Selasa, 14 Maret 2017

MEMELUK GADIS PENDOSA



MEMELUK GADIS GADIS PENDOSA
By Alkanjawi
Pukul setengah dua dini hari, kita baru beranjak setelah sekitar sejam duduk-duduk sambil nyusu cokelat di Burjo Barokah. Bersama teman, Dulakim dan Dulkasep, kita mengobrolkan substansi suatu objek padat di seberang jalan kita minum. Terrace, sebuah tempat hiburan malam yang dini hari masih ramai pengunjung. Parkiran depan penuh walaupun mobil-mobil berdatangan silih berganti. Gedung besar itu memang kelihatan sepi dari luar, namun suara jedak-jeduk musik disko dari dalamnya amat terasa menggetarkan area sekitaran. 
Bukan tentang objek suatu tempat yang kita bicarakan, melainkan sedikit tentang hiburan, gaya hidup, dan orientasi individu yang akrab dengan dunia gemerlap di daerah Babarsari itu.  
Inilah bagian sisi kota Yogya, seperti kota-kota lain dimana terdapat kebiasaan adaptif membangun lokasi hiburan sebagai penyedia layanan kepuasan bagi para pekerja yang otaknya dipenuhi pikiran penat. Mereka menghibur diri dengan minum minuman keras, berjoget bebas untuk bisa “terbang” dan sejenak lepas dari jerat masalah. Di sisi lain, gadis-gadis muda seumur 20-an yang bersih, wangi dan penampilan cantik berpakaian seksi menjadi pramuhibur bagi kalangan yang haus hiburan itu. Tak bisa dipungkiri, gadis-gadis muda itu so happy karena terlanjur tahu bagaimana mendapatkan keuntungan finansial dengan mudah. Kemolekan tubuh mereka masih dihargai cukup mahal oleh industri hiburan.  
Kita sambil ngobrol mulai memperhatikan para gadis yang keluar dari diskotik. Kita sengaja menaruh perhatian karena anak-anak gadis setelah keluar kemudian mereka berjalan menuju ke ruangan burjo tempat kita kongkow. Mereka nampak capek tapi sibuk memeriksa smartphome sambil minum es soda dan ngobrol ditemani cowok seusia. Saya lihat cowok-cowok itu bukan dari dalam Terrace, mereka memakai jaket agak tebal. Saya menduga cowok-cowok ini pacar mereka, atau jika tidak, anak-anak gadis itu adalah mahasiswi, dan teman-teman cowok itu mungkin sekedar teman kuliah yang menjemput mereka sepulang kerja part-time.
Dulakim teman saya berkata lirih: “saya kasihan dengan mereka” katanya sambil bibirnya menunjuk ke arah gadis-gadis cantik itu. “kenapa bang”. Sahut saya. Dia memandang kalau anak-anak gadis itu kerja part-time sebab mereka membutuhkan uang untuk beli keperluan-keperluan mewah. Semua itu untuk memperlihatkan hidup yang bergaya. Mereka malu atau tidak berani minta kepada orang tua dan terpaksa kerja paruh waktu untuk mendapat honor yang cukup besar. Sebagaimana pengalaman teman saya, untuk ukuran tempat hiburan tersebut, kira-kira gadis-gadis itu satu jam dapatlah kalau 500 ribu.
“Kasihannya kenapa bang?” kejar saya. Ia menjelaskan: Ya itukan kalau mereka masih muda. Masih laku kalau tubuhnya masih kencang, kulitnya masih mulus, kalau menggoda masih menggairahkan. Coba kalau nanti sudah usia 35 atau 40 tahunan, kamu lihat wanita-wanita di Malioboro yang kakinya ada tato, atau wanita yang bahunya terbuka kalau berpakaian, itu yang mau sama mereka siapa? Kamu mau sama mereka?
Masuk akal juga penjelasannya. “saya sebenarnya tidak tega melihat mereka”. Tandasnya. Jikalau ada kesempatan, Dulakim ingin sekali menyelamatkan mereka dari dunia gelap. Coba pikirkan, mereka (gadis-gadis) itu pasti mau, bahkan sangat senang kalau ada laki-laki baik yang datang dan mengajaknya menikah, membimbing mereka meninggalkan kebiasaan buruk itu. Kalau nanti bersuami, pasti mereka maunya dapat yang baik-baik. Jika disuruh memlilih, mereka tidak akan mau kalau menikah dengan lelaki yang biasa berlangganan di situ.
