menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide. Oleh karena itu, proses belajar yang murni tidak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman. Bagi piaget, aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman.
3.      Sosial experience adalah aktifitas dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendegarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturannya sendiri. Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual. Pertama, pengalaman sosial akan dapat meningkatkan kemampuan bahasa. Kedua, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentricnya. Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya. Pengalaman semacam itu bermanfaat untuk mengambangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran etika, dan lain sebagainya.
4.      Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Ada halnya anak dituntut untuk memperbaharui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai.
Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya;
a.       Berorientasi pada pengalaman intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Oleh karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa mampu menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktifitas mencari dan menemukan sesuatu. Makna dari “sesuatu” yang harus ditemukan oleh siswa melalui proses berfikir adalah sesuatu yang dapat ditemukan, bukan sesuatu yang tidak pasti, sehingga setiap gagasan yang harus dikembangkan adalah gagasan yang dapat ditemukan.
b.      Prinsip interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. Guru perlu mengarahkan agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya melalui interaksi mereka. Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri. Misalnya, interaksi hanya terjadi pada siswa yang memiliki kemampuan bicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang subtansi permasalahan yang dibicarakan kurang atau guru justru meninggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri.
c.       Prinsip bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berfikir. Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Berbagai jenis dan tehnik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.
d.      Prinsip belajar untuk berfikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan, baik otak reptile, otak limbic, mupun otak neokorteks. Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. Belajar hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk untuk berfikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”. Oleh karena itu, belajar berfikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukan unsur-unsur estetika dalam proses pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan.
e.       Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah suatu proses mencoba berbagai kemungkinan. Segala sesuatu mungkin saja terjadi. Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnya. Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenaranya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
D.    PROSEDUR PELAKSANAAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
Secara umum proses pembelajaran inkuiri adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut : orientasi, merumuskan masalah, mengajukan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan merumuskan kesimpulan. Penjelasan setiap langkah dalam proses pembelajaran inkuiri diatas, adalah sebagai berikut :
1.      Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi adalah :
a.       Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
b.      Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
c.       Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.

2.      Merumuskan masalah.
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada satu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menentang siswa untuk berfikir memecahkan teka-teki itu. Beberapa hal yang diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya ;
a.       Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
b.      Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
c.       Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.

3.       Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Dalam konteks ini hipotesis yang dimaksud adalah ketika guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang mendorong siwa untuk merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu masalah yang sedang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berfikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan bersifat rasional dan logis.
4.      Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
5.      Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Adapun yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan.
6.      Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendiskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan langkah penting dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, banyaknya data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukan pada siswa data mana yang relevan.
E.     MODEL-MODEL STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
1.      Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)
Pendekatan inkuiri terbimbing yaitu pendekatan inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya. Pendekatan inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Dengan pendekatan ini siswa belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan secara mandiri. Pada dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep pelajaran matematika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding yang diperlukan oleh siswa.

2.      Modified inquiry
Model ini memiliki ciri bahwa guru hanya memberikan permasalahan melalui pengamatan, percobaan atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. Disamping itu guru merupakan nara sumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah.
3.      Free inquiry
Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis model inkuiri ini lebih bebas dari pada kedua jenis inkuiri sebelumnya.
4.      Inquiry role Approach
Model pembelajaran inkuiri pendekatan peranan ini melibatkan siswa dala tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu sebagai koordinator tim, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.
5.      Invitation Into Inquiry
Model inkuiri jenis ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang lain ditempuh para ilmuwan. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada para siswa dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin semua kegiatan berikut:a) Merancang eksperimen, b) Merumuskan Hipotesis, c) Menentukan sebab akibat, d) menginterpretasikan data, e) Membuat grafik, f) Menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan peneitian, g) mengenal bagaimana kesalahan eksperimental mungkin dapat dikurangi atau diperkecil.
6.      Pictorial Riddle
Pada model ini merupakan metode mengajar yang dapat mengembangkan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil atau besar , gambar peragaan, atau situasi sesungguhnya dapat digunakan untuk mningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif para siswa. Biasanya, suatu riddle berupa gambar dipapan tulis, poster, atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riddlie itu.
7.      Synectics Lesson
Pada jenis ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu siswa dalam berfikir untuk memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.
8.      Value Clarification
Pada model pembelajaran inkuiri jenis ini siswa lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses pembelajaran.

