Kamis, 12 Mei 2016

Kadang Suka Kadang Biasa



puisi-puisi fuad hasan succen


Kadang Suka Kadang Biasa

Kadang-kadang
Dalam renungan apa saja terlihat tak jelas
Ingin ini ingin itu
Keinginan sulit untuk dibatasi

Apa yang membuat suka
Aku mencari keyamanan yang ternyaman
Detik
Setelah bergeser nyaman pergi tiada lagi

Bila sedang tidak peduli akan kadang
Lalu mulai mencoba sebuah kepastian
Kadang datang mengolok-olok dan caci
Kenapa suka, lihatlah betapa ia jelek sekali

Aku runtuh
Kepercayaan menjadi puing-puing
Tak mungkin menyusunnya kembali
Sebab hati juga retak sana sini

Lalu apalah daya
Bila memang kadang-kadang adalah niscaya
Biar cermin renungan ini kuhancurkan saja
Lalu buta segala rencana

Tanpa bayang keinginan
Ini itu adalah aku
Yang tanpa mata
Meluncur ke jurang hampa

---***---

Katakan Cinta

Apa ada cinta?
Ada!
Sudah disampikan dengan kata?
Kau bilang kau ini pemberani

Lihat di luar hujan masih deras
Orang-orang berpuisi tentang langit dan hujan
Kau tahukah dimana petir?
Ia tak pernah ada
Kalau tak mengagetkan
Atau menakutkan!

Apa kau ini masih pemberani?
Jika itu tidak benar lagi
Kau tak perlu jadi seperti petir
Jadilah saja seperti hujan
Setelah jatuhnya hanya sebuah kesepian
Kemana lagi selain menghampiri comberan

Bila ada cinta
Sampaikanlah rasa dengan kata
Sambarkan gelegar suara
Biar ia yang mendobrak gerbang telinga
Biar getar hati dalam istana
Kepada …
Yang membuatmu terpesona

---***---

Kupu-Kupu Merindu

Danau dan gunung dihiasi candi
Danau tempat mandi para bidadari
Dari gunung garuda mengintai sendiri
Saat melihat kain kampuh digelar jadi tirai

Seekor kupu-kupu di kembang membatu
Diam saja melihat air bergelombang membiru
Sedang gadis-gadis dari langit tinggal satu
Tak jadi mandi sebab lupa membawa air susu

Kepada awan si gadis menyeru
Wahai hujan turunlah disisiku
Balutkan air segar dari payudara sucimu
Agar wajah yang bingung menjadi lugu

Bila sudah cantik kuingin menemui manusia
Aku mau bertanya kepadanya tentang cinta
Aku ingin tahu rasanya jatuh cinta
Wahai manusia berilah aku asmara

Kupu-kupu yang diam lalu tergerak diri
Setelah dewi bidadari merindu belai
Kepak sayap lembut memantulkan derai
Di puncak gunung garuda merasa hati

Garuda perkasa menjelma seorang pria
Tampan paras dan senyum memesona
Dewi jelita terpukau memandangnya
Pria gagah menaruh cinta di dadanya

Bahagia berdua mereka di dunia
Membangun candi antara gunung dan telaga
Kupu-kupu masih tetap sebatang kara
Merindu pada khayalan yang tak pernah nyata


---***---

Langkah Pertama

Dari rasa terdalam di hati
Aku mendengar panggilan kecil
Hatiku melangkah senyap mengendap
Belati di tangan menikam jantung sendiri

Engkau gadis jelita yang baru melihat dunia
Merah biru cerita teramat tipis di mata
Jumpa singkat terbalut putih makna
Terpaut senyum termimpi pesona

Engkau yang riang hidup dalam mimpi
Malas dan fantasi teman sepanjang hari
Sedetik waktu berlalu senyum menyemangati
Cinta memang pada anak muda abadi

Katamu rindu mantra suci
Jauh sejengkal tak kuasa ingin selalu bersama
Katamu kangen kehendak setia
Betapa pandai bayang wajah mengelabuhi mata

Rasa mulai tumbuh semai cinta
Gusar dan riskan hampir sama
Bila tenggelam dalam kefanaan
Waspada selamanya tidaklah apa-apa

Anak muda yang mulai ditawan cinta
Bila segalanya telah serasa milik berdua
Ambillah belati dari jantung kefanaan
Biar dengan tangan kita tikam keabadian