Termanggut-manggut saya mendengar tuturan Dulakim. Tak terasa saya lihat gelas sudah sampai di pangkal dasarnya. Minuman sudah habis, sementara dahaga belum mau pisah dari tenggorokan. Maklum, sebelumnya kita menghabiskan dua jam melatih vokal dengan lagu-lagu rock melayu di tempat karoke Shangrilla di daerah yang sama. Dulkasep masih ah-oh. Ia kurang paham tentang bagaimana kerja malam di tempat hiburan. Namun, duduk-duduk di warung Burjo itu kiranya sudah lebih dari cukup sebagai hiburan tersendiri baginya karena sejak tadi mukanya kusut. Habis marahan sama pacar. Katanya.
Sampai tulisan ini diketik, saya belum bisa berhenti berpikir tentang anak-anak gadis di klabnight itu. Apa benar mereka bekerja karena terpaksa? Apa iya mereka bersedia lacur kepada orang-orang berduit supaya bisa dapat duit? Untuk apa diut itu? Lalu, siapakah yang tanggung jawab kepada mereka? Siapa yang bersedia mengentaskan mereka dari lahan yang basah akan dosa itu? Jika ini berlangsung terus-terusan, siapa yang mesti disalahkan? Runyam kan masalahnya!
Diskotik telah menjadi lokal kecil tempat sumber masalah yang pelik untuk dicari jalan keluar. Di Yogya ada ratusan jumlahnya. Ribuan banyanknya di Indonesia, dan jutaan lain tersebar di seluruh dunia. Seolah-olah tempat hiburan telah menjadi kebiasaan yang lazim dan lumrah di tengah masyarakat kota. Namun begitu, rasanya masih mengganjal di jalan nalar akal sehat saya; perbuatan yang mendewakan nafsu itu tidak pantas dilakukan oleh manusia.
Tidakkah anak-anak gadis itu tahu efek buram jangka panjang untuk dirinya, keluarga atau generasi yang mereka turunkan kelak? BIla tak ada yang memperingatkan mereka akan kebaikan di dalam tempat itu, maka rasanya sungguh layak berdosa setiap pejuang kebaikan dari agama manapun di kota ini. Lebih-lebih para pendeta, kiai, bikhu, atau orang-orang pendakwah suci dari LDII, HTI, NU, Muhammadiyah, kalangan sufi. Jikalau persoalan tentang gadis-gadis itu luput dari perhatian mereka, maka tamatlah riwayat saya. Loh, kok malah saya yang tamat? Saya ini kan bukan siapa-siapa!
 Oh God… Please help me.
“Sesungguhnya wanita-wanita yang baik-baik itu untuk laki-laki yang baik-baik.”
 Apakah ayat ini hendak menegaskan bahwa memang ada wanita yang dikuasai oleh nafsu sehingga ia memilih tunduk pada nafsunya sendiri dan ingkar kepada Allah. Ingkar yang artinya abai terhadap pesan-pesan kebaikan sehingga cahaya hidayah terhalang oleh gerhana egoisme nafsu. Jika itu terjadi, maka terjadilah. (mumet). Kalau memang persoalan gadis-gadis itu adalah bagian dari “kehendak,” mengapa hati saya tidak terima melihat mereka berada dalam kehancuran itu. Apakah ketidakterimaan hati saya ini sama dengan ketidakterimaan mereka menjalani nasib buruk sebagai manusia asusila?
 Ya Allah, jika Engkau mengutus saya “memeluk” gadis-gadis itu dengan kasih sayang sebagai manusia, maka perlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Mu. Sesungguhnya persolalan ini bukanlah hal yang ringan sehingga pikiran saya menjadi terbebani karenanya. Kalau saya memilih lari meninggalkan masalah ini, apakah sama halnya saya lari menuju membuat masalah dengan-Mu. Bila kelak di hari pembalasan, karena masalah ini Engkau memerintah malaikat mencegat saya di gerbang surga, maka saya tidak akan melakukan apapun selain menyerah dan tunduk kepada-Mu.
Shubuh, 14 March 2017.