F.      VARIASI PENGEMBENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
Ø  Control Guided Discussion
Variasi pengembangan Pembelajaran Inkuiri dengan model Control Guided Discussion, adalah starategi pembelajaran dengan berbasis inkuiri dimana guru sabagai fasilitator berupaya untuk membantu dan mengembangkan keterampilan siswa dalam memahami pelajaran dengan cara menciptakan desain pembelajaran yang menyenangkan. Model ini mengharuskan guru untuk melakukan dialog dan mengadakan diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa. Sebelum guru mengajukan pertanyaan kepada siswa guru hendaknya melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Guru melakukan pengenalan masalalah terkait topik yang menjadi pokok pembahasan dengan menjalaskan secara umum masalah yang akan dibahas. Pada tahap pengenalan ini kemampuan guru untuk mendesain pembelajaran semenarik mungkin sangatlah diperlukan agar tercipta suasana yang menyenangkan, misalnya dengan mengajak siswa untuk menonton video atau film, menjelaskan topik permasalahan dengan gambar, atau dengan media lain yang dapat membantu.
Setelah guru menjelaskan topik permasalahan barulah kemudian guru mengarahkan siswa untuk membuat hipotesis sederhana terkait masalah yang sedang dibahas. Dengan berkelompok guru meminta siswa untuk membuat bukti atau penjelasan yang menguatkan hipotesis mereka berdasarkan dari pengenalan topik melalui video atau gambar seperti yang disebut di atas. Dengan demikian, guru telah membantu siswa untuk kreatif dalam berfikir dan problem solving dengan kemampuan siswa sendiri.
Demikianlah langkah dari variasi pengembangan pembelajaran inkuiri dengan model pendekatan control and guided discussion yang bertujuan untuk menciptkan iklim pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa lebih mudah mencerna materi yang disampaikan oleh guru.

G.    KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN STRATEGI PEMBELAJARAN IKUIRI
1.      Keunggulan
a.       Menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik secara seimbang.
b.      Siswa menjadi aktif dalam mencari dan mengolah sendiri informasi.
c.       Siswa mengerti konsep-konsep dasar dan ide-ide secara lebih baik.
d.      Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
e.       Siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
f.       Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dalam transfer konsep yang dimilikinya kepada situasi-situasi proses belajar yang baru.
2.      Kelemahan
a.       Jika guru tidak dapat merumuskan teka-teki atau pertanyaan kapada siswa dengan baik, untuk memecahkan permasalah secara sistematis, maka akan membuat murid lebih bingung dan tidak terarah.
b.      Kadang kala guru mengalami kesulitan dalam merencanakan
pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c.       Dalam implementasinya memerlukan waktu panjang sehingga guru sering sulit menyesuaikannya dengan waktu yang ditentukan.
d.      Pada sistem klasikal dengan jumlah siswa yang relatif banyak;
penggunaan pendekatan ini sukar untuk dikembangkan dengan baik.
e.       Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi, maka pembelajaran ini sulit diimplementasikan oleh guru.