Yogyakarta 2015


Jumat, 15 April 2016

Imam dan posisinya




Setelah berpikir dan merenung tentang jalan sebuah keputusan yang akan diambilnya dalam urusan cinta, namun tak jua mendapati solusi yg srek, Alkan tidur lebih awal dari pada malam biasanya. Ia berdoa penuh hadap agar dapat gambaran ilham jawaban dari Tuhan melalui mimpi. Inilah narasi mimpi itu:
***
Di sebuah suaru yang berada di pinggir sungai tepian desa, waktu senja telah tiba dan azhan maghrib berkumandang. Alkan sangat kenal dengan surau itu, tak lain adalah tempat dimana waktu kecil dia belajar mengaji ilmu agama. Di dalam surau, suasana masih sepi, kelihatannya hampir tidak ada orang selain dirinya. Bahkan kiai pun tidak ada di dalam surau, padahal sholat jamaah sudah tepat waktunya.
Merasa ada orang yang baru datang di dalam surau, maka Alkan langsung berdiri untuk shalat mengajak jamaah orang tersebut. Alkan ingin sekali menjadi imam, dan jadilah meraka sholat berjamaah. Di kala niat takbiratul ikram, alkan melafalkan kalimat “imanan lillahi taala.”
Setelah takbir itu ia baru sadar, ternyata Alkan yang posisi berdirinya di tengah ruangan surau itu, ada beberapa orang lain yang dalam satu jamaah posisinya secara garis shaf berada di depan Alkan. Bahkan seorang yang sedang sama-sama sholat itu, posisinya hampir mendekati bilik tempat imam.
Setiap orang (sekitar 10) itu telah berdiri meghadap kiblat sebagai satu-satunya arah sholat. Alkan berdiri di dekat pintu sisi samping surau, dia berdiri paling kiri di antara orang-orang yang berdiri.
Dalam dirinya, Alkan jadi merasa ragu terhadap posisi ia berdiri. Akankah boleh, kalau dalam berjamaah imam sholat posisinya tidak di paling depan. Apakah sah atau tidak sholatnya itu. Kalau awal-awal dia yakin telah menjadi imam sholat, tapi rupanya, ternyata ada orang lain yang secara posisi berada di depannya, keyakinannya itu berubah menjadi keraguan antara sah atau tidak sah. Dia sangat bergejolak, namun tetap saja ia sekuat hati meyakinkan diri mengalahkan keraguan dan meneruskan sholatnya.
Alkan amatlah awam dalam masalah tersebut. Persoalan posisi ini adalah yang pertama kali dialaminya. Betapa dilema dia.
Namun, tiba-tiba saja di tengah orang sedang pada sholat itu, pak kiai datang dari pintu sisi. Kiai yang diikuti beberapa santrinya itu, sambil berjalan lantas saja berkata “sudah-sudah, sholat kalian tidak sah”.
Terbangunlah Alkan dari tidurnya. Sementara hari sudah berganti. 

inaf! interpretasi tobe continue...
Jumat kliwon, 8 rajab 1437 H. 15 April 2016.