posted by student

Selasa, 07 Maret 2017

ALY D. MUSYRIFA



Selasa 7 March 2017
ALY D. MUSYRIFA
Launching buku puisi karya Penyair Aly D Musyrifa di gedung Teatrikal perpustakaan UIN Sunan Kalijaga telah saya ikuti hingga rampung. Harap Anda tahu, acara ini berbeda dari yang lain: pembacaan puisi-puisi oleh para tokoh, tribut Penyair. Tidak ada diskusi, debat atau perang argument seperti di acara launcing buku sastra pada umumnya. Dan, memang nampak sekali niatnya, acara diselenggarakan untuk menaikdaunkan sang penyair. Hemat saya, sesungguhnya ini harus terjadi dan spesial untuk mengharumkan nama penyair. Kenapa penyair? Karena penyair itulah yang melahirkan puisi-puisi. Lebih dari itu, eksisnya penyair itu menandai bahwa zaman kepenyairan masih belum sirna dari bumi Indonesia.
Saya tentu bukan hadirin penting di acara itu. Namun setidaknya penting bagi saya perlu tahu kalau “O… ini to Penyair, atau penyair itu harus dipublikasi supaya blablabla.” Dari acara ini, saya dan anak-anak generasi muda minimal jadi tahu wajah penyair Aly D Musyrifa. Kita menjadi saksi atas penyair yang bergaya menenteng puisi di kertas, membacanya sambil menata suaranya agar terdengar mantap dan berwibawa di depan mata semua orang, sesekali ia berteriak nada tinggi. Memukau setiap orang dengan lirik dan nada ritmis kata-katanya sendiri. Sedalam kesadaran seorang penyair, tentu saja ia menguasai pengetahuan instrumen show dan insting vokal dalam mendemonstrasikan puisi-puisinya, lebih-lebih untuk tersampaikannya makna pesan supaya audiens terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang dikandung puisi-puisi itu.
Apa ada penyair yang tidak bisa membaca puisi? Kalau yang Anda maksudkan membaca puisi dengan demonstrasi atau deklamasi, tidak semua penyair bisa melakukan itu. Tetapi, sederhana saja, bukankah menulis itu adalah buah dari membaca? Jadi proses menulis puisi itu, selain membaca puisi yang sudah tertulis juga membaca ruh puisi yang bergerak di alam realitas, ruh puisi yang cair di arus kehidupan dan belum terkristalisasi oleh kata. Maksud saya, umpamakan wujud kata puisi itu adalah jabang bayi. Anda lihat bayi imut itu adalah wujud pembekuan dari percintaan, nikmat, mangkel, marah, dan macam-macam yang ahirnya dengan kesabaran dan harapan maka jadilah itu si bayi. Begitulah kata-kata lahir. 
Penyair Aly D. Musyrifa yang telah melahirkan banyak puisi, dapatlah Anda menilai bahwa ia seorang manusia yang menemukan dan menjadi dirinya sendiri. Dia jika sedang serius mengungkap makna, bergulat batinnya dengan fenomena dan ekspektasi, memilah-milah dan merangkai kata, serasa dunia ini berhenti berputar. Bintang-bintang bulan dan matahari hanya emblem artistika yang menyertai khusu keasyikan menuju terciptanya karya yang indah. Saya rasa, Ia berhasil menyusun ketenangan, yang mungkin oleh penyair lain ketenangan itu masih menjadi sebuah pencarian besar.
Aly D. Musyrifa itu hanya satu. Sebagai penyair, ia bukan lain adalah seorang yang bisa masuk dalam sirkulasi kehidupannya sendiri. Realitas dirinya melahirkan puisi, di waktu yang bersamaan pula puisi telah mengukuhkan dirinya sebagai manusia. Untuk ini, saya nyalikan diri menguntai selarik ungkapan sang penyair itu.
“Sekali waktu, saya melihat seorang yang ternyata ia berjalan sendirian begitu sangat keren. Semampai dan flamboyan. Sebelumnya, aku kira dia sedang menari, melambaikan isyarat tangan yang perasannya sedang penuh dinamis, antara bahagia atau sedih. Ia terus bergerak bahkanpun angin tidak berhembus. Ia menapakkan kaki seolah tanah lah yang berkehendak mencium telapak kakinya. Ia menundukkan kepala dan rambutnya yang panjang terurai itu seakan-akan menutupi wajah matahari. Ia yang memperhatikan setiap langkah dengan teliti dan ketekunan seperti rajawali. Ia yang menjinakkan degub badai dalam relung jantung dan merubahnya menjadi angin sepoi. Ia yang begitu keren saat berjalan sendirian itu telah memikat apa saja dengan gayanya berjalan. Ia Aly D Musyrifa adalah pesona.”
Kalau Anda bertanya siapa saya? Saya menjawab: saat ini aku adalah kata-kata yang mempuisikan penyair. 


possted by student

Kamis, 01 September 2016

Makna Kerja ala Orang Jawa

Prinsip hidup ala Jawa:
:
Nyambut gawe diniati sing tenanan kanggo golek panguripan. Sukur bisa nguripi wong sing kekurangan. Sapa seneng andum bakal keduman, sapa seneng pawih bakal luwih.