H.    PERAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI DALAM MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK
Tujuan dari pembelajaran setidak-tidaknya seorang guru menanamkan tiga domain, yakni, kognitif, afektif dan psikomotor dan ketiga domian itu secara langsung akan tertanam pada setiap siswa yang mengikuti suatu proses pembelajaran. Oleh karena itu, yang paling mendasar dipafami oleh guru adalah melatih siswa untuk berpikir, memecahkan masalah dan menemukan sesuatu bukan merupakan tujuan pendidikan inkuiri. Di samping itu juga strategi pembelajaran inkuiri diharapkan mampu membangun karakter peserta didik. Darmiyati Zuchdi, dkk. Berdasarkan  Seminar  dan  Lokakarya  Restrukturisasi  Pendidikan Karakter  (2008)  di  UNY,  telah  dihasilkan  sejumlah  nilai-nilai  target  yang dipilih  oleh  setiap  kelompok  peserta,  yakni  kelompok  pimpinan,  dosen S1, dosen S2 dan S3, mahasiswa, dan  tenaga administrasi. Kemudian dilakukan  analisis  terhadap  frekuensi  kemunculan  pilihan  nilai  dari setiap  kelompok,  sebagai  dasar  untuk  menentukan  nilai-nilai  target  yang dikembangkan di Universitas Negeri Yogyakarta. Dari sekian banyak nilai-nilai yang dimunculkan, akhirnya  terpilih 16 nilai target, yaitu:
1.      Ketaatan  beribadah
2.      Kejujuran
3.      Tanggung  jawab
4.      Kedisiplinan
5.      Etos kerja
6.      Kemandirian
7.      Sinergi
8.      Kritis
9.      Kreatif  dan  inovatif
10.  Visioner
11.  Kasih sayang dan kepedulian
12.  Keikhlasan
13.  Keadilan
14.  Kesederhanaan
15.  Nasionalisme
16.  Internasionalisme
Berdasarkan paparan di atas maka pemakalah menganalisis bagaimana peran strategi pembelajaran inkuiri dalam membentuk karakter peserta didik dengan melihat dari konsep dasar pembelajaran inkuiri. Maka dapat disebutkan sebagai berikut :
a.       Mengarahkan siswa untuk mandiri, karena dalam pembelajaran inkuiri peserta didik tidak hanya berperan sebagai penerima tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran yang disampaikan oleh pendidik.
b.      Menanamkan rasa percaya diri, sesuai dengan konsep dasar dari pembelajaran inkuiri, bahwa siswa diharapkan mampu mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
c.       Menumbuhkan sikap kritis, yakni sikap dan perilaku yang berusaha untuk menemukan kesalahan atau kelemahan maupun kelebihan dari suatu perbuatan.
d.      Membentuk siswa yang kreatif  dan  inovatif,  yakni  berpikir  dan  melakukan  sesuatu  untuk  menghasilkan  cara  atau  hasil  baru  dan  termutakhir  dari   apa  yang telah dimiliki.
BAB III  
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Proses belajar inkuiri tidak dapat dipisahkan dari aktifitas dan interaksi, karena persepsi dan aktifitas berjalan seiring secara dialogis. Pengetahuan tidak dipisahkan dari aktifitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, dan di mana makna diciptakan, serta dari komunitas budaya di mana pengetahuan  didesiminasikan dan diterapkan. Dalam pembelajaran dengan pendekatan inkuiri ini siswa akan dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus diamati, dipelajari, dan dicermati, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman konsep mata kuliah dalam kegiatan pembelajaran. Secara logika apabila siswa meningkat partisipasinya dalam kegiatan pembelajaran, maka secara otomatis akan meningkatkan pemahaman konsep materi pembelajaran, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan prestasi belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri dalam proses pembelajaran di kelas dapat meningkatkan penguasaan konsep materi kuliah sekaligus dapat meningkatkan prestasi belajar.

B.     Saran
Menurut hemat penulis, pelaksanaan strategi pembelajaran inkuiri hendaknya bisa dikemas dengan suasana yang menyenangkan. Penulis menyarankan alangkah baiknya jika strategi pembelajaran inkuiri bisa diimplementasikan pada semua mata pelajaran khususnya mata pelajaran yang menuntut siswa untuk berfikir keras seperti berhitung dan menghafal. Strategi pembelajaran inkuiri bisa juga menjadi terobosan baru dalam pendidikan agama karena selama ini penyampaian pendidikan agama masih terkesan monoton dan kaku. Disampin itu dalam penyampainnya siswa hanya mendengar pemaparan dari guru yang kadangkala justru membuat siswa menjadi bosan dan jenuh, akibatnya siswa tidak benar-benar menangkap materi apa yang telah disampaikan oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA

Asmaul Khair, Peningkatan kinerja Guru  dalam Pengembangan Bahan Ajar Melalui Model inkuiri pada Proses Belajar Mengajar IPS SD (Penelitian Tindakan Kelas pada kelas V SDN 02 (Banjarsari Kodya Metro lampung), Tesis, Bandung: PPS UPI Bandung, 2000.
Darmiyati Zuchdi, dkk. Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Komprehensif Terintegrasi dalam Perkuliahan dan Pengembangan Kultur Universitas, Yogyakarta: UNY Press, 2010.
Hamruni, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009.
Sukma Erni, Implementasi Strategi Pembelajaran Inkuiri Dalam Mata Pelajaran IPS SD Kurikulum KTSP, Riau: Fakultas Tarbiyah UIN Sultan Syarif Kasim, 2008