posted by student

Kamis, 31 Maret 2016

MEMBUKA TABIR GAIB

 
oleh Alkanjawi
Hari-hari setelah kematian Perwira Naga Putih, Sanuraga kerapkali mendapati bisikan gaib yang mengganggu dirinya. Bisikan itu datang saat menjelang malam. Waktu antara surup atau maghrib itu, Sanu mencoba untuk tak melakuakan aktivitas kecuali bersama orang lain. Kekawatiran bisikan gaib yang akan datang terus mengusik ketakutannya, ia takut terjadi sesuatu di luar kendali dirinya. demi kebaikannya, lantas sanu memilih teman yang pandai dalam hal ilmu gaib. Namanya Gustiasoro, seorang dewasa dari pesantren Wunapraya di tepi pulau Mendo, ada sebuah gunung bernama Klawur dimana terdapat sebuah padepokan yang jarang diketahui orang awam. Di situlah Soro belajar menempa pengetahuan gaib dari kecil hingga sekarang turun gunung setelah memutuskan untuk menikahi gadis desa dari kampung Sanu. Hal-hal penting yang diutarakan Sanu kepada Soro berhubungan dengan keadaan ahir-ahir ini, Sanu sering mendapat gangguan gaib. Soro pun tanggap dan berusaha mencarikan solusi memecahkan kebingungan Sanu itu.
“Sanu, sejak kapan hal itu terjadi padamu?” tanya Soro.
Sanu mencoba menghilangkan rasa takut, ia menjawab “Baru sekitar 4 hari terahir, mas.”
“Aku lihat ada sesuatu yang sedang mengikutimu, seperti sebuah pedang bercahaya putih bergagang naga. Aku kurang tahu siapa yang menggerakkan sebilah pedang itu. Hawa yang kurasakan, pedang itu tidak akan menyakiti atau melukaimu. Tapi bayang-bayang penghuni dari sisi gelap pedang itulah yang sering kamu rasakan membuat kamu tidak nyaman dan merasa terganggu. Memang, seperti ada lima naga hitam kecil jelmaan dari iblis yang beringas dan kejam.”
“Terus aku harus bagaimana, mas?” tanya Sanu.
“kalau boleh saya sarankan, kamu harus melihat sendiri bagaimana bentuk wujud dari sesuatu yang mengganggumu itu, biar kamu bisa berhadapan secara langsung. Hakikatnya mereka lebih lemah, dan cenderung takut bila berhadapan secara langsung dengan manusia”
“Tapi bagaimana caranya?, apa mas bisa membantu saya untuk bisa melihat meraka?” tanya Sanu lagi.
“Aku bisa, tapi ada yang lebih berwenang untuk melakukan itu.”
“Siapa mas?”
“ibumu sendiri”
Sanu mendadak heran. Apa benar ibu Dewitasari paham tentang kejadian ini. Sanu memang merahasiakan kegusarannya ahir-ahir ini kepada ibu atau ayahnya. Ia kawatir bilasaja ibu Dewitasri tahu, hal itu akan membuatnya bersedih akan keadaan anaknya. Karenanya, diam-diam Sanu tidak memberitahukan ganggauan ini kepada keluarga. Sanu malah tercengang ketika mendapat saran dari mas Soro.
“Mengapa harus ibu sendiri yang bisa membantuku? Ibu sebagai orang biasa tidak mungkin bisa melakukan itu. Tapi bagaimanapun, aku harus mencoba memberi tahu kepada ibuku tentang kejadian ini seperti apa yang mas Soro sarankan.” Ujar Sanu.
***
“Ibu ada sesuatu yang hendak aku bicarakan.”
“Ada apa, nak. Katakan saja pada ibu?”
Sanu bercerita tentang pengalaman selama ia kerap merasa diganggu oleh bisikan gaib itu. Ia juga bercerita tentang pengalaman ini sudah ia bicarakan dengan mas Soro.
“Apa yang ibu rahasiakan nampaknya akan segera terungkap. Ibu tidak bisa melakukan hal itu tanpa persetujuan dari ayahmu, nak.”
“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sanu penasaran.
“Beberapa hari yang lalu, ibu dengar kabar Naga Perwira Putih di padepokan Bender telah mati. Dia adalah guru kebatinan yang sakti tapi licik. Piawai dalam ilmu tenaga dalam, bahkan selama ini belum ada yang sanggup menandingi kesaktian tenaga dalamnya. Ibu dan ayahmu waktu muda dulu pernah menjadi muridnya. Perwira Naga Putih berkata jika ia akan mati, ia akan mewariskan ilmu Naga Putih kepada anak pertama dari murid pertamanya, yaitu ayahmu. Kamulah orang yang akan mewarisi ilmu dari bekas guru kami itu. Aku tidak bisa menolak, sebab guru Naga Putih telah bersumpah jika kami menolak hal itu, maka kutukan akan mengenai keluarga kami selama tujuh turunan. Keluarga kami akan lumpuh dan kehilangan segalanya setelah malam pertama pernikahan. Satu-satunya cara terhindar dari kutukan itu adalah dengan merelakan ilmu yang dimiliki oleh Naga Perwira untuk diwariskan kepadamu. Rupanya sudah saatnya ibu dan ayahmu membuka tirai gaib di mata batinmu.”
“Dewita…” suara Bratatanunjaya mendahului derap langkah sendiri setelah ia membuka pintu dan memasuki ruang tamu.
“Kang Mas”. jawab Dewita.
“Aku sudah mendengar percakapan kalian, aku segera mungkin undur dari sawah untuk menemui kalian. Hmm, nampaknya peristiwa besar akan segera terjadi di kampung Pasulawang ini” kata Brata sambil menghela nafas.
“Sanu, anakku. Membuka mata batin bukan hal mudah. Ada pertaruhan yang bila kau gagal, maka tirai gaib itu akan sobek dan tidak akan pernah bisa tertutup kembali. Membuka tirai gaib di mata batinmu tidak bisa dilakukan sendirian tanpa adikmu, Kartika. Kartika yang memegang kunci tirai gaibmu, sedangkan hanya ibumu yang bisa membuka dengan kunci itu. Aku hanya akan menyalurkan tenaga dalam dan melindungi kalian dari kekuatan jahat yang bisa saja muncul dari luar saat proses membuka tirai mata batinmu.”
“Baiklah ayah. Di usia 20 tahun ini, mungkin inilah yang akan menjadi pertaruhan terbesar yang pernah kualami. Aku tidak takut untuk melihat segalanya, tidak takut menghadapi kegelapan dalam diriku sendiri.”

BERSAMBUNG …




Rabu, 16 Maret 2016

Kerudung Putih

by fuad hasan succen


Kerudung putih, kusaksikan dalam lamunan yang amat sementara masa singgahnya. Kehadirannya bak penggalan “kejadian” tanpa awal dan tanpa ahir. Kerudung putih hinggap di bayanganku, bergelombang di pikiranku.

Waktu rembulan, larut sekali, hanya sepersekian detik, suasana hening, begitu tenang, dan bayangan seseorang berkerudung putih adalah satu-satunya di pandanganku. Hadirnya memenuhi lubang hitam kelopak penglihatanku. Tak kutahu secepat itu dari sebuah pintu yang berlimpah cahaya, ia berjalan mendekatiku, lalu berbicara sesuatu. Tapi aku, tak begitu jelas atas suaranya. Aku masih kaku, juga tak mengerti isyarat yang disampaikan gerak bibir seseorang itu.  

Imajinasi kerudung putih, mencair dari kebekuan dalam gelap di hatiku, mengalir di setiap aliran darah, di denyut nadi kehidupanku, juga di lubuk yang terdalam. Kecil namun bercahaya, putih yang polos, teduh membingkai paras, menghiasi senyuman, menjadi indah, sangat sempurna. Selain dalam bayangan, tidak ada itu kesempurnaan, bukan?  