Artinya:
Bekerja dengan niat yang sungguh-sungguh untuk mencari penghidupan. Syukur-Syukur bisa menghidupi orang yang kekurangan. Barangsiapa suka berbagi pasti akan mendapati, yang suka memberi pasti akan selalu lebih.




pepatah jawa dan artinya
bijak jawa
hidup bijak ala Jawa 



student

Tradisi Baik Sebelum Mengajar



Tradisi Baik Sebelum Mengajar
By Fuad Hasan



Seorang murid tiba-tiba mengajukan pertanyaan dengan nada lirih sewaktu kelas tengah tenang, “Pak, jadi guru itu sulit ngga sih?” Untuk beberapa detik, saya hanya bisa terdiam. Sejenak berdiri mematung di muka kelas, angan-angan saya menjelma bak anak-anak yang ada di balik bangku berjajar. Ya, saya seperti memuda, kembali merasakan masa duduk tenang sebagai murid yang sedang tekun belajar di bawah bimbingan guru.


“Itu pertanyaan, seperti pernah kutanyakan di masa lalu!” Batinku menjawab. Waktu seperti benar-benar berulang, Wajah guru-guru membentuk imajinasi senyuman di dalam cakrawala pikiran. Saya terigat mereka, spontan bibir bergumam: “Allahumma sholli ‘ala Muhammad.” Bersamaa sholawat itu, doaku deras nian mengalir ke samudera ketulusan guru-guruku. 


Ini dinamika usia yang tertali oleh ilmu, sanad perjuangan yang terus bersambung sebagai pewaris tradisi pengajar. Sebuah peristiwa menjadi awal mula, sebelum mulai mengajar, saya telah menyerahkan semua ilmu dan petunjuk pencerahannya kepada Allah. Setelah itu, surah Alfatihah kukirimkan untuk Gudang ilmu, Muhammad SAW, guru-guru ibu bapak, murid-murid dan ilmu itu sendiri.  


Semoga merutin, ini sebagai tradisi baik penjaga kehidupan ilmu dan kemuliaan orang-orang alim.


1 September 2016.
















Sabtu, 11 Juni 2016

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love

Memaknai Lambang Hati, Lambang Cinta, Love



Tanda kalau kamu mulai suka sama orang yaitu kamu akan tertarik pada si dia. Bawaanya, kamu akan menjadi selalu ingin mencari informasi, latar belakang, hobi, pengalaman, cita-cita dan segala macam yang ada hubungannya dengan si dia. Iya kan?

Nah, kondisi kepo semacam itu wajar saja. Asalkan dalam proses dan cara menemukan informasi pada orang yang mulai kamu sukai itu benar dan wajar. Benar itu maksudnya ya proses yang kamu lakukan untuk mendapatkan informasi itu secara terang-terangan dan tidak melanggar hukum. Kalau wajar itu artinya dalam kamu mencari informasi yang jangan aneh-aneh, misalnya sampai datang ke paranormal atau mbah dukun.

Mencari informasi tentang seseorang adalah langkah pertama kamu membangun kepercayaan. Percaya pada apa? Percaya bahwa cinta yang akan kamu selami akan mendapat restu dari semesta alam.  Pentingkah? Jelas! Jika dalam proses kamu tidak benar, alam semesta tidak akan pernah rela cinta yang positif datang kepadamu. Justru, kamu akan dibelenggu cinta yang akan membuatmu gelisah, nestapa, rindu tanpa ujung, atau bahkan kecewa. Jadi, pada poin awal ini kamu mesti hati-hati ya.

Lalu, bagaimana proses yang benar dan wajar mencari informasi tentang si dia? Nah, ini baru pertanyaan bagus. Sekarang yang kamu butuhkan adalah keberanian. Kamu harus mulai menyingkirkan rasa takut untuk jujur dan berbicara secara langsung kepada si dia. Ingat, cinta sejati adalah milik para pemberani. Mulailah latihan berbicara, yakin kan dirimu, dia yang membikinmu tertarik itu adalah sama-sama manusia. Manusia yang juga punya rasa tertarik satu sama lain.

Tak perlu bikin “kode-kodean” yang aneh-aneh. Itu tidak efektif. Menyampaikan sesuatu secara langsung kepada orang yang kita sukai itu terlihat lebih tulus dan “apa adanya”. Bukankah dalam cinta selalu mengutamakan yang apa adanya? Ya, cinta yang “ada apa”nya pasti selalu kandas dihempas kenyataan.

Pada posisi batinmu dipenuhi jutaan pertanyaan untuk kamu tanyakan sama di dia, dalam pikiranmu ada sebuah gelombang yang membentuk tanda tanya. Kalau pertanyaan itu begitu penting dan amat mengganggu pikiranmu, gelombang “tanda tanya” warnanya merah. Nah, gelombang tanda tanya yang muncul itu, jika tidak mendapat jawaban dari yang bersangkutan, ia akan selamanya menjadi tanda tanya. Ia akan menggantung dan membebanimu. Bisa jadi kepalamu akan pening sendiri karena tumpukan pertanyaan.