Strategi Pembelajaran Ekspositori


STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI BERMUATAN KARAKTER

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Kegiatan belajar mengajar merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, Siswa melakukan kegiatan belajar karena guru mengajar, dan guru mengajar karena siswa belajar. Oleh karena keduanya merupakan suatu keterpaduan, maka pendekatan atau strategi mengajar yang digunakan oleh guru sangat menentukan keberhasilan kegiatan belajar siswa. Agar pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif dan efisien, diperlukan adanya perencanaan yang tersusun secara sistematis, demi tercapainya tujuan yang menjadi target kesuksesan sebuah pembelajaran.
Penggunaan metode ekspositori ini siswa tidak perlu mencari fakta-fakta, konsep dan prinsip tentang pelajaran, karena semuanya telah diterangkan secara lengkap dan jelas oleh guru. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori cenderung berpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi pembelajaran secara terperinci tentang materi yang akan diajarkannya. Metode ekspositori sering dianalogikan dengan metode ceramah, karena sifatnya yang sama-sama memberikan informasi pada umumnya guru lebih suka menggunakan metode ceramah kemudian dikombinasikan dengan metode tanya jawab.

BAB II
PEMBAHASAN

   A.    KONSEP STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa-siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Roy killen (1998) menamakan strategi ekspositori ini dengan istilah strategi pembelajaran langsung (direct instruction).
Metode strategi ekspositori terkadang selalu disamakan dengan metode ceramah karena mempunyai sifat yang sama yaitu sama-sama menyampaikan informasi secara lisan. Metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan komunikasi lisan. Metode ceramah lebih efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi dan pengertian. Metode ceramah banyak dipilih karena mudah dilaksanakan dengan persiapan yang sederhana, hemat waktu dan tenaga, dengan satu langkah langsung bisa menjangkau semua siswa dan dapat dilakukan cukup di dalam kelas. Agar metode ceramah efektif, perlu dipersiapkan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, merumuskan tujuan instruksional khusus yang luas. Kedua, mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa. Ketiga, menyusun bahan ceramah dengan menggunakan bahan pengait (advance organizer). Keempat, menyampaikan bahan dengan memberi keterangan singkat dengan menggunakan papan tulis, memberikan contoh-contoh yang kongkrit dan memberikan umpan balik (feedback), memberikan rangkuman setiap akhir pembahasan materi. Kelima, merencanakan evaluasi secara terprogram.
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Dikatakan demikian, sebab dalam strategi ini guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui strategi ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa.
Kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan bersama dengan temannya, dan seorang siswa diminta mengerjakan di papan tulis. Saat kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna, maka akan dijelaskan kembali oleh guru hingga peserta didik mengerti atau paham terhadap materi pembelajaran tersebut.
Strategi pembelajaran ekspositori akan efektif apabila: Guru menyampaikan bahan-bahan baru serta kaitanya dengan yang akan dipelajari siswa. Biasanya bahan atau materi baru itu diperlukan untuk kegiatan-kegiatan khusus, seperti kegiatan pemecahan masalah atau untuk melakukan proses tertentu. Oleh sebab itu, materi yang disampaikan adalah materi-materi dasar seperti konsep-konsep tertentu, prosedur, atau rangkaian aktifitas, dan yang lainya.
1.      Jika bahan pelajaran yang diajarkan cocok untuk dipresentasikan, artinya dipandang dari sifat dan jenis materi pelajaran memang materi pelajaran itu hanya mungkin dapat dipahami oleh siswa manakala disampaikan oleh guru.
2.      Jika ingin membangkitkan keingintahuan siswa tentang topik tertentu.
3.      Guru menginginkan untuk mendominasikan suatu teknik atau prosedur tertentu untuk kegiatan praktek.
4.       Apabila seluruh siswa memiliki tingkat kesulitan yang sama sehingga perlu menjelaskan untuk seluruh siswa.
5.       Apabila guru akan mengajarkan pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemampuan pada tingkat menengah ke bawah.