Aku melihat-mencari-cari lagi cahaya kerudung putih. Dalam imajinasi, dalam lamunan, dalam mimpi yang berujung pada kosong, hilang dan tersisakan sunyi. Aku tahu bukan kuasaku menghadirkan cahaya itu di gelap pandangku. Bukan dariku pula kemampuan imajinatif itu. Ataukah, ini karena daya kita berdua yang (mungkin) telah saling menyatu?

Dari mana imajinasi kerudung putih? Mungkin, dari alam pikir bawah sadar, lalu menguak dengan sendirinya saat tabir jiwa terbuka. Hanya pada saat itu, ketika suasana bulatan bumi berotasi, deretan titik-titik lain yang kebetulan bertepatan, (tampak) menyatu dari sudut kita bersamaan memandang. Aku dan imajinasi yang datang tiba-tiba, adalah mekaran bunga suku jiwa yang dipenuhi gambaran wajah; siapa dan nama cantik yang disandangnya. Kerudung putih yang hanya sekali menampakkan diri, dalam tenang aku terpesona. Sepanjang waktu merindu, lenyap setelah mata melihatnya.

Hari tiba imajinasi mewujudkan diri. Hijab retina terbuka, nyata tanpa bias. Seperti yang pernah ditayangkan imaji malam lalu, seseorang berkerudung putih benar berjalan mendekatiku. Aku ingin tahu sebuah cerita tentang hari yang berbeda. Aku bertanya penasaran: “kenapa hari ini pakai kerudung putih?” seseorang itu tidak tahu alasannya, ”hampir tidak pernah memakai jilbab putih kecuali diharuskan memkai... Tapi entah kenapa hari ini ingin memakai kerudung warna putih.” Jawabnya.

Siapa yang menggerakkan tangan mengambil putih di antara warna-warna lain? Siapalah kita. Ada Allah maha mengatur segalanya. Aku hanya tahu tentang seorang yang kebiasaannya memakai kerudung biru, atau coklat yang “sama tuanya”. Kerudung putih itu, mewujudkan sucinya harapan hingga membuat cerita hari ini berbeda. Ruang dan waktu pertemuan kita menjadi putih, sama dengan suasana hatiku.


Yk, 6 March 2016.  
post by studen

Sabtu, 12 Maret 2016

Kalau Saya Tidak Pacaran, Apa Itu Salah?

BY fuad hasan succen

Entah apa yang membayangi saya sehingga pada hari-hari menjelang penghabisan usia seperempat abad ini belum juga berani pacaran. Sungguh, memang ada semacam ganjalan kecil di hati ketika ditanya senior yang sudah berkeluarga, “Sudah punya pacar belum?” Sepotong jawaban saya: “Belum mas, atau mbak”. Juga manakala pulang ke kampung halaman, berkunjung ke rumah kiai yang dahulu mengajarkan kitab gundulan setiap sore. Dengan amat penasaran beliau-beliau berkata: “Sudah punya calon belum, Ad?” Mendapati kalimat-kalimat interogatif itu, saya tertunduk dalam labirin kompleksitas, berputar-putar tanpa tepi, tanpa jalan keluar.

Sedangakan melihat kawan pantar seperjuangan di tanah rantau ini, mereka telah “menggandeng” pacar dan membawanya kesana kemari. Kawan-kawan yang di desa, seangkatan, semua sudah menikah menjadi bapak atau ibu bagi anak-anak mereka. Saya dapat dibilang “ketinggalan” dalam urusan perumahtanggaan. Banyak diantara kawan (dan juga masyarakat umum) lingkungan kita yang bisa menarik hubungan antara pacaran dengan pernikahan. Ibu-ibu di kampung begitu bangga anak gadisnya ditamui pria, diajak jalan-jalan dan kembali membawakan oleh-oleh kesukaannya. Mungkin mereka juga bisa menerima dengan segala resiko, mengartikan konsep pacaran sebagaimana halnya pernikahan. Saya tidak paham dimana letak hubungan itu, juga tidak pula menemukan relasi positif yang pas antara keduanya.

Secara biologis saya sudah masuk pada masa-masa perfect sebagai lelaki. Psikologis dan kemampuan-kemampuan improvisasi juga sangat mendukung. Mungkin dalam hal kemapanan memang masih jauh dari harapan orang modern-materialis. Hidup di kota orang pun lebih sering “nggelandang”, mencari sesuap nasi juga harus pontang-panting banting tulang dan memeras keringat dulu. Tapi memang ini proses yang harus saya lewati menuju cita-cita serta upaya nyata mengabulkan harapan orang tua. Pahit itu bagian yang harus ada untuk mengimbangi manisnya hidup, meski dalam bayangan. Jadi, mungkin tak teramat menjadi masalah, bila kepusingan saya mencari jawaban-jawaban yang mampu melegakan dada senior dan guru-guru hasilnya tetap buntu.