Maka sampaikanlah pertanyaan-pertanyaan kepomu itu. Maksud saya, supaya kalau tersampaikan ia akan mendapat respon. Kamu akan mendapat jawaban yang melengkapi tanda tanya dalam batinmu. Jawaban itu adalah pancaran atau “bayangan” dari tanda tanya yang tercipta karena ke-kepo-anmu pada orang yang kamu taksir. Jadi jika pertanyaanmu terjawab, maka otomatis lambang-lambang itu akan menjadi bersatu, dan terbentuklah lambang hati.


Tapi tanda tanya itu belumlah benar-benar bersatu. Masih ada tahapan lagi untuk menciptakan lambang hati menjadi “lambang cinta”. Akan ada proses yang rumit, menggemaskan, dan ini menjadi momen terindahmu dalam menjadikan lambang hati sebagai lambang cinta. sementara cukup sampai di sini dulu pembahasan lambang love ini… to be continue

Rabu, 08 Juni 2016

Kemerdekaan Orang Berpuasa

Kemerdekaan Orang Berpuasa
By alkanjawi

Salah satu aspek fungsional puasa yang baru saya sadari hari ini; orang berpuasa memegang kemerdekaan sebagai penyelamat kehidupan.

Sebelumnya, bertahun-tahun lamanya saya termakan pola pikir sendiri, kalau puasa hanya akal-akalan Allah untuk mencoba manusia sekuat mana menahan lapar dan dahaga. Setingkat lebih “nalar”, puasa kemudian saya terjemahkan sebagai ujian yang sengaja Allah wajibkan untuk mengukur tingkat ketakwaan manusia menjalani perintahnya. Karena alasan pertama itu, masa kecil saya ketika datang bulan Ramadhan, tanpa sepengetahuan orang lain saya biasa makan dan minum es di siang bolong. Kedua dalam urusan ketakwaan, saya memilih bertahan tidak makan atau minum apa-apa sampai tiba kumandang azan maghrib. Pola pikir purba tentang puasa yang dulu pernah menghinggapi nalar itu, sepertinya kini sudah terbang dan menghilang.

Proses pengetahuan manusia memang fleksibel dan mudah menerima atau dimasuki stimulan dari mana pun. Semakin banyak bahan bacaan tentang puasa, saya menjadi terpikir puasa adalah media untuk membersihkan jiwa dari “penyakit-penyakit dalam” yang tidak bisa disembuhkan dengan alat-alat kedokteran moderen. Penyakit-penyakit dalam itu terakumulasi dan mengendap dalam tubuh setelah 11 bulan lamanya kita bebas makan dan minum apa saja yang entah dari mana dan dengan cara apa memperolehnya.

Saya terpikir puasa adalah model penyembuhan dari dalam. Dari situ, mengalir penyataan lanjutan: karena itu orang yang sedang sakit atau dalam perjalanan jauh boleh untuk tidak berpuasa. Orang sakit yang dia ikhlas menerima keadaan sakit, dosa-dosanya dimaafkan oleh Allah. Musafir perjalanan jauh yang niatnya tulus mencari ridho Allah dan kemaslahatan manusia, oleh agama disamakan dengan perjalanan menuju masuk surga. Saya mengartikan sakit dan perjalanan jauh (yang menjadi syarat boleh tidak berpuasa) itu sama juga sebagai “metode penyembuhan yang mirip” sebagaimana puasa.

Walaupun sakit dan perjalanan jauh dapat mengurangi beban dosa kita, namun keduanya tidak seimbang kelas penyembuhan dan “kualitas obat” yang dikandung dalam puasa ramadhan. Maka, atas keringanan Allah, kita tetap wajib mengganti puasa di lain waktu. Bila juga tidak memungkinkan puasa, gantinya bisa dengan sedekah. Memberi kebahagiaan pada orang lain. Allah menghendaki puasa ini sebagai penyembuhan diri supaya hidup kita menjadi selalu teriring kemudahan, dan tertutup dari kesulitan-kesulitan di masa mendatang. Mengenai perintah puasa ini, kalau tidak salah Nabi Muhammad mengatakan: Puasalah kalian agar kalian semua sehat.