   B.     NILAI-NILAI KARAKTER DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Nilai-nilai karakter dalam pendidikan ekspositori sangat dominan berpengaruh terhadap hal-hal positif  yang dimiliki oleh siswa:
1.      Siswa akan lebih tertata mentalnya ketika menghadapi orang banyak di depan kelas. Dorongan seorang guru yang begitu bersemangat adalah stimulus yang signifikan diberikan terhadap siswa. Ini adalah hal sepele bagi kita, tapi dari hal-hal seperti itu membuat para siswa yakin, dan berbangga dengan kepercayaan yang diberikan.
2.      Tidak segan-segan mendekatkan diri serta membuka diri bagi mereka sehingga tidak canggung ketika ingin bertanya terhadap guru bersangkutan. Proses kedekatan ini akan membuat ikatan yang kuat antara guru dan murid yang imbasnya memberi efek positif bagi para siswa. Para anak didik yang telah menerima pembelajaran ekpositori lebih cepat tanggap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh para pendidik, adapun juga bagi siswa yang berloading lambat tetap ada kemajuan ketika berdiskusi dan berinteraktif terhadap teman-temannya.
3.      Para siswa juga akan meniru gerakan-gerakan yang dilakukan oleh gurunya ketika berceramah menerangkan materi untuk siswa, Pengaruh guru memberikan dengan suara lantang dan penuh makna, siswa akan berlomba-lomba belajar. Mereka akan bersaing dengan teman-temannya, tidak mau kalah sebelum berjuang. Berdiskusi membuat mereka saling berpikir untuk memperoleh jawaban yang akurat terhadap suatu pertanyaan yang dianggap sulit, ini memperngaruhi proses intelektualnya dalam berpikir menyaring hasil-hasil diskusi dalam pikiran mereka.

   C.     PROSES DAN KARATERISTIK PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Terdapat beberapa karakteristik strategi ekspositori di antaranya:
1.      Strategi ekspositori dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikkannya dengan ceramah.
2.      Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
3.      Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri. Artinya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.
4.      Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Fokus utama strategi ini adalah kemampuan akademik (academic achievement) siswa. Metode pembelajaran dengan kuliah merupakan bentuk strategi ekspositori.

   D.    PRINSIP-PRINSIP PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Dalam penggunaan strategi pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru atau pendidik. Dan beberapa prinsip itu diantaranya yaitu:
1.      Berorientasi pada tujuan
      Walaupun penyampaian materi pelajaran merupakan ciri utama dalam strategi pembelajaran ekspositori melalui metode ceramah, namun tidak berarti proses penyampaian materi tanpa tujuan pembelajaran. Justru tujuan itulah yang harus menjadi pertimbangan utama dalam penggunaan strategi ini. Karena itu sebelum strategi ini diterapkan terlebih dahulu seorang pendidik harus merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas dan terukur.
2.      Prinsip Komunikasi
Proses pembelajaran dapat dikatakan sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian dari seseorang ( sumber berita ) kepada seseorang lainnya ataupun kelompok lainnya ( penerima berita ).
3.      Prinsip Kesiapan
Dalam teori koneksionisme, kesiapan merupakan salah satu hukum belajar. Inti dari hukum belajar ini adalah bahwa setiap individu akan merepon dengan cepat setiap stimulus manakala dalam dirinya sudah memiliki kesiapan; sebaliknya, tidak mungkin setiap individu akan merespon setiap stimulus  yang muncul manakala dalam dirinya belum memiliki kesiapan.
4.      Prinsip Berkelanjutan
Proses pembelajaran ekspositori harus dapat mendorong siswa untuk mau mempelajari materi pelajaran lebih lanjut. Ekspositori yang berhasil adalah manakala melalui proses penyampaian dapat membawa siswa pada situasi ketidakseimbangan (disequilibrium), sehingga mendorong mereka untuk mencari dan menemukan atau menambah wawasan melalui proses belajar mandiri.