Terus terang, saya tidak punya konsultan tentang hubungan asmara, bagaimana prospek perpacaran, dan masa depan percintaan saya. Tidak pula banyak membicarakannya kepada orang lain, ataupun keluarga sendiri. Jika mungkin Anda mempertanyakan normalitas kelelakian saya. Tanpa melalui test atau diagnosa, saya bisa menjawab dengan tegas bahwa saya adalah lelaki normal, saya bisa dan memang naluri saya menyukai lawan jenis. Beberapa kali dalam masa dan lokasi tertentu saya sempat naksir, suka, dan timbul pula “rasa aneh” kepada perempuan. Saya pikir ini wajar, sewajar saya bisa merapikan semua rasa itu dan membingkainya sebagai hiasan taman hati.

Sampai kapan?

“Dua tahun lagi!” Jawab saya. Tak ada dasar empirik sama sekali, jawaban ini saya bikin sekenanya saja. Jika kata-kata tersebut serius, saya kawatir beberapa pertanyaan lain dari Anda akan menggeruduk saya. Dengan siapa? Orang mana? Kenal dimana? Anaknya siapa? Neneknya baik atau nggak? Dan seterusnya tanpa halaman ahir. Memang bagi orang kepo, pernyataan ini menarik untuk dibahas panjang kali kuadrat. Tapi saya tidak tertarik membincangkannya.

Saya kira lebih penting kita kemukakan bukan memfeeling diri sendiri. kita melihat fenomena kaum muda era kekinian yang sedang menjalani pacaran. Mereka yang masih mahasiswa, kursus, atau sekolah memilih pacaran itu sebenarnya apa motifnya, bagaimana modus-modusnya, jenis pacaran seperti apa yang mereka praktikkan dan seterusnya. Ini berkaitan dengan keputusan yang saya ambil terkait kenapa tidak kunjung pula saya berpacaran seperti mereka. Sebabnya, meskipun kelihatannya pacaran seperti urusan sepele dan sekunder, tapi kenyataanya pacaran itu sendiri adalah bagian dari kehidupan kita, bagian dari sistem sosial masyarakat semesta raya, yang menyambung termasuk dalam kosmos yang efeknya pada kehidupan dunia dan segala macam isinya.

Entah dari arah angin mana tradisi pacaran yang berlangsung di masyarakat kita sekarang. Dari Barat atau bahkan dari Utara. Anak-anak muda kini bisa saja bebas mengartikan cinta sebagai perilaku kebersamaan, kesalingmemegangan, saling “ketemuan” yang muaranya mengarah pada pemuasan fisik dan kebutuhan dasar psikologis. Dalam hal ini laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Kedua pihak yang berbeda kodrat insaniahnya, bila sudah bertemu dalam ruang ekslusif, rerimbunan atau reremangan betapa mudah nilai-nilai moral pusaka wasiat orang tua luntur seketika. Tanpa memikirkan norma yang hidup itu, anak-anak muda kita sebenarnya telah menanggalkan kemanusiaan dan kembali menjadi hewaniah seutuhnya.

Jika begitu negatif betul pacaran yang demikian adanya, tentu akibatnya bukan saja merusak diri sendiri, tetapi juga menyakiti masyarakat dan anti terhadap pendidikan karakter serta revolusi mental yang amat menggaung di tengah-tengah kita. Sebab itu, intinya kita perlu saling mengingatkan, saling mengawasi lingkungan untuk mencegah sebelum terjadi bencana moral dan krisis akhlak. Anak-anak muda memang perlu diawasi, kalau perlu kita tempelkan CCTV pada lensa mata mereka demi keamanan kemanusiaan nasional. Hehe.

Di sisi lain, agak lumayan, bagi beberapa anak muda yang memaknai arti cinta dengan aktualisasi pacaran, mereka kendalikan bersama untuk kepentingan jangka panjang. Sebagai dua organisme yang berbeda pemikiran dan latar kultural, mereka mulai merangkai, mencari titik temu pandangan yang produktif dalam bingkai kerja sama visioner kesejahteraan hidup berkelanjutan. Dengan modal kebersamaan, mereka menguntai impian sedemikian rupa, merancang proposal kerja dan pendukung lainnya, tidak sedikit mereka yang berhasil menambah sisi kemandirian dan pengalaman mengerjakan sesuatu untuk kepentingan hari depan. Anak muda yang berpacaran dengan cara ini namanya kreatif.

Kreatif dari sisi ekonomis. Dengan mereka mencoba-coba kesibukan produktif semacam itu, secara otomatis tercipta daya guna pada proses belajar mereka menemukan kepuasan material. Tapi, kita nyatanya tidak hidup hanya pada kenyataan ekonomi, bukan? Kita hidup dalam naungan masyarakat yang menghormati budaya, adat, religius, yang semua itu membuka celah lain untuk sulit merestui kebersamaan dalam ikatan “pacaran”. Pacaran ekonomis berlangsung pada kesadaran nyata. Sedangkan di bawah kedasaran ekomonis sifat dan naluri anak-anak muda saat kesempatan dalam kebersamaan lain, pastinya ada sesuatu yang tetap terjalin secara rahasia dan privat. Kita tetap berbaik sangka pada mereka, semoga jaminan ekonomis yang mereka hasilkan tidak mempengaruhi pada kebutaan mata hati dan menjadikannya “putih mata” dikemudian hari.