Poin Penting 

Sebagaimana ibadah lain yang hukumnya wajib, puasa diatur sedemikian rigid mulai dari waktu, cara, sampai ekspresi yang sulit untuk diotak-atik atau diperbarui (kontekstualisasi) dengan cara apapun. Bukan terus maksud saya hendak merubah kesepakatan tatanan ibadah tersebut. Namun, sebagai manusia pikiran-pikiran aneh bisa saja melintas melewati hal apa saja. Misalnya dalam konteks kita bernegara, Mas Joko tidak pantas menjadi presiden Indonesia, pantasnya dia itu presidennya Amerika. Hal aneh semacam ini bisa saja menembus kebakuan normatif keberagamaan kita. Juga termasuk ibadah wajib yang sudah jelas disusunkan segala macamnya oleh para ulama dari nabi sebagai referensi utamanya.

Peritah puasa akan tetap menjadi perintah sampai ketemu ahir hitungan hari dan bulan. Kita semua yang dalam kondisi normal akan tetap tekena wajib ain untuk berpuasa pada bulan ramadhan. Puasa mengembalikan kealamiahan kita semua untuk kebaikan lingkup dunia dan kehidupannya. Skup lebih luas puasa meliputi segala dimensi lahir dan batin, serta lapisan kemanusiaan. Puasa memerdekakan kita untuk hari ini dan masa depan dengan mengenalkan batasan-batasan yang berguna menjaga ketetapan kadar kemanusiaan.

Saya yakin, hewan dan tumbuhan tidak perlu diperintahkan berpuasa, karena secara alamiah pada waktu yang tepat mereka akan berpuasa dengan sendirinya. Kita yang diberi akal, bisa berpikir merengkuh kebebasan, (kalau mau mengakui) sebenarnya kemerdekaan yang kita harapkan adalah kemerdekaan metafisik sebebas-bebasnya atas makan dan minum. Makan minum kekuasaan, kedudukan, kemashuran dengan cara mendominasi, menekan yang lain untuk kepentingan kemerdekaan individual. Maka, tiada lain kemerdekaan yang kita ingini semacam itu lebih cenderung ke arah kerusakan. Bukan kemerdekaan yang mengusung keselamatan rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya perintah puasa bukan hanya sekedar melarang makan minum atau menghindari aktifitas fisik yang membatalkannya. Puasa meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan pemerintahan yang berkaitan dengan manusia. Kita berpuasa selain untuk diri sendiri, juga berfungsi untuk keseimbangan aspek kehidupan, pola pikir, bangsa, bumi, dan alam semesta.

Menjadi merdeka melalui berpuasa berarti kita mampu mengendalikan, mengekang, dan melawan dari segala dorongan nafsu menguasai, menghegemoni, atau menjajah yang itu secara prinsip bertentangan dengan kemerdekaan. Lapar, dahaga dan menahan libido seksual adalah bagian fisikal eksoteris. Di balik itu, berjuta-juta jenis nafsu jahat yang terus bergulat di bagian batin kita, sama sekali tidak pernah telihat oleh realitas empiris. Puasa menembus nafsu yang bergeraknya di alam batin, lalu mengobati, menyembuhkan dengan membuat batas-batas agar nafsu tak bisa sekehendaknya sendiri.

Bagi kita yang mampu membatasi nafsu dengan puasa, balasan pahalanya langsung dari Allah yang Maha Besar. Bisa jadi semua jenis timbangan yang kita kenal, tidak akan mampu mengukur besarnya pahala kita yang benar-benar berpuasa.


Pedakbaru, yk 2016




post by studen











Senin, 06 Juni 2016

Ucapan Terima Kasih

Ucapan Terima Kasih
by Alkanjawi

Tanggal 1 awal ramadan 1437 H, secara personal saya berkali-kali mengucapkan terima kasih untuk tiga hal: kesempatan berpuasa di hari pertama bulan mulia, kedatangan sakit, dan hujan lebat waktu berbuka untuk daerah saya tinggal.

Mengenai ilmu terima kasih, saya tergolong orang yang masih dangkal pemahamannya. Namun begitu, tak pantang untuk surut belajar mengucap kata terima kasih secara terang-terangan dengan lisan dan hati mencoba untuk tulus. Kenapa mesti berterimakasih? Setahu saya, terima kasih adalah satu dari dua inti ajaran keselamatan bagi semua agama, terlebih Islam. kita perlu terima kasih karena apapun yang menjadi bagian fungsional dan struktural pembentuk kemanusiaan kita, semuanya adalah pemberian Allah. Lebih mendasar dari itu, makanan dan minuman yang tersedia sebagai hidangan, sehingga bisa kita konsumsi untuk penghasil energi, tiada lain kecuali semua itu diberi oleh Allah. Tanpa segala macam pemberian itu, kita takkan pernah bisa dan jadi apa-apa.