   E.     PROSEDUR PELAKSANAAN STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Sebelum diuraikan tahapan penggunaan strategi pembelajaran ekspositri terlebih dahulu diuraikan beberpa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan strategi ekspositori ini yaitu diantarnya:
1.      Merumuskan tujuan yang ingin dicapai
Merumuskan tujuan merupakan langkah pertama yang harus dipersiapka guru. Tujuan yang ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik yang berorientasi kepada hasil belajar. Tujuan yang spesifik akan semakin memperjelas kemana arah yang ingin dicapai. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain dapat membimbing siswa dalam menyimak materi juga akan diketahui efektivitas dan efisiensi ppenggunaan strategi ekspositorinya.
2.      Kuasai materi plajaran dengan baik
Penguasaan materi pelajaran dengan baik merupakan syarat mutlak penggunaan strategi ekspositori. Agar guru dapat menguasai materi pelajaran ada beberapa hal yang dapat dilakukan Pertama, pelajari sumber-sumber belajar yang mutakhir. Kedua, persiapkan masalah-masalah yang mungkin muncul dengan cara menganalisis materi plajaran sampai detilnya. Ketiga, buatlah garis besar materi pelajaran yang akan disampaikan untuk memandu dalam penyajian agar tidak melebar.
3.      Kenali medan dan berbagai hal yang dapat mempengaruhi proses penyampaian.
Mengenali medan atau lapangan merupakan hal penting dalam langkah persiapan. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran.
Beberapa hal yang berhubungan dengan medan yang harus dikenali yaitu pertama, latar belakng peserta didik yang akan menerima materi. Kedua, kondisi ruangan, baik menyangkut luas dan besarnya ruangan, cahaya, posisi tempat duduk, maupun kelengkapan ruangan itu sendiri..
Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori yaitu diantaranya.
1.      Persiapan (preparation)
Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan persiapan adalah:
a)      Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif
b)      Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar
c)      Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa
d)     Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka
2.      Penyajian (presentation)
Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam langkah ini yaitu:
a)      Penggunaan bahasa
b)      Intonasi suara
c)      Menjaga kontak mata dengan siswa
d)     Menggunakan joke-joke yang menyegarkan
3.      Menghubungkan (correlation)
Langkah kolerasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.
4.      Menyimpulkan (generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti dari materi pelajaran yang telah disajikan, langkah ini cukup penting dalam strategi ekspositori karena melalui langkah ini maka siswa dapat mengambil inti sari dalam proses penyajian. Menyimpulkan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu pertama, dengan cara mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok permasalahan. Kedua, dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang relevan denagn materi yang telah disajikan. Ketiga, dengan cara maping melalui pemetaan keterkaitan antar materi pokok-pokok materi.
5.      Penerapan (application)
Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru dalam proses belajar mengajar.

   F.      VARIASI PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
Dalam strategi pembelajaran ekspositori para pendidik dapat mengembangkan berbagai macam metode sebagai pendukung proses berjalannya metode ekspositori ini. Tidak hanya sekedar ceramah saja yang justru akan membuat para peserta didik jenuh dan mengantuk. maka dapat dilakukan dengan cara mengembangkannya yaitu:
1.      Metode ekspositori dengan model pidato, yaitu dengan intonasi suara yang jelas dan keras serta dengan penuh semangat sehingga akan menimbulkan rasa semangat pula untuk mendengarkan dari para peserta didik.
2.      Metode ekspositori yang tidak monoton, dalam artian seluruh badan harus ikut digerakkan, seperti halnya ketika melakukan metode ekspositori ini maka seorang pendidik tidak hanya berdiri tegak saja namun dapat berkeliling atau bahkan dapat menggerakkan anggota badan yang lainnya bila memang dibutuhkan.
3.      menngunakan metode ekspositori atau ceramah dengan penekanan-penekanan secara langsung dan mengejutkan sehingga para peserta didik tidak mudah jenuh dan mengantuk, selain itu juga diperlukan sesekali para peserta didik dibawa untuk rileks dengan adanya permainan atau kuis terkait dengan materi yang sedang diajarkan.

   G.    KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI
1.   Keunggulan
Stategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi pembelajaran yang banyak dan sering digunakan, hal ini dikarenakan strategi ekspositori ini memiliki beberapa keunggulan yaitu diantaranya:
a.       Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, dengan demikian ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelaran yang disampaikan.
b.      Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
c.       Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang sesuatu materi pelajaran, jugasekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi ( melalui pelaksanaan demonstrasi )
d.      Keuntungan lain dalah srtategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
2.      Kelemahan
Disamping memiliki keunggulan, maka strategi pembelajaran ekspositori juga memiliki kelemahan yaitu diantaranya.
a.       Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik. Untuk siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu maka perlu digunakan strategi yang lain.
b.      Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
c.       Karena srtategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
d.      Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru,.
e.       Oleh karena gaya komunikasi strategi pembelajaran ekspositori lebih banyak terjadi satu arah, maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pelajaran akan sangat terbatas pula. Disamping itu komunikasai satu rah akan mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki akan terbatas pada apa yang diberikan oleh guru saja.