Jadi, kalau saya tidak berpacaran, apakah itu salah?

Wallaualam, saya hanyalah manusia biasa yang takut pada jebakan-jebakan yang tidak terlihat dan tidak tersadari oleh segala keterbatasan saya. Juga tentang batasan-batasan normatif yang saya pegangi, serta bayangan lain yang mungkin saja secara tak terduga menyergap dalam kegelapan mata dan membuat saya pada akhirnya akan menyesal tiada berdaya. Kepada para guru, saya bermohon doa dan bimbingan ke arah jalan yang diridhoi Tuhan.

Yk, 11 maret 2016

posted by STUDEN#

Sabtu, 20 Februari 2016

Dialog Kontemporer “Soal-soalan” Kedutan

Dialog Kontemporer “Soal-soalan” Kedutan


kita ingin sampaikan sesuatu di sini mengenai sifat dasar manusia yang khas, tentang: sifat manusia yang mampu merasakan sebuah getaran yang terhubung ke dalam jiwanya, bukan hanya getaran yang berasal dari dekat melainkan setiap getaran apapun walaupun jauh asalnya.

Jadi getaran itu katakanlah suatu macam yang dapat kita ketahui melalui kedutan yang sering kali terjadi di wajah kita, terutama di bagian sekitar mata. Primbon Jawa bilang kalau kita kedutan di bibir itu petanda kita akan segera menyantap makanan lezat, bila kedut itu di hidung itu artinya kita akan mencium aroma yang wangi segar, dus kedutan itu terjadi di mata itu pertanda bahwa kita sedang dibicarakan oleh orang lain. Dalam bahasa lain, ada orang lain yang sedang memikirkan dan membicarakan kita. Maksud bicara dalam arti luas yaitu batin dan pikiran orang lain itu sedang ada kita di dalamnya.  

Nah, ini sebuah perumpamaan dari orang yang telah mengalami masa “fokus menganggur.” Dia tidak sedang ingin bekerja untuk orang lain, namun ia tengah sebebas-bebasnya mengeksplor kemampuan diri yang dirasanya hal itu dapat berguna bagi pembentukan karakter unik dirinya. Hasil eksplor ini tidak sepenuhnya terjadi (atau diadaptasi) dari alam nyata, komunikasi yang diciptakan secara semidramatik ini adalah kelanjutan/ perluasan dari kehidupan yang terbatas di alam dunia. Sambil begadang pastilah dapat kita ambil manfaat atas “kerja” seorang yang sedang menjalani fokus ngangggur ini.

Hasil kreativitas kerja pengangguran ini dibentuk dalam format dialog intim yang berjalan searah. Dua objek berbeda satu adalah representasi dari seorang yang sedang fokus menganggur itu, dan lawan dialognya adalah bayangannya sendiri, yakni sebuah bayangan yang diimanensi dari kedut matannya sendiri. Objek bayangan itu di sini kita gambarkan dengan dimensi “o”, dan “me” sebagai dimensi yang satunya. Simak dialognya:

***

me         : apa yang sedang kamu pikirkan? Maksudnya, apa kamu sedang memikirkan aku?


O             : apa pertanyaan itu penting?

me         : eem, nggak sih… tapi sekedar ingin tahu saja, sebab mripat-ku ini sering kali kedutan. Ku kira kamu sedang membatin dan memikirkan aku gitu.

O             : oh, ketahuan ya…

me         : ketauan apanya?

O             : itu tuh, sebenarnya bukan aku yang mikirkan kamu. Tapi justru kamu sendiri malah yang kepikiran terus sama aku? Iya kan… ah, sudahlah jangan boong kalau kamu memang sering memikirkanku.

me         : oohh gitu ya.. iya iya… aku sedang kepikiran sama kamu terus!

O             : terus?

me         : ya gak apa-apa sih,, aku sebenarnya pengen kamu tahu kalau aku ahir-ahir ini sering terbayang-bayang sama kamu.

O             : itu mah urusanmu!

me         : apa benar kamu tak memikirkan aku? Tapi kenapa entah, aku ingin melihat kejujuran menghiasi wajahmu yang kupandang itu.

O             : hmm,

me         : apa?

O             : kalau memang aku memikirkanmu, kamu mau apa?

me         : aku pengin tahu aja, berarti benar kedutan itu menandakan aku sedang dikangenin sama seorang, dan ternyata orang yang kangen sama aku itu kamu toh.

O             : gitu aja?

me         : hmm, kamu suka sama aku?

O             : kalau emang suka, perempuan harus pandai merahasiakan itu kepada orang yang dia sukai. Itu karena sifat malu yang harus terjaga. Bukan malu pada seorang yang disukainya, tapi malu pada keadaan dimana bila itu diucapkan oleh seorang perempuan, maka tentu akan ada yang banyak berubah dari kebudayaan kita. Kuharap kamu mengerti maksudku.

me         : aku… aku suka sama kamu!

O             : aku tahu.


#Inaf, cukup!