Lalu kata Allah “wasykuruu lillah” kepada semua manusia, itu merupakan perintah yang nyata untuk senantiasa kita berterimakasih. Seterusnya dari berterimakasih, ekspektasinya adalah kita menjadi ingat kalau kita ini sebenarnya bukanlah siapa-siapa dan tidak punya hak atas apa-apa kecuali “sesuatu” yang semuanya dimiliki Allah. Setelah bisa berterima kasih, kita akan bisa legawa menerima aturan-aturan, yang dengan itu kita dilindungi, diarahkan, dan dijaga oleh Allah untuk kemudian kepadanya kita semua kembali dengan keadaan baik. 

Kata terima kasih berlaku universal untuk apa saja. Tetapi, yang paling tinggi derajat dan hubungan terima kasih hanyalah kepada Allah. Maksud saya, ucapan terima kasih pasti ada sangkut pautnya dengan Allah dan menjadi dasar konteks perlakukannya kepada kita. Dalam sejarah bangsa yang dimenangkan, adalah bangsa yang pandai dalam mensyukuri nikmat apapun, termasuk keadaan itu nampak buruk di sebagian mata manusia. Raja Sulaiman putra Daud yang sukses dengan ilmu pengetahuan dapat membangun kerajaan dan bangsa hingga disegani bangsa lain, pada posisinya sebagai hamba, ia mengembalikan segala sesuatu yang dimilikinya dengan berkata “apakah dengan kejayaan ini akan semakin membuatku kufur ataukah syukur”. Sulaiman bertanya pada eksistensi terdalamnya, dan jawaban yang alamiah mengemuka adalah Sulaiman mampu mensyukuri dengan mengakui bahwa semua itu merupakan pemberian Allah yang harus disyukuri.

Beda halnya pada sikap manusia di sisi lain, yang misalnya dengan karakter angkuh dan tidak kenal kata terima kasih. Dalam cerita sejarah, sebutlah Fira’un. tokoh terbesar yang menguasai seluruh dataran Mesir zaman kuno. Keangkukan itu menghalangi Fira’un dan manusia pengikutnya untuk rendah hati, untuk syukur dan mengakui diri sebagai ciptaan yang lemah. Balasan lisan yang tidak pernah mengatakan terima kasih ialah ia akan dilumat oleh semua kehendak yang tak pernah terucap namun akan tiba-tiba meledak di dalam jantung dirinya sendiri. Kenyataanya, Musa bukanlah orang yang datang dari kerajaan luar melawan Fira’un, melainkan seorang anak yang dibesarkan, diajar strategi, dan dilatih taktik berperang di lingkungan kerajaan sendiri. Dan, memang seringkali kerusakan, kekacauan, dan kehancuran segala sesuatu yang merasa besar nan tak tertandingi justru penghancurnya adalah sesuatu yang berasal dari dalam sendiri.

Memang pada dasarnya sikap terima kasih berkorelasi dengan sikap rendah hati. Bagi kita yang membiasakan diri muhasabah, instrospeksi, menilai, dan menimbang kebaikan dan keburukan diri, kita akan tahu kadar ukuran kita untuk menjadi yang nriman atau yang mbangkang. Namun, bilamana orientasi dalam kehidupan yang kita jalani bukan berdasarkan kadar kemanusiaan kita, yang terjadi adalah kita semakin bodoh dan “dilupakan” untuk menapaki tangga kederajatan yang lebih tinggi sebagai manusia.

Bodoh dan pelupa bukan warisan gen seutuhnya. Manusia menjadi bodoh atau pelupa lebih pada ketidakmampuan mereka dalam mengelola diri, ruang, dan waktu yang semua itu dipasrahkan kepada manusia sebagai faktor penunjang kemuliaan derajat di hadapan Allah. Manusia yang tidak mengerti apalagi mengamalkan syukur, ia akan lebih pada ketergantungan eksternal dan mengabaikan potensi diri yang sebenarnya sama. Peran Allah menjelma pada fungsi alamiah yang bisa kita arahkan untuk kebaikan. Sesungguhnya memang begitulah salah satu cara Allah mengenalkan diri untuk dikagumi oleh akal dan perasaan manusia sehingga mereka menemukan kesejatian eksistensial.

Konsekuensi apabila manusia tidak bersyukur, ia tidak akan menemukan kebenaran di masa sekarang dan dilewatkan untuk urusan penting di masa depan. Sekedar perumpamaan, saat Anda butuh tenaga untuk membenahi atap rumah yang bocor, dan misalnya tetangga Anda, Tarji, ia berkata “Saya panggilkan Pak Karjo saja”. Datanglah Pak Karjo, ia membenahi atap rumah Anda yang bocor. Setelah dapat “imbalan” dari Anda, pak Karjo tidak berterimakasih pada Tarji yang memanggilnya, maka yang terjadi adalah putusnya “tali rizki” yang terhubung antara Pak Karjo, Tarji, dan Allah sebagai perantara hubungan mereka. Bila nanti kejadian serupa terulang, Pak Karjo akan dilupakan Tarji untuk urusan yang lebih penting. Tarji secara alamiah akan menunjuk orang lain untuk dihubungkan dengan kerja dan rizki yang berkaitan dengan Allah.