   H.    PERAN STRATEGI PEMBELAJARANEEKSPOSITORI DALAM MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK

Dalam hal ini pembelajaran ekspositori sanagatlah berpengaruh dalam membangun karakter sebab didalam pembelajaran ekspositiri terdapat berbagai ragam peroses pembelajaran yang menumbuhkan rasa nilai etika dengan menggunakan penekanan yang menimbulkan motivasi.
Dalam pembengunan karakter, guru harus bekerjasama dengan keluarga ataupun orang tua peserta didik. Dengan pembelajaran ekspositori dapat menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter pesertadidik untuk membangun keberadaan bangsa yang lebih bermartabat, oleh karena itu pendidikan harus diletakan pada posisi yang tepat, apalagi memghadapi konflik yang berbasis pada ras, susku dan keagamaan. pendidikan karakter bukanlah sekedar wacana tetapi realitas  impelementasinya bukan sekedar kata-kata tetapi tindakan dan bukan symbol ataupun selogan, tetapi berpihak yang cerdas membangun keberadaan bangsa Indonesia.
Setrategi pembelajaran ekpositori berperan besar terhadap perkembangan dan kepribadian mereka, terlihat dari guru  yang menyampaikan materi yang dibutuhkan para perserta didik, sehingga mmebuat mereka lebih memahami isi dari penyampaian guru terhadap materi yang di ajarkan, karakter dpat terbentuk ketika perserta didik dalam keadaan tenang.  Proses pembelajaran ekspositori memang sangat tepat apabila diterapkan dilikngkungan sekolah yang kondusif, keberadaan sekolah, lingkungan, luas ruangan yang membuat para peserta nyaman melakukan proses pembelajaran.
Metode ekspositori memang sangat menekankan materi secara bahasa, dan vocal sehingga siswa peserta didik mudah terkontrol pola kepahamannya. Pasalnya peserta didik yang diam mendengarkan secara serius penyampaian materi-materi oleh guru, sehingga mereka dapat menangkap dan merangsangnya ke otak. Jadi walau jumlah siswa banyak namun bisa efektif karena selalu memberi gambaran dan respon positif kepada para peserta didik.
Dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat berpengaruh terhadap karakter dan kepribadian siswa. Pada pola penyampaian memang harus sesuai dengan pola ekspositori, tidak boleh terlalu melebar pembahasan dan proses penyampaiannya.
Siswa sangat membutuhkan setrategi pembelajaran oleh guru yang serat dengan karakter mereka dan menyesuaikan umur yang ada pada mereka. Para siswa sesungguhnya adalah seorang murid yang sedang mengalami proses penggodokan dalam wadah sebuah lembaga sekolha baik itu formal dan non formal. Serta tidak membeda-bedakan seorang siswa satu dengan yang lainnya, karena percampuran anak dalam proses pembelajaran menjadikan sebuah keberagaman dalam berpikir. Terciptalah sebuah kegiatan pembelajaran yang diinginkan, murid memahami karkteristiknya yang belum dikenal sehingga dengan dekat dirinya sendiri.


BAB III
PENUTUP
Setelah memahami proses pendidikan dengan strategi ekspositori, yang mengajarakan siswa untuk memahami materi-materi pelajaran yang diajarkan, guru dengan mengedepankan proses cermah dan bicara kepada siswa sangat mudah dipahami proses penyampaiannya, kemudian menyuruh para siswa untuk menulis dan mendiskusikannaya dengn teman sebayanya. Pproses pembelajaran melalui metode ceramah meringankan siswa untuk mendengar dan menyaring apa saja yang disampaikan oleh guru di depan kelas.
Guru memberi rangsangan materi ke otak siswa, sehingga siswa dapat mengingat poin-poin pentingnya, proses ini sangat bagus bagi perkembangan para siswa. Pembahasannya juga dapat menambah mereka dalam pola berpikir, setrategi dalam konsep verbal memang lebih efisien dan efektif dalam mencapai tujuan yang diinginkan agar para siswa dapat unggul dalam proses pembelajaran tersebut.
Sebelum memulai proses pembelajaran, guru bisa memberi persiapan yang matang demi kesiapan siswa menerima proses pembelajaran. Dengan memancing siswa untuk belajar terbuka dan menciptakan proses pembelajaran saling tanya jawab. Sehingga terjadi proses pembelajaran yang sangat signifikan antara guru dan murid.

BAHAN BACAAN
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara. 2001.
Hamruni, Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif Menyenangkan, Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2009.
Zulfa, Umi, Srtategi Pembelajaran, Cilacap: Al-Ghazali Press. 2010
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana, 2010.
Zulfa, Umi Z, Strategi Pembelajaran, Cilacap: Al-Ghazali Press. 2010.

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...