Dinding tak lagi kosong kan. Nah, itu sederhana gambaran yang amat tak berguna sekali bukan. Kita sebenarnya punya problem budaya yang kurang terbuka. Tapi jangan lantas dianggap negatif. Cara  mengungkapkan dengan cara yang lembut dan diam-diam itu justru bagian dari kebudayaan cinta yang eksotis. Akan terasa beda kalau cinta diungkapkan dengan gamblang oleh muda-mudi yang masih belum cukup matang dengan cara koar-koar dan latah. Akibatnya akan kurang baik bagi kesehatan kita sebagai masyarakat yang terdidik.

Tak ada sulitnya berkata untuk mengungkapkan cinta bagi kita, apalagi kita yang terbiasa cangkeman dan banyak mulut. Namun bukankah selalu ada sesuatu yang lebih terhormat dan bisa kita pakai sebagai penjaga kehormatan kita dalam proses menemukan kebenaran yang lebih indah diperjuangkan. Memang harus begitu. Setidaknya menemukan hal terlebih dahulu untuk mengurangi awetnya sakit hati dan benci karena tersakiti, di kemudian hari.


Yk, 21 February 2016.
Sumber gambar disini

#stueden

Kamis, 18 Februari 2016

Membaca “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”

Membaca “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”
Alkanjawi


Sore tadi bila tak mendung senja pastilah indah. Tapi hujan, yang tergerai dari awan gelap begitu derasnya membasahi bumi. Kampus timur, sepanjang jalan dari Pustaka Fatin, saya pinjam sebuah buku karya Emha. “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”. Saya sampaikan diri menerjang basah untuk kuasa duduk di bangku tempat parkiran Kampus timur. Persis di belakang panggung demokrasi. Lebatnya hujan membasahi setiap jengkal peristiwa. Saya mulai membuka buku itu tanpa ragu. Segera ingin memuaskan rasa ingin tahu, apa yang akan dibicarakan Emha. Seperti apa logikanya. Dan, muatan-muatan apa yang berserakan di dalam setiap helai lembaran dari buku terbitan kompas itu.
Jauh di atas sana langit gelap. Suara geledek seolah membuat atap langit retak. Seolah saya menjadi terancam, apakah yang saya baca ini bagian dari bacaan “terlaknat” sehingga langit tidak rela dan mengutus halilintar untuk segera menyambar saya yang sedang membaca. Tapi alhamdulillah, itu tidak terjadi. Di bilik kecil suara hati berbisik pelan sekali. Ia berkata: suara gemuruh di langit itu bukan ancaman yang menakuti setiap bulu kuduk di tengkuk yang menyangga kehidupanmu. Itu adalah suara musik, drum yang dipukul, perkusi yang ditalu, kendang yang ditabuh, dan semua alat musik yang dibunyikan oleh kegembiraan penghuni langit karena menyambutmu sebagai pembaca. Subhanallah, maka saya tertunduk sejenak. Tuhan berilah mereka ketabahan menerima karuniamu yang berbentuk gelegar menyertai hujan. Walaupun nampak mengerikan suaranya, mendebarkan lecutan kilat petirnya, dan mengagetkan suara dentumannya, tapi itu adalah karuniamu atas indera kami yang masih berfungsi dengan baik. Tuhan, dengan itu semua, arahkanlah kami untuk bersyukur.
Aku baca basmalah. Menyebut sang maha pemurah dan penyayang. Romo Mangun memberi prakata untuk buku itu. Romo Mangun Wijaya, jujur sekali dalam tulisannya itu benar-benar mengantarkan segenap pembaca untuk tidak tersesat dan salah arah memandang belantara isinya. Romo Mangun membesarkan hati “calon pembaca” untuk melihat dengan skup luas setiap tulisan-tulisan yang murni tergurat dari kegelisahan seorang anak muda yang ingin memperlihatkan kepada sekalian pembaca tentang hal-hal remeh tapi sangat penuh makna. Kita dituntun untuk menghayati – minimal diri kita sendiri – atas fenomena perubahan sikap hidup masyarakat. Desa yang bukan sekedar bayangan di dalam sebuah negara, melainkan negara yang banyak mengintervensi atas desa dan segala lini yang menyertainya. Desa asal dari segala macam yang kita sebut sebagai Indonesia sekarang.
Tak diamlah halilintar sepanjang saya meniti kata demi kata Romo Mangun Wijaya itu. Bahkan suaranya terus menderu, mengiringi keramaian dalam pikiran saya yang diajak untuk bergejolak. Sebagai manusia, yang muda, yang harus gelisah, yang mesti kritis, yang tidak boleh lemah dan malas untuk mensiasati setiap kejadian untuk menggali hikmah sebanyak mungkin, semampu dan sekuat kita menemukan apa yang dapat diungkap sebagai kebaikan dan keindahan.