Hari ini, dalam satu waktu tiba-tiba menyeruak suara batin saya untuk mengucap syukur pada Allah. Saya harap Anda memahami trifakta yang membuat saya berterimakasih: puasa, sakit dan hujan.


Pedak Baru, Bantul, 6 June 2016.




post by student 






Sabtu, 04 Juni 2016

Kepribadian Nomor Satu

Kepribadian Nomor Satu
by Alkanjawi

Untuk urusan perkenal-mengenalan sesama manusia, dan sebelum lebih jauh pada kata “menilai”, alangkah lebih baik kita mesti melihat segala sesuatunya berdasarkan kepribadian.

Menilai seseorang dalam suatu perkenalan memabng bukan perkara mudah, apalagi kalau anda tidak terbiasa menilai ke dalam diri. Tetapi kalau Anda memiliki kemampuan khusus untuk itu, sekali saja bertemu seseorang, menilainya sudah barang tentu mudah, dan berlanjut pada kritik atau saran atau apresiasi apapun. Terkait kemampuan khusus ini, orang-orang yang telah mengetahui dirinya sendiri dialah yang bisa melakukan.

Saya pribadi bukan bagian “orang pintar” yang tahu idealitas di balik realitas seseorang, melainkan baru pada tahap memasuki, mencoba menekuni, dan laku tapa pada journey ke dalam luasnya diri. Apa yang saya cari? Dalam perjalanan, rumus utama yang harus diterapkan adalah menentukan tujuan. Saya bertujuan menemukan ruang dan masa tak berbatas sehingga ketika saya menjumpai diri saya di dalam ruang itu, maka tidak ada yang lain kutemukan kecuali keserba-terbatasan sendiri. Mengapa batas? Karena hakikatnya kita semua adalah makhluk yang hanya mampu hidup dengan adanya batasan. Kita akan rusak, hancur dan celaka bila melanggar batasan-batasan.

Kemudaian, saya yakin kepada Tuhan sang pencipta, menciptakan manusia adalah untuk manusia itu sendiri. Dan, bila mungkin pertanyaan berlanjut: kenapa mesti manusia? Jawabannya, karena manusia adalah semesta ciptaan yang di dalam dirinya ditanam potensi menjadi kekasih. Dalam mencapai tingkat pada posisi kekasih ini, Tuhan sendiri mungkin akan senang mencoba-coba, meguji untuk sebuah kelayakan seorang pribadi menjadi abadi di sisinya.

Dalam kemanusiaan sendiri, banyak sekali unsur-unsur yang mengisi dan meliputinya, Ibarat lingkaran, proporsi utama yang memenuhi manusia sebenarnya adalah Allah. Namun, sebab-sebab lain bisa mungkin masuk dan mengebaki lingkaran kemanusiaan itu, termasuk iblis. Secara fisik. Meskipun manusia diciptakan dengan bentuk yang paling baik, tetapi seorang manusia adalah setitik debu yang hidup dari kumpulan daging dan tulang. Poisi manusia adalah menempel di permukaan bumi. Manusia sekecil ini dilekati oleh daya tarik bumi, sehingga mereka aman dan tidak terpental keluar dari peredaran, ketentuan-ketentuan, dan waktu yang semuanya telah di tetapkan Tuhan.

Substansi dan posisi yang memenuhi kemanusiaan itu, merupakan bahan utama dalam menemukan jalan menemukan hakikat diri. Di situ pula letak kesadaran yang menuntut untuk ditemukan. Pertanyaan akan siapa sebenarnya pribadi yang akan mengisi ruang alam semesta dari manusia yang hanya sekecil debu, akan terjawab sebagai wujud yang harus disadari secara total. Bila kelak di kemudian hari, manusia telah menghadap Tuhan, maka yang dilihat, dinilai, diterima Tuhan adalah ketakawaan yang mana tidak lain itu adalah segala perilaku yang melekat pada kepribadian manusia.

Sesungguhnya kepribadian diri manusia merupakan dasar kepribadian paling fundamental untuk realitas yang meruanglingkupinya. Pada ahirnya, kepribadian desa, kepribadian bangsa, kepribadian negara, kepribadian dunia, dan kepribadian alam semesta baik buruknya tergantung dengan kerpribadian manusia itu sendiri.

Alkanjawi, 4 June 2016.





post by studen  

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...