Desa era 70-an adalah desa yang desa. Maksudnya, desa seperti gambaran geografis dengan tanah sawah menghampar hijau dan rimbun pepohonan asri. Tak sekedar itu, desa era masa lalu itu membawa ciri khas sebuah kehidupan yang sarat akan keterbukaan, unggah ungguh, gotong-royong dsb. Tapi klise-nya, desa yang shot mudah terpantik oleh modernisme yang secara cepat menjadi kebudyaan baru. Kebudayaan montor, kebudayaan layar tancep dan lain sebagainya yang menunjukkan jumawanya keserbamewahan hidup. Benar kesebamewahan hidup ini menjadi salah satu pemantik segala macam problem yang menggejala luas di desa-desa lain. Emha memotret desa kelahirannya di Jombang Jawa Timur. Dan, tentu saja pembaca tidak akan terpaku pada sebuah desa di Jombang itu, melainkan seperti diantarkan untuk mengunjungi desa-desa lain dalam memori kehidupan kita masing-masing.  
Saya sendiri “mbrojol” ke dunia era 90-an. Sangat mungkin, era 90-an di desa saya itu seperti tahun 80-an di desa lain, atau era 70-an di desa yang lainnya. Desa saya itu jauh cukup terpencil. Proses modernisasi di desa dengan datangnya alat-alat pelengkap modernisasi itu baru menggejala setelah saya bisa mencium bau asap knalpot dari speda motor satu-satunya di desa. “Semacam bau asing yang menawarkan impian dan kemajuan.” Saya melihat dengan jelas – gambar-gambar hidup di televisi yang hanya ada 3 biji di rumah-rumah tertentu– yang menakjubkan. Itulah modernisasi yang mempertontonkan keajaiban. Tapi di satu sisi lainnya, betapa modernisasi dengan alat-alat canggih itu sedemikian merusaknya bagi tatanan sistem budaya yang sejak ratusan tahun dijaga ketat oleh desa.
Apa yang mengerikan? Perubahan! Masyarakat desa kolektif menerima paradigma modernisme tanpa tendeng aling-aling. Sebagian kecil masyarakat tetap berpegang pada jiwa adiluhung dan normatika yang tidak nampak yang hidupnya ada dalam batin yang diyakini. Lama berlalu lama, modernisme dengan kenyataan yang ditawarkannya itu sedikit banyak mengisi ruang keyakinan dan menggeser jiwa adiluhung yang amat dijaganya dahulu. Perubahan banyak menghilangkan inti desa. Dan, tanpa banyak disadari karena desa telah kehilangan suatu pegangan prinsip, maka terjadilah kekacauan sistem budaya dan tradisi yang dianggap menjadi kaku oleh masyarakatnya sendiri.
Tentu saja ini akibat sistemik. Akibat dalam praktiknya lebih amat mengerikan. Modernisasi dalam sistem pemerintahan, sejak masyarakat dikenalkan pada pemilu, umpamanya, praktis sistem menjadi terkotak-kota dan tidak jarang ada yang terpecah belah. Watak desa yang keras dan cenderung bersikeras bertandang cepat, pemilu berdampak sengketa, sentimen, dan konflik yang menyisakan pilu. Terlebih, umat menjadi juga terbelah sebab diam-diam digerakkan oleh kepentingan politik. Secara tidak sadar ini terjadi ketika praktik solat hari raya, satu kelompok masyarakat memilih berjamaah di lapangan, satunya lagi di masjid. Bukan masjid tidak muat kantetapi umat sengaja dihimpun oleh individu tertentu untuk menambah kuantitas sebuah harga tertentu pula.
Banyak sekali gambaran-gambaran tentang kehidupan masyarakat kita yang dituliskan Emha kini seperti tidak berubah dari pertumbuhan desa. Bahkan kita seringkali lihat akibat modernisme itu desa semakin acak-acakan. Kita tahu masyarakat sampai hari ini tidak berhenti berlomba-lomba menumpuk lumbung materi, meningkatkan gaya hidup, meghimpun segala kemampuan untuk memperkaya diri dan untuk terlihat semakin megah. Kita tahu di setiap rumah sekarang dilengkapi ruang parkir kendaraan, rumah berwajah kaca, berlantai mengkilap. Hanya sebagian yang menjadi pemenang itu senang membanggakan diri dengan cara demikian. Kaum lain dalam ekosistem menjadi tumbal sejarah dengan menjangkit sakit hati berada dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Helilintar berlomba-lomba lagi menyambar kesadaran. Kini di desa kita rasakan, sangat jarang orang beristighfar di surau atau langgar-langgar di pinggiran kali. Suara-suara pujian kepada Tuhan semakin lirih, suara salawatan semakin jarang digantikan riuh ramai sound sistem dan kaset-kaset seharga 15 ribuan. Betapa masyarakat kita lebih ringan tangan mengeluarkan uang sedikit untuk “membayar” nilai-nilai yang luhur adiluhung itu. Sedang hujan senja membawaku terseret arus dan tenggelam pada pikiran untuk berteriak-teriak: “haiii Halilintar! hebat nian menyambar udara di langit yang gelap pekat.” Entah gelegar itu suara kegembiraan penghuni langit atau kekecewaan yang mulai menebal pada awan yang menjadikannya gemuruh.


Yk, 19 February 2016


studen.

Alam Pikir Orang Kita

Aktivitas paling tidak di hargai di sini, salah satunya adalah berpikir. Maka jangan sekali-kali mempertontonkan hal itu di depan umum! Me...